Aku, Kamu dan Kalian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 1 January 2019

“Hoaammm…”. Kurenggangkan tubuh sambil menggeser gorden di atas kepalaku.
Pagi itu adalah pagi yang sama, pada pagi-pagi biasanya. Kubangunkan tubuhku dan bergegas menuju kamar mandi. Yahh.. seperti biasa hari Senin adalah hari yang sangat melelehkan bagiku, karena aktifiktas akan dilakukakan kembali setelah kemarin mengistirahatkan diri dari rutinitas.

Setelah mandi dan memakai pakaianku, kusambar tas ranselku dan kumasukkan buku-buku, kotak pensil, dan tak lupa handphoneku. Hampir saja aku lupa dengan mataku, maksudnya kacamata, yah begitulah aku miliki yang mata minus 200, mau tidak mau harus memakai kacamata agar melihat jelas di sekitarku, walau masih dapat terlihat walau kurang jelas.
Dari bawah Mama sudah sibuk di dapur dengan alat perangnya, yaitu penggorengan dan spatula. Seperti biasa Mama selalu memasakkan makanan kesukaanku, nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya.

“De.. nasi goreng kesukaanmu sudah matang, cepat turun. Panggil kakakmu juga ya!”. Seru Mama dari bawah. “Iya Ma..”. sahutku sambil berjalan menuju kamar kakak tersayangku.

Namaku Karina Pratama, aku adalah anak kedua dari dua saudara, kakakku Azka Pratama. Kakakku yang satu ini susah sekali dibangunkan, perlu tenaga dan kekuatan yang ekstra untuk membangunkannya.

Nasi goreng panas dan telur mata sapi kesukaanku sudah siap untuk disantap. Segera kuhabiskan dengan lahap dan cepat karena waktu sudah menunjukkan pukul 08:00 WITA. perkuliahanku akan dimulai 15 menit lagi. Setelah selesai makan langsung aku pamit pergi kuliah dengan Mama, kakakku masih saja tidak bangun, hingga Mamaku akhirnya turun tangan untuk membangunkan kakakku.

“Pak, mobil sudah dipanaskan?” tanyaku pada supir Ayahku yang sedari subuh menyiapkan mobilku dan ayahku yang terparkir di garasi rumah. “Iya non, Non mau berkangkat sekarang?” Pak Hadi menghampiriku dan menyerahkan kunci mobilku. “Iya pak, soalnya aku sudah terlembat”. Jawabku sambil masuk ke dalam mobil. “oh iya, tolong bilangin Mama ya aku pulang malam, pulang kuliah ke rumah Tiara dulu, makasih Pak.” Sahutku lagi. “Iya non, nanti saya sampaikan sama Nyonya. Hati-hati non, jangan lupa, seat beltnya dipasang!” seru Pak Hadi, karena beliau sangat tahu kebiasaanku yang selalu lupa dengan hal itu.

Dengan pelan kulewati tikungan-tikungan yang kujalani karena di komplek perumahanku banyak tikungan. Jalanan agak sedikit macet, karena hari ini hari Senin, biasa upacara sekolah untungnya aku sudah terlepas dengan hal-hal itu karena sekarang aku adalah seorang mahasiswi.

Di depan kampus sudah berdiri seorang perempuan dengan membawa buku yang penuh di tangannya, sambil menghela nafas dan berusaha menunjukkan jam tangannya padaku, karena sebentar lagi perkuliahan akan dimulai.
Kuparkirkan mobil putih kesayanganku di depan kampus, karena tempat itu strategis untuk kemana-mana. Langsung kuambil tas dan buku yang inginku bawa, lalu menuju sahabatku yang mirip dengan Mamaku yang suka menasehatiku dan selalu mewanti-wantiku, termasuk jika aku sedang dekat dengan seorang laki-laki.

Sambil berlari kecil kami menuju kelas, untung saja Dosen belum masuk kelas. Tak beberapa saat datang Dosen mata kuliah Filsafat, dengan seksama kami mencoba memahami mata kuliah yang aku rasa itu sangat membosankan. 2 SKS (satuan Kredit Studi) telah berlalu, akhirnya aku mampu menahan rasa bosanku dengan Dosen menutup kuliah pada hari ini dan langkah demi langkah keluar menuju pintu kelas.

“Karina, temani aku ke perpustakan sebentar ya, aku ingin mengembalikan buku”. Tiara mendekat dan menarik tanganku. “ne, ne”. sahutku padanya yang artinya iya, kami suka mengucapkan bahasa-bahasa korea, walaupun tidak mengerti artinya, karena kami adalah pengoleksi drama korea di kelas kami. Buat lucu-lucuan supaya tidak membosankan kelas. Walau kadang ada saja yang tidak suka dengan kami.
“ini Bu, buku yang saya pinjam kemaren”. Tiara langsung menyodorkan buku-buku yang sedari pagi memenuhi tangannya. Setelah mengembalikan buku kami pergi ke kantin dekat perpustakan, untuk sekeder membeli air minum. “Rin, kamu ingat gak sama laki-laki yang kemaren nabrak aku di lorong depan kelas MenPen (Menejemen Pendidikan)”. Tanya Tiara yang tak biasanya membahas laki-laki. “Hm.. Si Ridho maksud kamu Ra?. Sahutku sambil mengingat kejadian kemaren sore. “iya, iya, ihh Dia baik banget ya, ganteng pula”. Hayalnya sambil senyum-senyum sumringah. Sontakku pegang kepalanya, mungkin panas. Jarang sekali Tiara membahas laki-laki, kecuali laki-laki itu memang membuatnya terpincut. Berarti, Tiara sedang jatuh cinta.
“Ra.. Ra.. woy sadar woy tengah ari bolong malah bengong sambil senyum-senyum pula”. Senggol ku yang akhirnya membuyarkan lamunan Tiara. “Hehe.. maaf, maaf Kirana. Hari ini jadikan ke rumahku”. “jadi dong yang lain juga ikut kan?”. Ya kami bukan cuman berdua saja, kami miliki banyak sahabat satu geng yang aku rasa sama halnya sepertiku, yahh, agak-agak miring. Hihi. Yang kami beri nama The Single, karena kami memang single (alias jomblo) geng kami ini berisi Bigboss yaitu aku, MamaBoss Tiara, AnakBoss Nadia, kakakboss Hafah, adikboss Nita, dan sepupuboss Tifani. Hampir semua kegiatan atau tugas paling tidak satu kelompok, ya gitu deh sulit untuk dipisahkan.
“ia dong, tenang di rumah udah banyak makanan di sediain sama Mamaku”. “Oke deh mamaboss, kamu ikut aku kan pulang?” jawabku dengan gembira karena di rumah tiara banyak makanan. “iya ra, eh itu dia mereka, yuk langsung cus ke rumahku”. Tiara berdiri dan berjalan sambil mengiringi anggota-anggota The Single lainnya, menuju parkiran mobil.

Sesampainya di rumah Tiara, seperti ritual yang selalu kami lakukan, kami selalu menyapa Tante Sri yang sudah sibuk di dapur memasakan makanan untuk kami dengan hitungan banyak. Memang kami ini cuma berenam tapi kayak orang tiga puluh, makannya banyak. Hihi.

Langsung kami santap kue bolu kukus lezat yang sudah terpampang jelas di atas meja makan. Tante Sri memang ahlinya dalam masak memasak, makanya kami suka nangkring di rumah Tiara.
Setelah puas dengan kue bolu kukus yang sangat lezat itu, Tiara mengajak kami kekamarnya yang lumayan luas muat kami berenam. Kami mulai diskusi public kami (alias ngerumpi), kali ini kami memulainya dengan kasus Tiara yang sejak dari pagi tadi senyum-senyum kaya kesambet setan.

“Ra, kamu kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri?” Tanya Hafah yang memulai membuka diskusi public kami. “Biasa Fah, lagi jatuh cinta”. Sambarku karena aku sudah tahu penyebabnya. “Hah, kali ini sama siapa Ra?”. Tanya Nita yang menggebu-gebu karena penasaran. “itu, kalian ingat ga laki-laki yang nabrak aku di lorong depan kelas Menejemen?. Nah yang itu, Dia itu baik banget, ganteng banget, sopan banget, kalem banget…”. Mulai lagi khayalan si Mamaboss ini. “Yuhu ada lagi nih bahan bullyan”. Dengan penuh semangat Tifani yang suka ngefek-ngefek sahabat sendiri.

Nadia yang sedari tadi diam langsung tertawa dengan tingkah laku yang dilakukan Tifani. Dia memang seperti itu orangnya agak banyak diam, mungkin terlalu banyak masalah dan kegiatan di HMJ (himpunan Mahasiswa Jurusan).

Lanjut dengan diskusi public, kali ini kami membahas tugas dari Bapak Haderani (Dosen BK). Tugas kali ini yang diberikan oleh Bapak Haderani tidak main-main, membuat makalah dari pembahasan pertama hingga akhir. Kebayangkan sebanyak apa, sebelumnya kami sudah pernah membuat tugas tersebut tetapi berbeda mata kuliah, dan ini diterapkan pula oleh bapak haderani. Setebal profosal untuk skipsi, Huh.. selesai satu tugas, datang lagi tugas lainnya.

Beginilah rutinitas seorang mahasiswi, jika menginginkan sesuatu yang menghasilkan baik, maka segenap rasa dan jiwa harus dikerahkan untuk mendorong keberhasilan tersebut. Bukan dengan sendiri kita melakukan itu semua, tapi dengan bantuan orang terkasih dan tercinta semua akan terasa ringan dan indah. Walaupun kadang jalan tak semulus khayalan, begitu banyak rintangan dan ketidak sukaan.

Memberi sedikit garam tak akan membuat makanan menjadi asin, memberi sedikit cuka tak akan membuat makanan menjadi asam. Malah jika diberi banyak gula maka akan mengakibatkan penyakit Diabetes. Ibarat dalam kehidupan jika di dalam kisah hanya ada kebahagian saja, itu mustahil pasti ada luka dan duka. Berdiri tegak dan kokoh untuk hal yang membuat kita jatuh. Hapus air mata dan mulai tersenyum untuk hal yang membuat kita sedih. Maju dan langkahkanlah kami untuk hal yang membuat kita mundur. Boleh sedih sesedihnya, boleh luka selukanya, tapi ingat Tuhan lah tempat kita kembali, semua datang dari-Nya duka luka bahagia senang itu bagian dari rintangan dan tantangan dari-Nya. Dan bagaimana kita menyikapinya entah dengan rasa syukur atau makin terbuai dengan nikmat dunia dan melupakan-Nya.

Cerpen Karangan: Nur Fajrina Hayati
Blog / Facebook: Nur Fajrina Hayati

Cerpen Aku, Kamu dan Kalian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Idol Tak Akan Menghianati

Oleh:
Dulu aku punya teman baik saling tolong menolong. Namanya Ge, kita juga tidak pernah bertengkar sekalipun bertengkar itu hanya candaan semata. Hingga ada satu hal yang membuat persahabatan kita

Tama

Oleh:
DUGHH!!! Akar pohon ketapang yang besar menjalar, membuatku tersungkur. Sepertinya, wajahku rata dengan tanah. Tapi, sebelum aku meringis. “Aaaww!!” Kedua sahabatku dengan lebaynya berteriak histeris. “Lilin lo kenapa?!” Aster

Slampe Sepsosa

Oleh:
“Woy… Barang gua manaaa??” teriak Gerri tiba-tiba ke seluruh penjuru kelas. “Apasi Ger?” Shinta, si ketua kelas yang sedang membuka Instagramnya. Gerri pun tersenyum kecut. Otomatis, sahabat-sahabat setianya langsung

Cinta Anak Pramuka

Oleh:
Setetes peluh yang ku keluarkan hari ini mengiringi perpisahanku di tempat ini, di mana tempat ini adalah tempatku menimba ilmu. Yang mempelajari bagaimana kerja lapangan sebenarnya, namaku Safanti Ranah

Perbudakkan Nafsu

Oleh:
Aku masih dalam posisi yang sama, dengan sebatang rok*k yang terjepit di antara sela jariku, terlentang pada sebuah pembaringan dengan berserak puntung sisa hisapan dan sebotol bir yang setengah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *