Aku Mau yang Itu!

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 April 2014

“Aku udah SMA!” ucapku saat mama memaksaku untuk membawa bekal makanan ke sekolah. Memang aku belum sah menyandang gelar sebagai siswi SMA. Bahkan aku masih harus melewati masa-masa orientasi perdanaku mulai pagi ini hingga tiga hari kedepan. Tapi apa jadinya kalau aku harus menenteng bekal kesayanganku seperti yang ku lakukan biasanya dulu? Tapi untuk kali ini aku menyerah, mama benar. Semua siswa diwajibkan membawa bekal makanan masing-masing saat masa orientasi berlangsung.

Kini aku sudah tiba di depan sekolah yang nantinya harus bisa menjadi kebanggaanku. Betapa tidak? Tiga tahun lamanya aku harus betah berada disini, dengan semua hal yang serba baru. Ku harap pacar baru juga tentunya. #Modus!

Langkah kakiku gontai saat ku melewati gerbang utama yang terletak tepat di tengah megahnya gedung sekolahku. Seakan tak percaya bahwa di tempat inilah nantinya kujalani hampir setengah dari rutinitas keseharianku.

Dari kejauhan tampak beberapa siswa-siswi lain yang sudah datang terlebih dahulu. Mereka semua tampak asing dan aneh menurut pandang mataku. Tak ada yang ku kenal dan mereka memakai atribut gila seperti topi dari karton, kalung papan nama dan kaos kaki hitam putih setinggi lutut yang kurasa lebih pantas untuk disebut sebagai zebra cross salah tempat. Hei Biel!!! Look at you!! Nyatanya itu juga atribut berperang yang sedang ku kenakan detik ini.

Segera aku berlari ke tengah lapangan merapikan atribut-atribut gila yang sangat merepotkan dan mengunci mulutku untuk berusaha diam tanpa kata dan bertampang polos. Bisa-bisa kena hukum aku kalau telat masuk barisan dan banyak bertingkah. Apalagi wajah-wajah beringas kakak kelas yang siap melahap kami habis-habisan sudah bergerak menuju lapangan. Sesekali ku curi waktu untuk mengusap peluh karena lelah dan ketakutan yang dari tadi membuatku sedikit risih.

Pagi ini acara dibuka dengan agenda sarapan bersama di tengah lapangan. Suasana sekolahku yang sangat teduh membuat sarapan pagi ini cukup nyaman dan bersahabat. Dua pohon saman yang rindang berdiri kokoh tepat di samping kanan dan kiri lapangan membuat lelahku perlahan pulih karena berlari seperti sinetron kejar tayang tadi.
Tak lama aku menikmati makananku, waktu kami untuk sarapan telah berakhir.
“Hah?” teriakku hingga membuat siswa lain yang berbaris di sampingku mengarahkan pandangannya ke arahku. Rupanya ekspresi terkejutku tadi sangat tidak munafik. Ya! Jelas-jelas belum ada lima menit aku menikmati nasi goreng capcai buatan mamaku sebagai menu sarapanku. Ku lihat sekelilingku mereka semua tampak biasa saja, bahkan bekal makanan mereka sudah tak bersisa. Apa yang salah denganku? Akunya lemot? Atau mereka kelaparan?
“Hey!! Kenapa kamu bengong?” bentak seseorang pria yang tak sengaja kulihat namanya Lintar di ID Cardnya. Pantas saja suaranya seperti petir yang membangunkanku dari termenungku.
“A, aa, anu kak. KoK waktu sarapannya cepet banget ya? Ini saya yang lemot apa temen-temen lain pada kelaparan?” tanyaku kikuk.
Spontan saja suara gelak tawa terdengar riuh bersahut-sahutan dari semua orang yang berada di sekitarku. Aku semakin bingung dan tak tau harus berbuat apa.
“Semua diam!!!!” sekali lagi teriakan itu nyaris membuat pecah gendang telingaku.
“Kamu daritadi kemana saja? Kami tadi sudah bilang kalau kalian semua cuma diberi jatah waktu untuk sarapan selama 3 menit. Tidak kurang dan tidak lebih. Paham?” teriaknya lagi.
Oh My God!! Bodohnya aku. Kemana saja aku dari tadi sampai-sampai aku tak tau jatah waktu sarapan. “Paham kak!” ujarku. Satu kesalahan yang kurasa sangat konyol telah kuperbuat di hari pertamaku sekolah. Padahal ini masih awal, masih ada hari esok dan lusa yang harus ku lalui agar aku resmi diterima sebagai penghuni tetap SMA ini.

Siang ini semua calon siswa baru mendapat materi tentang pengenalan lingkungan sekolah. Rasanya aku seperti tengah berada di negeri sakura yang penuh dengan bunga-bunga berguguran. Nggak perlu jauh-jauh deh di sekolahku ini ada empat pohon saman raksasa yang senantiasa menggugurkan daun-daunnya saat ada angin datang. Alhasil, karena terbawa suasana aku kembali memulai aksi jahilku dengan mencuri-curi waktu untuk mengambil salah satu daun yang gugur di sekitarku. Di situ kutuliskan sebuah nama dengan sepenuh hatiku. “D’ANDARO”. Ya tuhan! Itu adalah nama singkatanku dan kekasihku dulu semasa SMP. Lebih tepatnya mantan kekasihku.

Harusnya aku sekarang berada satu sekolah dengannya, tapi apa daya mama papa larang. #Hiks. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Putus dan enggak satu sekolah lagi. Tapi ya udahlah buat apa diinget lagi. Yang lalu biarlah berlalu. Kini akan kucari panngeran pencuri hatiku di sini. Eh bukan, maksudnya akan ku cari ilmu setinggi mungkin selama disini. Amin. Haha.

Tau nggak tempat apa yang aku takutin selama masa orientasi? Jawabannya adalah aula. Di situ kita dimarahin habis-habisan, nggak boleh bicara bahkan kursi aja nggak boleh bergeser dari tempatnya. Nggak penting banget kan? Tapi di situ juga aku nyari-nyari orang yang tepat buat jadi inceranku kali ini. Calon pacar tentunya.

Satu-persatu aku lihat semua teman cowok baruku. Ah nggak ada yang masuk kriteria. Tapiii… eits! Tunggu dulu! Itu! Iya itu! Si cowok putih yang pakai jaket warna ungu! Aku mau yang itu!

Cerpen Karangan: Vira Diana Ulnazilla
Facebook: Vira Diana Ulnazilla
Karya Vira Diana Ulnazilla
SMA Negeri 2 GENTENG

Cerpen Aku Mau yang Itu! merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bosan Bukan Alasan

Oleh:
Saat ini aku memilih sendiri mungkin lebih menyenangkan dari pada berdua tapi selalu ngebatin karena kelakuannya yang menyerupai anak-anak. “Bosan” yah, rey si cowok populer sesekolahan dengan bodohnya dia

Cinta Berawal dari MOS di SMA

Oleh:
Namaku Nayfa Saraswati umurku baru 16 tahun, dan aku baru saja diterima di SMA Negeri favorit di daerahku. Di pagi hari yang cerah aku berangakat ke sekolah, dengan mengendarai

Sudah Terlambat

Oleh:
Unas, ya esok dia datang, membawa ketegangan di antara aku dan teman-temanku, aku pun berani bersaing dengan sahabatku dalam hal ini. Namaku adalah Ametta Alejandra, temanku biasa memanggilku Metta.

Kecanduan Gadget

Oleh:
“Doni!!! Kenapa nilai ulanganmu merah semua?” Teriak wanita paruh baya yang tiada lain adalah ibunya. “Itu sudah biasa Bu,” timpalnya dengan tenang sambil terus memainkan gadget favoritnya. Ibunya hanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *