Anak Tukang Becak Kuliah Di Inggris

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 31 July 2017

Dia adalah Eca, anak SMP yang rajin belajar, baik hati dan tidak sombong. Ia hidup dalam keluarga yang kurang mampu, ibunya seorang penjual sayur dan ayahnya seorang penarik beca. Walaupun begitu semangatnya untuk belajar tak pernah patah. Setiap hari, ia selalu membantu ibunya mengikat sayur untuk di jual, terkadang ia yang menjual sayur, menggantikan ibunya jika ibunya sakit.

Sebentar lagi ia tamat SMP, dia bingung ibu dan ayahnya tak mampu menyekolahkannya ke SMA, Karena keadaan ekonomi keluarganya yang kurang baik. Meskipun demikian, ia tak pernah putus asa mengejar impiannya menjadi seorang dokter.

Pengumuman kelulusan dan nilai UN pun tiba, disaksikan seluruh peserta sekolah di halaman depan sekolahnya. Kata kepala sekolah, siapa yang lulus dengan nilai UN terbaik akan disekolahkan SMA gratis. Eca berharap besar lulus dengan nilai UN terbaik yang dimaksud. Kepala sekolah pun telah mengumumkan kelulusan, ternyata semuanya lulus. Dan tibalah saatnya pengumuman UN, ia keluar dari tempat pengumuman itu karena dia merasa bukan dia yang mendapat nilai UN terbaik itu.
Saat dia beranjak keluar, kepala sekolah menyebutkan namanya dan langkahnya pun terhenti, suara tepukan dan sorakan semua yang menyaksikan membuatnya berbalik arah. Kemudian dia maju ke depan dengan rasa heran dan tidak percaya. Ternyata hanya Eca yang mendapatkan kesempatan emas itu. Setelah itu, ia diberi uang tabungan pendidikan sebesar Rp 300.000,00 sertifikat dan surat keterangan masuk SMA gratis.

Setelah itu ia pulang ke rumah, diceritakannyalah pada ibu dan ayahnya atas kejadian yang tak disangka tadi pagi, ibu dan bapaknya ikut senang atas prestasi yang telah dicapai Eca anaknya. Seperti dia SMP, karena ia hidup di desa dan jauh dari kota, maka SMA pun tidak ada yang dekat dan tidak memungkinkan Eca untuk berjalan kaki dari rumah ke SMA.

Seminggu kemudian, dia diantar ayahnya naik beca ke SMA yang diinginkannya kemudian mendaftar, minggu depan ia mulai masuk ke sekolah. Menunggu waktu pertama masuk sekolah, ia membantu ibunya menjual sayur. Setiap malam ia harus tidur larut malam karena belajar, dan ia harus bangun pagi-pagi untuk membantu ibunya menjual sayur, kegiatan seperti ini dilakukannya setiap hari.

Hari pertama sekolah SMA pun tiba, ia membuka lembaran baru dengan sekolah dan guru baru, teman-teman baru dan suasana baru. Eca tidak seperti kebanyakan orang, ia sekolah tidak membeli tas baru, ia memakai tas yang dipakainya pada saat kelas VII SMP, sepatu sudah robek, buku tulis juga sisa buku kelas IX SMP. Untuk pakaian ia diberi baju bekas dari tetangganya, walaupun begitu ia tidak malu dan tidak minder dari teman-temannya.

Setibanya di sekolah ia bertemu dengan banyak teman, tidak seperti di SMP, teman-temannya sangat baik pada Eca. Ia betah sekolah di SMA barunya itu, tak lama kemudian lonceng tanda masuk pun berbunyi, “kring-kring”. Setelah lonceng berbunyi semua anak-anak pun masuk ke kelasnya masing-masing. Dan belajar pelajaran SMA yang diajarkan oleh guru-guru mereka, setelah itu mereka pulang ke rumahnya masing-masig.

Seperti menjadi kebiasaan rutin, walau dalam keadaan ekonomi yang kurang baik, Eca selalu bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan. Menurut Eca, sedekah itu tidak harus banyak asalkan ikhlas. Eca bersedekah hanya mengharapkan ridha Allah swt, selain bersedekah ia juga rajin shalat lima waktu.

Baru beberapa bulan ia bersekolah di SMA itu, semua guru terkagum-kagum dan bangga kepada Eca, anak tukang becak yang mempunyai prestasi yang menjulang itu. Lima bulan kemudian, tak terasa besok sudah ulangan semester II, ia selalu berdo’a supaya ia menjadi juara I umum, dan berusaha mendapatkannya. Ketika pengumuman kenaikan kelas, ternyata kerja kerasnya selama ini tidak sia-sia, ia mendapatkan juara I umum di sekolahya.

Ia semakin rajin belajar, rajin ibadah dan rajin menolong orangtuanya. Karena keadaan ekonomi yang kurang baik dan makin menyulitkan. Ia memutuskan untuk bekerja, ia ingin membantu keluarganya, setidaknya untuk ia sekolah. Sejak hari itu, ia mulai bekerja menjadi tukang cuci. Sepulang sekolah setiap jam 2 sore ia keliling desa untuk mencari cucian, dan malam ia mencuci pakaian-pakaian itu dan esoknya dikembalikan kepada pemiliknya. Untuk satu kali mencuci dia mendapatkan uang Rp 15.000,00 satu harinya ia bisa mendapat 3-4 cucian. Semua ini dilakukannya setiap hari. Sambil mencuci ia tetap belajar, seperti menghafal perkalian, membayangkan seolah ia belajar duduk manis diatas kursi, di depan meja dengan beberapa buku. Ia juga mengingat pelajaran-pelajaran yang dipelajarinya tadi pagi.

Di kelasnya, ada sekumpulan anak yang membentuk geng, yang terdiri dari lima orang anak yang lebay dan sombong. Anak-anak itu terkenal jahat, suka ngerjain orang. Geng ini bernama Girls Beautifuls. Anak-anak ini suka iri pada kepintaran Eca. Geng ini selalu senang melihat orang lain susah, dan susah melihat orang lain senang. Sehari-hari kerjaannya hanya mengejek orang dan menyombongkan dirinya.

Pada suatu sore, anak geng itu lewat di depan rumahnya Eca. Mereka tidak sengaja melihat Eca yang sedang mencuci pakaian. Mereka heran pakaian yang dicuci Eca itu banyak sekali. Kebetulan ada seorang anak kecil yang lewat di dekat mereka, mereka menyuruh anak kecil itu untuk menanyakan semuanya kepada Eca. Setelah semua informasi didapat mereka memfoto Eca yang sedang mencuci pakaian yang banyak itu.

Esoknya di sekolah, Eca melihat semua teman-temannya ramai di depan papan pengumuman, ia penasaran dan mendekat, alangkah terkejutnya ia ternyata yang dilihat oleh teman-temannya di papan pengumuman itu adalah foto serta informasi tentang dirinya, yang menjadi seorang tukang cuci pakaian. Eca pun tahu, geng Girls Beatifuls lah yang membuat hal itu. Karena ulah geng nakal itu, ia diejek teman-temannya, “seorang pencuci pakaian”. Ia masuk kelas dan menangis, sahabat-sahabat Eca berusaha untuk menghiburnya. Di balik semua itu ternyata ada hikmahnya juga, sekarang banyak orang yang minta cucikan pakaian, uangnya semakin banyak dan disimpannya untuk kepentingan sekolahnya. Sejak itulah ia tidak pernah meminta uang sepeserpun dari orangtuanya.

Sepulang sekolah, dengan senang hati Eca bernyanyi-nyanyi di sepanjang jalan (diantar ayahnya pakai beca ke rumah). Tak sengaja ia melihat segerombolan orang-orang di tepi jalan. Dengan rasa penasaran ia dan ayahnya mendekat ke tempat yang digeromboli banyak orang tersebut. Tak disangka, ternyata yang digeromboli banyak orang tersebut adalah ibunya yang pingsan di tengah jalan saat berjualan sayur.

Wajah Eca dan ayahnya langsung panik melihat ibunya tergeletak tak berdaya, dengan bibir biru, badan pucat dan kaku. Karena rumah sakit jauh tak memungkinkan untuk membawa ibunya Eca pakai beca. Dengan senang hati ada seorang yang bermobil mewah berhenti tepat di depan ibunya yang pingsan, ternyata ia adalah seorang pengusaha baik hati yang ingin menolong ibunya Eca, Pengusaha tersebut mengantarkannya ke rumah sakit dan mengurus administrasi pembayaran. Biaya rumah sakit pengusaha itu yang membayarnya tanpa minta balasan ataupun imbalan, setelah itu pengusaha tersebut pergi karena ada urusan yang harus diurusnya.

Dengan perasaan bingung dan panik Eca dan ayahnya duduk di kursi depan ruang UGD. Tak lama kemudian dokter keluar dari ruangan UGD tersebut, dan mengatakan pada ayahnya Eca bahwa ibunya hanya kecapean, karena terlalu banyak pikiran dan sampai sekarang pun ibunya belum juga tersadar dari pingsannya.

Tak diduga, adzan ashar pun berkumandang, Eca dan ayahnya kemudian bergegas berwudhu kemudian shalat di masjid yang ada di rumah sakit tempat ibunya dirawat. Selesai dari shalat Eca dan ayahnya kembali ke ruang UGD untuk melihat kondisi ibunya. Tak lama setelah mereka sampai, ibunya pun tersadar dan Eca langsung memanggil dokter, dokter pun datang memberi obat dan memperbolehkannya pulang.
Bu guru bilang hari senin UN dan malam-malam ia sampai tidak tidur sama sekali lantaran harus belajar untuk UN besok. Ia juga selalu berdo’a supaya mendapat nilai UN terbaik. Tiga hari UN pun sudah berlalu. Hari ini saatnya pengumuman nilai UN, dan tak disangka ternyata Eca lah yang mendapatkan nilai UN terbaik tersebut.

Tak terasa tiga tahun sekolah SMA pun telah dilaluinya. Dari kelas X sampai XII , Eca selalu mendapatkan juara umum I dan ditambah dengan nilai UN terbaik. Jadi ia di nobatkan menjadi siswa teladan di SMA nya. Karena prestasinya pun ia bisa kuliah tanpa tes dan mendapatkan beasiswa kuliah untuk S1.

Di kuliahnya pun ia selalu mendapatkan nilai yang besar. Waktu wisuda S1 ia dan ibunya diantar ayahnya pakai beca ke kampus. Karena nilainya yang bagus ia pun mendapat beasiswa kuliah S2 di Inggris. Tapi ia tidak bisa berangkat ke Inggris, lantaran tak ada biaya. Berita itu terdengar sampai ke telinga pengusaha yang pernah menolong ibunya. Seorang pengusaha itu pun datang kerumah Eca dan berjanji akan memberangkatkannya ke Inggris, dan berjanji akan memberangkatkannya.
Esoknya pengusaha itu menjemput Eca dan keluarganya ke bandara. Setelah sampai, pengusaha itu mengurus semuanya dan Eca pun berangkat.

Tak terasa 1 tahun delapan bulan kuliah S2nya pun selesai. Setelah wisuda ia melamar pekerjaan di salah satu Rumah Sakit di sana, Alhamdulillah Eca pun diterima.
Setelah mendapat pekerjaan Eca memutuskan untuk mengajak kedua orangtuanya menetap di Inggris bersamanya, dua tahun kemudian ia menikah, punya anak dan hidup bahagia bersama keluarganya.

Cerpen Karangan: Uswatun Hasanah
Blog: Uswatun Hasanah Unhana Unhn Acoustic
Facebook: Uswatun hasanah unhana unhn

Cerpen Anak Tukang Becak Kuliah Di Inggris merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


When I Love Someone

Oleh:
Mengungkapkan perasaan ke orang yang disukai itu bukan semudah membalikkan telapak tangan. Mulut terkunci, langkah terhenti, dan tubuh membeku. Itulah yang kualami sekarang ini, untuk mengatakan tiga kata “I

Merelakan Dalam Semalam

Oleh:
Hujan tak henti hentinya mengguyur kota Bandung pagi itu. Sedari pagi sampai malam yang larut, tetesan tetesan air itu masih saja berjatuhan dengan derasnya. Membuat banyak orang terpaksa berdiam

Setelah Luka

Oleh:
Tak hentinya mataku bertatap, seolah ia berharga untukku. Tak hentinya aku tersenyum, seolah ia adalah hal yang terindah. Iya, saat ini seluruh pandanganku tak hentinya berpusat pada dia. Dia

Pacaran Membuatku Lupa Segalanya

Oleh:
Halo nama saya Diki Wahyudi, saya akan bercerita tentang kehidupan saya dimasa smk dulu, dimana dulu cinta pertama saya pun hadir dan meracuni jiwa dan raga saya. Kehidupan saya

Open Your Mind

Oleh:
Nata memasuki auditorium dengan langkah yang mantap. Matanya memandang lurus ke depan dengan tatapan yang sangat tajam. Di sebelahnya adalah Pak Abdul selaku guru pendampingnya berjalan beriringan bersamanya. Semua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *