Apa Itu Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 May 2016

Hidup itu nggak lengkap karena cinta? Siapa bilang? Aku seorang cewek yang belum tahu ‘apa sih yang namannya cinta’ semua teman-temanku selalu berbicara itu. Cinta dan cinta membuatku bosan. Di umur 16 tahunku ini aku sedang siap-siap menghadapi waktu-waktuku yang berharga yaitu persiapan olimpiade sains nasional. Karena itulah aku males mikirin cinta. Aku menyukai saat-saat persaingan sengit nanti. Setiap waktuku ku habiskan untuk belajar dan belajar dan tak terasa saat aku selesai belajar langit terlihat kejinggaan. Aku tak tahu sudah berapa jam ku habiskan waktu untuk belajar.

Yang penting aku sudah berusaha sekuatku. Oh ya aku mengikuti bidang lomba geografi. Aku sangat menyukai pelajaran satu ini. Semua menyangkut tentang bumi dan isinya. Sangat menyenangkan menjadi anak olimpiade di sekolahku. Semua menggangapku istimewa dan tak terkalahkan. Tapi ada satu anak cowok yang aku benci di kelas ini dia adalah Tio. Dia selalu mengejekku karena wajahku item dia selalu ngatain aku arang! Dan itu sangat menyebalkan bukan? Aku mencoba tidak peduli tapi kadang itu jadi beban pikiranku. Aku begitu kesal padannya dan dia hari ini pindah duduk tepat di belakangku.

“Resi, wajah kamu cantik banget kayak areng,” Cemoohannya menusuk sampai ke dalam hatiku. Ingin rasannya aku meninju wajahnya biar tidak terbangun lagi. Tapi aku mesti sabar dan mencoba seolah-olah tidak mendengar. Telingaku terlalu berharga untuk mendengar ocehan tak berharga itu. “Resiii. Kamu denger nggak aku ngomong!” lanjut Tio tak menyerah mengejeku sampai semua orang tertawa melihatku. Ini tak bisa dibiarin saja aku bukan bahan bullyan di sini. Tiba-tiba aku berdiri dan menghadap wajahnya. Napasku tak beraturan dan mataku melotot kepadanya.

“Puas!” tanyaku kesal, “Puas kamu ngatain aku? Jadi kamu merasa paling keren, paling kaya di sini! Tunjukkin siapa paling hebat di sekolah ini aku apa kamu!!” Ujarku berapi-api.

Emosiku meluap begitu saja, aku sangat marah hari itu. Ku toleh sekelilingku semua orang di dalam kelas terdiam menyaksikan amarahku. Napasku tersengal-sengal dan aku pergi dari kelas. Apa yang salah? Dia tidak pernah sedikit pun menghormatiku. Aku selalu diganggu olehnya. Oke bakal aku tunjukkin siapa aku sebenarnya. Besoknya aku tidak ke sekolah karena ada pelatihan olimpiade sama Pak Jaka. Pak Jaka adalah guru dan pelatih olimpiade geografi. Aku dan Pak Jaka bertemu di sebuah cafe dan kami belajar di sana.

“Pak, apa tips sukses menghadapi olimpiade?” Tanyaku, soalnya Pak Jaka pernah menang sampai tingkat nasional itulah yang membuatku berani bertanya begitu. Dengan tersenyum Pak Jaka menjelaskan, “Yang pertama kerja keras dan sebuah motivasi, semangat dari seseorang. Bisa dari orangtua atau yang lainnya. Motivasi juga bisa didapatkan dari seseorang yang mengejek kita,” ucapan terakhir dari Pak Jaka membuatku tiba-tiba mengingat Tio, cowok yang arrogant di dalam kelasku itu. Ya omongan jelek dari Tio akan ku jadikan sebuah motivasi. Aku akan tunjukkan siapa aku sebenarnya. Walaupun aku item kayak orang afrika tapi otakku lebih berharga daripada segalanya. Akan ku tunjukki apa kemampuanku. Aku tersenyum membayangkan wajah terkejutnya ketika melihatku menang nanti. Akan ku buat wajahmu malu.

“Risa, kamu kenapa tersenyum?” Tiba-tiba Pak Jaka membuyarkan lamunanku.
“Nggak apa-apa, Pak.” Jawabku cepat dan gugup.

Pak Jaka tiba-tiba memberikan buku yang tebal nauzubilah. Aku segera membuka buku tebal 5 cm itu dengan semangat. Seolah-olah bebanku ini sirna. Semangat baru muncul di badanku. Entah kenapa hari ini aku seperti tersetrum sesuatu. Seperti percikan semangat api. Waktu olimpiade itu tinggal seminggu lagi dan aku sangat gila. Tidak ada waktu makan untuk siang dan malam hari. Entah mengapa aku kelupaan dan terlalu terfokus. Hingga H-3 aku jatuh sakit. Malam itu terasa dingin sekali, sekujur tubuhku terasa kaku dan keringat dingin menempel di dahiku. Rasanya malam itu aku tak sanggup belajar. Kenapa bisa begini? Padahal 3 hari lagi itu adalah momen terpenting dalam hidupku. Tiba-tiba aku menangis dan rasanya hari itu aku tak sanggup.

Hingga aku terlelap tidur. Aku berdoa dalam hati semoga demam yang menjalar di tubuhku ini segera sembuh agar aku siap menghadapi olimpiade yang tak terasa akan diselenggarakan. Keesokan harinya aku terbangun dari tidur panjangku. Tanganku langsung meraba dahiku. Aku bernapas lega, doaku dikabulkan oleh sang pencipta. Aku sembuh dari sakitku. Aku tak menyangka itu padahal semalam suhu tubuhku 38 derajat celcius sekarang kembali normal. Mungkin Tuhan sedang berbaik hati kepadaku dan dia selalu baik kepadaku. Sejak saat itu aku tak berhenti bersyukur dan mengagungkan nama Tuhan. Ku buka buku tebal itu dan belajar dengan serius. Semoga aku bisa menghadapinya. “Ayo semangat Risa!!”

Hari yang aku tunggu telah tiba. Aku menunggu Pak Jaka di gerbang tempat tes olimpiade yang akan dilaksanakan. Ku pandang sekelilingku untuk mencari Pak Jaka dan akhirnya aku menemukannya. Kakiku segera melangkah mendekat ke arahnya dan Pak Jaka segera mengajakku masuk ke dalam ruangan perlombaan. Hingga aku terlelap tidur. Aku berdoa dalam hati semoga demam yang menjalar di tubuhku ini segera sembuh agar aku siap menghadapi olimpiade yang tak terasa akan diselenggarakan. Hari yang aku tunggu telah tiba. Aku menunggu Pak Jaka di gerbang tempat tes olimpiade yang akan dilaksanakan. Ku pandang sekelilingku untuk mencari Pak Jaka dan akhirnya aku menemukannya. Kakiku segera melangkah mendekat ke arahnya dan Pak Jaka segera mengajakku masuk ke dalam ruangan perlombaan. Sebulan kemudian aku begitu galau karena hari ini adalah pengumumannya. Aku cemas dan panik. Untung Viola selalu menghiburku dan memberikan indahnya sentuhan sahabat.

“Risa aku yakin kamu pasti masuk!”
“Makasih Vio,” aku seera memeluk sahabatku satu ini. Tiba-tiba dari ruang kantor terdengar suara microphone dari Pak Jaka menyuruhku menuju kantor. Viola segera menyuruhku ke sana. Aku segera berlari dengan kencangnya. Setiba di kantor aku menemukan Pak Jaka. Napasku tak beraturan saat ini aku gelisah sekali.
“Pak ada apa?” tanyaku langsung ke intinya.
“Selamat Nak kamu masuk nasional. Dan Bapak yakin kamu pasti bisa ke tahap selanjutnya,”
Perasaan senang dan sedih bercampur. Aku sangat bahagia. Luapan emosiku berubah menjadi air mata kebahagiaan.

“Udah Nak jangan nangis!” kata Pak Jaka memberikan sehelai tisu kepadaku.
“Kalau begitu kamu kembali ke kelas. Pulang sekolah nanti temuin Bapak ”
“Baik Pak,” Aku segera mencium punggung tangan guruku dan kembali ke kelas.
“Risa. Kamu kenapa dipanggil. Kamu masuk tingkat nasional yah?” tanya Zaki, ketua kelas di kelas 10 ipa 7.
“Iya,” Jawabku singkat.
“Selamat yah.” ujar sebagian teman di kelasku kecuali Tio yang hanya bisa diam di pojok kelas.

Aku tak peduli dan aku berharap dia sadar akan kebodohannya. Ketika pulang sekolah aku langsung menuju ke kantor untuk menemui Pak Jaka. Tapi saat aku berjalan ke sana tiba-tiba di hadapanku Tio sedang berdiri seperti menunggu seseorang. Aku mencoba tidak peduli dan berjalan santai di hadapannya. Tiba-tiba dia menarik tanganku. Aku segera menepisnya.

“Ada apa sih?!” teriakku kepadanya. “Apa yang akan kamu lakuin! Sudah cukup!” Ujarku menatap matanya dengan tajam.
Entah mengapa tiba-tiba dia menunjukkan wajah lembutnya.
“Maapin aku. Sebenarnya Risa aku…” ujar Tio terputus dan membuatku penasaran.
“Apa?” tanyaku.
“Aku cinta sama kamu,”
“Apa?!!” teriakku.

Otakku mendidih. Aku tak menyangka dengan apa yang barusan diucapkannya. Tiba-tiba aku langsung berlari meninggalkannya. Aku tak menyangka dia adalah orang yang pertama kali mengungkapkan kata cinta kepadaku. Dadaku berdebar dan tiba-tiba aku tersenyum. “Pantesan teman-temanku selalu ngomongin cinta. Ternyata jatuh cinta itu indah dan menyenangkan.”

The End

Cerpen Karangan: Imelda Desniarti
Facebook: Imelda Desniarti

Cerpen Apa Itu Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nampak Tak Terlihat

Oleh:
Ketika semua telah berubah dan berakhir. Aku takut untuk melihat dunia, aku takut melihat jalan hidupku. Amanda adalah namaku dan dinda adalah panggilan kesayangan dari nenekku. Aku selalu memanggil

Cinta Yang Salah

Oleh:
Cinta sejati?, apa itu cinta sejati? apakah cinta sejati itu benar benar ada? Aku tak mempercayai lagi yang namanya cinta sejati setelah aku dikhianati oleh seseorang yang sangat aku

Sun Was Shine

Oleh:
Matahari pasti bersinar dan aku hanyalah badai yang menutupi sinar matahari, aku akan menjauh dari matahari Perkenalkan namaku Audrey aku memasuki kelas, terlihat tatapan sinis dari para gadis. Aku

Kamu yang Dulu

Oleh:
Hari ini tepat 11 bulan jika aku dan dia masih bersama. Kami memang satu sekolah, tapi kami layaknya tak pernah mengenal setelah aku meninggalkan mu. Aku masih selalu memikirkan

Menatap Dari Belakang

Oleh:
Sudah 3 tahun sejak aku meninggalkan tempat ini. Tempatku menghabiskan 3 tahunku. Tempat yang aku pikir akan menjadi sangat membosankan untukku. Tempat yang siapapun tidak akan tahu pengalaman dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *