Bangkit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 January 2016

Di dunia ini aku punya banyak guru di antaranya orangtuaku, guruku di sekolah, dan Buku. Orangtuaku adalah guruku di rumah mereka mengajariku banyak hal. Mereka mengajariku sopan santun, tata krama, dan etika yang baik. Guruku di sekolah adalah guru yang mengajariku teori, teknik, dan sebagainya yang bisa membuat kita lulus dan menyelesaikan pendidikan formal. Buku adalah guruku dimana saja. Di dalam buku banyak sekali pengetahuan yang bisa ku dapat.

Dengan buku aku bisa belajar di mana saja dan kapan saja. Aku merasa bangga dengan semua guruku mereka bisa membentuk karakterku dari yang tadinya tidak tahu apa-apa menjadi tahu banyak hal. Berkat jasa guruku aku bisa meraih prestasi yang membanggakan. Tapi semenjak aku mengenal cinta, aku jadi down dan tidak memperhatikan pelajaranku. Perkenalan itu terjadi secara singkat waktu itu lagi ada kerja kelompok dan kebetulan aku satu kelompok dengannya. Pernah aku kepergok Resti memperhatikan cowok itu namanya Angga.

“Wanda kamu lagi lihatin apaan?” tanya Resti padaku. Aku kaget dan langsung ngalihin pembicaraan. Tapi, Resti tahu aku sedang merhatiin Angga dari tadi. Tiba-tiba Resti berkata padaku.
“Wanda ini tuh lagi belajar kelompok matematika kali, bukannya belajar cinta.” kata Resti dengan suara yang besar. Aku sangat jengkel dibuatnya.
“iya aku tahu kok.” jawabku.
“kalau tahu kenapa dari tadi merhatiin Angga terus bukannya ngerjain tugas.” kata Resti.
Tiba-tiba Angga mendengarnya dan menoleh ke arahku sambil tersenyum. Aku pun jadi malu dan sedikit kesel sama Resti.

Semenjak kejadian itu aku selalu memperhatikan Angga secara diam-diam. Bahkan, aku sudah jarang belajar dan tidak memperhatikan penjelasan guruku. Aku juga tidak mempedulikan orangtuaku. Bahkan, aku juga sudah tidak pernah membuka buku. Hingga tibalah saatnya penerimaan buku raport dan astaga nilai aku blong dan peringkatku menurun. Aku pun sering dimarahi orangtuaku. Bahkan tak jarang aku aku dicaci maki ibuku.

Mendengar bad news aku langsung bertanya pada Nina.
“Nin kenapa yah Ibuku selalu memarahiku?” tanyaku pada Nina dengan menangis.
“Mungkin gara-gara cinta yang menyebabkan prestasimu menurun.” jawab Nina.
“Jadi aku harus bagaimana?” tanyaku.
“Kamu harus lupakan cinta kamu.” jawab Nina.
Aku merenung dan mencoba melupakannya tapi tidak bisa. Semenjak itu aku galau dan frustasi. Aku bangkit lagi. Ku tingkatkan belajarku dan hingga aku bisa berprestasi.

Cerpen Karangan: Nurmilasari
Facebook: Princess Mila Charming
Semoga kalian suka dengan cerpennya.

Cerpen Bangkit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pencuri Nomor Ponsel

Oleh:
Bulan romadhon yang lalu, aku terbawa pandangan kepada cewek bersweater merah di kampungku, tepatnya Bone. Aku terbawa kemisteriusan cewek itu aku jadi ingin lebih tau dan kenalan dengan dia.

Uhh! Pengen Buang Air Besar

Oleh:
Pada saat bel istirahat aku langsung menuju ke kantin untuk membeli makanan dan minum karena pada saat pagi aku belum sarapan. Karena terlalu banyak makanan yang ku makan dan

Man Jadda Wajada

Oleh:
Di suatu kampung ada sebuah pesantren salafi. Pesantren itu dipimpin oleh seorang kiyai yang baik dan bijaksana. Santri-santri yang mengaji di sana sangat banyak, mereka tinggal di kobong-kobong yang

Ada Apa Dengan Hari Senen

Oleh:
Jam masih menunjukkan pukul enam kurang sepuluh menit, sesosok pemuda telah berdiri di depan pintu gerbang sekolahnya yang terkunci. “Paaaakk! Bukain pintu gerbangnya!!” Teriaknya. “Iya iya!” Jawab Tukang Kebun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *