Bantuan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 18 December 2018

Hanif bingung ingin menulis apa ketika diberi tugas menceritakan pengalaman berkesan saat berada di SMA Cakra.

Tangan kirinya berhenti menulis, mulai menyadarkan diri di kursinya.
Ah iya! Kepalanya mendongak sambil nyengir.

Satu hal yang mengubahnya menjadi seperti sekarang, yaitu karena Zahra. Hanif dan Zahra berkenalan saat kelas 10. Awalnya saat istirahat, Zahra malu-malu masuk ke kelas Hanif atas desakan temannya.

“Aku…”
Hanif yang membaca komik tertegun sebentar. “Ya?” ucapnya datar. “Ada perlu apa?”
“Sebenarnya aku mau tanya soal abangmu, Nif.”

Bang Irfan. Salah satu anak populer di sekolah. Terkenal sebagai maskotnya anak bahasa beberapa tahun ini. Pintar baca puisi, pintar akting, aktif di OSIS, rajin dan disayangi guru. Mirip seperti Hanif, Bang Irfan berambut keriting dan berpostur pendek. Hanya saja interaksi antar keduanya jarang kelihatan.

“Kalau mau minta kirim surat cinta, jangan ke aku. Abang enggak dekat denganku,” jawabnya ketus.
“Erm, aku mau tanya sifatnya saja.”
Selagi meletakkan komiknya ke meja, Hanif mengangguk. “Siapa nama kau?”
“Zahra. 10 D,” ucap gadis yang poninya disirkam itu, pelan.

Sejak berkenalan dengannya, Zahra sering berkunjung ke kelasnya dan mengajak Hanif keluar kelas saat istirahat.

“Kalau mau bicarakan abang, jangan di dekatnya atau tempat yang sering bertemu. Yang agak jauh dan jarang saja.”
Zahra mengangkat bahu. “Ya mau di mana? Di kelas?”
“Mana enak di kelas orang lain.”
“Egh! Di depan kelas kau saja, lah!”

Selama kurang lebih 2 minggu, mereka bercakap-cakap. Mulai dari hobinya, kebiasaannya, film kesukaannya, kadang malah obrolan urusan masing-masing. Hanif jadi terbiasa keluar kelas sambil memikirkan betapa menyebalkannya Zahra mengusik kebiasaan baca komiknya itu. Semakin erat hubungannya dengan Zahra, yang tadinya malu-malu menjadi ribut.

“Dia suka musik genre apa?”
“Jazz,” jawabnya singkat. Ia berniat menambahkan informasi. “Pokoknya kamu harus punya alasan kuat untuk mengajaknya. Abang enggak suka hal yang enggak penting.”

Hanif kemudian memutuskan untuk mengontak Zahra diluar sekolah dengan memberikan nomor ponselnya. Terutama jika berkaitan dengan hal lain seperti pelajaran dan bertukar pikiran. Semakin lama Hanif merasakan suatu hubungan yang sudah lama tidak didapatkannya.

Hari Jumat pada minggu ketiga. Bang Irfan sempat lewat lorong kelas 10.

“Hei, kamu mau tunggu sampai kapan? Buruan, beri tahu sekarang!” bujuk Hanif. “Sebelum kelas 12 dan dia lulus!”
“Tunggu aku bila siap!”
Hanif melangkah menjauhi Zahra. “Aku ke kelas, dah.”
Mulut Zahra menganga. “Hah!?”

Saat bang Irfan lewat di depan Zahra, Zahra tidak berkata sepatah kata pun. Tidak menyapa, tidak tersenyum. Hanif yang melihat sekilas dari jendela beranjak keluar.
“Nah lho, kan! Mau sampai kapan kau mau bergantung padaku?”

Sejak saat itu Zahra sudah tidak sering mengunjungi kelas 10 A lagi.
‘Alalala, pagi hariku terlampau sepi’

Hanif beranjak dari kasur, mengambil ponsel yang terletak di mejanya.
“Hai.”
“Eh? Halo… Zahra?” Zahra meneleponnya setelah tiga hari tidak bertemu langsung.
“Hehehe, iya. Sedang apa kau?”
“Telepon dengan kau lah! Ngawur kau itu bicara.”
“Hehehe. Oh ya aku mau tahu dari kemarin, tapi enggak aku tanya. Kenapa kamu dengan abangmu tak akrab?”

“Ah?” Mulutnya berhenti mengeluarkan suara kurang lebih 7 detik, dan Zahra tidak memotongnya. “Sibuk.”
“Sibuk untuk apa sih?”
Dahi Hanif mengernyit. “Erm ya, biasa. Tahu sendiri lah abangku macam apa kan. Lomba-lomba, belajar, berkarya ini itu dengan kawannya, ah tahu sendirilah!”
Zahra bergumam paham.
“Yah jadinya,” ia teguk ludahnya. “Ya, jadi enggak ada kawan buat diajak omong, begitu.”
“Oh… iya, iya, paham.”
“Ya, gitu, gitu…” Hanif tak meneruskan. Selesailah percakapan mereka hari itu.

Itu mendorong Hanif supaya bertemu dengan Zahra lagi di hari selanjutnya. Mencari di kelas 10D, Zahra tak ada. Ya pastilah! Zahra bukan anak yang suka berlama-lama di kelas macamnya.

Haus, ia pergi ke kantin, sekalian mencari Zahra.

Di antara kursi kantin yang dipenuhi orang-orang, mata Hanif tertuju pada gadis yang poninya disusun rapi dari belakang. Ia sedang mengobrol dengan kawan-kawannya sampai,

“Zahra?”
Gadis itu menengok. “Eh, Hanif?”
“Kau kapan mau beri tahu abangku?”
Mulut Zahra masih mengunyah pelan, makanannya langsung ia telan. Bola mata Zahra memutar menjauhi Hanif. “Erm…”

Zahra merunduk.
“Aku takut lah Hanif.”

Sia-sialah dia bertanya denganku selama 3 minggu lebih itu. Pernyataan itu membuat Hanif mengangkat alisnya.

“Minder aku. Saingannya banyak. Dia pasti enggak punya waktu, mending dia melanjutkan kerjaannya.”
Hanif terdiam. Ia berbalik, sambil melangkah, mengucap pelan, “Ya sudahlah. Selamat makan.”
“Hei!” panggil Zahra. “Sini lah Hanif!”

Apalagi?

Hanif kembali ke tempat Zahra.
“Kau kan sudah bantu aku, Nif. Nah mari, duduk!” Zahra memberi tempat duduk untuk Hanif dengan menggeser tubuhnya.

Tanpa pikir panjang, Hanif duduk. Zahra mendekati Hanif, berbisik. “Terima kasih.” Tergores senyum tipis di wajah Hanif, yang sebelumnya datar.

Bertemu Zahra mengubah cara pandangnya. Membuat Hanif menjadi lebih aktif dalam bergaul. Ia berkenalan dengan teman-teman Zahra, tidak hanya perempuan saja. Lebih aktif keluar kelas daripada mengurung diri di kelas.

Tak hentinya senyum-senyum, Hanif kembali menulis dengan semangat. Aku akan selalu ingat terus.

Cerpen Karangan: Cindy Santoso
Blog / Facebook: Sherlie Santoso

Cerpen Bantuan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Flashdisk

Oleh:
Seperti biasa jam weaker berbunyi pukul 4 pagi. Andra pun bangun dan langsung ke kamar mandi berwudhu lalu sholat subuh. Setelah itu ia berolahraga agar badannya tetap fit, kerena

Surat Di Laci Meja

Oleh:
Nama gue Cinta. Sekarang gue duduk di kelas X SMA. Gue lagi naksir sama seseorang, dia senior gue. Namanya Ciko. Gue gak tau kenapa gue bisa suka sama dia.

Menjadi Salehah

Oleh:
Namaku Sara Stacie Febiella. Panggil aku Sara. Yap, aku keturunan Inggris. Mamaku adalah keturunan Inggris. Aku beragama Islam. Mama memang sudah memeluk agama Islam sejak lahir. Aku anak sulung,

Patah Hati Terhebat

Oleh:
Semua orang pasti mengalami patah hati. Tapi, mayoritas patah hatinya hanya karena diputusin. Tapi tidak untuk aku, aku mengalami patah hati terhebat dalam hidup aku. Pergi meninggalkan aku dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *