Benang Merah Penghubung

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 August 2016

Jam menunjukan pukul dua siang. Pukul dimana saat-saat yang bagus untuk menikmati tidur siang. Di sebuah kelas terlihat beberapa murid melakukan rutinitas mereka yaitu tidur siang. Termasuk siswi yang satu ini, tanpa menghiraukan hukuman apa yang didapat ia tetap melaksanakan aktivitas wajibnya itu. Bosan melihat tingkah laku siswinya yang satu ini Guru yang sedang mengajar IPA di kelas itu mendekati siswi itu.
“Apa mimpimu indah nona Lena Mervella?” tanya Guru IPA itu saat mendekati meja Lena.
“Ya tentu. Saat ini aku berada di sebuah kebun anggur dan sedang makan banyak anggur” jawab Lena tanpa membuka mata dan mengetahui siapa yang sedang bertanya.
“Kenapa kau tidak berada di kebun mawar dan memakan semua mawar yang indah di sana, bukankah duri dari mawar itu sangat enak?” tanya Guru IPA itu lagi.
“Aku tidak bisa memimpikan hal seburuk itu, karena aku sangat tidak suka hal-hal yang berwarna merah bahkan namaku sendiri” jawab Lena tetap dalam keadaan tidur.
“Sepertinya kita sependapat, aku juga tidak suka dengan namamu itu, jadi bangun dan pergi ke luar cuci mukamu itu!” perintah Guru IPA dengan menarik tangan Lena.
“Kekerasan fisik, apa Ibu tidak pernah belajar tentang HAM?” tanya Lena sambil menghelus-helus tangannya.
“Pertanyaan yang bagus, apa kau juga tidak pernah belajar tentang cara menjadi siswa yang baik saat belajar?” tanya Guru IPA itu.
“Aku mau, tapi sampai saat ini tidak pernah kujumpai buku atau tempat les yang mengajarkan pelajaran itu. Aku ke luar” jawab Lena dan berlari ke luar kelas. Semua siswa tertawa setiap kali melihat seorang guru bertengkar dengan Lena.
“LENA…” teriak Guru IPA itu karena merasa marah pada Lena.

Lena berjalan ke toilet, ia selalu memperhatikan setiap kelas yang dilaluinya. Di toilet Lena membasuh wajahnya. Ketika ke luar dari toilet Lena menemukan seutas tali yang terjalin dengan unikya, berwarna merah yang indah.
“Siapa yang menjatuhkan benda secantik ini?” Lena mengambil tali itu. Ia merasakan lembutnya permukaan tali itu. Ada kenikmatan tertentu yang dirasakan saat mengambil tali itu.
“Apa aku boleh mengambil benda ini?” tanya Lena pada dirinya sendiri. Tanpa berfikir panjang Lena mangantongi benang itu.

Lena berjalan menuju kelas, saat itu ia melihat buak Guru IPA jutek lagi yang mengajar tapi sekarang adalah Bapak seni yang baik.
“Hallo Lady Lena Mervella!” sapa Guru seni yang bernama Jovi itu.
“Hallo guruku yang baik, aku selalu tepat pada waktunya setiap kali Anda akan menyampaikan berita yang penting” ucap Lena.
“Benar-benar luar biasa, aku tidak akan meragukan lagi kemampuan luar biasamu ini” kata Pak Jovi.
“Terima kasih atas pujianmu my prince” ucap Lena bangga. Seisi kelas hanya diam memperhatikan percakapan Lena dan korbanya.
“Sama-sama Lady. Karena kau mengetahui apa yang akan aku sampaikan bisakah kau memberitahukannya kepada teman-temanmu di sini?” tanya Pak Jovi menguji Lena.
“Sangat sederhana. Ya baikalah. Teman-teman pekan nanti sekolah akan mengadakan kegiatan sosial di luar sekolah. Aku rasa tujuannya kali ini kebun teh yang penting kalian harus menyiapakan perlengkapan yang diwajaibkan sekolah dan perlengkapan pribadi kalian. Jangan lupa bawa kamera” ucap Lena. Melihat kefasihan Lena berbicara Pak Jovi menjadi kagum melihatnya.
“Hampir 85% benar, terima kasih Lady Lena Mervella. Saya penasaran bagaimana kau bisa tahu apa yang akan saya sampaikan?” tanya Pak Jovi.
“Sangat menguji. Pertama Bapak harus mengetahui jika saya sudah keluar selama setengan jam, menurut Bapak apa saja yang saya lakukan di luar sana” ucap Lena menguji gurunya.
“Aku mengerti, sekarang silahkan duduk Lady Lena” kata guru itu.
“Terima kasih tuan baik” Lena menuju mejanya dengan bangga.
Pak Jovi menerangkan kembali tentang acara sosial itu Lena berfikir keras tentang rencana apa yang akan dilakukakanya saat acara sosial.
“Siapa yang akan menjadi targetku saat ini. Jika mengerjai orang yang membenciku adalah hal biasa, bagaimana jika orang yang baik kepadaku” pikir Lena.

Malam itu Lena sedang menonton acara kesukaanya di ruang keluarga. Lena melihat neneknya berjalan ke tempatnya.
“Kau tidak belajar?” tanya nenek Lena saat duduk di sofanya.
“Aku harus mengerjakan tugasku dulu Nek” ucap Lena.
“Tugas? Aku tidak melihatmu mengerjakan apa-apa” nenek Lena heran dengan ucapan cucunya.
“Aku harus selesaikan tugas menontonku dulu nek” kata Lena dan tertawa.
“Dasar pemalas” kata nenek.
“Bukan Lena namanya kalau melakukan sesuatu yang bermanfaat” bangga Lena.
“Aku tidak memberimu nama itu untuk menjadikanmu pemalas. Ada sebuah makna yang indah di dalam namamu itu” jelas nenek membantah pendapat Lena.
“Apa maknanya? Katakan padaku!” Lena selalu marah ketika neneknya membahas tentang namanya.
“Suatu saat kau juga akan mengerti setelah melalui beberapa peristiwa.” jelas nenek Lena.
“Jawaban yang sama yang pernah aku terima. Nenek bahkan tidak memberitahuku tentang ibu dan ayahku, bagaimana nenek mau memberi tahuku tentang diriku sendiri” ucap Lena marah.
“filmmu sudah berakhir sekarang masuklah ke kamar dan tidur” ucap nenek Lena.
“Aku tahu itu”

Hari yang ditunggu Lena datang yaitu acara sosial sekolah. Pagi itu Lena telah mempersiapkan semua perlengkapannya serta rencana yang matang untuk tergetnya kali ini. Saat bus jemputannya datang Lena sesegera mungkin berlari agar bus itu tidak meninggalkannya lagi seperti acara sosial sebelumnya. Saat menaiki bus Lena melihat siswa-siswi yang lain mengenakan pakai, baju, tas yang baru. Itu membuat Lena merasa sangat iri dan untung saja Lena memiliki teman yang sama seperti dirinya namanya Indri.
Lena melihat Indri sedang duduk di bangku belakang.
“Lena… sini” panggil Indri.
“Aku ada rencana bagus kali ini” ucap Lena menghampiri Indri.
“Oh ya… siapa targetmu kali ini?” tanya Indri.
“Ehmm. Seorang guru yang baik dan sangat mencintai seni” ucap Lena.
“Bodoh, bagaimana mungkin kau mengerjai orang baik Lena” ucap Indri saat menatap orang yang akan dikerjai Lena.
“Aku hanya ingin memastikan satu hal. Itu saja kok” ucap Lena meyakinkan temannya.
“Terserah padamu. Jika kau butuh bantuan hubungi saja aku ok” kata Indri.
Mendengar temannya berkata seperti itu Lena merasa sedih. Lena menatap lama temannya dan memeluknya.
“Kenapa mereka membuat kita beda kelas. Aku ingin kita seperti dulu lagi, kau tahu betapa kesepiannya aku selama ini” ucap Lena sedih.
“Oh ya. Dulu kau juga pernah seperti ini, apa kau masih ingat kejadian yang lama?” tanya Indri.
“Aku lupa” jawab Lena singkat.
“Tanpa kau sadari, kau mengatakan hal yang sama kepadaku saat itu. Kesepian… ternyata bukan kau yang kesepian” jelas Indri.
Bus yang mereka tumpangi berhenti. Semua siswa turun dengan mimik wajah dan ungkapan yang sama.
“Indah” ucap mereka serentak.
Lena dan Indri turun paling akhir. Indri memperhatikan setiap bus yang datang.
“Sebentar lagi acara akan dimulai, aku pergi dulu kau baik-baik ya” ucap Indri dan melambaikan tangan pada Lena.
“Kau juga baik-baik” Lena membalas lambaian tangan Indri.

Setiap kelas berbaris dan akan mendengarkan instruksi dari wali kelas mereka. Si guru IPA yang jutek datang, ia merupakan wali kelas dari kelas Lena. Sungguh pemandangan yang unik, semua mata tertuju padanya bahkan dari kelas lain. Ia mengenakan jas laboratorium bewarna pink, sepatu dengan tinggi hak mencapai 15 cm, kaca mata, topi, dan aksesoris lainnya. Tetapi tetap saja ada satu orang yang cuek terhadap itu.
“Selamat pagi menjelang siang anak-anak” sapa Guru IPA jutek.
“Selamat pagi Bu” jawab semua siswanya kecuali Lena yang tidak mempedulikan Guru IPA jutek. Sedari tadi Lena memperhatikan gerak-gerik dari targetnya kali ini. Merasa aneh dengan sikap siswanya yang satu ini Guru IPA jutek melakukan interogasi.
“Selamat pagi menjelang siang nona Lena Mervella. Bisakah kau mengatakan sesuatu kepadaku hari ini?” tanya Guru IPA jutek.
“Selamat pagi menjelang siang juga Guruku. Anda sangat membuat saya kagum hari ini, Anda telah membuat Benjamin Franklin yang sangat sempurna” jawab Lena dan semua siswa tertawa.
“Terima kasih atas pujian menyakitkanmu itu nona Lena Mervella, aku lihat dari tadi kau tidak memperhatikanku. Apa kau sedang menyusun rencana membuat jebakan untukku?” kata Guru IPA jutek.
“Tidak, aku tidak merencana apapun untuk Anda hari ini. Karena hari ini aku akan menjadi anak baik” jelas Lena.
“Kau yakin? Karena aku tidak yakin padamu” ucap Guru IPA jutek dan menatap Lena tajam.
“Aku baik. Aku yakin kok” ucap Lena membalas tatapan itu.
Guru IPA jutek melanjutkan memberikan instruksi kepada siswanya yang lain. Lena kembali memperhatikan gerak-gerik targetnya.

Semua siswa sudah bubar dan menuju lokasi yang menjadi tugas mereka masing-masing. Mereka berjalan berkelompok-kelompok sesuai yang telah ditentukan. Baru setengah perjalanan Lena pergi meninggalkan kelompoknya. Ia pergi mengikuti Pak Jovi yang akan menjadi targetnya saat ini.
Lena meihat Pak Jovi masuk ke sebuah warung. Lena mendekati warung itu dan bersembunyi di balik jendela luar warung.
“Mas kopi satu ya” suara Pak Jovi.
“Aku kira dia hanya meminum jus” ucap Lena.
“Saya tidak menyediakan jus, Mas” kata penjaga warung itu.
Semua orang yang ada di warung itu saling bertukar pandang. Pak Jovi merasa yang sedang dikatakan oleh penjual itu adalah dirinya.
“Saya pesan kopi saja, Mas” ucap Pak Jovi.
Penjual warung membuat kopi pesanan Pak Jovi. Kopi pesanan itu diantarkan ke meja Pak Jovi. Melihat kopi itu sangat panas, Pak Jovi menunggunya hingga panasnya berkurang. Ia pergi ke luar warung lewat pintu belakang untuk mencari udara segar.
“Kopi yang sendirian” Kata Lena. Ia mulai menjalankan rencananya. Lena masuk ke warung dengan pelan-pelan lalu ia memesan kopi dan duduk berdekatan dengan tempat duduk Pak Jovi.
“Mas saya pesan kopi ya” ucap Lena. Tidak lama kemudian kopi pesanan Lena datang..
“terima kasih Mas ganteng” ucap Lena bahagia melihat kopinya datang. Lena mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sakantong plastik kecil garam, lena menaburi garam itu ke dalam kopinya.
“Kopi yang sempurna untuk orang yang sempurna” ucap Lena saat menukar kopinya dengan kopi milik Pak Jovi.
“Pak, saya baru ingat kalau saya alergi minum kopi jadi ini uangnya” kata Lena kepada penjaga warung.
“Terus ini gimana mbak?” Tanya penjaga warung heran karena kopi Lena beum diminum sedikit pun.
“Angkat aja mas” jawab Lena dan ia keluar dari warung itu.
Tidak beberapa lama Lena keluar Pak Jovi masuk dan langsung meminum kopinya. Brrrr… suara semburan kopi yang diminum oleh Pak Jovi.
“Mas… kopinya asin banget?” tanya Pak Jovi.
“Mana mungkin mas… saya belum kehabisan gula kok” jawab penjual itu.
Dengan sabar Pak Jovi berhenti mempermasalahkan hal itu dan memesan kopi lagi. Melihat respon Pak Jovi seperti itu Lena tersenyum, ia merasa puas dengan penelitiannya yang aneh. Lena berjalan meninggalkan warung itu.

Lena sampai di tepi sungai, ia hendak mencuci kakinya yang kotor karena melewati kebun teh. Belum sempat membuka sendalnya. Di seberang sungai Lena melihat seorang pria yang aneh dan pria itu sedang memandang dirinya. Pria yang tampak usang, dan kurus kering itu memalingkan padangannya kepada Lena. Pria itu terlihat mengganggu setiap orang yang lewat di depannya.
Lalu entah kenapa tubuh Lena gemetar melihat orang itu. Pikir Lena orang itu tidak waras, ia orang gila. Lena berlari menjauh dari sungai itu, saat melihat orang gila itu mengejar seorang wanita yang lewat di depannya.
Lena sampai di pemukiman penduduk di desa itu. Karena terlalu jauh berlari ia tidak lagi melihat hijau-hijau kebun teh. Hal itu tidak membuatnya terlalu takut, setidaknya dia tidak bertemu dengan orang gila itu.
“Astaga… apa ini rasanya tersesat” ucap Lena. Ia hampir setengah jam mengelilingi pemukiman desa itu. Sampai akhirnya Lena menemukan jalan raya. Di sana terlihat pangkalan ojek dan ada dua bapak ojek yang kosong.
Lena mendekati pangkalan itu. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat pria yang tadi menatapnya jauh sekarang benar-benar berada di depan matanya. Tubuh Lena kembali marasa bergetar, ia berlari selagi ada jalan yang ia temukan. Sadar bahwa laki-laki itu mengejarnya Lena tanpa sengaja masuk ke rumah salah seorang warga.

“Bu.. saya mohon izinkan saya tinggal sebentar saja, ada orang gila yang sedang mengejar saya” ucap Lena kepada pemilik rumah.
“Maaf, kalau soal itu saya ngak bisa nolong kamu. Sebaiknya kamu ke luar sebelum orang itu masuk ke rumah saya” ucap pemilik rumah.
“Tapi Bu saya benar-benar takut” Lena meneteskan air mata.
Tanpa mereka sadari laki-laki itu telah berada di dalam rumah itu.
Lena berteriak ketakutan ketika pria itu mendekatinya dan menangis.
“Ibu” ucap laki-laki itu.
“Ibu?” tanya Lena.
“Ibu… dia takut padaku. Apa kau juga takut padaku?” ucap laki-laki itu kepada si pemilik rumah.
Lena bingung apa yang dibicarakan oleh pria dan ibu pemilik rumah.
“Ibu aku anak ibu… jangan biarkan aku tinggal di luar sana” ucap laki-laki itu, ia menangis.
“Sebaiknya kalian berdua pergi dari rumahku” ucap pemiliak rumah.
“Apa dia ibumu?” tanya Lena
“Dia ibuku… benarkan bu?”
Wanita itu bingung harus menjawab apa. ia meneteskan air mata.
“Aku tidak mau memiliki anak cacat sepertimu” kata wanita itu.
“Apa yang Anda katakan nyonya? Dia anakmu dan Anda tidak mau merawatnya?” tanya Lena.
“Apa kau mau merawatnya? Kalau begitu kau saja yang merawatnya” jawab wanita itu.
“Apa Anda berfikir untuk mengingat bagaimana perjuangan Anda melahirkannya? Jika Anda orang baik, apapun yang Anda dapatkan pasti akan Anda hargai. Dan Anda mempunyai anak yang ingin dihargai” ucap Lena.
Wanita itu hanya menangis. Laki-laki yang merupakan anak wanita itu mendekati ibunya tersebut.
“Ibu”
“Hari”
“Maafkan ibu”
“Ibu tidak pernah salah”
Mereka berpelukan.

Laki-laki itu mendekati Lena.
“Terima kasih, benang merahmu telah membantuku” ucapnya.
“Apa maksudmu?” Tanya Lena.
“Aku tidak tahu”
“Dan aku harus pergi, selamat kalian telah akur kembali” Lena pergi meninggalkan rumah itu.

Lena tidak menyadari jika ia tidak mengetahui jalan kembali ke kebun teh.
“Aku mohon jangan tersesat lagi” Lena melewati sebuah gang kecil.
“Kau salah jalan Lady Mervella”
Lena berbalik dan ternyata itu adalah Pak Jovi, si baik.
“Apa Anda tahu jalannya?” Tanya Lena
“Tentu”
“Kalau begitu aku ikut”

Mereka sampai di kebun teh. Semua siswa telah bersiap-siap untuk kembali ke rumah.
“Ngomong-ngomong bagaimana Anda mengetahui keberadaanku?” Tanya Lena.
“Karena kenakalanmu. Tapi Lena kau telah melakukan hal baik, dan aku bangga” ucap Pak Jovi.
“kalau begitu aku akan sering mengganti kopimu” Lena berlari ke busnya dan ia tertawa.
Langit mulai senja, semua orang telah menaiki bus. Di perjalanan Lena melakukan rutinitasnya yaitu tidur. Saat itu iya memimpikan hal yang sangat indah, entah apa itu mungkin berkaitan dengan ceritanya selanjutnya.

Cerpen Karangan: Dea Safarina
Facebook: Dea Safarina

Cerpen Benang Merah Penghubung merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Obat Rasa Jeruk (Part 1)

Oleh:
“Sebenarnya aku suka padamu Belle, Sejak lama, aku sudah memperhatikanmu, Lalu… umm maukah kau jadi pacarku?” Tak bisa kupercaya Kak Alex mengucapkan kata-kata itu. Di tengah lapangan, saat semua

Tantangan Gila

Oleh:
“Andi, Dian, Rio…” panggil Leo. “Ada apa Leo. Kok kayaknya lo serius banget. Ada hal penting yang mau lo omongin sama kita?” Tanya Dian. “Yupz, bener. Gue punya sesuatu

Ran dan Ron (Part 1)

Oleh:
Malam sudah larut, namun gadis belum juga terlelap. Matanya yang hitam kelam menatap sebuah foto di tangannya. Suara-suara teriakan terdengar dari luar kamarnya yang gelap. Perlahan setitik air mata

Aku Bahagia Tauu!

Oleh:
Aku memeriksa WA dari mereka, ‘met ultah buat besok…’ kata Pratam, ‘oh yak… met ultah aku lagi di bioskop pegen nonton IT’ kata Radit, ‘aku lagi di luar nih…’

Suddenly

Oleh:
Khusus kelas tiga B di SMP Jaya melakukan refreshing. Itu dilakukan usai Ujian Nasional bulan Mei lalu. Rencana atau ide tersebut merupakan hasil dari rundingan ketua kelas tiga B

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *