Bentor (Becak Motor) Dan Musik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 March 2016

Hei lari pagi, tua muda semua, lari pagi, yang sangat digemari, hei lari pagi. Aku berlari ke depan rumah masih berbalut selimut tebal, dengan mata sembab aku melihat satu per satu orang yang berada di jalan, mencari tahu dari mana datangnya konser dangdut yang membangunkanku dari mimpi terindah yang pernah muncul dalam tidurku pagi ini. Tapi yang tertangkap oleh mataku hanya beberapa pejalan kaki dan tukang becak yang lalu lalang mencari penumpang.

Tidak lama, suara dari roma irama yang bernyanyi mulai terdengar semakin mendekat dari arah utara. Menit berikutnya mataku sudah melebar dan melotot. Perkiraanku jelas salah besar, mengira bahwa sedang ada konser tunggal dari roma irama yang kesasar di kota ini. Tukang bentor dengan speaker besar yang mengalunkan lagu-lagu dangdut, suatu kombinasi yang berhasil membuatku mengernyit karena mencoba memproses situasi aneh yang terjadi baru saja tepat di depan mataku. Sebenarnya tidak jadi masalah jika tukang bentor itu menyukai lagu dangdut, yang jadi masalah besar di sini adalah suara dari speakernya yang bisa mengganggu pendengaran.

Setelah kejadian itu, aku baru tahu dari sepupuku yang sudah lama tinggal lama di sini bahwa kejadian itu sudah biasa. Tidak ada yang terganggu atau marah, yang mendengar malah tertawa menyaksikan tukang bentor itu lewat. Menjadikannya hiburan lebih baik daripada menjadi alasan kecil untuk marah. Hari ini cuaca sangat cerah, terlalu cerah hingga membuatku berdiam diri di depan kipas kecil yang ada dalam rumah. Karenanya aku lebih mau menyebut kalau ini adalah hari yang panas. Aku malas ke luar rumah atau melakukan kegiatan lain yang mengharuskanku ke luar rumah. Tapi aku tidak akan pernah masuk perguruan tinggi jika tidak segera berangkat ke kampus untuk mengikuti ujian masuk.

“Cepatlah Yun.” Teriak sepupuku di atas motornya.
“Iya, iya.” aku mengambil tas dan berhambur keluar menemui sepupuku. “sekarang jam berapa?” Tanyaku.
“Jam delapan lewat.” Jawabnya dan aku langsung naik ke atas motor. Seingatku setengah sembilan, ujian sudah dimulai.

Selama perjalanan aku terus berdoa agar tidak ada macet dan tidak mendapat lampu merah. Dan semua berjalan sesuai keinginanku kecuali satu. Ada sebuah angkot di depan kami yang kadang berhenti tiba-tiba. Kami juga tidak bisa melambung karena jalanannya sempit dan banyak pengendara mobil yang terparkir di sisi kiri jalan. Aku berkali-kali harus menahan diri untuk tidak berteriak. Untungnya aku bisa sampai tepat waktu, dua menit sebelum ujian dimulai.

Setelah ujian, aku ke kantin membeli sebuah minuman dingin. Selain karena cuaca masih panas, juga untuk meredakan kemarahan yang tersisa karena kejadian di jalan tadi. Tiba-tiba sepupuku menelepon, dia mengatakan tidak bisa datang menjemputku karena ada kuliah, dan aku disuruh untuk naik angkot atau bentor pulang ke rumah. Angkot atau bentor, kalau mau jujur, aku tidak ingin memilih salah satunya. Kenapa? Angkot, aku tidak pernah naik angkot sebelumnya dan di tempat ini tidak ada angkot yang lewat. Jadi ditunggu sampai kiamat pun, angkotnya tidak akan datang. Kemudian pilihan kedua yaitu bentor, ada banyak sekali bentor yang terparkir di sekitar kampus, mulai dari yang pengemudinya masih muda sampai yang sudah lanjut usia, dari yang polos sampai yang dipenuhi aksesoris.

Sebuah bentor berhenti di depanku. “Mbak, mau naik bentor?” Tanya pengemudinya.
“Kalau ke jalan abdul kadir, berapa?” Aku selalu ingat pesan sepupuku. Katanya kalau mau naik bentor, tanya dulu sewanya. Agar tidak syok berat pas udah sampai dan dimintai pembayaran yang lebih mahal dibanding harga aslinya. “Lima belas ribu.” Jawabnya dan aku kemudian naik ke atas bentor.

Awalnya masih biasa dan tenang. Naik bentor seperti naik ayunan, aku mulai mengantuk dan menguap beberapa kali padahal baru dua menit aku berada di atas bentor. Tapi, bencana datang saat itu juga. Alunan musik yang perlahan kecil hingga membuatku terkesiap dan kehilangan rasa mengantuk, terdengar dari bawah tempat dudukku. Aku melihat ke bawah tempat duduk dan mendapati dua speaker besar. Ya ampun, kenapa aku bisa lupa benda ini? aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Hanya terus menutup kedua telingaku dengan tangan. Sesekali aku menyuruh tukang bentornya untuk mematikan speaker itu, tapi dia tidak dengar karena sibuk mengendarai dan suara musik dangdutnya lebih besar sepuluh kali lipat dari suaraku. Ya Allah, tolong hamba. Ucapku dalam hati.

Selesai

Cerpen Karangan: Yukagem
Blog: http://ceritaalarmhati.blogspot.co.id
Facebook: Kanzaki
Cerita yang mengalir begitu saja saat bosan hehe.

Cerpen Bentor (Becak Motor) Dan Musik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Apakah Kamu Mencintaiku?

Oleh:
Jadi gini ya guys, saat gue duduk di Bangku SMK gue itu naksir sama cewek dia itu kembang sekolah, parasnya asia, berkulit putih, cerdas dan cantiklah, imut banget kalau

Laras

Oleh:
Angin berhembus malu-malu membawa aroma laut yang berada di ujung barat sana. Matahari mulai tenggelam karena memang hari sudah hampir senja. Laras menendang-nendang tembok pembatas atap sekolah. Sudah hampir

Laskar Putih Abu Abu

Oleh:
Remaja berkulit putih, berambut ikal, bertubuh tinggi, dan memiliki semangat yang tinggi dalam mengejar impianya. Remaja itu bernama Viara, ia duduk di kelas 10 di salah satu sekolah modern

Susah Ya Mengejarnya

Oleh:
Aku seorang remaja pria yang bernama Victor tidak memiliki banyak kelebihan yang suka kepada seorang wanita benama Santi yang menjadi incaran banyak orang entah kenapa semua yang suka kepada

Terima Kasih Guru

Oleh:
Ais kembali berjalan menyusuri trotoar yang menemaninya sepanjang jalan. Pagi ini sudah banyak kendaraan yang berlalu lalang. Ais senantiasa berjalan kaki menempuh jalan yang bebatuan untuk sampai ke sekolahnya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *