Berkarakter Dengan Senang Hati (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 5 July 2022

Di pagi hari nan cerah nampak hiruk pikuk siswa di madrasahku saling membantu mengusung barang dinaikkan di Truk. Dari kejauhan nampak 2 truk mulai penuh dengan barang yang mereka bawa. Kami saling bantu mengangkat barang barang bawaannya. Setelah beberapa menit akhirnya selesai juga barang-barang itu dinaikkan ke dalam truk.

Prit.. priit… prit… prit.. prit… prit… prit… prit… bunyi peluit terdengar dari halaman madrasah, serentak aku dan semua teman-teman bergegas berbaris memenuhi halaman sekolah, kami berbaris dengan rapi berkelompok dengan regunya masing-masing.

Kakak mabigus memulai memberikan pengarahan dan memimpin berdoa agar perjalanan menuju bumi perkemahan lancar tidak ada aral melintang. Setelah acara ditutup, aku dan semua pramuka naik kendaraan truk. Penggalang putra menjadi dua truk dengan pembagian truk satu untuk kelas 7 dan truk dua untuk kelas 8, truk 3 digunakan untuk penggalang putri kelas 7 dan truk 4 digunakan untuk penggalang putri kelas 8 sementara dua truk lainnya untuk mengangkut barang.

Perjalanan menuju bumi perkemahan sangat menyenangkan, aku dan kawan-kawanku dalam truk yang sama. Sepanjang perjalanan menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Sesekali kami bersorak sorai karena perjalanan yang menurun dan berkelok kelok.

Satu jam perjalan tidak terasa, akhirnya kami sampai di bumi perkemahan. Kamipun turun satu persatu, kemudian mengambil barang bawaan dan dikelompokkan dalam regunya masing-masing.

Tanda peluit memanggil ketua regu, dalam hitungan ke sepuluh semua ketua regu sudah berbaris rapi di depan kakak pembina. Untuk mendirikan tenda ketua regu mengambil undian kapling. Reguku mendapat undian no 8, kami satu regu bergegas untuk mencari kapling no 8, akhirnya ketemu di bagian pojok dekat selokan kecil di bawah pohon mahoni. Kami mulai mendirikan tenda menata barang-barang membuat pagar pembatas dengan tenda regu lain kemudian membuat parit di sekeliling tenda agar jika hujan tidak kebanjiran.

Sambil menunggu waktu dhuhur aku dan teman-teman membagi tugas, ada yang membuat rak sepatu, tempat jemuran ada yang membuat gapura dan memasang hiasan gapura, ada yang menata tas di dalam tenda.

Waktu duhurpun tiba, aku dan teman-teman bergegas ambil air wudhu untuk melaksanakan jamaah di mushola komplek bumi perkemahan yang sudah disediakan oleh pemilik bumi perkemahan. Semua pramuka dan kakak pembina mengikuti salat berjamaah kecuali penggalang putri yang sedang berhalangan.

Sehabis salat dhuhur kamipun kembali ke tenda masing-masing untuk makan siang dan istirahat sebentar. Dilanjutkan upacara pembukaan kemudian mencari jejak. Aku bersama teman satu reguku Alena, Ganis, Clara, Fira, Lia jadi satu regu senang banget mengikuti acara petualangan mencari cecak ini. Berbekal peta dari kakak pembina kamipun mulai berjalan melewati pos demi pos, di setiap posnya harus mengerjakan soal, soal dalam bentuk sandi-sandi yang harus dipecahkan terlebih dahulu. Tanpa mengalami kesulitan kami bisa melewatinya hingga di pos 5, aku dan kawan-kawanku dihampiri oleh kakek tua paruh baya memakai caping, mengenakan baju hitam dan celana hitam naik sepeda, kakek itu mendekati aku dan kawan-kawanku sambil berkata “Kamu harus hati-hati nduk” kamipun serentak menjawab “Iya mbah, terimakasih”.

Kamipun meneruskan perjalanan menuju pos berikutnya, belum sampai pos depannya kakek itu lewat lagi sambil mengucapkan kata-kata yang sama “Kalian harus hati-hati nduk” kamipun serentak menjawab “Iya mbah”. Kami berenam saling berpandangan “kakek itu kenapa ya kok menasehati kita seperti itu?” alena memecah kesunyian. Sambil meneruskan perjalanan fira menyahut “Kenapa harus dipikir sih, kan wajar kakek itu menasehati kita”. Kamipun terdiam sampai di pos berikutnya dan akhirnya sampai di perkemahan lagi tanpa tersesat.

Karena waktu sudah jam lima sore kami satu regu bergegas ambil air wudu dan melaksanakan salat asar. Sehabis asar tanpa memperhatikan regu yang lain kami mengantri untuk mandi hingga menjelang maghrib. Sambil menunggu magrib aku duduk di belakang tenda sambil ngobrol dengan Salwa tetangga tenda sebelah. Salwa menceritakan pengalamannya mencari jejak dan menceritakan jika masih ada 2 regu yang belum balik diperkirakan tersesat.

Aku, Ganis, Clara dan Fira saling berpandangan mendengar cerita tentang tersesatnya 2 regu, tiba-tiba dari dalam tenda Alena melompat keluar “aku kok jadi teringat kakek yang tadi kita jumpai” Kata Alena. Karena waktu magrib tiba pembicaraan kami terhenti dan segera bergegas untuk melaksanakan salat magrib berjamaah di mushola komplek bumi perkemahan. Ada beberapa kakak pembina yang tak nampak dalam jamaah tersebut.

Sehabis salat kakak pembina menyampaikan kultum dan diakhir penutup kakak pembina menyampaikan kalau ada 2 regu yang masih tersesat dan belum kembali. Ternyata kakak pembina yang lain sedang mencari regu yang tersesat. Sambil menunggu waktu isya kami membaca Alquran bersama-sama. Hingga sebelum Isya akhirnya regu yang tersesat sudah kembali ke perkempingan. Setelah melaksanakan salat Isya, semua penggalang kembali ke tenda untuk istirahat.

Karena penasaran kok bisa dua regu itu tersesat akhirnya aku dan Alena nyelonong masuk ke regu yang tersesat tadi, kebetulan ada di depan tendaku. karena takut dimarahi kakak pembina kamipun berbicara dengan suara pelan, aku memulai menanyakan kepada Alin ketua regunya, “Kenapa kok bisa tersesat?” Alinpun memulai bercerita, bahwa mereka satu regu tidak sadar kalau tersesat, jalan yang mereka ikuti sudah benar sesuai peta, mereka merasa sudah sampai di pos terkhir pos 6, padahal kalau menurut kakak pembina di pos 4 dan 5 dua regu itu tidak ada laporannya.

Aku dan Alena mulai merinding mendengar cerita Alin, tetapi rasa penasaranku dan Alena semakin meningkat. Alin pun meneruskan ceritanya, “dari pos 4 kemudian melewati pos 5 Aku dan anggota regu terus berjalan tetapi kok tidak sampai sampai di perkemahan, sampai akhirnya merasa kelelahan dan sudah gelap, Aku dan anggota regu merasa kelelahan sehingga berhenti sejenak dan berembug karena tidak sampai sampai di bumi perkemahan. Mereka mulai berpikir kalau tersesat dan ada satu regu lagi yang menyusulnya. Merekapun semakin yakin kalau benar-benar tersesat. Rasa takut mulai mereka rasakan dan kekhawatiran dari semua mulai nampak, Aku berusaha menenangkan teman-teman, sambil berpikir bagaimana caranya agar menemukan jalan untuk kembali ke perkemahan. Tiba-tiba lewat seorang kakek berbaju hitam, aku panggil kakek itu “Maaf Kek, boleh minta tolong?” kemudian kakek itu menjawab “Ada apa nak?” akupun bercerita kalau dari tadi tidak menemukan jalan kembali keperkemahan, sang Kakekpun tersenyum sambil menunjuk dan berkata “Lah itu sudah kelihatan di sebelah kanan tak jauh dari sini tempat kalian kemping”, serentak aku dan teman yang lainnya melihat arah yang ditunjuk kakek itu, ternyata sudah nampak tenda-tenda tempat kami berkemping. Kami semua terheran karena dari sore tadi mencari jalan kembali tidak ketemu-ketemu dan tidak melihat tempat yang ditunjukkan kakek tadi. Saking gembira dan terherannya kami hingga tidak tahu kapan kakek tadi pergi, ketika mau mengucapkan terimakasih ternyata kakek tadi sudah pergi dan anehnya lagi tidak ada yang tahu kemana perginya kakek tadi.

Mendengar cerita Alin, aku dan Alena jadi teringat kakek berbaju hitam yang menasehati untuk berhati-hati. Alenapun menyampaikan kalau tadi siang ketemu kakek berbaju serba hitam naik sepeda dan menasehati untuk berhati-hati. Semua yang di dalam tenda mendengar cerita dari Alena jadi saling pandang, mungkinkah kakek itu kakek yang sama dengan yang menasehati siang tadi..?

Cerpen Karangan: Radisti Faradila
Lahir di Kulon Progo tanggal 1 Desember 2007, Sekolah di MTsN 4 Kulon Progo, Hoby Menari, Tinggal di Gendu Jatimulyo, Girimulyo Kulon Progo. Cita-cita : menjadi Guru

Cerpen Berkarakter Dengan Senang Hati (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kertas Lipat Merah Hati

Oleh:
Suara bel masuk sekolah menjerit-jerit memekakkan telinga. Para siswa yang hampir terlambat berlari kocar-kacir, semakin panik ketika melihat sang guru berjalan menuju kelas. Farah kali ini beruntung karena tak

Ada Udang Dibalik Sepatu

Oleh:
Di waktu transisi antara pagi ke siang, terdapat obrolan santai dua sahabat yang sudah bersahabat sejak sd di sebuah warung kopi yang sedang sepi sunyi. Sayangnya, Andi dan Farzan

Tetap Kuat Bersamamu

Oleh:
Hari pertamaku di SMA Elang Satria sebagai seorang murid pindahan terasa sangat ringan, karena hari pertama di sini aku bertemu dengan bu shita yang akan menjadi wali kelasku di

Aku Ranita

Oleh:
“Nita!” suara merdu itu memanggil namaku dari kejauhan. Aku menghentikan langkah dan menoleh kembali ke arah gerbang sekolah. Tampak Rani, sahabatku, berlari kecil ke arahku. Rambut hitam berkilau bak

Kiss The Rain

Oleh:
Namanya Dewa, dia teman sekelasku sejak kelas XI di SMAN 1 Bintang Timur ini, dan akan terus menjadi teman sekelasku di kelas XII nanti, ada sedikit rasa sesak, penyesalan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *