Bonjour, Arma

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 January 2016

Lucu juga bila ditanya alasan mengapa aku tetap ingin menjadi ‘Secret Admirer’nya. Hingga saat ini, bahkan hingga detik ini aku tak bisa melepas hatiku ke orang lain. Sengaja ku tinggalkan hatiku di Arma (Arga Makmur), kota kecil ini, supaya ia dapat dengan mudah menemukannya dan menyimpannya sendiri. Aku pulang kampung ke Arga Makmur, Bengkulu Utara. Memang bukan kampung kelahiranku, karena justru aku sekarang berdomisili di Semarang, Jawa Tengah, asalku. Tapi, ku habiskan 13 tahun masa kecilku di sini. Jadi ku pikir, inilah tanah kelahiranku. Di sinilah ku lalui masa SD dan SMP-ku yang penuh kenangan.

Masih teringat di memoriku, potongan-potongan kisah masa SD dan SMP yang konyol dengannya. Kekonyolan yang seperti berkelahi hingga dilerai guru, lalu saling minta maaf dan esoknya kembali berkelahi, saling melempar ejekan satu sama lain, dan begitulah. Itu saat SD, dan SMP-nya aku lantas menyukainya. Hingga dia tahu keinginan hatiku bagaimana, dan kami pun pacaran. Hanya sebentar, karena banyak halang-rintangnya. Memang aku pernah memutuskan untuk tidak menegur bahkan melihatnya lagi, tapi sakit. Justru rasa yang paling ku benci, yang sering dipuja orang sebagai cinta, semakin besar adanya. Hingga sekarang, aku masih ditanya. Tadi malam, saat ada pementasan seni di aula sekolah tempat ibuku mengajar, Soraya, temanku dari satu SMP masih saja menanyakan, “Masih ingat kamu dengannya?”

“Oh, masih! Memoriku sangat kuat bila mengingatnya.”
“Belum bisa berpindah?” tanyanya lagi.
“Hatiku sudah ku ikat dengan simpul yang kuat supaya ia tetap di sini.”
“Banyak remaja di sekolahmu yang tampan?” Ia bertanya lagi, sambil melihat sekeliling.
“Tidak ada yang memiliki kharisma unik sepertinya. Tidak ada,” untuk jawaban ini, aku cukup pundung untuk mengasihani diri sendiri.
“Berpindahlah. Untuk apa masih mengharapkannya?”
“Entahlah, ku pikir aneh juga bila aku masih menyayanginya. Tapi begitulah kenyataannya. Aku ini aneh,” hambar tawaku saat itu. Ya, menertawakan perasaanku yang sampai kini masih untuknya.

Soraya menyerah. Lebih baik menanyakan hal yang lain saja. Ia hampir menangis tadi, saat awal-awal bertemu denganku, memelukku cukup lama. “Aku rindu denganmu, keadaan di sini sungguh berbeda tanpamu. Ayolah pindah sekolah di sini, bersamaku,”
“Kamu pikir aku mau sekolah di sini? Ibuku akan bosan melihatku setiap saat dengan kenakalan-kenakalan yang ku buat,”
“Ah, masih saja begitu,” katanya sambil melipat tissuenya lagi untuk para tamu yang nanti akan makan. Soraya menjadi anggota OSIS sekarang, sepertinya seksi perlengkapan.

“Jangan mengkhawatirkanku. Aku sudah besar,” ujarku lagi. “Memang awalnya sulit, kau bahkan tak mengira kalau tiap malam aku selalu menangis. Bahkan sampai sekarang aku masih kesulitan. Beradaptasi itu memerlukan mental yang kuat. Dan kau pasti cukup paham kalau aku ini sensitif,”
“Menetaplah di sini, jangan pulang lagi!” ia pura-pura mengancam. “Kau saja tidak betah, kok!”
“Nanti, tapi mungkin masih lama,” ucapku. Sekilas, ada sesosok perempuan yang berkerudung cokelat muda. Aku mengenalinya, begitu ku lihat senyumnya yang samar dari balik gelap. Itu Rahma, salah satu penyuka AKB48, sepertiku. Ku hampiri ia, ku peluk erat dan lama. Ia lantas menangis.

“Apa kabarmu, Sari?” tanyanya sesenggukan. Dia cukup terharu melihatku yang sudah lama tidak ia temui. Lima bulan itu terasa lama tentunya, terlebih ia salah satu sahabatku.
“Baik. Kamu jangan menangis, begitu. Aku di sini lumayan lama, kok,” kataku. Dia hanya tersenyum sambil mengelap air matanya. “Jujur saja, aku bingung. Aku merasa senang, tapi menangis,” ujarnya.
“Tak apa. Itu wajar. Tapi karena itu aku jadi berpikir kalau aku ini terlihat seperti robot. Dingin dan kaku,” ujarku. Ya, aneh juga kalau sedari tadi aku belum menunjukkan perasaan terharuku pada orang. Efek samping dari tekanan, mungkin.

Ya, selama di Semarang, aku hidup di bawah tekanan. Uang jajan tak cukup, hingga yang paling menyedihkannya aku tidak bisa membeli semangkuk mie ayam. Ayah, Ibu, dan Sarah, adikku yang menetap di Arma dan meninggalkanku sendiri (sebenarnya tidak juga) di Semarang. Terlebih tekanan pelajaran. Banyaknya pelajaran membuatku pusing. Aku belum penjurusan, makanya harus mempelajari mata pelajaran dari semua jurusan. Dan begitulah, di tahun ini aku sudah 3 kali sakit parah serta harus diperiksa dokter. Aku tak tahu, tahun depan akan seperti apa. Desember ini ku jadikan renungan dari lima bulan terakhir.

“Masih ingat dia?” ah, bisa ku tebak Rahma akan menanyakannya. Seperti hal yang wajib, harus bertanya mengenai ingatanku tentangnya. “Masih. Bagaimana kabarnya?” tanyaku balik. “Begitulah dia. Tak berubah. Ah, ya! Aku ingat saat kemah kemarin, dia bertanya padaku mengenai kabarmu. Ku jawab saja, Sari sehat wal’afiat,”
“Oh, ya baguslah. Jangan beritahu dia kalau aku sudah sakit dan ditangani dokter hingga tiga kali,” ujarku. Rahma tertawa, “Baiklah,”
“Masih ada lagi,” kata Rahma, kemudian. “Aku memberitahunya kalau kamu akan pulang besok. Dia kaget, ‘Benarkah?’ dan ku jawab “Iya,”
“Satu lagi, aku sangat teramat kaget saat dia bilang ‘Kata Sari, ada yang mirip aku, ya, di Semarang sana?” ujar Rahma lagi. Aku jadi kaget juga mendengarnya. Memang beberapa temanku di SMP pernah ku beritahu kalau ada yang mirip dengannya di sekolahku. Tapi hanya wajahnya saja, untuk soal kharisma tidak ada yang bisa menyamainya.

“Siapa yang memberitahukannya?” tanyaku, tanpa takut. Untuk apa takut? Itu hanya kabar biasa saja.
“Naura. Ah, memang tak bisa dijaga bicaranya,” jawab Rahma. Aku maklum. Ku beritahu Rahma, itu biasa saja. Tak perlu dipermasalahkan.
“Dia ternyata masih mengingatku, ya? Haha… aku jadi tertantang ingin ke rumahnya,” ujarku.
“Tak takut kamu dengan ayahnya? Bukankah kamu pernah diinterogasi?”
“Bukan interogasi, Ma. Tanya biasa saja, kok,” aku juga jadi ciut mendengar kata ‘Ayahnya’. Ya, Ayahnya seorang sipir di Lapas Arga Makmur. Wajahnya tentu terlihat garang, tapi aku tahu dia pasti baik. Baik dan tentunya tegas. Kenapa aku berpikiran begitu? Karena Ibuku juga begitu. Terkenal sebagai ‘The Lion Queen’, karena garang. Tapi Ibuku hanya bersikap tegas saja. Kalau kita taat aturan, dia pasti bisa ramah.

“Dia sepertinya merindukanmu juga, Sari. Termasuk kami semua,” kata Rahma.
“Makanya aku datang, supaya rindu yang kalian rasakan bisa terobati. Lupakah kamu kalau aku ini dokter?” ujarku.
“Ya, Bu Dokter. Kamu membuat kami semua risau,” terlihat dari kejauhan Soraya yang mulai ke mari. Ah, anak itu rupanya habis menjaga parkiran. Pantas main hilang saja.
“Kenapa nggak masuk? Nggak mau nonton?” tanya Soraya, setelah cengar-cengir sebentar pada Rahma.
“Aku sudah menontonnya tadi. Theater48 versi Arga Makmur ini memang luar biasa,” ujarku, disertai gelak mereka. Ah, ini memang malam hari, tapi tak ada salahnya bukan bila saat ini aku menyapa kota Arga Makmur dengan “Bonjour!”

Cerpen Karangan: Haadiya Tsuchizaki
Facebook: Hardi Ya Harumi

Cerpen Bonjour, Arma merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri

Oleh:
Aku adalah seorang siswa SMA kelas satu. Tidak, lebih tepatnya bukan siswi. Hanya seorang penggila ilmu pengetahuan. Aku selalu tertarik dengan segalanya yang berkaitan tentang fenomena dunia ini. Aneh,

Orangtua Ke Dua

Oleh:
Jam alarm diikuti kokokan ayam membangunkanku dari tempat tidur pagi ini, selain dari dua alarmku itu seringkali aku juga dibangunkan sama penjual ikan keliling yang bisa dikatakan alaynya tingkat

Disleksia

Oleh:
Kosakata baru dalam hidupku yang sekarang sudah berumur lima belas tahun. “Woy!” Teriak seseorang di belakangku Benar dugaanku. Orang itu lagi. “Hey!” Balasku sekenanya. “Dasar penyakitan!” Tambahku. Sontak raut

Ketika Sahabat Berkhianat

Oleh:
Teeet.. “hey Kartika sedang apa kamu disini?” tanya Lisa dengan mengagetkan Angel yang sedang melamun di pinggir kelas. Hai namaku Angelina Kartika Putri aku sekolah di SMA NEGERI MEDAN,

Berharap

Oleh:
Namaku Rahayu, aku adalah orang yang selalu merasakan sakitnya berharap. aku mempunyai pengalaman yang bisa akujadikan pelajaran yaitu berharap kepada seseorang. Dulu aku pernah menyukai seseorang namanya Alfian, aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *