Buah Takdir Yang Manis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sejati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 September 2018

“PEMBUNUH… KAU PEMBUNUH YANG MEMBUNUH ADIKKU!!!” Gadis itu terbangun dari mimpi panjangnya yang menyesakkan dada. Mimpi itu sudah tidak lagi menghampirinya semenjak satu tahun yang lalu, namun beberapa hari ini mimpi itu terus menemani tidurnya seakan ingin lebih membuatnya terpuruk dalam rasa bersalah. Ini semua karena orang itu, orang yang dia kira menyayangi dirinya, yang bisa membuatnya bahagia. Rasa sakit mengoyak-ngoyak hatinya ketika mengetahui bahwa orang yang dia sayangi sepenuh hati berpura-pura mencintainya untuk membalaskan dendamnya.

Gadis yang bernama Nadia itu meneteskan air matanya deras, dia bisa merasakan bagaimana rasanya ditinggal oleh orang-orang yang disayangi. Sakit sekali. Karena itulah dia dengan bodohnya masih mencintai lelaki pendendam itu. Gadis itu merobek kertas, lalu menuliskan kata-kata perpisahan kepada lelaki itu, dia akan mengabulkan permintaannya.

Diki aku memang pembunuh adikmu, aku sangat menyesal, bahkan selama bertahun-tahun aku menderita karena rasa bersalah yang teramat dalam. Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu, bahwa kamu salah saat kamu mengatakan aku tidak tahu perasaan yang sedang kamu rasakan, aku sangat tahu Diki, karena itulah aku tidak pernah menyalahkanmu. Aku berterima kasih karena kamu pernah memberikan secercah rasa bahagia memasuki hidupku setelah sekian lama. Aku akan meninggalkan kota ini dan takkan kembali.
Nadia

Nadia mengambil foto orangtuanya yang sedang tersenyum bahagia ke arah kamera.
“Aku sangat merindukan kalian, Ma, Pa. Tidak lama lagi Nadia akan menyusul kalian. Maafkan Nadia mengambil keputusan ini, tapi Nadia lelah dengan kehidupan yang Nadia jalani selama ini, tidak ada yang tulus menyayangi Nadia selain kalian, mungkin ini balasan bagi Nadia yang telah membunuh seorang gadis kecil yang tak berdosa, mungkin… mungkin ini satu-satunya jalan keluar.”

Keesokan harinya setelah sekolah sepi, Nadia meletakkan suratnya di kolong meja Diki. Dia bertemu wali kelasnya untuk mengatakan bahwa dia akan pindah sekolah. Dia telah merencanakan semuanya, agar semua orang mengiranya pindah keluar kota, dan tidak akan ada yang mencarinya.

“Hey itu apa?” Marsya menunjuk sebuah amplop berwarna abu-abu yang menyembul dari kolong mejanya. Karena penasaran Diki mengambilnya dan membacanya. Diki terlihat kaget setelah membaca surat itu.
“Itu surat ya Dik? Surat dari siapa?”
“Dari Nadia, di surat ini dia bilang, dia akan meninggalkan kota ini, dia akan pindah sekolah sepertinya.”
Seketika bibir Marsya membentuk seringai senang dan Marsya malah membeberkan informasi itu kepada yang lainnya.
“Hey temen-temen akhirnya kita terbebas dari orang sok itu, si Nadia, hahaha.”
Orang-orang itu ikut senang mendengar berita itu. Sebegitu bencikah orang-orang itu kepada Nadia? Nadia memang sangat terkenal di sekolah itu, bukan karena prestasinya, tapi sikapnya yang arogan, sombong dan merendahkan orang lain. Korban Nadia hanya bisa diam karena mereka tahu sekolah elit ini milik Nadia. Mereka semua amat sangat membenci Nadia. Semuanya berubah ketika datang murid baru di kelas 12 IPA 1 yang bernama Diki Prasetya, Nadia bertekuk lutut di hadapannya dan sepertinya sangat menyayanginya, hal ini dimanfaatkan Diki dan teman-temannya untuk menjatuhkan Nadia hingga ke dasar yang paling dalam.

Nadia mengunci semua pintu yang ada di rumah itu agar orang-orang menyangka Nadia benar-benar pindah ke luar kota secara mendadak.
Dia pergi ke kamarnya, mengunci pintu lalu mengambil obat tidur yang ada di meja belajarnya, membuka tutupnya lalu menelan seluruh isinya. Dirasakannya tubuhnya mengejang, matanya mulai kabur dan semuanya gelap…

Diki berjalan sambil memikirkan surat dari Nadia. Diki masih ingat tatapan kesakitan Nadia saat dia mengetahui Diki hanya berpura-pura mencintainya, namun di dalam relung hatinya yang terdalam dia mencintai dan mengagumi Nadia.
Nadia, sosok yang angkuh dan arogan, membuat orang malas berurusan dengannya. Namun semakin dia mengenalnya semakin dia tahu Nadia adalah seorang yang baik hati dan terlalu rapuh, namun memasang topeng palsu di depan semua orang. Nadia hanya tidak mau lagi disakiti, dia tahu itu, tapi dia malah melakukannya tanpa memikirkan perasaan Nadia.

Setelah melakukannya Diki menyadari bahwa Nadia tidak sengaja membunuh adiknya, itu hanyalah kecelakaan. Diki sudah memutuskan… Dia berlari ke arah rumah yang tak lain adalah rumah Nadia. Semoga dia belum terlambat.
Rumah itu seperti rumah yang sudah tidak dihuni, sunyi sekali. Dia bisa membayangkan bagaimana Nadia tinggal di rumah sebesar dan semewah ini sendirian setelah kedua orangtuanya meninggal, pasti dia merasa kesepian sekali.

Diki melewati gerbang rumah yang tidak terkunci. Aneh, kenapa gerbangnya tidak dikunci ya? Apakah Nadia belum pergi? Diki terus berjalan dan sampai di depan pintu rumah Nadia, dipencetnya bel rumah berkali-kali tapi tidak ada yang menyahut. Lalu dia bertanya kepada tetangga Nadia.
“Apa? Pindah? Kenapa Ibu tidak tahu sama sekali? Tadi pagi Ibu melihatnya membeli sesuatu. Kalaupun dia akan pindah pasti akan ada yang menjemputnya, tapi dari tadi pagi sampai sekarang tidak ada yang menjemputnya.”
“Oh begitu ya? Terimakasih bu.”

Apa Nadia belum pergi ya? Tapi kenapa dia tidak mendengar suara bel itu? Diki merasa ada hal janggal yang sedang terjadi, lalu dia ingat dengan kalimat terakhir di surat Nadia. TIDAK MUNGKIN!!! Diki segera berlari dan menggerakkan handle pintu, ternyata dikunci.

Diki ingat jika kamar Nadia berada di sisi kanan rumahnya. Diki menghampiri jendela kamar Nadia. Ternyata jendelanya tertutup!!!! Bagaimana ini? Tunggu, ternyata gordennya tidak menutupi seluruh jendela, masih ada celah cukup besar yang terbuka.
Diki terbelalak kaget melihat tubuh Nadia terbujur kaku di lantai kamarnya dengan mulut yang mengeluarkan busa putih. Diki bingung harus melakukan apa, lalu dia melihat seseorang melewati rumah Nadia.
“PAK TOLONG SAYA PAK!!!”

Nadia sangat beruntung. Mungkin belum waktunya dia meninggalkan dunia ini, masih ada orang yang menyayanginya dan membutuhkannya. Nadia tidak tahu Diki menunggunya siang dan malam hanya untuk melihatnya membuka mata. Nadia tidak tahu Diki meneteskan air mata saat melihat dirinya terbaring tidak berdaya di ranjang rumah sakit.

“KENAPA KAMU NOLONG AKU? AKU GAK BUTUH DITOLONG!!! Aku… aku… capek Dik.” Nadia mulai terisak.
“Kenapa kamu ngelakuin ini Nad? Kenapa?”
“Buat apa… aku hidup? Aku gak punya siapa-siapa lagi.”
“Kamu punya aku Nad.”
“KAMU?? Kamu lupa?? Aku yang buat… aku yang buat adik kamu mati!!”
“Itu bukan salah kamu, ini sudah digariskan. Seperti kamu, mungkin kamu belum ditakdirkan untuk meninggalkan dunia ini Nadia. Aku sayang kamu Nadia.” Diki memeluk Nadia erat, membiarkan Nadia menangis di bahunya. “Aku akan ada di sisi kamu saat kamu senang maupun sedih.”

Cerpen Karangan: Hilda Risanthy Febriana
Blog / Facebook: HildaRisanthyFebriana

Cerpen Buah Takdir Yang Manis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Matematika

Oleh:
Pelajaran itu lagi. Ya Matematika adalah pelajaran ke tiga hari ini, Bu shan menjelaskan tentang peluang secara panjang dan lebar. Kepalaku rasanya mulai pusing dan nyut-nyutan mendengarnya, semakin lama

Ada Cinta (Part 1)

Oleh:
Cantik. Sungguh sangat cantik. Hanya kata itulah yang ada dibenak Leo saat ini. Laki-laki yang kini menjabat sebagai ketua Osis di sekolah. Ya, Leo adalah laki-laki pintar yang menjadi

The Real Monster (Part 1)

Oleh:
“Presentasi kita kacau, parah banget! Ini gara-gara si Fajri nggak masuk,” Maya berujar kesal ketika Ia bersama teman-temannya baru saja beranjak meninggalkan kelas. Bibir ranumnya mengerucut, menandakan betapa buruk

Be My Lady

Oleh:
Iqbal, pria manis dengan wajah tampannya ini sangat terlihat cuek bagi gadis yang belum mengenalnya, namun, ada suatu rahasia yang sudah lama ia simpan. “bal, hari ini kita kerja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *