Bukan Benci Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 11 August 2020

17-Juli-2017
“Yah, Hujan”. Gerutu seorang gadis sambil memandang nanar kondisi langit yang sekarang dipenuhi awan berwarna hitam.
Gadis itu terpaksa berjalan berjinjit yang membuat hampir seluruh kakinya terasa sangat pegal.

Bukan seperti gadis jaman now yang berjalan jinjit karena takut sepatu bermereknya basah dan kotor terkena air hujan, Chika gadis itu berjalan berjinjit guna meminimalisir masuknya air lewat sepatunya yang sudah berlubang sebesar biji rambutan pada bagian alas.

Chika kembali menatap nanar langit. ia mulai mengeluh dalam hati. Esok ujian membaca cerpen dan semua murid harus menggunakan atribut lengkap sementara dirinya sudah pasti melanggar esok karena tidak menggunakan sepatu dikarenakan ia hanya punya sepatu satu yaitu yang ia kenakan hari ini.

Hujan semakin deras saja terasa, Chika segera bergegas mencari tempat teduh. Matanya sempat melirik halte bus yang lumayan sepi disinggahi, sehingga ia melangkahkan kakinya menuju halte tersebut.

Sesampainya di Halte tersebut ia membuka sepatu beserta kaosnya.
Ketika ia membuka kaos dan sepatunya tersebut keluarlah air yang lumayan deras akibat penyerapan air oleh kain sepatunya yang terlalu banyak.

Chika membuka jaketnya lalu meniupnya berupaya jaket itu setidaknya mengering. esok adalah ujian membaca cerpen dan ia harus siap dengan semua pakaiannya hari ini.

Chika yang sibuk dengan kegiatannya tanpa menyadari ternyata ada seseorang yang datang dan meneduh juga di halte tersebut. Sama seperti kondisi Chika, orang tersebut basah kuyup.

Chika ingin mengambil buku di dalam tasnya guna untuk mengibasi jaketnya supaya mengering. ketika ia menoleh tatapannya langsung jatuh pada Lelaki yang baru datang.
Chika tersenyum gagu lalu segera mengambil bukunya dan mengibasi jaketnya.
Sesekali Chika mengucapkan mantra dalam hati, ‘Om semoga cepat kering, Svaha Svaha’.

Lelaki yang baru datang duduk diam dengan handset yang menempel di telinganya.

18-Juli-2017
“Jika di novel-novel romansa ketika saya di posisi tersebut saya akan diberikan jaket supaya tidak kedinginan. Namun jika di dunia nyata justru saya diberikan suatu motivasi”. Chika memberi jeda pada pemaparannya terhadap cerpennya tersebut.

Pandangan semua mata di kelas XI IPA 1 jatuh pada Chika yang saat ini menggunakan sepatu basah dengan baju yang setengah kering.

Chika melanjutkan, “Pria yang ada di halte saat itu ternyata Micho teman SD saya yang sudah 5 tahun tidak bertemu. Setelah hujan reda, kami pun akhirnya jalan pulang bersama”.

17-Juli-2017
Chika berjalan ditemani dengan Micho disampingnya dan diiringi tetesan air hujan yang jatuh dari atas kepalanya.

Micho tersenyum simpul, “Masih benci hujan?”.
Chika mengerutkan alisnya tanda kurang mengerti. “lah, memangnya aku kapan benci hujan?”.
Micho tertawa renyah di selipi dengan lesung pipi yang cukup dalam tertempel di pipinya, “Jaman SD, saat Hujan Loe selalu teriak ‘Napa Hujan siiih! Ih bete deh sama Tuhan! gak sayang sama aku ya! Kenapa hujan sih? Sepatu aku basah nih!’ “.
Chika melongo mendengarnya, “Suer demi apa aku kayak gitu?”.
Micho mengangguk.
Chika tertawa pelan, “Hyaaa. Aku sekarang masih sedikit tidak suka hujan”.
Micho tidak bertanya, ia sudah tau pasti Chika akan melanjutkan ceritanya.
“Karena Hujan tuh bikin basah Sepatu aku, bikin baju aku basah, dan aku gak ngerasa untung kalau ada hujan”.
Micho tersenyum penuh, “Berarti si Hujan sekarang sakit hati dong?”
Chika menyahut. “Maksudnya?”.
“Hujan bisa sakit hati karena denger omongan loe. karena kehadirannya yang gak loe anggap berarti. Dia rela menjatuhkan dirinya dan merasakan sakit karena tubuhnya terpental tanah dan aspal tapi dia ikhlas melakukan itu, karena apa? Karena dia sadar tanpa dirinya, tumbuhan liar dan tumbuhan yang tidak dirawat akan kekeringan. Itulah sebabnya gue ada disini. Mau jelasin sama loe kalo sesuatu yang loe anggap gak guna ternyata bisa sangat berguna bagi yang lain”.
Chika mengangguk pelan, lalu manik matanya menatap Micho. “Kalo dipikir-pikir muter-muter bener banget. Kalau hujan gak ada, Tumbuhan mati. Kalo tumbuhan mati, tidak ada oksigen. Tidak ada oksigen, kita semua mati dong”.
Micho mengangguk pelan, “Ya, jadi Loe gak akan benci hujan lagi kan?”.
Chika tersenyum penuh arti, “Makasih ya Tuhan. Sekarang hujan, tumbuh-tumbuhan bisa dapat air”.

Micho memandang jalanan yang sudah basah karena terkena hujan sebelumnya.

Micho tak sengaja juga melihat bagaimana seekor Siput yang jarang terlihat berjalan di atas jalanan berair. Burung Gereja yang meletakkan paruhnya di air hujan yang mengambang, Dan kakek penjual jas hujan hari ini laris manis daganganya.

Semua yang terjadi ada maknanya.

Diselesaikan:
Jumat,
17-November-2017
22.12 Wita.

Salam Seriani

Cerpen Karangan: Luh Seriani
Facebook: facebook.com/sri.nikita.5
Ingin menjadi Inspirator bagi Indonesia.
Silahkan Baca dan Vote cerita saya di Wattpad dengan ID : Sriani1107.
Semoga cerita saya dapat bermanfaat bagi semua yang membaca. Salam kenal

Cerpen Bukan Benci Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maaf Aku Salah Sangka

Oleh:
Aku menatapnya sekali lagi. Menurut penilaianku sebagai seorang perempuan, dia tak begitu cantik. Tapi dengan gigi gingsul di rahang kiri atas membuat senyumannya begitu mempesona. Selalu saja membuatku iri,

Unexpected

Oleh:
Matahari kembali hadir, meninggalkan peraduannya tersenyum ceria menyapa bumi. Meninggi dan semakin meninggi bersamaan dengan lembayung fajar di ufuk timur yang bergegas sirna. Aku memasuki sekolah beriringan dengan beberapa

Menolong Adalah Kesalahan

Oleh:
“Ahhhhhhh” Kakinya sontak berhenti mendengar suara teriakan itu, iya membalikkan badanya, kakinya melangka pelan dengan rasa penasaran dan takut “tolong” Suara itu semakin jelas dari mana asalnya, suara itu

Cita Citaku

Oleh:
Menjadi penulis yang hebat. Itulah cita-cita yang selalu kuharapkan. Aku membayangkan bagaimana serunya berbagi ilmu kepada orang banyak melalui tulisan. Rasanya tak akan mungkin cita-cita itu bisa tercapai jika

Halaman Terakhir

Oleh:
Kicauan-kicauan burung di balik jendela pun membangunkan tidurku. Ku lihat matahari mulai beranjak naik, ku tengok jam dinding yang menggantung tepat di atasku. Ah ternyata sudah jam 07.00. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *