Bukan Dia Tapi Kamu (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 22 December 2017

Yogyakarta 17 September 2016
Di pagi hari yang cerah disaat semua orang bergegas untuk melakukan aktivitasnya masing-masing. Aku masih sibuk mempersiapkan diriku untuk berangkat sekolah. Hari ini adalah hari istimewaku karena hari ini aku akan mengikuti lomba, walaupun lombanya masih tingkat kecamatan tapi hatiku tetap berbunga-bunga karena bisa mewakili sekolah untuk mengikuti sebuah lomba yaitu lomba pidato. Walaupun aku ikut lomba itu tidak hanya sekali ini saat aku bersekolah di SMP ini, karena aku juga pernah mengikuti lomba pada saat aku masih kelas 7 dulu. Yaaaa, sekarang aku sudah kelas 8 sebentar lagi aku akan lulus dan berpisah dengan kawan-kawanku.

Setelah selesai bersiap-siap untuk berangkat sekolah, aku segera berpamitan kepada ibuku dan kemudian meminta kepada ayahku untuk segera mengantarkanku pergi ke sekolah, walaupun sebenarnya ini masih jam 06.15, tapi aku tadi sudah bilang bahwa aku akan mengikuti lomba jadi aku harus berangkat lebih awal. Kemudian ayahku segera mengeluarkan motornya dan kemudian kami berangkat ke sekolah.

Sesampainya di sekolah, anak-anak yang mengikuti lomba sudah berkumpul, tapi berbeda halnya dengan diriku, bukannya ikut berkumpul tapi malah pergi menuju ke kelas. Yaaa, itu semua karena sekelasku itu yang ikut lomba ada dua anak yaitu aku dan satu lagi adalah Bagus. Aku ikut lomba pidato dan Bagus ikut lomba tartil. Nah, ditambah lagi aku lomba pidatonya itu bersama dengan anak dari kelas tetangga namanya itu Bagas, dia itu masih pertama ikut lomba kayak gini. Padahal aku kenal sama dia itu belum lama tapi udah akrab, tuh.

Sesampainya di kelas..
“Eh, Sis! Kok tumben udah berangkat?” tanya Indi temanku
“Iya, kan aku harus ikut lomba jadi berangkat pagi lah!” jawabku dengan semangat
“Ciieh… semangat, ya!” ucap Indi sambil mengacungkan jempolnya
“Iyaaa…” jawabku sambil tersenyum polos

Tiba-tiba saat kami sedang berbincang-bincang teman-teman yang lain datang dan kemudian memberiku semangat.
“Semangat, Sis! Semoga juara, ya!” ucap Dandelion kepadaku
“Yak tull” jawabku

Kemudian, aku pergi keluar dan saat aku keluar baru teringatlah aku bahwa harus berkumpul di kanopi bawah untuk mengikuti doa bersama dengan yang lainnya. Bahkan aku baru teringat kalau aku belum memberitahu Bagas. Dengan sigap aku segera memanggil Bagas di kelasnya. Saat aku memanggilnya…

“Bagas mana?” tanyaku kepada salah satu teman Bagas
Kemudian temannya itu memanggil Bagas, tapi caranya memanggil itu sangat menyebalkan, “Itu di dalem panggil aja sendiri, “mas bagas sini” gitu, lhooo!” begitu ucapnya
Dengan wajah kesal aku pun menjawab, “Ya allah, apaan e kamu tuh? Di mana Bagas butuh banget, nih!” jawabku sambil meminta temannya itu untuk memanggil Bagas.
“Oke oke, bentar, ya!” jawabnya sambil masuk ke dalam mencari Bagas

Setelah dipanggil oleh temannya Bagas kemudian keluar memakai baju koko putih, celana hitam, dan menggunakan peci. Kata guruku Bagas kayak PAK USTADZ, ckckck…
“Gimana?” tanyanya sambil membenarkan pecinya yang terlihat miring
“Kumpul, yooo… udah pada ngumpul di kanopi, tuh!” ajakku sambil menunjuk ke kanopi bawah
“Lha, Bagus mana?” tanyanya
“Tau, deh!” jawabku judes
“Ya, udah yok!” jawabnya kemudian pergi menuruni tangga bersama dan menuju kanopi.

Sesampainya di kanopi sudah banyak teman yang lain di sana. Aku lebih memilih menyendiri karena males ngerumpi bareng… aku mengeluarkan teks pidatoku. Kemudian aku membacanya. Saat aku mulai membaca, Bagas menghampiri…
“Lihat teksmu?” pintanya yang tiba-tiba datang tanpa permisi
Kuberikan teksku sambil berkata, “Mana punyamu?” tanyaku
Bagas memberikan teksnya kemudian ia bertanya padaku, “Kok, banyak banget kamu ngopynya?” tanyanya penasaran
“Iya, nanti kan 1 buat aku terus yang 3 lagi buat dewan jurinya!” jawabku sambil menggambil kembali teksku dari tangannya
“Weh, lha punyaku cuman 2, gimana, doong?” tanyanya gelisah
“Ya, udah fotocopy aja lagi, gampang kan?” jawabku santai tanpa beban
“Males, gimana, ya? cara lain?” pintanya
“Udahlah kalau kamu males, 2 aja juga nggak apa-apa kok, nanti bilang aja ke dewan juri kalau teksmu cuman 2, gampang kan?” jawabku sekali lagi tanpa beban
“Oke oke” jawabnya

Kemudian guru pembimbing kami masing-masing sudah datang, lalu kami semua yang mengikuti lomba diarahkan oleh kepala sekolah kami dan kemudian dibimbing untuk berdoa bersama-sama agar nanti mendapatkan piala semua. AMIN.
Selesai berdoa bersama-sama kami semua langsung naik ke mobil yang akan membawa kami ke tempat lomba.

Sesampainya di tempat lomba, kami semua langsung turun dari mobil. Guru-guru kemudian membimbing kami menuju tempat upacara pembukaan. Kami semua mengikuti upacara pembukaan lomba tersebut dengan khidmat. Tidak ada satu pun di antara kami yang berani berbicara.

Selesai mengikuti upacara pembukaan kami semua langsung mencari tempat lomba kami masing-masing. Kebetulan aku dan Bagas satu ruangan karena kami itu sama-sama lomba pidato. Awalnya kami bingung mencari ruangan kami. Tapi, ya wajar doong kalau kami bingung itu semua kan karena kami baru pertama kalinya ke sekolah ini jadi ya gapapalah kalau bingung. Hahaha…

Sambil celingukan Bagas berkata padaku, “Sis, ruangannya mana?” tanyanya
“Nggak tau, coba tanya sama mas mas itu!” usulku sambil menunjuk ke seorang lelaki yang lebih tua dari kami yang berjalan menuju ke arah kami
“Ya, udah sana kamu tanya!!” perintah Bagas
“Haya, aku juga yang suruh tanya? Nyebelin!” jawabku

Kemudian kami berjalan menuju ke arah lelaki itu dan kami pun bertanya kepadanya,
“Mas, ruangan pidato mana, ya?” tanyaku
Lelaki itu melihat denah sejenak kemudian berkata kepada kami, “Oh, di sana dekat kantin!” jawab lelaki itu sambil menunjuk kearah kantin
“Makasih” jawab kami, lelaki itu hanya mengangguk

Dengan sigap kami pun segera menuju keruangan itu dan kemudian memasukinya, saat kami masuk ternyata sudah ada peserta lomba lainnya. Awalnya kami di luar, tapi aku mengajak Bagas untuk masuk
“Ayo, masuk!” ajakku
“Kamu dulu!” perintahnya, aku hanya menggeleng, kemudian dia masuk sambil mengucapkan salam
“Assallamualaikum!” salamnya
Dalam hati aku berkata “kasihan nggak ada yang jawab” batinku. Karena emang bener saat dia ucap salam nggak ada satu pun yang jawab, kalau kalian ada di sana lucu deh pokoknya.

Kemudian kami segera mencari tempat duduk, kami duduknya pisah. Walaupun kalau dilihat peserta yang lainnya itu duduknya berdampingan, BODO AMAT, penting duduk.
Tak lama kemudian dewan juri masuk dan lomba pun dimulai…

Selesai perlombaan kami diminta oleh dewan juri untuk keluar terlebih dahulu karena dewan juri akan berunding dalam menentukan juaranya. Aku dan Bagas pun keluar menemui teman yang lainnya. Aku pun bertemu dengan guruku, aku berkata kepadanya bahwa aku tidak yakin kalau aku bisa meraih juara.

“Bu, kalau nggak juara gimana?” tanyaku dengan suara lesu
“Sudah, tidak apa-apa itu untuk pengalaman saja!” jawab guruku memberi semangat

Saat aku dan guruku sibuk berbincang-bincang, satu anak ini justru sibuk makan snack yang diberikan oleh panitia lomba tadi. Menurutku dari tadi di dalam ruangan, Bagas itu paling sering makan, bahkan di luar ruangan saja masih makan. Aku jadi heran dia itu lapar apa emang makanannya enak?? Aneh tau!!

Sedikit menjelaskan tentang Bagas. Dia itu orangnya kecil, ya enggak kecil-kecil amat sih, baik, pinter, lucu. Itu menurutku, atau mungkin itu karena aku baru aja ngenal dia? Aku juga nggak tau BODO AMAT, penting itu sikap Bagas yang aku tau. Eeee… aku bocorin sedikit nih ya kawan, Bagas itu pernah deket sama teman cewek satu kelasku inisialnya “D”, tapi hanya sekedar teman enggak lebih kok. Anehnya sekarang mereka itu enggak sedeket dulu lagi, entah apa yang membuat mereka kayak gitu aku juga nggak tau. Mungkin karena mereka jadi sering diejek atau mungkin karena apa aku juga nggak tau, nggak update soalnya aku tuh!! Nah, kita di sini enggak ngerumpi tentang Bagas, lhooo… tapi aku menjelaskan tentang ciri-ciri seorang Bagas. Nih, aku kasih tau nama aslinya, karena dia di sini enggak terlalu berpengaruh banget, sih, hanya sekedar tamu tak diundang, hahaha jadi nama aslinya Bagas itu adalah… BAGAS MAHDA, siapa gituuuh, aku nggak tau nama panjangnya, yang penting itulah namanya. Okey itu tadi sedikit penjelasan tentang salah satu tokoh kita yaitu Bagas, kalau mau ketemu Bagas langsung dateng aja ke SMP kita, dijamin langsung ketemuuuu… no bribik udah ada yang punya!!!

Nah, kawan kita lanjutin kisahnya, yuuuk!! Males banget kalau cuman bahas Bagas. Okey kita mulai lagi kisahnya.
Tak lama kemudian setelah kami dipersilahkan keluar selama kira-kira 15 menit, kami kemudian disuruh untuk kembali masuk, untuk menerima pengumuman pemenang lomba.

Saat kami masuk, dewan juri membuka terlebih dahulu, kemudian segeralah diumumkan para pemenang lomba pidato tersebut. Dan, akhirnya aku bisa meraih juara 2 untuk lomba pidato putri. Kini giliran pidato putra yang diumumkan, nama Bagas tak kunjung disebut, tepat pada juara 1 nama Bagas disebut dan akhirnya kami berdua mendapatkan piala yang nantinya akan kami serahkan ke sekolah. Ini adalah suatu kebanggan bagi kami berdua, salah satunya Bagas. Karena dia baru saja mengikuti lomba dan langsung meraih juara 1 itu sangat membanggakan, bukan?

Kemudian selesai lomba berlangsung dan pengumuman sudah diberitahukan. Akhirnya doa kita semua menjadi kenyataan, semuanya menjadi juara. Alhamdulliah. Setelah dirasa semua anggota sudah berkumpul, kami langsung pergi menuju ke tempat makan.

Sesampainya di tempat makan kami langsung disuruh oleh guru kami untuk pesan makanan sesuai keinginan kami. Setelah kami memesan makanan, kami pun langsung duduk menunggu pesanan kami datang. Daaan, setelah lama menunggu, pesanan kami datang. Tanpa basa-basi, kami pun segera menyantapnya.

Selesai makan, kami langsung kembali lagi ke sekolah. Bahkan, dengan sigap kami langsung menuju mobil dan ingin cepat-cepat menuju sekolah, selain karena aku harus ikut ekstra, tapi aku juga ingin segera bertemu teman-temanku. Aku, semobil dengan si nyebelin siapa lagi kalau bukan Bagas. Tapi, dia di mobil itu cowok sendiri (bukan nggak nganggep guru cowok yang nyopir nggak ada). Nah, kejahilanku pun dimulai. Awalnya aku hanya menganggu dengan kata-kata, tapi lama-kelamaan kejahilan itu bertambah. Hahaha… aku enggak cuman sendiri lho ngejahilin Bagasnya, tapi dibantu sama temen-temen cewek lainnya yang ada di mobil. Nah, begini ceritanya…

“Heh, Gas?” panggilku
Sambil menutupi wajahnya dengan pecinya, “hem” jawabnya masih males-malesan
Karena jengkel, aku langsung saja mengambil pecinya, karena aku tahu dia pake peci itu biar enggak kepanasan, kan pas itu jendela mobil dibuka.
Sambil mencari pecinya, “Heh, peciku mana?” tanyanya sambil melihat kearahku, karena pada saat itu yang di belakangnya pas adalah aku.
Sambil cengigisan Kurnia temanku menjawab, “Nggak ada di sini, yooo!” jawabnya
“Heh, bener nggak ada di sini!” jawabku menambahi, karena melihat Bagas yang masih menengok ke belakang
Dengan wajah memelas, “Hoo, mana eeee, itu peci kesayanganku!” pintanya, tapi kini sudah kembali mengahadap ke depan lagi
“Kesayangan? Berarti orangtuamu nggak kamu sayang?” tanyaku yang membuat semuanya tertawa
“Peci itu udah ada sejak aku SD, udah lama nggak tak cuci, lhoo!” jawabnya sambil menahan tawa
Pada saat itu Bagas sudah menutupi wajahnya lagi, tapi kali ini dengan tangannya. Nah, pada saat itu pula peci Bagas ada di tempat mbak Padma kakak kelasku yang juga ikut lomba. Bahkan, pecinya itu sudah dipake sama mbak Padma, tapi belum peka juga, nih anak satu. Karena ingin memulai kejahilan lagi, aku pun mulai berkata
“Weh, nggak nyadar, masih nggak nyadar juga, ya?” ejekku sambil menyenggol pundak anak itu
“Apaan eee!” jawabnya sambil terbangun. Semuanya tertawa dan anak itu pun mendapatkan kembali pecinya.
Tapi, tidak berselang lama, Mbak Dila menyuruhku mengambillnya lagi, kali ini dia marah lagi dan parahnya pecinya ditaruh kepala tempat duduk mobil paling belakang dekat bagasi. Baru aja aku mau bilang “jatuh nggak tuh nanti?”, eeeeh, jatuh bener. Daan kami pun terus menjahilinya. Hingga anak itu menyerah dan hanya berkata…
“Hah, pasti nanti juga dibalikin!” ucapnya
“Nggak, nggak akan kita balikin!” jawabku
“Hooo… balikin, tho, panas ni lho!” pintanya, sambil menutupi wajahnya

Karena merasa kasihan, dan setelah kami berunding cukup lama. Akhirnya kami pun mengembalikan peci yang katanya kesayangan itu. Cukup jenaka bagiku dan teman-temanku pada saat itu pula aku, kakak kelas, dan Bagas menjadi lebih dekat.

Tak terasa sudah cukup lama kami mengusili anak nyebelin itu. Hingga akhirnya, kami sampai juga di sekolah. Sesampainya disan, kami langsungmenuju ke kanopi bawah, ya, tempat awal kita semua berkumpul. Di sana semua piala dikumpulkan, yang kecil taruh depan, yang tinggi taruh belakang, adil kan? Nggak adil juga nggak papa penting happy. Selesai itu semua, kami langsung pergi menuju kelas masing-masing dan begitulah kemudian…

Cerpen Karangan: Selvi Rexiana Arroyo
Facebook: Selvi Rexiana Aroyo
Aku sekolah di SMP N 1 PIYUNGAN YOGYAKARTA, aku masih kelas 8 SMP, mencoba untuk melupakan dia… 🙂
Follow ig ku yach @Selvi_rexiana, nanti langsung follback

Cerpen Bukan Dia Tapi Kamu (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karena Hujan (Part 1)

Oleh:
Sabtu pagi ini cuaca mendung. Aku melangkahkan kakiku berjalan ketaman dekat rumahku yang ada di komplek. Kenalkan namaku Sifa Harita Putri (nama yang panjang dan ribet), Aku sangat menyukai

Judge

Oleh:
Ini bukan hutan, tetapi mengapa menggunakan hukum rimba? Ya! mungkin bisa dibilang seperti itu, siapa yang kuat, dia yang berkuasa. “Ve!” Tegur seseorang. “Sudahlah jangan dipikirkan, apa kata mereka”

Taman Bulan

Oleh:
Aku adalah pemuda 19 tahun yang baru saja menyelesaikan masa SMAku. Tidak ada yang spesial dari kehidupan setelah masa SMA ini. Bosan, bosan dan bosan, itulah yang aku rasakan

I Love You You Love Me

Oleh:
“Kalian so sweet banget sihh” Yahh, begitulah kata-kata mereka jika melihat hubungan kami berdua. “Selamat yah Ai, juga An. Moga semakin langgeng semakin cinta dan semakin sayang satu sama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *