(Bukan) Kisah 1001 Malam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 23 June 2016

Dedaunan kering beterbangan mengiringi langkahku. Tampaknya Sang Mentari sedang malas memunculkan cahaya hangatnya atau karena kumpulan mendung yang seolah arisan, menutupinya. Semilir angin tak begitu dingin, tapi cukup membekukan ujung jemari, membuatku makin mengutuk suasana pagi. Setiap pagi. Tetapi mataku menatap, memaksa langkah terus maju menuju sesuatu yang sama sekali tidak menarik. Sekolah. Hidupku membosankan.

“Ra…, Rara!” Suara Pria memanggilku.

Aku mendongak ke sumbernya -Dia lagi …

“Jangan lupa nanti malam, aku jemput ya…,” Alex menyunggingkan senyum, mengingatkanku pada sesuatu yang lebih buruk dari suasana pagi, dan untuk yang keseribu kalinya.

Aku berpaling, melambaikan sebelah tangan dengan malas. Kalau bukan karena kalah taruhan, aku tak akan pernah kenal dan tahu orang seperti Alex hidup. Sialan Ratna!

Seperti biasa sekolah berputar seolah aku menyeret bola besar berantai yang mengikat di kakiku. Aku bertahan, selamat, menyisakan pulang dengan ketiak basah dan bibir yang melengkung ke bawah.

“Kak, dicariin tuh,” tegur Mika, adikku. Lalu terduduk di sofa ruang televisi. Mengenakan kaos putih oblong, rambut acak-acakan sembari sebelah tangannya sibuk menyuapi mulutnya dari sebuah baskom popcorn, dan sebelah lagi menginjak-injak remote tv dengan jemari tangan yang lincahnya.

“Siapa?” jemariku menyelami isi dalam baskomnya, menyumpal mulutku dengan popcorn manis, lantas menghempaskan diri di sofa, duduk berhimpitan dengan Mika.

“Alex dari tadi nungguin Kakak keluar kamar mandi. Kurasa sekarang udah lumutan, mungkin.” Ujar Mika santai. Aku menegang, mulutku berhenti mengunyah. Seperdetik melayangkan kepretan ke batok kepala Mika.

“Oww!” Ia meringis, “sakit, Pekok!” geramnya sambil mengelus-elus bekas pukulan tadi.

“Kenapa nggak bilang dari tadi,” protesku sebal, beranjak menghampiri Pria penyabar dan terlihat kerasan yang duduk di sofa ruang tamu. Alex melempar senyum kala melihatku. Dahiku mengernyit.

“Ra, aku ambil minum lagi. Kamu tunggu disini ya… dan jangan kemana-mana, oke!” Kata Alex, aku mengangguk sambil mengulum senyum.

Reuni Alumni SMP N 1 Jakarta Angkatan 2008. Tulisan berkapital yang tertempel di tembok putih dan bebercak warna-warni bohlam yang berputar mengikuti alur musik disco dari langit-langit ruangan. Telingaku berdering, berdenyut-denyut. Bukan karena musik koplo Dj atau bel ganti pelajaran. Itu bunyi alarm jantungku. Disana. Orang yang paling tidak ingin kutemui tengah berdiri tak jauh dariku dengan gayanya yang tak pernah berubah. Sok dan kepedean. Dadaku sesak. Rambut panjang dan gaun ketat merah menyala juga di sampingnya. Elsa, mantan sahabat karibku. Luka hati yang dulu terbalut dan belum benar-benar kering, kembali menganga. Seolah perbannya kendur, menggesek-gesek, mengoyak isi dalam dadaku.

Mataku memanas -pertanda buruk, aku harus segera menyingkir, batinku. Namun sebelum misi itu terlaksana mata Rafi menangkap sosokku dan menguncinya hingga aku membeku, tak mampu bergerak, sekalipun untuk bernapas.

Rafi menatap seolah aku benda dalam kotak atrium museum. Kerinduan dibalik sejarah begitu kentara menghantamku laksana gulungan ombak tsunami. Mulutnya seperti ingin berkata sesuatu, namun tak pernah berhasil dikeluarkan. Elsa mengaitkan lekukan lengan dan pinggulnya, memenjarakan Rafi akan kenyataan bahwa ia sepenuhnya miliknya. Aku harus tangguh, tegar, dan pantang untuk cengeng lagi. Tapi hatiku terasa perih, tenggorokanku kering. Dari kerongkongan menuju jalan Dada seperti ada yang mengganjal, penuh dengan genangan kata-kata. Seperti tusukan ratusan jarum. Seperti kebencian.

Aku mengalah. Sekali lagi melarikan diri, secuil pun tak berbeda dari hari kemarin.

Sukses lari dari kepengecutan, aku bersembunyi di balik mobil dalam kesunyian lapangan Parkir. Menunggui Alex, berharap ia menyadari bahwa aku telah menghilang. Aku tahu harapan itu di atas awang-awang. Alex mempunyai otak sebesar biji kenari. Tapi aku tak punya pilihan. Aku tak bisa berpura-pura baik-baik saja dan melanjutkan pesta bodoh itu.

“Ra, Rara. Rara!” suaranya kelewat lantang.

Aku sedikit berjengit, memutar badan, “Halim?”

Kenapa tetanggaku ada di tempat ini?

“Em…kenapa kamu di sini, Lim?” Heran. Setahuku Halim bukan Alumni. Bahkan ia tak lama menjadi warga resmi komplek tempat tinggalku. Mesti dalam segenap hari, kami saling cepat akrab.

“Tak ada waktu. Kita harus lari sekarang!” tegasnya sembari menarik lenganku. Hitungan detik Kami menembus udara malam, berlari entah kemana tujuan. Aku ingin bertanya, tapi napasku putus-putus.

Tiba-tiba Halim menghentikan langkah, “Ra, aku lupa sesuatu.” Deru napasnya tak jauh berbeda dari napasku. Kurasakan genggaman jemarinya gemetaran di kulitku.

Dorr!

Suara memecah udara, memekik bagaikan lolongan serigala dalam sunyinya malam. Cipratan merah kontan muncrat dari mulut dan merembes di dada kaos putih Halim. Napasku tersedak. Ketika hendak tumbang ia sempat berkata, “Ra-lar-i …”

Brukk!

Aku menjerit. Disana. Tampak tiga sosok hitam tengah berdiri saat tubuh Halim ambruk. Seorang yang di tengah mengarahkan sesuatu panjang mengarah padaku. Sebuah senapan.

Mataku terbelalak, melotot dengan tubuh kaku dan sedingin es. Sesuatu menyentuh kulit lututku, menundukan wajah secara naluriah, darah segar menggenangi tubuh tak bernyawa tetangga baruku. Halim jelas telah tewas, dan melihat situasi -aku yang berikutnya. Aku pun lari seperti kuda liar.

Jalanan ini panjang, curam, dan tak kunjung bertepi. Sedangkan ragaku sudah tak kuat melangkah lagi. Terseruduk, mendesis, bangkit dengan ringisan perih tiada henti. Lututku pasti koyak, tapi aku tak berani menatap terlalu lama, sebab rasa sakit itu memompa jantungku kian berdegup kencang. Tubuhku seakan dalam pengaruh obat yang membuat panas dingin.

Kakiku mengenai tutup karet Tempat Sampah, dan benturan itu membuat lututku tertekuk serta melontarkanku kembali dengan kepala duluan ke tanah.

Suara ramai itu tiada henti. Aku bersujud menggigil dengan tangan menutupi telinga. Letusan-ledakan semakin mendekat. Ya Tuhan, ada apa ini?

Lagi-lagi sesuatu menarikku, “Kak, ayo!” memaksaku bangkit. Tapi suaranya sangat kukenal.

“Mika!”

“Kita harus lari, Kak, sekarang!” Ia mendorongku maju tanpa peduli menunggu jawaban olehku.

Bagus sekali! Lari lagi dan lagi. Ramai sekali, seperti ada gempa bumi massal. Entah karena derap kaki atau serangan bertubi-tubi ledakan di belakang kami atau atau … aku tak yakin dengan apa yang sedang kupikirkan. Segala benak yang terlintas memiliki akhir terburuk. Air hangat meluap dari kelopak mataku. Aku lelah, sungguh tak terasa lagi ritme jantung ini.

“Kakak harus lari, harus pulang melindungi Ibu. Mika akan menyusul setelah menemukan Kak Dhika.”

Adalah pesan Mika sebelum aku diseret paksa oleh orang-orang yang tak kukenal. Menarikku menjauh dari bangunan yang tak terlihat bentuk aslinya lagi. Asap mengepul, bongkahan bebatuan berserakan dimana-mana serta ledakan-ledakan yang memekakkan gendang telinga bergema di setiap sudut. Otakku tak bisa temui, ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi? Bagaimana ini bisa-

Tanah yang kupijak bergetar hebat setelah sebuah degum terdengar dari arah belakangku, tepat dimana Mika tertinggal. Aku tertegun. Memutar badan, nyala api raksasa meliuk-liuk di kegelapan langit yang kini terang benderang disertai kepulan asap hitam menggulung-gulung. Jeritanku redup tak terdengar walau oleh pendengaranku. Meronta sudah tak berguna karena seribu tangan mengunci -sesuatu yang sangat berharga telah lenyap di depan mata. Aku pun terkulai, lututku lemas. Seketika duniaku tersedot, seluruh cahaya menjadi kelam.

“Tidak, tidak. Mika … jangan, lepaskan aku. Mika …!”

Kelopak mataku terasa seperti habis dikelupas dan digosok sampai lecet ketika aku berusaha membukanya. Cahaya silau dari samping sudut mata sangat terang di tengah kegelapan.

“Kak, Kakak …”

Aku terlonjak, “Mika!”

“Kakak nggak papa?” Tanyanya begitu lembut, namun bernada khawatir.

Tanpa buang waktu, aku menubruknya, mendekapnya seolah Mentari esok tiada bersinar. Raungan dan kucuran air mata menggenangi kaos Mika yang mengalir bak air terjun. Hatiku campur aduk. Aku bahkan tak mengenali diriku sendiri. Aku tak mau ditinggalkan lagi. Hidupku memang membosankan, tapi aku tak mau bosan sendirian. Biarkan aku hidup, mereka hidup, sampai Tuhan memisahkan kami.

“Tenang Kak, itu cuma mimpi,” kata Mika sambil mengelus lembut rambut dan punggungku di pelukannya.

Aku melepaskan diri, “apa kau bilang?” dan menatapnya dengan tatapan horor.

“Emm… tadi Kakak mimpi. Teriak-teriak dalam tidur memanggil-menggil namaku, lalu nangis kenceng. Emang sih awalnya lucu, tapi lama-kelamaan Kakak kayak mau …,” ia berdeham dua kali, “pokoknya mengenaskan deh.” Mika menerangkan dengan diakhiri cengengesan. Aku melongo bundar.

Jadi itu mimpi?

Hatiku terasa longgar sekaligus merasa tubuhku sepadat udara. Rasanya ingin sekali aku memutar waktu. Meraung-raung karena mimpi. Sungguh kejadian yang akan diputar ulang oleh Adikku seumur hidup. Sudut bibirnya yang melengkung, membentuk senyum jail, menjawab kegelisahanku.

“Sungguh?” Aku ingin mencari alasan, tapi otakku buntu.

Mika mengangguk, masih dengan tatapan yang membuatku ingin menutup mukaku dengan Helm. Lantas ia memanjangkan tangan, meraih baskom yang ada di meja, meraup popcorn dari dalamnya. Sepertik mulutnya penuh dan kini sibuk mengunyah cemilan pelengkap acara favoritnya itu.

“By the way, Alex nungguin Kakak tidur dari tadi. Mungkin sekarang udah lumutan, tuh.” kata Mika disela-sela mulutnya yang penuh. Sekilas kepalanya yang berambut acak-acakan miring ke ruang tamu.

Mataku kembali membulat, satu keringat menetes di pelipis, dalam hati berkomat-kamit, “Tidak, tidak mungkin … tidak mungkin.”

“Kenapa Kak?” tanya Adikku, “kok kayak habis liat hantu gitu mukanya.”

Aku menatapnya serius sedikit panik, “i-ini persis seperti mimpiku barusan. Kamu…,” aku melirik pakaiannya, “kaosmu, popcornmu, dan … dan … semuanya!”

Baiklah. Sekarang aku benar-benar panik.

“Oh.” gumam Mika.

“Kok, cuma ‘oh!” Nadaku makin meninggi.

Mika menatapku, “hmm…” kepalanya miring ke kanan dengan mata yang berkedip-kedip kecil, kebiasaan saat Mika sedang berpikir.

“Baik buruk atau tidak. Kalau Kakak nggak percaya dan tak niat untuk menyetirinya. Maka sebuah mimpi akan tetap menjadi mimpi dan nggak akan berubah jadi kenyataan, bukan?”

The End.

Cerpen Karangan: Mella Amelia
Facebook: Mella Memey Seyy

Cerpen (Bukan) Kisah 1001 Malam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan Disaat Valentine

Oleh:
Biasanya di bawah tangisan langit aku dan dia bermain air disini. Tapi sekarang entah kenapa aku benci dengan tangisan itu. Melihatnya saja aku tak mau apalagi menyentuhnya. Sekarang terasa

Tak Ada Yang Sempurna (Part 2)

Oleh:
Siang ini, Chrisa hanya sendirian di dalam kamar dengan ditemani sebuah novel yang dibacanya, sedangkan Pak Ferdi sedang ada urusan dengan kantornya. Karena merasa jenuh, Chrisa memutuskan untuk pergi

Because I’m Possible

Oleh:
Tidak semua orang bisa mengertiku saat ini, termasuk matahari sekalipun. Tugasnya hanya bersinar di pagi hari sampai senja lalu menghilang sesukanya. Tidak termasuk mendengar curhatanku, bukan? Ya, namaku Fandi.

Cahaya Senja Sekejap Hilang

Oleh:
Pagi ini, burung-burung kecil nampak berkicau menyapaku. Aku mulai membuka mataku dan terbangun dari mimpi indahku semalam. Kubuka jendela imutku dan ku pandang langit yang seakan tersenyum menyambut hari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *