Cerita Di Tepi Jalan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 17 April 2016

Byur… hujan turun deras membasahi tubuh Rani, Septi, Susi, Eva, dan Yuni. Sialnya lagi mereka menginjak setumpuk cacing menggelikan yang menari-nari di tanah. Mereka betul-betul kesal, karena hari itu adalah hari yang sangat sial bagi mereka betapa tidak, di sekolah ketika bel pulang berbunyi mereka tertinggal oleh angkutan umum yang biasa mereka tumpangi, sehingga mereka memutuskan untuk berjalan kaki, meskipun mereka tahu jarak yang akan ditempuh sangatlah jauh yaitu sekitar 12 kilometer. Saat mereka memulai perjalanan dan sudah berjalan sekitar 1 kilometer mereka diguyur hujan. Tak lama mereka berjalan.

“Di sana ada pondok kecil, sepertinya tidak ada orang, ayo kita ke sana agar tubuh kita tidak terlalu basah,” ajak Yuni. Mereka pun setuju dengan pendapat Yuni dan mereka berteduh di pondok itu, namun bukannya mendapat ketenangan dan kenyamanan malah-malah di pondok itu mereka menjumpai setumpuk cacing yang menggelitik tubuh, karena terkejut mereka serentak melihat cacing itu dan… “Aaaaaaaa!!!” mereka teriak sekencang-kencangnya, mereka berlarian ke luar pondok itu dan tiba-tiba langit berkilat-kilat dan…

“Dubuaaaaaarrrrr!!”

Petir pun menggelegar secara spontan lima anak yang duduk di kelas 8 itu berpelukan erat, tanpa disadari, dari arah belakang mereka, ada truk yang melaju kencang dan mencipratkan air ke pakaian yang mereka kenakan, “Aduh apa lagi sih udah basah tambah basah, keterlaluan sekali hari ini!!” keluh Eva.
“Ah, mimpi apa aku semalam, betapa menjijikkan ini, pokoknya, mau hujan, gledek, atau apa pun itu aku gak peduli, aku sudah cape,” ucap Yuni.
“Aku juga, pokoknya aku mau cepat sampai ke rumah,” ucap Rani, yang matanya sudah terlihat berkaca-kaca. Septi pun angkat bicara, “Kalau kita mengeluh terus kapan kita sampai di rumah? Emangnya siapa yang mau jalan sejauh ini kalau gak terpaksa? Kalau ada angkot yang lewat dari tadi pasti kita gak bakalan seperti ini,”
“Iya sebaiknya kita jalan lagi, kalau kita ngeluh terus kapan kita sampai, lagian kita udah terlanjur basah kok,” kata Susi kesal.

Mereka pun pun kembali berjalan. Saat mereka berjalan, sangat banyak lelaki-lelaki nakal yang hendak menjahili mereka, untunglah mereka mempunyai iman yang kuat dan jurus jitu untuk menghadapi para lelaki tersebut, sehingga mereka dapat mengusir lelaki-lelaki yang nakal itu, setelah hampir 4 kilometer mereka berjalan, mereka melihat pohon jambu air yang sedang berbuah ranum, tak disangka dari depan pintu rumah sang pemilik jambu, keluar seorang anak sebaya mereka ternyata dia itu adalah adik kelas mereka, setelah mengetahui bahwa pohon jambu air itu milik adik kelas mereka segeralah mereka meminta jambu itu, dengan sedikit tertawa karena melihat seniornya basah kuyup sambil menenteng sepatu.

Akhirnya sang pemilik jambu air pun mengizinkan mereka untuk mengambil jambu air itu, walaupun hujan lebat dan petir yang sangat menggelegar mereka mulai mengusir rasa takut, mereka nekat memanjat pohon jambu itu, mereka tidak takut jatuh, padahal pohon jambu itu sangat licin. Setelah merasa cukup dengan jumlah jambu yang mereka ambil mereka turun dan kembali berjalan sambil menenteng sepatu dan memakan jambu yang mereka ambil tadi, setiap orang yang sedang melintas dengan kendaraan di jalan raya selalu tertawa melihat mereka berlima. Di raut wajah Yuni, Rani, Septi, Eva, dan Susi terlihat sama sekali tak menghiraukan tertawaan orang-orang yang melintasi tu, walaupun di dalam hati mereka masing-masing sangat merasa malu. Setelah 3 jam lebih mereka berjalan di dalam hati mereka telah ada sedikit titik terang sebab jarak rumah mereka tinggal 2 kilometer lagi. Namun, dari arah belakang mereka terdengar suara klakson mobil.

“Tampaknya, itu adalah suara klakson mobil angkutan umum,” ucap Susi.
“Haruskah kita menaiki mobil itu?” tanya Rani.

Tak lama berpikir, karena mobil telah menunggu di hadapan mereka dengan sedikit kekesalan di hati, mereka pun menaiki mobil itu, ketika sampai di daerah rumah mereka yang kebetulan mereka berlima adalah tetanggaan, orang-orang sekitar daerah itu menertawakan mereka, karena di daerah mereka itu tanahnya sangat kering tidak turun hujan setetes pun, orang-orang yang tertawa itu mengira bahwa 5 anak itu bermain air seperti hal bodoh yang biasa dilakukan oleh anak kecil, hahaha.

Cerpen Karangan: Nur Suryanita
Facebook: Rani Sinaga

Cerpen Cerita Di Tepi Jalan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebuah Harapan

Oleh:
Namaku Dania Fyaniera. Biasa dipanggil Dania. Aku bersekolah di SMA favorit yang ada di kotaku. Tapi, bagiku sekolah favorit atau tidak bukan menjadi yang utama, hal yang paling penting

Bakso Melupakan Segalanya

Oleh:
Akhirnya sampai jugalah aku di tempat tujuanku dengan selamat, setelah melalui macetnya jalan kota Medan. Sesampainya aku di UNIMED aku langsung saja berjalan masuk menuju Gedung Serba Guna Unimed.

Laras

Oleh:
Angin berhembus malu-malu membawa aroma laut yang berada di ujung barat sana. Matahari mulai tenggelam karena memang hari sudah hampir senja. Laras menendang-nendang tembok pembatas atap sekolah. Sudah hampir

Cinta Terbagi Dua

Oleh:
Bukan maksut untuk PHP, bimbang adalah kata kata yang tepat untukku saat ini. “Cia..” panggil Rey dari sisi kananku “Cia” panggil Bayu dari sisi kiriku. Ya, ini yang membuatku

Bimbang

Oleh:
“kata orang rindu itu indah, namun bagiku ini menyiksa…” Lantunan penggalan syair Melly Goeslow mengalun pelan dari bibirku Sudah satu jam lebih aku duduk di bangku taman ini. Tempat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *