Cermin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 18 January 2016

Mirror Scream Band. Itulah nama band kami. Band kami cukup terkenal, dengan mengusung genre alternative rock dibumbui sedikit tekhnik scream. Aku dan keempat temanku lainnya telah banyak mendapat sertifikat serta tropi setiap kali mengikuti festival maupun event bulanan. Sebelum kami terkenal seperti ini, jujur di antara mereka saya aku paling minder. Fisikku kurang menarik jika dibandingkan dengan teman-temanku yang lain.

Memang, band kami terbentuk dari inisiatifku. Tapi entah kenapa rasa ketidakpuasan itu selalu menghantui dari hari ke hari. Pernah juga frustasi akan diri yang selalu gagal menjadi menjadi orang lain. Aku kehilangan jati diri hingga kepercayaan untuk tetap berkarya. Depan cermin, selaksa tetap begitu adanya. Memandangnya, berdiri sendiri dengan sesal di hati.

“Siapa kamu!”

Ku tutup mata perlahan, ku buka lagi. Ternyata aku masih menjadi diriku sendiri. Kebingungan itu membabi-buta, hampir saja aku memukulnya. Ku amati sekali lagi, ku buka bajuku, mencermati, Aku masih si kurus hitam yang kumal.

“Siapa diriku! Katakan sekali lagi, siapa diriku!”
“Mengapa aku tidak bisa menjadi ini menjadi itu?”

Hingga senja telah memadamkan binar siang. Ku tengok semesta dari jendela, ku hirup aromanya. Aku telah gagal memadamkan api dengki yang meresahkanku selama ini.Sekali lagi menghadap cermin. Ternyata semakin buram. Karena malam telah mengaburkan apa yang semestinya disyukuri. Aku lelah. Aku hanya ingin istirahat. Malamnya aku bermimpi. Aku berada di gedung tertinggi di keramaian orang dan berpidato berapi-api. Menyerukan ketidakadilan kepada semua orang yang senasib denganku.

“Saudara-saudaraku! Hari ini kita akan menuntut takdir untuk mengubah apa yang kita mau! Setujuuuu?”
“Setujuuuu!” Riuh orang Menyetujui gugatan yang ku sampaikan.

Terkabullah, masih belum beranjak turun dari gedung, aku menjadi apa yang aku inginkan saat itu. Aku bahagia bukan kepalang. Teruslah begini, teruslah seperti ini sampai aku turun nanti. Takdir lain berbicara, satu orang di bawah paling pojok yang geram melihat kesombonganku, meminta takdir untuk merobohkan gedung yang ku pijak. Gedung itu kemudian ambruk, menimpa orang-orang yang di bawah. Aku pun terjepit di antara puing-puing bangunan. Ku pandangi potongan bagian tubuhku berceceran ke mana-mana. Aku menjerit sejadi-jadinya

“Aaaaaakhhhh!” Hingga kemudian pintu kamarku digedor-gedor ibuku.

“Sudah pagi Nak, bangun! Hari ini kamu ada jadwal manggung lo!”
Syukur, cuma mimpi. Masih setengah heran aku melangkah kembali menuju cermin. Ku pandangi lagi diriku yang masih awut-awutan. Hihihi, kamu keren juga, gumamku. Menuju kamar mandi kemudian membersihkan muka, mengibas-ngibaskan rambut tanpa menyisir kemudian bercermin lagi. Senyum itu menggantung indah di dalam cermin yang ku lihat. Matanya berbinar, mukanya cerah karena facial foam.

“Kamu itu unik bro, beda, dan tampan. Kamu itu song writter, pemimpin Band, keyboardis. Kamu itu hebat.” Kekontrasan itu telah menciptakan ragam tersendiri, ‘Karakter.’
“Dan mulai sekarang jangan mencoba menjadi orang lain lagi, atau kau akan dibunuh oleh mimpimu sendiri.”

Hingga semangat membara tanpa keminderan itu telah membawaku kedalam kesuksesan besar. Tak peduli apa kata orang.
‘Hidupmu adalah apa yang kamu inginkan.’ Tapi inilah hidup, luka itu pasti. Bekas luka akan mengering, biarkan rasa sakit itu mengobati sendiri, biarkan kedewasaan berbicara dengan sendirinya. Dan malam pun berganti pagi. Dengan rona baru, dengan harapan baru.

Cerpen Karangan: Bambam
Facebook: Serigala-serigala Durhaka

Cerpen Cermin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Talk Love

Oleh:
“Albitari Diandra dan Reyhan Andriano.” “What? Nggak mau!” Suara seorang manusia terdengar menggelegar di dalam kelas. Gadis itu tak terima dengan keputusan yang diberikan Bu Anita —wali kelas mereka.

Kebencian Diselimuti Dendam

Oleh:
Hari sudah menjelang sore sekitar pukul 17:00 WIB, namun entah apa yang membuat Mada belum pulang juga dari sekolah, Ibunya sangat mengkhawatirkannya dan pasti dipenuhi rasa cemas. “Bu, sudah

Cinta Setengah Sadar

Oleh:
Aku termenung menyaksikan jutaan rintik hujan yang sedang turun mengguyur bumi, berharap hujan segera reda. aku terjebak di perpustakaan daerah oleh hujan yang dari tadi semakin deras. Namaku Zahra

Gambaran Penyesalan

Oleh:
“Assalamu’alaikum warahmatullah..” “Assalamu’alaikum warahmatullah..” Tepat dini hari, aku kembali bersimpuh lemah. Menengadahkan kedua tangan di hadapan Sang Kuasa pemberi kehidupan. Berdialog singkat dengan melantunkan Asma-Nya dan tak lupa memberi

Kegelisahan Cici

Oleh:
Entah kenapa hari ini terasa lain dari hari kemarin-kemarin. Padahal tidak ada satupun hal yang lain yang dialami oleh Cici. Aktivitasnya hari ini dimulai dengan sholat subuh sama seperti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Cermin”

  1. Yetti Rahmatizar El-Huriyah An-Nafis says:

    jadilah dirimu sendiri dalam kedaan apa pun itu,, be your self and be confident with it

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *