Cinta? Belum Tentu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 January 2017

Aku menatap kawanan itu dari jauh penuh kebencian, pupilku berkonsentrasi menatap salah satu di antara mereka, yang kini tengah tertawa lepas bersama lainnya. Suatu rencana terlintas di otakku, aku langsung tersenyum sinis. “kali ini aku akan membalasnya.. Farel!” bisikku seraya menembakkan jariku kearahnya seolah jariku ini sebuah pistol.

Aku berjalan pelan menuju lokerku dan langsung mendesah saat kutemukan lagi berbagai coretan di pintunya. Sudah berkali-kali peristiwa ini menghantuiku, dan berkali pula aku harus membuang energi membersihkannya. “Makanya, jadi cewek gak usah ngesok nyari gara-gara!” celetukkan terdengar melewatiku. Ini sangat menyakitkan, tapi aku berusaha tak menganggapnya serius. “yang namanya cewek itu kalo mau nyontek itu sewajarnya aja.. gak usah sampe nyuri jawaban segala, jijik tau gak?” kata yang lainnya. “heran, tukang nyolong kok masih dipertahanin sekolah di sini” sindir yang lain. Aku memejamkan mataku kuat, tanganku terkepal erat, beban ini terasa memompaku naik. Namun ingatanku dengan “Tuhan akan memberi kau masalah sesuai kadarnya” membuatku kuat kembali, aku, kan anak cewek yang kuat. Saat dewasa nanti aku yakin akan bersyukur mendapatkan masalah seberat ini.

Tanganku membuka pintu lokerku, suatu benda yang menjijikan terjatuh. Aku hanya menatapnya datar, tanganku mengeluarkan benda yang bukan milikku keluar dan melemparnya ke sampah, selalu ada saja yang memberi ‘hadiah’ begini kepadaku. Aku mengambil buku keperluanku dan berjalan ke kelas.

Saat aku berjalan itu, kembali kulihat mereka berjalan berlawanan, di tengahnya terdapat cowok paling akan kuhilangkan dari dunia ini, Farel Hendrawan. Saat melewatiku, salah satu dari mereka menyapaku. “hei cewek jawaban!” serunya, diikuti tawa mengejek mereka semua. Aku tetap berjalan lurus tak menganggap mereka ada. Namun dari sudut mataku, aku bisa melihat Farel merasa bersalah membuatku begini. Aku tertawa sinis dalam hati. “dasar cowok licik.. aku menyesal diangan-angan gara-gara kamu!”

Kami pernah berpacaran, dan seantero sekolah pun tahu. Aku yang dulu terkenal cerewet kenapa bisa berpacaran dengan cowok pendiam, kasat mata dan dingin seperti dia. Lainnya menyayangkan itu kepadaku. Namun mereka tak tau, bagaimana baiknya dirinya kepadaku, bagaimana dia memperlakukanku berbeda dengan lainnya, tatapannya yang lembut kepadaku. Dan karena dirinya juga, hidupku yang penuh dengan keributan menjadi hangat dan ringan.

Kisah kami saat sebelum pacaran pun sangat tidak wajar, saat itu pertama kalinya ada teman yang menganggapku tak ada. “eh, tolong dong, siapa nama kamu..” aku membentuk muka lucu berpikir. “ah.. Farel.! Eh aku diantriin dong ya..” waktu itu kantin memang penuh, karena aku sangat lapar aku rela menerobos antrian paling depan. Dan yah, meski tidak berhasil mendapatkan posisi itu karrna sudah ditarik oleh teman-temanku yang sudah mengantri duluan. “Aduh Ren, ngantri dong.. kebiasaan nih dia sukanya menyerobot!” protes teman-temanku di situ. “ayolah pliss.. aku ambil antri pertama, aku lapernya pake banget!” teriakku memelas, tubuhku berusaha lepas dari cengkraman mereka semua. “Gak bisa.. sekarang kita udah gak akan terbujuk rayuan antikmu… kamu harus antre!” protes mereka semua sambil menahan geli. “aih..” aku mulai menyerah, maklum tenagaku sudah mulai habis karrna belum sarapan. “ya udah, aku nitip aja!” aku menoleh ke arah mereka semua yang malah dengan kompak menggeleng” gak ada nitip-nitipan buat Rena!” teriak mereka serempak. Dan begitulah akhirnya aku mendapati Farel yang di barisan paling pertama, yang tak terlihat terpengaruh oleh mereka yang ribut gara-gara diriku. Kumanfaatkan dengan memanggilnya dengan nada membujuk, dia hanya membalikan kepala sebentar seraya menatap kembali bagian konter kantin. “aih, sama aja pelit!” cibirku. Aku menatapnya kesal.

Karena tak berhasil juga, akhirnya aku berjalan gotai ke arah antrian paling belakang yang panjangnya sampai ke depan kelasku. Aku meniup poniku kesal. Seorang teman menatapku sambil tertawa “kamu sih, nakal. Sukanya nyerobotin antrean orang!.. eh Ren, tapi kamu ditatap dingin sama Farel ya? Dia emang cowok yang gak bisa diajak bercanda, tau! Yah.. yang sabar aja ya Ren..” dia menepukku sambil tersenyum. Aku menganguk sambil melompat-lompatkan tubuhku semangat. “kumat lagi!” jawab temanku sambil menggelengkan kepala. “Ren.. Ren.. Ren! Nih kamu dapet kiriman dari Farel!” aku hanya melongo saat sebuah napan yang berisi makanan kesukaanku diangsurkan dari depan oleh teman-temanku. “eh, lho? Kok bisa, aku kan gak jadi pesan!” tolakku. Namun mereka yang sudah kembali ke aktifitasnya masing-masing tak memberi penjelasan apapun. “ih, ini gak bisa.. aku, kan ngantri!” protesku keras “udah, kamu makan aja.. sok nolak!” jawab mereka semua kesal, sebaris senyum konyol menghiasi mulutku, aku berjalan pelan menuju meja kantin dan menemukan Farel disana.

Aku tersenyum senang dan menghampirinya. “Hei, makasih ya Rel!” sapaku. Farel hanya menatapku sebentar dan melanjutkan makannya. Aku memutar bola mataku dan akhirnya menyerah, makan aja ah! “Selamat makan!” teriakku senang. Kusendokan satu suap nasi namun mataku tertuju ke arah sebuah kertas yang disondorkan oleh Farel. “Kamu utang sama aku!” katanya. Aku menghentikan makanku. “Oh ya, berapa?” kataku menatapnya. “Udah, gak usah bayar!” jawabnya seraya pergi. What!. “lho? Gimana sih tuh orang!” gerutuku. Aku mempercepat makanku sambil mataku berkosentrasi menatap kepergiannya, aku harus mengejarnya. Utang akan ditagih di akherat nanti.

“Oi, Farel!” panggilku, aku terengah engah menghampirinya. Farel zsudah melangkahkan kaki kekelasnya, menghentikan langkahnya “kamu jalannya kecepatan!” gerutuku. Farel menatapku lewat sudut matanya. “oh ya, ini duitnya buat bayar utang!” aku memberinya uang yang tak kunjung diterima olehnya. “ayolah, nih diterima! Cepetan… Aku belum menghabiskan esku!” aku memegang tangannya dan memberinya uang itu. “udah ya, dah.. Makasih lho ya!” aku berlari meninggalkannya. “aku mau pergi sama kamu malam minggu ini.. Rena!” sebuah teriakkan menghentikanku, aku menoleh dan kusadari seluruh sekitar menatapku dan bersuit ria. Aku lalu menatap sumber suara yang tadi teriak itu. “a… apa kamu bilang?” tanyaku bingung. Farel tersenyum, senyumnya membuatku hanya menatapnya, dia berjalan perlahan ke arahku. “kamu sama aku.. kencan, dan itu bayarannya!” tangannya meraih tanganku dan memberikan uang yang kuberikan tadi kepadaku. “jam 7… terserah kamu.. nomormu aku udah punya!” Farel tersenyum lagi, sebelum pergi sempat-sempatnya dia mengacak rambutku yang bodobnya, membuat jantungku berdetak keras, sekumpulan sesuatu seakan memadati perutku dan tenggorokanku kaku.

Seperti itulah, aku dan dia akhirnya berkencan di bioskop, dia mentraktirku melihat film dan memberlakukaku dengan sangat baik bahkan membuat lidahku kelu saat tatapannya tidak habis memadangiku. Setiap aku berteriak heboh karena filmnya yang seru, dia akan berkata. “suaramu terlalu bagus, bagusnya jadi penyanyi.. takutnya nanti suara kamu serak lagi..” atau kadang “suaramu disimpen aja.. besok kalo aku jadi pemain sepak bola baru kamu keluarkan dengan tenaga besar!” aku langsung menunduk malu. Dia kebalikanku, saat itu pertamakalinya aku sadar aku jatuh cinta.

Sehari kemudian, dia memintaku menjadi pacarnya. Dia menembakku di tempat dengan suasana yang sama sekali tidak romantis. Saat aku kembali menerobos antrian yang juga berusaha dicegah oleh teman-temanku semua. “eh Rel, aku nitip lagi ya?.. ya, ya? aku laper nih!” sambil tubuhku berusaha lepas dari kendali mereka. Farel tidak menoleh sekalipun, rasanya ada yang berbeda dari sifat dirinya yang kemarin dengan yang sekarang ada di hadapanku “Farel.. jangan cuekin aku dong!” teriakku yang benar-benar udah mundur beberapa orang dari antrean. “eh.. susah banget dibasmi ya bocah satu ini.. Rena memang harus dibopong nih biar gak nemplok terus di barisan pertama!” sontak mereka mulai mengangkat tubuhku, aku sempat meraung dan berteriak memelas. “ayolah Rel!” teriakku frustasi. Perutku sudah bersiul keras.

“Ren, berpacaranlah denganku!” tanpa melihat kami semua, dia berkata seperti itu dengan gampang padahal omongannya membuat kami semua seperti patung, menatap dirinya tak percaya. “eh, kamu ditembak Ren?” tanya mereka. Aku hanya melongo menatap punggung cowok itu yang berbalik mengangsurkan sebuah napan ke arahku, dia mendekatkan wajahnya ke arahku. “jadi.. kita udah jadian?” mulutku terbuka lebar menatapnya, air liurku sontak tercekat di tenggorokan dan tiba-tiba jantungku kembali berdebar kencang. “wehh.. Rena akhirnya pacaran juga!” tatapanku teralihkan setelah kurasakan tubuhku terangkat naik, mereka mengangkatku seakan aku pahlawan pencetak gol di pertandingan bola, lalu… mulai saat itu kami berdua pacaran.

Hari-hari kami sungguh bahagia. Dia selalu membuatku tertawa riang, setiap sore kami menghabiskan waktu di lapangan. Dia adalah pemain bola handal. Katanya “kalo aku jadi pemain sepak bola, kamu harus datang tiap detiknya!” aku membalasnya dengan senyum semangat. Cinta pun tumbuh dengan gampang, menunaikan sebuah ikatan kesetiaan di hatiku. Dan gara-gara cinta bodoh itu dia berhasil membuatku dihantui penyesalan seumur hidupku. peristiwa itu dimulai, saat tiba-tiba Farel menjeputku di rumah, dia tersenyum lembut seperti biasa sehingga aku tak merasakan firasat apapun. Alasannya kencan, dan aku menyetujuinya. Dan saat tiba-tiba kami sampai di sekolah kami, aku baru membaui sebuah siasat tak wajar disini. “Rel, kamu mau kita kencan di sini?” tanyaku. Farel menganguk yakin, dengan mudah dia sambil menggandengku masuk ke dalam sekolah yang padahal sudah dijaga ketat oleh para satpam dan CCTV. Dia tetap menggandengku masuk, berjalan menuju ke lantai ke tiga dan saat itu aku langsung melepaskan tangannya curiga. “kamu mau ngapain?” tanyaku. Farel tak menjawab, dia malah mengecup keningku dan kembali menggandeng tanganku. Kusadari, dia menuju ke sebuah ruangan yang menyimpan kunci jawaban berbagai soal ulangan di sekolah kami. Aku melangkah mundur, menatap Farel tak percaya. “kamu mau apa?.. jangan-jangan kamu mau nyuri jawaban ya Rel?” tanyaku syok, kini aku memandang dirinya dengan pandangan berbeda. Farel menghampiriku lagi, mendorongku untuk membuka pintu itu. “ayolah, bantu aku Ren, di sini ada jawaban tes beasiswa ke luar negeri untuk pemain bola besok., aku ingin mendapatkannya Ren!” mohonnya di telingaku, aku meradang, dan meronta untuk dilepaskan. “maksudmu, aku yang disuruh ngambil? Kok kamu tega sih Rel!” teriakku. Aku menghindari dirinya, lalu mulai berjalan meninggalkannya, namun aku kalah cepat. “Ren, aku janji.. kamu, saat aku keterima nanti aku akan membawa dirimu ke luar negeri, dan membuat dirimu sebagai suporter penyemangat diriku paling keras.. kita udah janji, kan Ren” tatapannya memelas, dia menurunkan badannya dan berlutut di hadapanku. “okay?” katanya hati-hati. Entah bodohnya diriku, aku langsung saja menganguk meski air mata mulai merembak di pipiku, jantungku terasa kaku.

Akhirnya, kami berdua masuk mencari-cari di berbagai loker, jawaban penting untuk masa depan Farel. Dan saat aku sudah menemukan jawaban itu, dia langsung merebutnya dariku dan memberikanku kunci jawaban ulangan semeseter 2 yang seminggu lagi diadakan. “ayo kita cepat pergi!” Farel mengelus rambutku lembut, menggandengku keluar, dan saat itu suara para satpam menghampiri kami. Dan kalian tahu, selanjutnya apa? Dengan teganya dia mendorongku jatuh yang membuat aku harus tertangkap para satpam itu sementara dirinya berlari ke kamar mandi di dekat ruangan itu, keluar dari jendelanya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Aku disidang oleh semua guru, mereka memarahiku habis-habisan dan berkata tak mungkin Rena si ceria bisa melakukan hal sekeji itu, namun bodohnya aku hanya diam tak mengelak, disaat seperti itu aku masih saja membelanya. Dan itu semua karena cinta mati yang terasa basi untuk anak seumuranku. Untungnya aku tak sampai dikeluarkan, karena aku termasuk murid berprestasi di sini, aku hanya diskors 1 bulan. Seakan belum kejam, saat aku kembali ke sekolah, semua orang mencemoohku dan merendahkanku. Dan Farel, cowok itu yang berhasil mendapatkan beasiswa tahun depan menjadi populer, dia melupakanku. Membuangku seperti sampah dan tak menjelaskan apa maksudnya mendorongku ke neraka seperti ini. Dan untuk pembalasannya aku harus balas dendam.

“Farel!” sapaku ceria, semua temannya langsung mendecak penuh kebencian melihatku, meski aku merasa sepi dan kecewa, aku tetap melakukan siasatku. “ayo makan bareng, aku buatin kamu bekal lho!” pamerku. Farel terlihat gugup melihatku, namun kubaca dia juga mempertahankan kesombongannya, seraya tersenyum mengejek ke arahku. “teman-teman.. si ‘putri jawaban’ PDKT sama aku lagi, cih!.. padahal sudah aku putusin mentah-mentah. Yah namanya juga fans jadi terpaksa aku harus menurutinya!” teman-temannya memberiku ibu jari terbalik, dan aku mengangkat alisku sinis. Dasar sok keren.

Farel menggandengku, kami baru berhenti saat berada di taman. Dan saat itulah kedoknya terbongkar. “Maaf!” jawabnya, dia memelukku, aku hanya tersenyum sinis di pundaknya. “seharusnya, aku tak membuangmu seperti itu!” kurasakan pundakku terasa hangat, dia menangis. Namun hatiku yang sudah terlanjur kecawa tak menggubrisnya. “aku akan membalasnya Ren, aku janji.. saat menjadi pemain sepak bola terkenal nanti, aku akan membawamu ke luar negeri” dan dia mempererat pelukannya, aku mulai berakting. Kutepuk pundaknya pelan. “sudahlah, aku memaafkanmu!” kataku lembut. Tubuh Farel terasa lemas, dia melepas pelukannya dan menatapku senang. “benarkah? Aku akan membantumu membersihkan namamu” katanya semangat yang terasa basi bagiku. “jadi kita mulai dari awal ya Ren… soal aku mencuri kunci jawaban beasiswa itu ataupun aku memberimu kunci jawaban ulangan semester 2.. ayo kita lupakan!” dia mengelus rambutku lembut. Dan aku menganguk setuju. “ya..! kita memang harus melupakan itu.. wah aku tak sabar ke luar negeri sama kamu” jawabku ceria, dia menganguk dan mulai memelukku lagi.

Aku merogoh sakuku dan mematikan hpku yang kunyalakan alat perekam. “oke, aku pergi dulu ya!” kataku masih dengan suara senormal mungkin. Dan saat aku sudah lepas darinya dan lumanyan jauh dari langkahnya, baru aku merubah ekspresi dinginku dan menatapnya. “setelah semua sekolah ini tau betapa kotornya dirimu.. brengsek!” aku tersenyum sinis dan berjalan santai menuju kantor guru. Meninggalkan Farel yang mungkin syok dengan aktingku yang meyakinkan. Pembalasan dendamku masih banyak, dan yang ini baru salah satunya.

Cerpen Karangan: Szrurah
Facebook: Sabrina Zulmi Rahmatina Utami

Cerpen Cinta? Belum Tentu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hiding Surprise

Oleh:
Bel pulang sekolah pun tiba, anak anak mulai ke luar kelas begitupun denganku. Karena rumahku tidak terlalu jauh dari sekolah, aku pulang dengan berjalan kaki. Di perjalanan aku merasa

Rei Oh Rei

Oleh:
Sejak dulu aku selalu terpaku ketika menatap Rei, sahabatku yang selalu mengenakan seragam putih lusuh yang agak jorok, rambut cokelat tua gondrong yang dihighlight kuning, lengkap dengan matanya yang

Cinta di Kelas Ujung

Oleh:
Aku berlari menuju kelas yang terletak di ujung belakang. Rasanya masih terlalu pagi. Ya tapi peraturan baru harus di taati. Masih terasa embun yang mengenai tangan ku. Wangi pagi

Melodi dan Memori

Oleh:
“Cause I’m broken. When I’m lonesome. And I don’t feel right when you’re gone. You’ve gone away. You don’t feel me. Anymore” Alunan lagu Broken selesai dibawakan oleh duet

Kupu Kupu Kecil

Oleh:
Berkali-kali kulihat jam tanganku. Ah … Pukul 06.47. 13 menit lagi bel masuk berbunyi. Aku sedang menunggu seseorang. Tapi, seseorang yang ku tunggu itu tak kunjung datang. Kemana dia?

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *