Cinta Ditolak Emang Gak Enak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 August 2016

Kelas 9 sekarang, banyak hal yang terjadi padaku, mulai dari tidak mengerjakan PR, menyontek saat ulangan, dan mengerjakan PR di sekolah. Tapi itu semua itu sudah menjadi tradisi. Yang belum biasa adalah jatuh cinta kepada seseorang.

Namanya Karin, tempat tinggalnya hanya sejauh mata memandang, wajahnya bagaikan mutiara suci, suaranya halus bagaikan Raisa yang belum tersedak batu. Kejadian aku jatuh cinta kepada Karin sebenarnya waktu kelas 7 lalu, begitu juga dengan Nikola, saingan terberatku. Saat di sekolah jam rehat, kami membicarakannya.
“Oy, Tos!” Hentak Nikola mengagetkanku saat melamun memikirkan Karin.
“Eh, copot, kaget gua!” Latahku setelah dihentak.
“Mikirin siapa lu?” Ujar Nikola dengan gelak tawanya.
“Enggak, enggak, gua lagi gak mikirin siapa–siapa.” Balasku dusta.
“Haha! Nggak usah bo’ong deh, pasti lu lagi mikirin Karin kan?” Nikola menginterogasi.
“Nggak sih! Sotoy!” Mukaku berubah malu dan pura-pura telungkup di atas meja untuk meyakinkan bahwa perkataanku benar.

“Tos, ada Karin, Tos!”
Seketika aku terdesak bangun. “Mana? Mana?” Sambil melirik-lirik ke atas, ke bawah, ke kiri, ke kanan, ke depan, dan ke belakang.
“Ga ada ah!” Ucapku tegas sambil memukul Nikola.
Nikola pun langsung tertawa melihat gelagatku tadi. “Nah, iya ‘kan? Pasti lu lagi mikirin Karin!”
Terdengar denting bel, tanda jam rehat pun habis. Semua murid kembali ke kelasnya masing-masing.

Setelah jam pelajaran, bel rehat kedua pun berbunyi, Aku dan Nikola bergegas ke kantin untuk jajan, dan pada saat itu Aku dan Nikola bertemu Karin.
“Eh, Niko, Niko, Niko!”
“Paansi, Tos?”
“Tuh, tuh, Si Karin!”
Melihat Karin sedang membeli kudapan, Aku dan Nikola pun langsung menghampirinya, kami saling berdorongan seperti ombak. “Eh, Karin, mau gua jajanin?” Kataku.
“Enggak usah, Tos, gua ada duit.” Karin menyahut.
Wajahku berubah seperti sayur layu.
“Sabar, Tos, biar gua aja…” Ujar Nikola sambal memegang pundakku dengan nada mengejek.
Saat Nikola hendak menghampiri Karin, tiba-tiba ada orang yang menghalangi jalan Nikola. “Wets… Mau deketin dia? Hadapin gua dulu!”
“Siapa sih dia Tos? Kayaknya bergayaan banget.” Nikola ingin tahu.
“Oooh… Dia Veron, temen gua waktu SD!” Balasku.
“Tapi liat dong tuh! Temen lu, deketin Karin!”
Lirikan mata jeliku langsung melihat mereka. “Eh, iya ya, kok dia bisa deket sih?” Jawabku iri.
“Mana gua tau!” Nikola membalas.
“Nih, gini aja, gua yang ngobrol sama si Veron, lu tinggal dulu aja, gua pengen kepoin dia.” Bisikkanku terhadap Nikola.

“Oy! Ron!” Aku berujar.
“Oy Tos, kenapa?” Veron berkata.
“Tadi siapa yang sama lu itu, Ron?” Ujarku dengan rasa ingin tahu, yang sebenarnya sudah tahu.
“Ohh… Kepo yaaaaa? Itu Si Karin!” Balas Veron.
“Karin itu siapa lu?” Balasku ingin tahu lagi.
“Kayaknya kepo banget sih!” Setelah itu Veron langsung pergi.

Aku pun menghampiri Nikola kembali “Gua gak bisa dapet informasi yang penuh.” Kataku.
“Kok bisa?” Balas Nikola.
“Tau tuh, pas gua tanya ke Veron “Karin itu siapa lu?” Dia langsung ngambek” Aku membalas lagi.
“Ntar gini ajah, kapan-kapan, kita langsung itu-in aja dia.” Nikola membuat rencana.
“Itu-in kayak gimana?” Aku bingung.
“Itu loh, maksud gua, bikin dia ngakuin kalo Karin itu siapanya dia!” Jelas Nikola.
Aku pun memikirkan sejenak tentang idenya Nikola. “Tapi, Niko, tapi gua takutnya si Veron itu marah sama gua.” Aku pun ragu.
“Udah gak papa, biar gua aja yang tanganin.” Balas Nikola.
“Okeh!” Aku pun setuju.

Keesokan harinya Nikola dan Aku pun ke kelasnya Veron.
“Oy lo! Napa lu pas kemaren kayaknya begayaan banget ha?” Ujar Nikola.
“Niko… Seharusnya lu gak marah kan?” Ucapku kecil-kecil
“Udah gak papa, gua aja yang ngadepin, take it easy…” Balas Nikola.
“Iya emang napa? gak suka? Ya gak usah urus…” Veron pun berujar dengan amarah yang meluap-luap seperti api. Belum pernah ku nampak Veron semarah ini.
Kemarahan pun terus berlanjut, tetapi anehnya, aku tidak melihat bahwa Nikola tampak marah, Nikola sepertinya tidak terpancing emosi. Dan saat itu aku mulai berlaga bijak. “Udah… Udah… Stooooop…”
Kemarahan pun berhenti.
“Udah mendingan gini aja, elo berdua, termasuk gua juga sih. Masing-masing ngeluarin kelebihannya aja terhadap Karin. Nah, gini kan bersaing secara sehat, gak bakal ada pertengkaran… Gimana? Setuju ga?” Aku pun mengeluarkan ide. Nikola dan Veron pun setuju.
“Oke, gua bakal ngeluarkan kehebatan gua, jangan kaget lo berdua!” Veron menyombongkan.
Nikola dan Aku pun akan mengeluarkan kelebihan.

Pada keeseokan harinya saat Karin pun tiba, menghampiri Aku, Veron, dan Nikola, kami pun langsung menunjukkan kelebihan masing-masing. Veron menujukkan kelebihannya dengan bermain futsal, Aku menunjukkan kelebihanku bermain basket, dan Nikola menunjukkan kelebihannya dengan bermain gitar. Karin pun tertarik dengan keahlian kami, namun ekspektasi berkata sebaliknya.
“Udah cukup.” Kata Karin. Kami pun bingung.
“Lah kenapa?” Kata kami bertiga.
“Lu semua udah bikin gua tertarik, tapi…” Ujar Karin.
“Tapi kenapa?” Ujar kami bertiga penasaran.
“Iya.. Gua sih nurut aja apa kata Bapak gua. Gua dibilangnya gak boleh pacaran dulu. Mungkin lain kali yah…” Karin pun pergi.
Kami bertiga pun sedih tak karuan.
“Yaaaaaah… Ditolak kan…” Kata Nikola.
“Ahh… Udah bodo amat lah, cari yang lain ajah.” Kataku.
“Iya aja dah, gua juga jadi gak peduli.” Kata Veron.
Dan suasana pun berhenti sejenak.
“Udah, gak papa lah, buat apa juga kita pacaran, masih bau pesing juga.” Kataku.
“Iya juga sih. Bener juga kata ortunya, gak boleh pacaran. Seharusnya kita juga.” Timpal Nikola.

“Oh iya, Ron, nih kenalin, temen gua Nikola! Nikola, ini Veron.” Aku berkata.
“Oy Ron… Lumayan juga lu main futsal. Ajarin gua dong!” Nikola menyapa.
“Lu juga jago main gitar. Ajarin gua juga yak!” Kata Veron.
Aku pun menyelak pembicaraan mereka. “Si Tos gak ditanya nih?”
“Gak usah!” Nikola dan Veron berkata seperti itu dan tertawa terbahak-bahak.
“Ok fine!” Kataku.
“Ron, maafin gua ya yang soal kemaren, gua bikin lu marah.” Nikola meminta maaf.
“Iya gak papa kok, gua cuman terpancing esmosi doang…” Veron berujar.
Aku dan Nikola pun tertawa dan berkata “Emosi kaleeee Ron…”
Kami bertiga pun tertawa, dan menjalani pertemanan dengan akrab.

Cerpen Karangan: Karunia Sentosa
Facebook: Karunia Sentosa

Cerpen Cinta Ditolak Emang Gak Enak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Moranica

Oleh:
Nama aku Ali (Alli Nur Magribi). Aku punya temen namanya Andzar, dia tuh baik dan orangnya kalem. Suatu hari dia ngajak aku buat pergi ke toko buku gramedia yang

Chicken LINE

Oleh:
Aku memegang ponselku sejak dari tadi, mengabaikan keributan kelas yang ada. Ketika aku sedang asik mengetik pesan, tiba–tiba saja ada orang yang duduk di sampingku. “Cie yang lagi chattingan,”

Cinta Masa SMA

Oleh:
Saat itu Indah melangkahkan kaki ke sekolah baruku. Ya Sekolah Menengah Atas. Sebut saja SMA SWASTA BINTANG. Disana Ia mengenal banyak orang hebat yang tentunya akan menjadi sainganku kelak.

Laskar Putih Abu Abu

Oleh:
Remaja berkulit putih, berambut ikal, bertubuh tinggi, dan memiliki semangat yang tinggi dalam mengejar impianya. Remaja itu bernama Viara, ia duduk di kelas 10 di salah satu sekolah modern

Cinta Lama Sang Rivalku

Oleh:
Awalnya aku tidak tahu siapa dia. Hingga suatu kejadian yang menyebalkan terjadi, dan membuatku mengenalnya. Namanya Athazuya, teman-temannya sering memanggilnya Zuya. Saat itu aku sedang mengunjungi perpustakaan untuk membaca

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *