Cinta Mulai Bersemi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 15 March 2016

Hari ini adalah hari yang indah mentari mulai menunjukan dirinya dengan sinarnya yang kemerah-merahan dan kabut yang disingkirkannya. Sinar mentari itu menyinari jendela. Tampak Ahmad masih tidur terlentang di atas kasur lantai.

“Ahmad bangun ayo bangun!” kata Dika sambil menggoyang-goyangkan tangan Ahmad.
“Ada apa sih?” tanya Ahmad dengan matanya yang masih terpejam.
“Cepat bangun katanya kamu mau pulang,” lanjut Dika. Dengan wajah terkejut ia menoleh ke arah jam dinding.

“Kenapa tidak dari tadi banguninnya. Wah bisa-bisa aku terlambat,” ia pun segera pergi ke kamar mandi umum dengan cepat. “Ehmm…Lama banget sih orang di dalam sini,” katanya dalam hati. Tak berselang lama orang di dalam kamar mandi pun ke luar. Ia terkejut yang ke luar adalah ibu kost.
“Eh Ahmad. Katanya kamu mau pulang ya? Jangan lupa kalau kamu ke sini lagi bawa oleh-olehnya,” dengan cepat ia masuk ke dalam kamar mandi tanpa mendengarkan ibu kost berbicara.

Dengan wajah yang agak panik Ahmad segera membereskan barang-barangnya ke dalam tas. Mereka berdua pun segera pergi meninggalkan kost-an. Tanpa berpikir panjang mereka langsung naik bus yang kebetulan melewat pada saat mereka sampai di pinggir jalan. Di dalam bus suasana begitu pengap dan gaduh ditambah lagi seorang anak yang sedang menangis di dekat mereka. Beberapa saat kemudian suasana menjadi senyap tak sedikit pun suara berbunyi. Di saat itu suasana tampak gelap.Terdengar bisikan mereka

“Dika. Kenapa jadi gelap ya?” tanya Ahmad.
“Aku juga tak tahu kenapa jadi begini,” jawab Dika.

Mereka pun melihat cahaya terang. Mereka pun mengikuti arah datangnya cahaya itu. Secara tiba-tiba mereka terkejut ternyata mereka berada di dalam gua yang letaknya di dalam hutan. Yang mereka juga tidak mengenali tempat itu. Tiba-tiba ada suara orang melangkah dari arah depan mereka di balik semak-semak. Mereka tampak ketakutan akan apa yang ada di depan mereka. Seketika itu ada sesuatu yang datang dari arah semak-semak. Mulai mendekat dan semakin mendekat.

“Wah!! Tolong.. Tolong,” teriak Ahmad.
Teriakan Ahmad mengejutkan penumpang bus dan semua penumpang menoleh ke arahnya.
“Ahmad… Bangun dasar kebiasaanmu tidur saja,” kata Dika. Dengan terkejut ia bangun. Ia terheran-heran mengapa semua orang menengok ke arahnya.

“Kenapa sih Dika? Kenapa penumpang lain menengok ke arahku?” tanya Ahmad penuh heran.
“Em.. Dasar. Kamu ngapain juga teriak-teriak minta tolong? Jadi semua orang menengok ke arahmu,” jelas Dika.
“Ya… Aku takut karena ada yang mengejarku,” kata Ahmad.
“Dari tadi kamu duduk di sini sambil tidur,” balas Dika. Dengan wajah malu ia tundukan kepalanya ternyata kejadian itu hanyalah mimpi. Mereka pun melanjutkan perjalanannya. Dengan wajah bahagia Ahmad pulang ke rumahnya sedangkan Dika harus menaiki angkot untuk sampai ke rumahnya. Ahmad pun pulang dan mengetuk pintu.

“Assalamualaikum Bu. Pak,” dengan wajah berharap ada yang membuka pintu.
“Darrr,” seseorang mengejutkannya dari belakang.
“Ahh,” teriak Ahmad.
“Segitu saja takut,” kata orang itu yang ternyata adalah pamannya.
“Ehh.. Paman membuat aku kaget saja,” kata Ahmad.

“Bagaimana prakerinmu? Lancar?” tanya pamannya.
“Alhamdulillah. Lancar Paman. Ibu dan Ayah ke mana Paman?” tanya Ahmad.
“Ayah dan Ibumu lagi di kebun. Lagi panen jagung. Nih Paman bawa jagungnya. Ayo ke dalam,” Sambil mencari-cari kunci di kantung celananya dan membuka kuncinya. Ahmad pun membuka pintu. Tampak terbayang masa-masanya sebelum prakerin di ruang tamu. Ia pun sedikit tersenyum membayangkannya. Mereka pun mengobrol sampai orangtua Ahmad datang.

“Pak. Ini jagungnya bawa ke dalam! Nanti Ibu rebus dan disediakan untuk kedatangan Ahmad,” kata seorang wanita terdengar dari luar. “Iya.. Iya,” balas seorang laki–laki. Terdengar suara percakapan di depan pintu. Dengan cepat Ahmad membuka pintu dan tampaklah seorang wanita dan laki-laki yang penuh dengan keringat. Dengan segera Ahmad memeluk ayah dan ibunya. “Kamu sudah datang ya. Bagaimana kabarmu? Dan bagaimana prakerinmu?” tanya ibunya.
“Alhamdulillah Bu. Semuanya lancar-lancar saja,” jawab Ahmad pada ibunya. Mereka pun segera masuk.

Hari menjelang ashar tampak Ahmad siap-siap pergi ke luar.
“Ahmad. Mau ke mana? Sebentar lagi jagungnya matang,” tanya ibunya yang tahu gerak-gerik Ahmad.
“Mau ke luar dulu Bu. Mau lihat-lihat sekeliling,” jawab Ahmad.
“Jangan lama-lama!” kata ibunya.
“Iya Bu cuma sebentar kok,” jawab Ahmad. Di perjalanan ia berpapasan dengan tetangganya dan bertemu dengan temannya yang memang sudah dari kemarin ia pulang. “Hai Dit. Bagaimana kabarmu?” tanya Ahmad.
“Baik. Kalau kamu?” jawab Adit teman sekelasnya.
“Aku juga baik,” jawab Ahmad.

“Tumben kamu jalan-jalan. Biasanya paling kamu tidur di bawah pohon,” ucap Adit.
“Itu kan dulu sekarang beda. Ya sambil menyegarkan badan,” kata Ahmad.
Diterpa mentari siang sebuah rumah tampak asing di mata Ahmad.
“Rumah siapa itu. Dit?” tanya Ahmad.
“Katanya sih pindahan. Aku juga baru tahu tadi pagi,” kata Adit.
Mereka pun terus berjalan. Tak lama berselang adzan ashar pun berkumandang.

“Aku harus segera pulang,” kata Adit.
“Ya sampai bertemu besok. Besok kita ke teman lain,” kata Ahmad.
“Tidak bisa,” jawab Adit.
“Kenapa?” tanya Ahmad heran.
“Besok kan kita mulai sekolah kembali. Masa kamu lupa,” jawab Adit.
“Aku tak ingat itu,” ucap Ahmad. Ia pun melanjutkan perjalanan sendirian sambil mengingat-ingat ucapan Adit tadi. Seketika itu ia segera terperanjat melihat sosok wanita pujaannya. Ia memakai jilbab berwarna putih wajahnya yang cantik membuat ia terkagum-kagum. Ia mendekat ke arah gadis itu.

“Hai Saila. Apa kabarmu?” tanya Ahmad.
Alhamdulillah baik. Kalau kamu?” jawab Saila.
Dengan wajah malu dan tersenyum kecil Ahmad menjawab.
“Baik. Kapan kamu pulang?”
“Aku pulang kemarin,” jawab Saila.
“Maaf ya Saila aku tak bisa berlama-lama berbincang denganmu karena aku harus segera pulang,” kata Ahmad karena grogi dan malu dia segera pulang.
“Tak apa-apa. Silahkan,” ucap Saila.

Ahmad menyesal tak bisa berlama-lama padahal ini kesempatannya untuk berdua dengannya. Tapi ia harus segera pulang untuk menyantap jagung rebus buatan ibunya. Ibunya pun telah menyiapkan jagung yang mulai hangat. Wangi jagung yang matang membuat Ahmad lapar dan segera membuaka pintu. Hidangan telah siap dan lengkap makanan kesukaannya ada di atas meja. Ia pun melahap satu per satu makanan itu. Malam harinya ia kembali teringat kejadian tadi sore sambil membayangkannya. “Andai saja aku tidak grogi. Aku bisa bersamanya berduaan,” Ahmad berandai andai sambil berharap besok di sekolah ia dapat bertemu lagi Ahmad pun tidur dengan perasaan senang.

Cerpen Karangan: Nur Hidayat
Facebook: Nur Hidayat
Twitter: @hidayatnur698

Cerpen Cinta Mulai Bersemi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pangeran Matahariku (Part 1)

Oleh:
Kringgg kringgg kringgg… Suara jam beker akhirnya membangunkan gue dari alam mimpi yang indah. Dengan rasa malas gue pun bangun dari tempat tidurku dan lagsung pergi ke kamar mandi.

Loves Bloom in Their Heart (Part 1)

Oleh:
Angin malam berhembus mengibarkan rambut Fiane yang pirang sepanjang punggung. Malam ini Fiane tak bisa tidur, sebelumnya ia sudah memutar lagu mellow yang menjadi kebiasaannya sebelum tidur tapi, hasilnya

Orang Itu, Kamu Atau Siapa?

Oleh:
Shelivya, seorang gadis lugu dengan wajah polosnya yang selalu terlihat ceria. Shelivya berumur 15 tahun dan kini ia duduk di bangku SMP. Di depan keluarganya, teman-temannya, apalagi dengan orang-orang

Rival To Pacar

Oleh:
Alisa fokus mendengarkan pelajaran yang sedang dijelaskan gurunya di depan kelas. Namun sesekali dia melirik ke luar jendela, di sana terdapat segerombolan lelaki yang sedang bermain basket dan juga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *