Deja Vu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 21 December 2016

Tak. Tak. Tak. Pukul 08.00. Jam dinding yang berdetak sejauh 3 meter arah Barat Daya itu sekan disambungkan dengan pengeras suara. Terasa keras sekali hingga memekakkan teligaku. Gemericik air, rintik hujan serta deruman knalpot motor makin membuatku ingin menyumbat kedua telinga ini dalam-dalam. “Ah, kenapa berisik sekali, sih!” umpatku. Hening. Kulihat beberapa orang termangu karena umpatanku. “bodoh! apa suaraku terlalu keras?! Ah, sungguh memalukan!” kataku dalam hati. Aku hanya bisa tertunduk diam menahan malu. “Selanjutnya silahkan masuk bagi yang bernama Pu…., aduh, tunggu sebentar ya. handphone saya bergetar,” Ucap Kak Faiz. Dia seniorku di ekstrakulikuler yang sedang kugeluti sekarang ini, Mading Club. 29 Juni 2014, tepatnya dipagi yang sedang turun hujan dengan intensitas rendah ini, wawancara untuk pemilihan ketua ekstrakulikuler periode baru sedang dilaksanakan. “Haduh.. Jangan tolong jangan aku…” lirihku. Jantungku berdetak sangat cepat seakan aku telah berlari berkilometer jauhnya. “Pu…tri. Kelas XI IIS 1 silahkan masuk!” lanjut Kak Faiz. Aku terduduk lemas. Bukan karena sekarang giliranku maju tapi karena nyaris namaku yang dipaggil.

Putik. Itulah namaku. Entah orangtuaku menyukai bunga atau terinspirasi darimana. Sampai sekarang aku pun tak tahu menahu mengapa aku diberi nama putik. “Ngga, ini acaranya sampai jam berapa, sih?” tanyaku pada Angga, teman sekelasku di XI MIA 4 yang kebetulan pula kandidat ketua ekskul Mading Club. “Nggak tau deh put, katanya, sih sampai jam 3,” jawab Angga. Teman sekaligus tetangga yang sudah kukenal sejak berseragam putih-merah, kini malah dipertemukan kembali di SMA setelah tidak berada pada satu SMP yang sama. Rumahnya yang berdampingan dengan rumahku membuat kami sering berangkat ke sekolah bersama menggunakan sepeda. Tapi itu dulu sewaktu kami masih menginjak bangku SD. Sekarang setiap pagi, motor bebek silver bertuliskan 125 cc merek salah satu produsen dari Jepang yang dia tumpangi itulah yang setia menunggu depan rumahku. “Masih ada 6 kandidat lagi. Kalau nggak cukup waktunya, yang belum dipanggil dapat giliran besok kan?” tanyaku kembali. “Enggak tau, deh put. Pemilihan tahun lalu malah makan waktu 3 hari. Entah lama saat wawancara atau terlalu banyak kandidatnya.” jawab Angga. Aku hanya manggut-manggut. Setengah jam berlalu, kulihat pintu ruang wawancara itu masih tertutup rapat.

Pukul 9.00. Tepat satu jam setelah Putri memasuki ruang OSIS yang dijadikan tempat wawancara itu, Ia keluar dengan mata yang sembab. Deg. Jantungku kembali memacu dengan cepat. “Mengapa dia menangis?!”
“Apa yang sudah dilakukan para senior itu?!”
“Mengapa aku yang panik?!” batinku bergejolak. Aku bukan seperti orang yang sedang simpati, melainkan malah seperti orang yang habis melihat hantu! “Apaan sih kamu put, ngapain meluk-meluk?!” ujar Angga. Astaga! Aku bahkan tidak sadar telah memeluk lengannya hingga menenggelamkan wajahku pada bahunya. “Eh… ah, duh maaf-maaf aku enggak sengaja. Tadi.. reflek,” ujarku dengan terbata-bata karena semakin panik.

Tak ada satu pun anak yang bertanya mengapa Putri menangis. Aku pun mulai berspekulasi. Apakah para senior itu melakukan kekerasan? atau Putri telah dimarah-marahi? Atau bahkan Ia masih terbawa suasana hatinya yang sedang sendu karena baru putus dengan pacarnya kemarin sore? Pertanyaan-pertanyaan itu menggema di pikiranku. “Selanjutnya Cecil dari kelas XI MIA 3 silahkan masuk!” panggil Kak Faiz. Brak. Pintu yang terbuka itu pun kembali ditutup dengan cepatnya. Aku bahkan belum mengintip siapa yang akan mewawancaraiku nanti. Mataku kembali menatap jam dinding yang tak berhenti berputar telah menunjukkan pukul 9.03. Kalau kuhitung dengan hitungan kasar, aku perhatikan satu orang akan memakan waktu wawancara selama satu jam. Sekarang masih ada lima peserta tersisa dan satu orang yang baru masuk ruang wawancara. Enam orang dikali satu jam ditambah istirahat satu jam maka wawancara ini akan berlanjut hingga tujuh jam kedepan, yaitu pukul empat sore. Menurut kabar burung yang beredar, acara akan selesai pada jam tiga sore. Itu berarti hanya akan ada satu orang beruntung yang akan dipanggil keesokan harinya. Aku sungguh berharap bahwa itu adalah aku.

Tepat pukul 10.01 Cecil keluar dari ruang wawancara. Kuperhatikan hawa-hawa misterius yang melekat pada dirinya tidaklah pudar. Cecil memang dikenal misterius. Entah karena rambutnya yang selalu digerai hingga menutupi sebagian wajahnya atau karena sifat pendiamnya. Sesuai dengan perkiraanku. Wawancara benar-benar memakan waktu satu jam. Rara, Inggar, Hana, satu persatu memasuki ruang wawancara. Ekspresi mereka setelah keluar pun berbeda-beda. Rara, dengan tenangnya ia melenggang keluar. Bahkan dengan senyuman tipis di bibirnya. Inggar, kulihat kerudung yang Ia kenakan sudah tidak ada bentuknya. Poni yang memunculkan diri hingga mulutnya yang berkomat kamit “Bodohnya aku bodohnya aku!” bahkan bisa kudengar dengan jelas. Lalu Hana, yang keluar dengan wajah pucatnya. Tak lama kemudian, Drrrt. Handphoneku bergetar. Sebaris kalimat yang muncul di notifikasi home screen handphone mebuatku terkaget. “Hana pingsan tadi dilorong deket lab!” Aku segera menyimpulkan bahwa itu semua pasti karena ulah senior-senior itu. “Hana belum sarapan dari pagi,” ucap Angga yang membuyarkan lamunanku. “Hah? Oh… Eh. tunggu. Kan aku enggak nanya. Kok..?” tanyaku heran. “Udah kebaca dari mukamu. Pasti lagi mikir yang aneh-aneh”, jawab Angga. Aku hanya bisa terheran-heran dan melihat pantulan wajahku lewat layar handphone. Memastikan apakah ada yang aneh atau tidak. “Oke, selanjutnya Angga silahkan masuk!” Suara Kak Faiz membuatku meletakkan kembali handphoneku dalam saku. Satu jam berlalu, tepat pukul 03.00 Angga keluar dengan wajah yang tak tampak menunjukkan apapun, datar. Untuk aku yang sudah lama mengenalnya, jarang sekali melihatnya tanpa ekspresi seperti itu. Lalu apa yang terjadi dengannya ya? Entahlah. Aku enggan memikirkannya.

Inilah yang aku tunggu-tunggu. Sekarang pukul 03.00. Ya, dimana tepatnya wawancara pemilihan ketua ekstrakulikuler periode baru ini selesai dan sebuah nama yang belum disebut ialah aku, Putik! Ah alangkah senangnya aku. Mataku berbinar menatap Kak Faiz yang hendak mengumumkan sesuatu. Aku yakin pasti itu sebuah ucapan selamat tinggal. Yes! “Oke karena sudah jam 3, sudah sore juga. Jadi yang belum dipanggil kamu ya, putik. Kamu besok…” belum sempat menyelesaikannya, kalimat Kak Faiz kupotong begitu saja “Siap kak besok saya akan datang lagi!” ucapku dengan senyum selebar bulan sabit. “Hah? Iya kamu besok datang lagi kesini jam 8 tapi bawa artikel wakil OSN sekolah kita ya, soalnya mau dipajang. Nah, sekarang putik ayo masuk. Yang lain boleh pulang karena sudah sore”, lanjut Kak Faiz. Dorr. Aku bahkan bisa merasakan rintik hujan yang belum berhenti turun sejak pagi tadi memasuki relung hatiku yang tadinya cerah menjadi berawan gelap. Hatiku serasa diterjang badai dengan halilintar yang menyertainya. Kilatan yang terlalu cepat dan sangat sakit ketika tersambar. Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku mematung. “Kak… kak… ma..af… apa? Bu..bukannya sekarang pu..pulang kak?” tanyaku dengan terbata. “Harusnya sih, iya. Sesuai dengan tahun-tahun sebelumnya. Tapi tanggung, cuma sisa kamu. Jadi kamu sekarang aja ya. Ayo cepat!” ajak Kak Faiz. Tanpa berfikir panjang, langsung kurogoh kantong bajuku dengan brutal hendak melihat visi misi yang sudah kusiapkan hanya sehari sebelum pemilihan kandidat sekarang sudah lecak tiada bentuk.

Kupegang bangku tempatku duduk. Sangat licin. Kulihat tanganku basah. Aku berkeringat. Tapi keringat dingin yang keluar dari tubuhku. Jemariku bergetar tidak karuan. Aku seperti pernah membaca gejala-gejala ini di internet. Gemetar, detak jantung tidak karuan, dan ketidaknyamanan lainnya, kalau tidak salah Glossophobia. Tapi kuharap apa yang kualami sekarang tidak ada kaitannya dengan gangguan psikologis itu. “Putik, ya. Kelas XI MIA 4. Wakil OSN Fisika tingkat provinsi, dengan rata-rata rapor 90, dan wah! tulisanmu bahkan pernah dipampang di beberapa majalah ya,” ujar Kak Arga. “Choi Siwon” julukannya. Terlahir dari keluarga berada, dengan wajah bak boyband Korea ini punya segudang prestasi. Minatnya pada sastra yang tinggi terkadang membuat satu sekolah berdecak kagum akan tulisan-tulisannya yang dipampang di mading, majalah, hingga situs-situs sastra terkenal di internet Aku bahkan tak pernah melewatkan satupun karyanya yang kuakui, Kak Arga mempunyai diksi dalam tulisannya yang bisa dikatakan “dewa” diantara anak-anak pintar lainnya. “Udah ga jangan dipuji mulu. Entar terbang dia” cegah Kak Hikma. Si bendara jutek Mading Club. Tak heran tidak ada satupun anggota yang melewatkan jadwalnya membayar uang kas bahkan tanpa ditagih. “Visi-Misi kamu paling beda diantara yang lain, disini tertera bahwa kamu ingin membuang julukan sastra yang ada di sekolah kita dari sesuatu yang “kuno” dan “membosankan” menjadi sesuatu yang membuat “ketagihan” dan “ingin coba”. Maksudnya apa? Dan bagaimana kamu mewujudkan itu?” tanya Kak Anis siketua ekskul periode lama yang sebenarnya lebih cocok menjadi ketua ekstrakulikuler modern dance dibanding ketua Mading Club. “Oke, jadi seperti ini kak, perlu kita sadari bahwa sastra adalah sebuah ilmu yang tak akan lekang oleh waktu. Tanpa ada sastra, jenis-jenis tulisan mungkin tidak akan ada di dunia ini. Lalu bagaimana saya akan mengubah pemikiran yang monoton bahwa sastra itu kuno dan membosankan? Tentu saja tahap pertama adalah perkenalan sastra lewat film, lalu akan seperti ini lalu ini lalu…” jawabku dengan percaya diri.

Krik. Krik. Suara jangkrik menggema dalam seisi ruangan. “ini udah 5 menit kamu cuma diam sambil ngelihatin saya,” ucap Kak Anis yang mebuyarkan lamunanku. Oh tidak! Jadi yang tadi itu? Ah yang benar saja! Aku memang mengucapkannya. Tetapi di dalam hati! Mulutku seakan tertutup rapat. Kaki dan jemariku bergetar tiada henti. gigiku sudah mulai mengadu satu sama lain. Keringat yang sudah mencapai leherku terus mengalir hingga membasahi bajuku. Aku ketakutan. “heran deh, kamu marah karena yang lain pulang tetapi kamu tidak? Jawab jangan hanya diam!” bentak Kak Hikma. Ya, Tuhan bagaimana ini?! Apa yang harus aku lakukan?! Alasanku mengikuti ekskul ini bahkan karena tidak perlu adanya perbincangan di depan umum, aku hanya perlu mengirimkan tulisan-tulisanku lewat pos ataupun kutempel di mading setiap rabu saat giliranku mengganti karya tulis lalu yang dipajang dengan punyaku. Itu pun kulakukan diam-diam saat fajar masih bersembunyi dimana hentakkan kaki para murid belum terdengar jelas. Teman dekat pun hanya Angga seorang. Ya, aku tipikal orang yang tertutup kecuali pada teman yang sudah lama kukenal. Aku bahkan tak pernah sedetik pun bermimpi untuk menjadi ketua ekskul ini. Jadi pemimpin upacara saja aku nyaris kencing di celana kalau saja waktu itu tidak turun hujan secara tiba-tiba. Bagaimana jadi ketua ekskul?!

Pukul 15.20. “Kamu menghargai kita gak, sih? Kenapa diam saja dari tadi?!” omel Kak Hikma. “Gini deh, dari yang paling gampang. Mengapa kamu masuk ekskul mading club? Yang bahkan saya pun enggak tahu anggota pastinya berapa,” Tanya kak Arga. “Sa…..” lirihku. “Hah? Ngomong apa sih kamu?” tanya Kak Anis. “Saya akui progam kamu kedepan untuk ekskul ini sangat bagus. Visi misi kamu paling unik diantara yang lain. Tapi Cuma kamu yang udah membuang waktu kami dengan apa yang kamu lakukan sekarang ini. Kamu punya gagasan yang bagus tapi masa enggak bisa menjelaskannya, sih. Jawab dong put jawab kalau sedang ditanya!” bentak Kak Hikma. Kulihat ia sudah naik pitam nampaknya mengahadapiku. Ah bodohnya aku Mengapa tadi aku hanya berdiam diri dan tidak mempersiapkan diri saat giliran teman-temanku?! Aku bahkan hanya gelisah dan terus melihat jarum panjang jam dinding yang tiada hentinya itu. Mengapa penyesalan selalu datang diakhir? dimana detik, menit dan jam yang berlalu bahkan tidak bisa disetel ulang.
Hatiku makin rancu. Aku membisu. Ritma detak jantungku makin tak berturan. Kurasa keringatku sudah jatuh menyentuh pelupuk mataku. “Jawab, dong put jawab!” terus terngiang di telingaku. Tubuhku mati rasa. Tetapi aliran keringat yang melewati tubuhku maupun gemaan suara Kak Hikma terasa semakin menjauh. Namun tiba-tiba, Gelap.

Sekarang sepertinya aku tahu apa arti namaku, Putik. Tanpa benang sari, kupu-kupu atau bahkan terpaan angin. Kurasa tidak akan buah yang manis yang akan dipetik nantinya.

Gemericik air, rintik hujan serta deruman knalpot motor merambat masuk ke telingaku. Tak. Tak. Tak. Entah megapa bunyi detak jam sangat terdengar di telingaku, seakan jam tersebut disambungkan dengan pengeras suara. Berisik. Perlahan kubuka mata seraya mengumpat “Ah, kenapa berisik sekali sih?!” umpatku. Kulihat jam dinding yang berada sejauh 3 meter arah Barat Daya itu menunujukkan tepat pukul 08.00. Kualihkan pandanganku pada sekitar, kudapati beberapa orang termangu karena umpatanku. Tunggu. Sepertinya ini… dejavu!

Cerpen Karangan: Dewi Puspitasari
Facebook: facebook.com/dewi.puspitasari.77770
di follow silahkan https://www.instagram.com/dewipuspiita/

Cerpen Deja Vu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dear Friend

Oleh:
“Teman… bolehkah kau ku panggil Sahabat? Meski sikapku padamu dulu tak bersahabat!” Aku menuliskan kata itu di sebuah mading sekolah sebagai tanda isi hati sekaligus penyesalanku pada sosok teman

Hutanku Harga Mati

Oleh:
“Krek… krek…” terdengar dari kejauhan. “Suara apa itu sebenarnya?” tanya Juki pada dirinya sendiri. Sekeliling Juki tampak berkabut yang sangat pekat. Semakin terdengar jelas suara misterius itu. Selangkah. Dua

Story Love Wisnu Puji

Oleh:
Tanggal 20 Mei 2012, pukul 21.45 adalah awal kisah kami berdua. Dari pertanyaan “maukah kamu jadi pacarku?” dan jawaban “iya aku mau” dari bibirku. Resmi sudahlah hubungan kami berdua.

Satu Hari Yang Berbeda

Oleh:
Aku baru saja tiba di sekolah. Berjalan menyusuri koridor, kemudian memasuki kelas. Meletakkan tas, lalu duduk di bangku yang biasa kutempati. Satu persatu teman sekelasku mulai berdatangan. Tapi tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Deja Vu”

  1. adylaarafaa says:

    Deja vu itu apa ya kak, kalau boleh tahu?

    • Dewi Puspitasari says:

      Deja Vu adalah fenomena merasakan sensasi kuat bahwa suatu peristiwa atau pengalaman yang saat ini sedang dialami sudah pernah dialami di masa lalu. Sumber : Wikipedia

      Jadi, deja vu itu yaa kyk kamu ngerasa apa yg kamu lakukan sekarang seperti pernah kamu alami sebelumnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *