Di Balik Seventeen

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 May 2016

Tring.. tring… tring… terdengar suara bel sekolah ke seluruh penjuru kelas, hampir seluruh murid bersorak ria mendengar itu, tapi lain bagi Fika, yang merasa risih campur kesal mendengar suara itu. Lagi-lagi Fika menggerutu kesal mendengar suara kegaduhan di koridor sekolah. Suara gaduh itu semakin terdengar kencang di telinga Fika, dan gadis itu hanya bisa pasrah diam di ruangan kelas yang hampir tinggal ia sendirian. Terlihat Anwar sang ketua kelas sedang memasukkan tumpukan buku-buku ke dalam tas dan siap akan meninggalkan ruangan kelas, membuat Fika benar-benar seorang diri.

Braakkk!! Gebrakan pintu terdengar sangat kencang di telinga Fika, membuat ia refleks menempelkan kedua tangan di telinganya. Orang-orang itu adalah geng yang biasa mengganggu Fika setiap hari. Fika bukanlah gadis tomboi juga berani yang disukai banyak orang karena pandai bergaul dan menyukai basket. Fika hanya gadis biasa yang menyukai dunianya sendiri.

“Eh! Ngapain telinganya ditutup?” sindir salah satu dari mereka kepada Fika. Selama ini Fika tidak pernah melawan ia terlalu malas dan itu membuang waktu. Namun kali ini Fika benar-benar kesal, tidak mungkin ia terus-terusan ditindas seperti ini. Toh, aku juga nggak salah batin Fika.
“Kalian mau apa datang ke kelas ini? di sini tidak ada siapa-siapa karena aku mau pulang!” jawab Fika dengan nada sinis, membuat mereka semua kaget.

“Oh.. udah berani ngelawan ya kamu?!” ucap Livia sinis, ketua geng mereka.
“Bagus dong! Ada peningkatan!”
“Kayaknya cuman dia korban buli yang berani ngelawan,”
“Bisa diem nggak?!” Ucapan demi ucapan terlontar dari mulut para siswi di balik tubuh tinggi Livia.

Livia mulai maju mendekati Fika, jari telunjuknya mengarah ke arah kening Fika, dengan sekali hentakan ia menggerakkan tangan mendorong telunjuknya, membuat gadis itu tersungkur jatuh. Tawa pun menghiasi kelas. Diperlakukan seperti itu dengan cepat Fika berdiri, emosinya meluap-luap.
“Liviiaa!!” bentak Fika. Tangan Livia terangkat, hendak menampar Fika, dengan sigap Fika menahannya.
“Hentikann!!” bentak Fika kembali.
“Beraninya kamu bentak saya? Dasar tidak tahu malu!” bentak Livia tak mau kalah.
“Sudah saya bilang, masalah itu bukan Fika pelakunya!” terdengar suara lain muncul dari arah pintu, menampilkan sosok Anwar. Hening.
“Untuk bukti, lihat saja besok!” tambah Anwar menegaskan.

Jari-jari gadis itu menari manis di atas keyboard, menceritakan serinci mungkin kejadian-kejadian yang menimpa dirinya hari ini dan mungkin hari esok dan esok lusa. Malamnya di temani secangkir kopi yang bisa menghilangkan rasa kantuknya. Gadis itu tinggal di sebuah kos-an sederhana di antara ramainya pusat kota, letaknya tidak jauh dengan sekolah, sehingga ia tidak pernah repot untuk tinggal di kos itu. Bunyi ponselnya memecah keheneningan, ‘Malam ini kita bertemu di tempat biasa, sekarang!’ gadis itu tergesa berganti pakaian setelah membaca pesan teks yang diterimanya. Lalu pergi ke tempat di mana ia biasa bertemu dengan seseorang yang menurutnya penting bagi kehidupannya.

“Fika!” panggil seorang pria di antara keramaian para pelayan di restoran ini. Mendengar suara itu, Fika langsung menoleh dan tersenyum kaku ke arahnya. Pria tersebut adalah ketua kelas Fika, yup, Anwar. “Malam ini kamu cantik,” puji Anwar, mendengar itu Fika hanya tersenyum menanggapinya. Malam ini Fika akan menjalankan rutinitasnya yaitu bekerja kepada temannya sendiri, kali ini mungkin hingga larut malam. Fika tahu ini tidak baik untuk gadis seusianya, tapi harus bagaimana lagi? Dia tidak punya pilihan lain.

Gadis itu menunggu Anwar di depan restoran yang merupakan restoran milik Anwar sendiri. Tidak memerlukan waktu lama, Anwar pun ke luar dengan wajah yang lebih fresh dan pakaian yang sangat berbeda dari pakaian yang kotor, penuh dengan cipratan bumbu-bumbu masakan seperti tadi. Anwar benar-benar terlihat seperti pria yang akan berkencan. “Yuk!” Ajak Anwar menyadarkan lamunan Fika. Mereka berjalan ke Apartemen di mana Anwar tinggal.

“Seperti biasa, kamu tinggal berpura-pura di hadapan Dea.. inget! Jangan mau kalah sama Dea!” Peringat Anwar agar Fika lebih bisa terlihat lebih nyata dari pada berpura-pura. Dea adalah mantan Anwar yang mengharapkan hubungan mereka bisa kembali, juga caranya yang terkesan licik dan memaksa. Alasan Anwar dan Dea sudah tidak berstatus lagi adalah karena Dea adalah wanita club malam. Tentu saja, Anwar yang notabene-nya pintar, tampan dan dari keluarga berada, tidak mau dengan wanita seperti Dea.

“Iya!” hanya itu yang bisa dibalas oleh Fika, singkat namun tegas. Ia hanya menurut karena memang Anwarlah bosnya. Fika berpura-pura berpacaran dengan Anwar karena kemauan Anwar sendiri, awalnya Fika menolak ketika Anwar menawarkan hal itu. Tapi harus bagaimana lagi, keadaan Fika yang tinggal sendirian di kos dan harus membiayai kehidupan sendiri mendesak Fika untuk menerima tawaran Anwar. Dengan syarat Anwar tidak akan mencampuri urusan Fika, dan Fika harus bersikap seperti Fika yang biasanya di luar waktu jam bekerja. Dan gadis itu tanpa beban dengan persyaratan Anwar, langsung menyutujuinya. Pekerjaan yang Fika kerjakan begitu mudah, upah yang besar dan juga waktu bekerja yang hanya ketika gadis yang bernama Dea itu mendatangi Anwar saja.

Cahaya matahari menerobos masuk ketika Fika membuka gorden jendela kamarnya. Ia besiap pergi ke sekolah. Rutinitas sarapan bersama anak-anak panti yang lain tidak berjalan seperti dulu, Fika ingin mandiri dan tidak ingin merepotkan Ibu Panti. Fika anak tunggal dan broken home. Itu adalah alasan Fika tinggal sendiri, sehingga kali ini dan mungkin seterusnya ia akan sarapan sendiri.

Karena cukup dekat dan untuk menghemat, Fika selalu berjalan menuju ke sekolah, hitung-hitung olahraga pikirnya. Begitu sampai di gerbang sekolah, siswa-siswi sudah ramai bergerombol melewati gerbang, jam segini biasanya tidak seramai ini batinnya, aneh. Kakinya melanjutkan menuju kelas. Saat Fika memasuki kelas pemandangan tidak enak sudah menyambutnya, kakinya otomatis berhenti tepat di depan pintu kelas yang jelas terbuka lebar, seketika dirinya menjadi pusat perhatian kelas, Fika menunjukkan muka keterkejutannya dan bingung ketika teman-teman menyeretnya masuk ke dalam kerumunan itu.

“Anwar?!” Seru Fika kaget setelah berhasil diseret masuk ke dalam kerumunan. Anwar duduk terkulai lemas di kursinya, muka Anwar dipenuhi memar, dan darah segar keluar dari sudut bibirnya. Melihat keadaan sekelilingnya seperti itu, Fika bingung, hanya mematung diam, sorot matanya seolah meminta penjelasan.

Anwar membalas tatapan mata Fika dengan penuh kebencian, begitu pun dengan semua teman Fika. “Ini semua gara-gara kamu Fika!” Kata Anwar sarkastik, tangannya mengepal terlihat jelas di mata Fika. Tak kuat menahan emosinya Anwar berdiri dan keluar dari kelas. Sebegitu bencikah dia? Tetapi aku salah apa? Batin Fika tak percaya. Fika benar-benar tidak mengerti dengan semua ini, baru saja kemarin Anwar baik kepadanya, tapi Anwar secepat ini berubah dan membuat Fika sangat bingung dengan perasaannya sendiri. Kenapa dibenci Anwar membuatnya sedih, Fika terus bertanya kepada dirinya sendiri. Dan mengapa seluruh teman sekelas ikut membencinya, tapi itu sama sekali tak membuat Fika sedih, dia sudah terbiasa mengabaikan hal seperti ini.

“Heh Fika, kalau mau nyuri itu jangan sekolah di sini, dasar nggak guna!”
“Pencuri mah nggak usah disekolahin!!”
“Sampai Anwar juga kena getahnya tuh, ini semua gara-gara dia!” Orang itu menunjuk muka Fika terang-terangan. Mata Fika mulai memanas. Makian demi makian terlontar dari mulut teman sekelasnya. Fika tidak dapat menahan lagi, air matanya lolos melewati pipi mulusnya, menetes satu per satu.

Fika berlari ke luar kelas, tak ingin hal itu berlanjut. Siswa-siswi di sepanjang koridor menatap Fika aneh. Kakinya yang berlari membawa Fika entah ke mana, ia tak tahu harus ke mana. Ia berlari ke arah belakang sekolah. Keadaan belakang sekolah yang sepi, membuat Fika menangis sejadi-jadinya. Mengapa di saat ia bersabar untuk masalahnya Tuhan malah berkehendak lain, mengapa masalahnya makin dipersulit, ia terus bertanya-tanya. Air matanya terus mengalir, terlalu sulit untuk dihentikan.

“Happy birthday to you.. happy birtday to you! Happy birthday.. happy birthday.. happy birthday to you!” Sorak semuanya. Seketika Fika berhenti menangis, mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. Semenjak kapan orang-orang datang mengelilinginya batin Fika.

“Surprise!” terdengar suara serak dari arah belakang Fika. Betapa herannya Fika ketika Fika menoleh bahwa pemilik suara serak itu adalah Anwar. Anwar tersenyum, terlebih dia yang sedang membawa kue, terlihat semakin tampan di mata Fika. “Happy sweet seventeen, Fika.” lanjut Anwar, tulus. Fika tak menyangka hal ini akan terjadi, Fika kembali meneteskan air mata bahagia. Semua ini adalah kejutan, tentunya Anwar begitu pun teman-teman meminta maaf kepada Fika. Dengan senang hati Fika memaafkan, walaupun sedikit kesal. “Thanks, for all.” ucap Fika, bibirnya mengembang, penuh kebahagiaan. Fika, Anwar dan teman-temannya pun langsung memulai ritual ulang tahun, canda dan tawa pun memecah keheningan belakang sekolah, senyum bahagia tak lepas dari bibir mereka.

Hari kemarin sudah berlalu, dan berganti hari ini yang aneh bagi Fika, pagi-pagi sudah ada yang mau bertamu mengetuk pintu kosan-nya, mau tak mau Fika membuka pintu dan Fika mendapati sebucket bunga di depan pintunya. Terpampang jelas satu kertas di antara bunga satu bucket itu.. Fika pun membacanya, “Hai, aku satu-satunya cowok yang jadi temen kamu, kamu pasti tahu. Sesuai yang aku janjikan, aku akan memberikan kado hari ini. Kadonya ada dua, bonusnya satu, hehe yang namanya bonus terima aja ya.. piss. Kado pertama, hanya selembar kertas, aku tahu kamu suka menulis. Kertas itu dilipat sangat kecil. Cari saja di bunga yang berwarna cerah. Mata Fika kemudian menulusuri setiap bunga yang berwarna cerah, ketemu! Batinnya senang. Cepat-cepat Fika membuka lipatan kertas itu.

Cara mengirim naskah cerpen ke dalam Media

1. Hal pertama yang harus diperhatikan seorang penulis sebelum mengirimkan cerpen ke suatu media adalah kecenderungan tema cerpen yang biasa dimuat oleh media tersebut. Biasanya sejalan dengan visi dan misi media. Majalah Ummi tentu tidak akan memuat cerpen dengan tema remaja yang lagi patah hati dengan gaya tutur gaul seperti lo, gue, apalagi memuat kisah peri hijau dan cinderella. Begitu pula Majalah Bobo, mustahil menerima cerpen dengan tema keluarga dan rumah tangga.
2. Naskah diketik dalam MS Word, kertas A4, Times New Roman 12, line spacing 1.5, maksimal 10.000 karakter termasuk spasi -tergantung media, disimpan dalam format RTF (Rich Text Format), dan dikirim via file attachment. Jangan lupa di bagian akhir naskah cantumkan nomer rekening Anda untuk pengiriman honor -jika dimuat, alamat email, dan nomor hp.
3. Pada subjek email untuk pengiriman cerpen ditulis CERPEN: JUDUL CERPEN. Tulis pengantar singkat-padat-jelas pengiriman cerpen pada badan email. Dan, akan lebih baik jika dalam pengantar ditegaskan tentang lama status cerpen yang dikirim. “Jika setelah DUA BULAN cerpen ini belum dimuat, maka akan saya kirim ke media lain,”
4. Selesai. Honor akan dikirim jika dimuat.

Kado kedua, aku bukan majikanmu lagi, maaf, aku memecatmu, kamu tahu? karena aku mencintaimu. Kado ketiga, jawab aku, jawabannya ada dua pilihan. Ya atau ya Beritahu aku besok. Byee..” Fika bahagia bisa mendapat kado tersebut, ya walaupun sedikit ngaco batinnya senang, bibirnya tak lepas dari senyum indahnya. ‘Pulang sekolah besok, temui aku di taman dekat sekolah.’ Send.

Sekolah hari ini terasa begitu cepat bagi Fika, ia tak lupa dengan janjinya menemui orang itu. Dengan langkah cepat ia pergi ke taman. Terlihat seseorang telah menungguinya duduk di depan kursi. Fika tahu betul siapa dia.

“Hai..” sapanya.
“Hai,” balas Fika.
“Jadi, gimana jawaban kamu?” Tanyanya kaku.
“Karena pilihannya ya atau ya. Aku pilih ya,” balas Fika yakin, bibirnya ditarik memamerkan deretan giginya yang putih. “Sudah ku duga kamu jawab itu,” balasnya, tak kalah senyum. “Terima kasih Anwar, kado kamu yang pertama membuatku sukses. Karya tulisku akan di muat di media,” jelas Fika sumbringah. Anwar mengangguk, tersenyum. “Yukk! Jalan sekarang.” ajaknya menggenggam tangan Fika lembut.

The End

Cerpen Karangan: Ismiani Sutia
Blog: ismianisutia.blogspot.com
Facebook: Ismiani Sutia
Ismiani Sutia. 15 years old. Like Kpop. Writing, reading, listening to music and watching a movie is my Hobby. Thanks.

Cerpen Di Balik Seventeen merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semua Demi Persahabatan Kita

Oleh:
Aku Sherly dan sahabatku Dilla sudah bersahabat cukup lama, dari mulai SD hingga sekarang dan kami baru menginjak bangku SMA. Pada waktu hari pertama sekolah secara tidak sengaja Dilla

Lebih Dari Sahabat

Oleh:
“Sini bukunya Ndi!! Balikin cepet!! Ihh.. Rendiiii…” Aku masih berlari mengejarnya. Rendi Pratama, sahabatku yang sangat menyebalkan. Tiap hari kerjanya mengusik hidupku. Ini nih contohnya, ngambil-ngambil buku orang. “Dasar

Menghias Cakrawala

Oleh:
Namaku Lita Iwayan, aku berasal dari Bali. Ayahku pun juga berasal dari Bali, tetapi ibuku berasal dari Jogja. Karena perbedaan dari keduanya, kini banyak orang yang memandang wajahku, blasteran

Satu Pelajaran

Oleh:
“Eric. Cowok jangkung, cakep, pinter, keren lagi. Masa kamu nggak tertarik De?” tanya Della padaku saat kami mengerjakan tugas matematika di rumahku. “Nggak, ah. Aku mau fokus sama pelajaran

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *