Dia Telah Percaya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 23 September 2017

Ketika sebuah percobaan akan berlangsung, disitulah sebuah rasa was-was menghantui. Sebuah kisah yang mungkin dianggap biasa namun sulit untuk disamakan oleh siapapun jika tanpa sebuah pengetahuan. Sangat sederhana, namun padat akan sebuah makna.

Adalah kepercayaan pada diri. Iya, itu. Sangat berbeda tipis dengan percaya diri. Ketika suatu rasa percaya itu timbul untuk diri sendiri, disanalah akan terasa sulit bagi siapapun untuk membendung. Kekuatan percaya memang berdampak luar biasa. Kita hanya diminta untuk mengikuti apa yang akan diinstruksikan demi berkobarnya api semangat. Maka, percayalah pada kekuatan diri.

Kisah ini begitu tergambar dari salah seorang pelajar SMA yang sangat lugu, bernama Panca. Jauh dari kesan anak muda zaman sekarang. Ia memang dikenal pendiam, namun pikirannya tidak pernah diam. Temannya sedikit, tapi berkualitas. Orangtuanya bisa dibilang punya nama, tapi ia sendiri selalu terlihat sederhana. Ia tidak ingin menyukai perempuan terlebih dulu, walaupun banyak perempuan diam-diam memendam rasa padanya. Ketika banyak remaja menghabiskan waktu demi eksistensi diri yang lebih nyata, ia menghabiskan waktu yang cukup membosankan yaitu mengingat kosakata baru dalam bahasa Inggris. Iya bahasa Inggris. Ia meyakini bahwa hal demikian menjadi kebutuhannya, walaupun sekolah hanya menganggap sebagai kewajiban. Sudah beberapa tahun terakhir tradisi menyentuh ini ia lakukan. Setiap hari.

Ia selalu melatih teknik speaking setiap selesai sepuluh kata. Lucunya, ia berlatih berbiara tanpa ada lawan bicaranya. Ia seperti seorang dalang. Memainkan dua orang, tapi ia hanya sendiri. Dan ini kebanyakan dilakukan dalam kamar mandi. Agak konyol sih, tapi baginya ini adalah waktu yang tidak bisa diputar ulang. Ia tak suka menunggu waktu. Ia hanya suka mengejar waktu.

Hanya saja, terkadang rasa percaya pada dirinya sendiri masih perlu ditingkatkan lagi. Padahal ia tak pernah minder. Entahlah, kapan penyakit ini mulai tumbuh subur pada dirinya. Mungkin saja emosinya masih labil.
Ia memang tidak terlalu dikenal di kalangan para guru. Di sekolah ini seorang guru terlihat lebih perhatian pada siswa yang aktif organisasi yang bisa membawa nama baik sekolah.
Namun, sekolah dibuat heboh. Memperingati hari sumpah pemuda, pemerintahan provinsi mengadakan perlombaan pidato khusus yang akan dilaksanakan di kantor gubernur dan disaksikan oleh banyak khalayak intelektual, setengahnya bisa dibilang sangat mahir berbahasa asing. Lomba ini sendiri akan dinilai oleh akademisi khusus yang didatangkan dari Jakarta dan beberapa universitas terbaik di provinsi. Apalagi gubernur mengatakan, ini pidato khusus. Dan seluruh SMA negeri akan turut serta meramaikan semarak ini.

Salah satu pembina klub bahasa Inggris sekolah, Ibu Yati sangat concern dengan perayaan ini. Bisa dibilang sangat berasa semarak. Mungkin, hanya dia termasuk guru yang paling mengetahui tentang seorang Panca. Ia melihat Panca sebagai salah satu anak paling diunggulkan di sekolah ini, walaupun namanya tidak setenar klub band.

Panca? Lalu ia bergegas menemui Bu Yati di ruang guru. Ia melakukan protes lantaran namanya disebut sebagai satu-satunya perwakilan SMA yang akan berbicara di kantor gubernur nanti. Ia merasa bahwa bahasa Inggrisnya masih terlalu manja, masih terlalu redup. Apalagi ini pidato tanpa teks, dan pelaksanaannya tiga hari lagi. Sangat membebani pundaknya sebagai seorang siswa yang masih perlu peningkatan rasa percaya diri. Ia tidak ingin malu di depan gubernur. Ia malu, sekolah juga malu. Begitulah pikirnya.

Bu Yati selalu terlihat tenang menghadapi banyak protes dari salah satu anak didiknya ini. Ia menyadari kekurangan Panca. Tapi, ia juga mengetahui apa yang seharusnya Panca miliki sebagai identitas guna eksistensi diri. Baginya, pidato adalah berbicara santai nan sederhana, tidak perlu menggunakan teknik yang lebih khusus. Ia mengatakan pada Panca, kejelasan maksud pidato itulah yang akan menentukan lebih. Ia hanya mengutarakannya pada seorang Panca.
Terlebih, sekolah tidak memiliki lagi orang seperti Panca. Nihil. Ia menganggap hanya Panca yang bisa diandalkan sekolah. Bu Yati juga menjelaskan bahwa kepala sekolah sudah sangat memohon agar Panca menjadi wakil dari sekolah.
Ini bisa menjadi momentum bagi Bu Yati untuk menghilangkan apa yang menjadi beban bagi Panca. Hal sepele ini jika dibiarkan terus-menerus akan berdampak tidak baik pada perkembangan olah kemampuan unik dari Panca. Sepintas Panca menjadi seperti ekstrovert, bersiap untuk mencaci diri sendiri.

Waktu terus melaju, kala terjadi keheningan antara Bu Yati dan Panca. Ia menganggap bahwa Panca belum mengerti. Iya belum. Karena lomba belum dimulai. Sejenak ia terdiam sebelum berbicara semuanya pada Panca.
Sembari mendengarkan penjelasan itu, Panca menunduk. Ia kembali mengingat betapa sulitnya mengawali belajar bahasa Inggris. Tubuhnya yang kala itu rentan terkena penyakit, harus ia hakimi dengan lebih hina agar menciptakan seorang Panca yang bisa berbahasa. Sungguh awal yang tidak mudah dilakukan oleh siapapun. Menganggap dirinya tak berguna pun ia pernah lakukan. Mungkin itulah cara ia menghakimi diri sendiri dengan efek paling berharga. Membawa dirinya terus melalui banyak jalan terjal dan sisa waktu. Menahan malu. Terkadang dianggap sok pintar. Pernah dijauhi teman bahkan. Sampailah ia di titik paling teduh. Dan ia sadari inilah yang kelak membawa dirinya menjadi orang yang paling tidak boleh disepelekan.
Hingga Bu Yati menjelaskan titik akhir, yaitu mengapa selama ini Panca selalu kehilangan arah kepercayaannya terhadap diri sendiri. Isinya sungguh membuat Panca kaget, namun terkesan biasa saja.

Sungguh satu jam yang terasa sangat lama. Menemukan kembali diri sendiri yang hilang di atas rintih yang sebelumnya terasa kekal. Hari ini ia bisa menyadari, ternyata sebuah rasa percaya adalah obat dari banyaknya penyakit yang dulu selalu bersemayam rapi dalam dirinya. Terlebih rasa percaya itu, ia berikan pada dirinya sendiri, yaitu seorang dalang pribadi atas kedewasaannya. Sungguh mengesankan. Ia dengan tersenyum siap berbicara dengan kemampuannya. Anehnya, ia menganggap ini bukan percobaan.

Hari yang membuat Panca masih terasa was-was. Ya, inilah hari dimana lomba pidato itu dilaksanakan. Berbondong-bodong siswa dengan perawakan intelektual yang tinggi memasuki ruangan yang dingin karena AC. Tak jarang dari mereka yang memakai kacamata tebal. Pemandangan yang sangat jarang dilihat oleh Panca, sosok siswa yang jarang dihargai sekolah. Berjalan dengan pelan, kaki sedikit gemetar, dan rasa dingin yang menusuk. Itulah yang dirasakan Panca saat ini.
Bisa jadi inilah hari pertama ia bisa melihat gubernur secara langsung. Sepintas gubernur itu menurutnya seperti orang biasa pada umumnya. Ia kembali bergumam. Sesekali berdecak kagum. Terlintas dalam pikirannya, mengapa ia bisa menjadi seorang gubernur yang paling dihormati di ruangan ini. Ya mungkin karena orang lain banyak yang menghargainya.

Maka, sampailah ia di penghujung penantian. Penantian yang saat ia nantikan, kembali rasa was-was itu menggerogoti pikirannya. Ia sedikit gerogi jika harus tampil pertama. Apalagi pidato ini tidak menggunakan teks dan serta merta. Pembagian nomor undian dilakukan secara acak oleh wakil gubernur dibantu moderator acara.
Pikiran yang melayang-layang sembari menanti nomor undian yang ia terima. Sungguh ia mengerti. Ketika tampil pertama, ia adalah orang pertama yang akan berpidato di hadapan gubernur dan akademisi. Ketika ia tampil terakhir, maka ia harus menggunakan cara yang sama dilakukan peserta sebelumnya, agar rasa gerogi dapat lenyap. Lalu, ia terkesima, tersenyum.

Panca mendapatkan giliran terakhir.
Tepuk tangan riuh kian memadati ruangan dingin ini. Sekali lagi, pemandangan yang sangat jarang Panca rasakan. Panca berpikir, inilah waktu yang tepat membuktikan semuanya.
Dalam benaknya, terlintas sebuah ingatan. Ingatan ketika ia menolak ajakan Bu Yati dan menghindari perdebatan dengannya. Saat Bu Yati berniat meluruskan rencananya itu, ia tetap ngotot akan kemampuan olah bicaranya yang masih di bawah level. Tidak mengherankan jika Panca justru lebih semangat dalam berlatih olah speaking disamping ia belum menghargai keringatnya sendiri.
Apalagi sekarang ia sedang menyaksikan dengan jelas bagaimana peserta lain mendapat giliran berpidato. Ia menggelengkan kepalanya. Decak kagum yang biasanya, selalu ia berikan kepada seseorang yang ia anggap melebihi kemampuannya. Selalu. Dengan sangat jeli ia memperhatikan peserta yang diketahui bernama Pranoko, yang memperlihatkan gaya bahasa yang sangat jenius. Ia kembali bergumam, bahwa Pranoko mungkin orang dengan kemampuan speech and speaking paling jenius yang pernah ia lihat. Melebihi gurunya sendiri. Sebuah pengakuan.

Ia juga kembali lagi menuju momen tiga hari lalu. Dengan nada lirih khas seorang perempuan, Bu Yati kembali menjelaskan bagaimana cara terbaik menunjukkan kasih sayang pada diri sendiri. Panca sudah menduga akar permasalahannya yang akan terus bercabang, walaupun pada akhirnya ia harus kembali memarahi dirinya sendiri. Amarah itu berujung pada relanya Panca mewakili sekolahnya dalam ajang pidato ini, berkat ia sendiri yang telah mampu menemukan kuncinya, yaitu mencoba menghargai dan lebih mempercayai diri sendiri. Ia telah melakukannya.

Lalu, ia kembali 45 menit kebelakang saat sang gubernur berdiri dengan tepukan kedua tangannya dimana Pranoko selesai mengemban tugasnya di atas panggung. Sungguh bahagianya seorang Pranoko, mendapatkan apresiasi lebih dari orang nomor satu di provinsi ini. Namun, Panca tidak berharap demikian. Ia masih meyakini Pranoko adalah yang terbaik saat ini.
Keringat dingin mengucur perlahan dari pelipisnya. Tinggal beberapa peserta lagi, ia bakal tampil. Ia tak menggubris hal itu. Keringat dingin bisa jadi hal wajar kala ia untuk pertama kalinya mengikuti acara besar ini. Dan ia masih bersikap tenang, walaupun ada sedikit kebohongan terpancar dari auranya. Ia teringat pesan bapak, tenangkan diri.
Semakin mendekati penghujung giliran, semakin riuh pula tepuk tangan audiens dan beberapa tim penilai, termasuk gubernur. Hal ini semakin membuatnya deg-degan. Tak jarang kaki-kakinya sedikit gemetar terlebih ditambah suasana dingin yang cukup menusuk. Menambah kuota kegugupan bagi seorang yang masih pemula.

Mungkin tinggal beberapa menit lagi peserta terakhir akan memulai perjuangannya. Para peserta yang telah lalu cukup membuat seisi ruangan berdecak kagum, memberikan senyuman tulus demi sebuah pengakuan akan kemampuan yang luar biasa dari mereka dalam berbahasa Inggris, sebagai bahasa pergaulan internasional.
Sesekali Panca menoleh. Melihat begitu banyaknya penonton dengan berbagai ekspresi wajah. Ia terus melirik keramaian itu.
Dan, jauh di belakang terlihat Bu Yati yang juga memandangnya. Ia memberikan acungan dua jempol untuk Panca, yang kini bersiap mendengarkan penutupan pidato dari peserta yang masih di panggung. Panca meraih lemparan senyum dari gurunya.

Nama Panca bergema dalam ruangan. Ia mulai melangkahkan kaki beratnya ke depan dengan semangat. Sesekali terlihat kikuk. Panca siap memulai semuanya.
Riuh penonton mengiringi langkah Panca menuju panggung pembuktian. Sesekali ia menekan perutnya pertanda dingin. Seperti biasa, rasa gugup itu mulai merasuki tubuhnya yang terkesan kokoh.

Sesuai dengan peringatan hari ini, ia membuka tema pidatonya mengenai generasi muda yang berjiwa politik. Sebuah tema yang belum pernah terdengar dari para peserta sebelumnya mengingat pidato ini sah sah saja ketika ada tema yang sama.
Baru sampai pembukaan, terlihat pemandangan yang tak biasa. Aneh. Para penonton dan tim juri terlihat sangat hening bak menghayati pidato. Sama sekali tanpa suara. Mereka begitu memperhatikan gerak-gerik yang Panca lakukan di panggung.
Dari belakang terlihat Bu Yati tersenyum ringan, namun dengan mata agak merah.

Panca terus bersuara, tanpa memandang rasa takut yang sedari tadi menempel dalam hatinya. Bibirnya terlihat lihai menari-nari mengikuti instruksi dari otaknya. Sangat anggun. Menghasilkan irama yang tepat.
Mungkin inilah yang selama ini ingin Bu Yati saksikan. Seorang siswa pendiam, yang tidak mengakui kemampuan dirinya sendiri, berbicara anggun di hadapan gubernur dan jajarannya serta para akademisi yang pernah merasakan berpendidikan di luar Asia. Ini adalah buah kesabarannya dalam mendidik seorang anak yang terkenal keras kepala, namun berhati lembut. Mengingat dialah satu-satunya guru yang sangat dekat dengan sosok Panca.

Panca terus berbicara tegas di depan. Lagi-lagi, terdapat pemandangan yang tak biasa. Hampir seluruh audiens serta tim juri begitu serius melihat pidato ini dengan tangan yang ditempatkan di dada. Sangat banyak. Bahkan tak ketinggalan, gubernur juga menempatkan tangannya ke dada.
Termasuk Bu Yati.
Tak jarang Panca menunjukkan gerakan fisik. Ia telah mengetahui jika pidato dengan diiringi gerakan tubuh, akan memperjelas apa maksud dari isi pidato. Panca telah melakukannya.
Gugup jelas. Namun ia paham bagaimana caranya agar tidak terlihat gugup. Dan Panca telah melakukannya.

Ia mengerti kondisi audiens saat ini seperti apa. Sepertinya ia tahu apa maksud mereka yang kebanyakan menempatkan tangannya di dada. Ia terus bersuara, mempertegas seluruh kata demi kata yang terucap.
Sekarang saatnya ia mendarat di penghujung pidato. Tapi, ia terus melantangkan suaranya. Semakin lantang ia berbicara, suasana menjadi semakin hening. Bisa jadi di bagian ini adalah penjelasan dari inti pidato.
Lagi dengan keadaan yang sama, ia mulai menutup pidatonya. Terlihat sedikit perubahan pada mimik muka. Ia terlihat seperti meratapi suatu hal. Namun para pendengar masih dengan keadaan yang hampir sama.
Dan Panca telah melakukannya lagi.

Tepuk tangan yang sangat meriah mengiringi langkahnya meninggalkan mimbar. Beberapa terdengar teriakan yang memanggil namanya, namun entahlah dari siapa. Tepuk tangan ini tampak yang paling meriah dari sebelumnya. Sekilas ia melihat salah satu akademisi tim penilai, beranjak dari tempat duduknya dan menyambut Panca dengan senyuman serta tepuk tangan yang bisa dibilang cukup membekas dalam benak Panca.
Sorak tepuk tangan masih menggema dalam ruangan itu. Ia perlahan menuju kursi dekat Bu Yati duduk. Lalu dengan seksama ia diminta gurunya agar tetap fokus mengikuti rangkaian acara.

Panca memilih fokus dengan moderator acara. Tidak ada komentar perihal penampilannya tadi. Kini ia mencoba puasa menjadi seorang dalang. Dalang bagi dirinya. Hari yang melegakan.
Sebuah perjalanan baru telah dilalui oleh Panca. Sikap terbuka dan membuka diri kini menjadi target dalam beberapa waktu ke depan. Ini menjadi catatan tersendiri bagi Panca. Sebuah lomba, sebuah pembuktian. Nyata sudah. Tinggal melalui jalan berikutnya yang pasti akan lebih berkelok-kelok.

Tak terasa ia mengucapkan rasa terima kasih pada Bu Yati. Sebagai sosok baru yang memberi warna pada perkembangan diri. Ia telah melakukan upaya yang benar-benar Panca butuhkan. Memang guru yang bijaksana.
Sekarang Panca mengerti. Awal kehidupan sebenarnya justru dimulai dari sekarang. Ia layak untuk dilihat khalayak banyak. Ia juga merasakan bahwa setiap pelajar, setiap generasi muda memiliki waktu dan kesempatan yang sama. Tapi semuanya tergantung kita dalam menyikapi. Tentu ia merasa bangga telah menang melawan diri sendiri yang dulu dipermainkan oleh waktu.

Penghargaan baru mungkin akan datang menghampirinya. Menemuinya. Merangkulnya. Sebuah harapan dan doa yang terus mengalir, serta usaha tiada kenal pantang, menjadi senjata ampuh untuk menghilangkan nihil guna dari dalam diri. Ia akan menjadi sosok Panca yang baru.
Sekolah akan menemukan siapa sebenarnya sosok Panca. Mereka telah berlalu dari sebuah sistem yang terlihat remang-remang.
Dan ia tersenyum. Amarah itu membawa manfaat baginya.
Lalu, ia meninggalkan acara dengan tetesan air mata haru…

Cerpen Karangan: Rebet
Facebook: Roby Widyanto

Cerpen Dia Telah Percaya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mimikri Menjadi Mullerian

Oleh:
Tania namanya, anak cerdas dan cantik. Sekolah dengan bantuan beasiswa dan masuk kelas khusus akselerasi. Dia tak pernah percaya diri dan hanya jadi bully-an teman-temannya. Tiba-tiba saja ibunya mengajak

OPEK Pertiwi

Oleh:
Angin semilir siang ini membelai wajahku dengan lembut, rambutku bergoyang-goyang bagaikan penari hawai. Kenikmatan ini membuat mataku terpejam sejenak, menikmati hembusan angin sejuk yang menenangkan jiwa. Ya, aku ada

Sun Was Shine

Oleh:
Matahari pasti bersinar dan aku hanyalah badai yang menutupi sinar matahari, aku akan menjauh dari matahari Perkenalkan namaku Audrey aku memasuki kelas, terlihat tatapan sinis dari para gadis. Aku

Hidupku Berawal Dari Sini

Oleh:
Kenalin namaku Sharita Sania, di sekolahan aku sering dipanggil dengan Rita. Aku duduk di kelas 3 SMP, waktu itu umurku masih 13 tahun yang lebih muda dari teman-temanku karena

Kembalilah

Oleh:
“Woi! Ali! Ali!” teriak Indri diantara kerumunan teman-teman lelaki sekelasnya. “Ah, kok enggak denger sih.” gumam Indri pada sosok yang disukainya tersebut. Rupanya, ada seseorang yang memperhatikannya dalam diam.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *