Distancia (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 July 2019

“Hey!!! Kalian anak IXB, cepet turun!!!” gertak Pak Budiman dengan mikrofon pink miliknya di tengah lapangan.
Salsa dan Ara langsung cepat-cepat berlari menuju arah lapangan dan dari belakang terdengar suara yang mereka kenal! Dia Reza.
“Lo, gimana sih!? Gue lagi mau nyontek PR kok malah bukunya gak lo bawa!??” serunya dengan nada bicara kesal.
“Ya, sorry. Habisnya gue salah ambil buku. Udah ah, ke lapangan cepet! Nanti kita kena amuk Pak Budiman bin sukimin” kata Ara sambil melirik lapangan.

Tiba-tiba terdengar suara yang menggelegar yang sangat mereka kenal! Ya, suara Pak Budiman.
“Salsa, Ara, dan Reza!! Kalian kok masih di situ?!?! Cepet ke lapangan! Kalau enggak saya kasih hukuman BAKSO KOMPLIT!”
Mereka bertiga langsung tersentak dengan ucapan Pak Budiman. Asal kalian tahu, hukuman “BAKSO KOMPLIT” adalah hukuman yang paling ditakuti anak SMP 34 Jakarta. Bakso komplit. Setelah mendengar namanya, semua siswa langsung merinding.
Tidak sebagus namanya, pasti kalian berfikir bahwa bakso komplit adalah satu mangkok bakso dengan sawi dan mie yang banyak. Realitanya untuk anak SMP 34 Jakarta TIDAK. Bakso komplit adalah hukuman yang paling wuakeh. Nguras bak kamar mandi, ngepel lantai, nyapu lapangan, dan keliling lapangan 10 kali, itulah bakso komplit, Kurang apa lagi yah? Okeh! Selesai tentang bakso komplit.

Di tengah jalan, tidak ada petir, tidak ada hujan, Reza kembali membuat ulah.
Gedebruk!
Salsa dan Ara kompak menoleh ke belakang. “Aduh! Reza lo ngapain sih?! Pake acara jatuh segala,” omel Ara sambil membantu Reza berdiri.
“Yaelah! blangkon gue kemana?” tanya Reza sambil meraba kepalanya.
“Mana gue tau! Tu dibawa Bu Ajeng. Hah Bu Ajeng? Mampus,” kata Salsa sambil berjalan mundur ke belakang dan siap berlindung di belakang tubuh Reza. Tidak lupa dengan Ara, Ara juga memundurkan badannya di belakang tubuh Salsa. Mereka sudah kompak seperti sedang latihan baris berbaris.
Matideh kita. Guman Ara dalam hati.
Bu Ajeng yang mengenakan baju adat orang Papua langsung berjalan ke arah Salsa, Ara dan Reza.

Lima belas menit sudah terbuang sia-sia untuk mendengar ceramah dari Bu Ajeng. Selesai mendengarkan suara merdu Bu Ajeng, Salsa segera berjalan menuju lapangan sekolah. Seketika Salsa mengingat sesuatu dan menghentikan langkahnya.
“Anjir, jatuh lagi dah gua,” umpat Reza mengelus pelipisnya karena terjatuh lagi. Entah mengapa hari ini Reza cukup sial, karena ia sudah jatuh untuk kedua kalinya.
“Ngapa lo Sal, ngerem mendadak? Ngomong dulu lah,” semprot Ara yang juga hampir terjatuh. “Gua inget sesuatu nih,” ucap Salsa menggantung.
”Apaan? cepetan gih, upacaranya udah mulai neh,” Ara terlihat penasaran. “Memang udah mulai dari tadi peak,” Reza kini kembali mengubris.
“Jadi gak nih kasih tau? Gua mau ngomong…”
“Blangkon lo mana Za?”
“Anjir, gua lupa. Masih dibawa Bu Ajeng. Sejak kapan gua jadi pikun gini?” Reza menunjukkan ekspresi wajah yang khawatir sekaligus kesal. Salsa dan Ara terkekeh geli mendapati wajah melas milik Reza.
“Yaudahlah, gue mau cabut! Mau berburu monster Ajeng dulu yah!”
Salsa dan Ara kembali tertawa girang mendengar ucapan Reza.

Karena upacara sudah dimulai sejak dua puluh menit lalu, Salsa dan Ara berjalan mengendap endap layaknya maling. Mereka sudah sampai di belakang barisan tanpa diketahui oleh Pak Budiman.
Sedangkan Reza yang sedang mengadu nasib untuk mencari blangkon miliknya yang dibawa Bu Ajeng.

“… Maka dari itu, kita harus menjunjung tinggi derajat manusia! Manusia diciptakan sederajat. Perempuan dan laki- laki sama. Patut kita berterima kasih kepada R.A. Kartini yang menjunjung derajat perempuan…” kata- kata itu berdengung di telinga Ara.
Kapan sih piadato Pak Budiman bin Sukimin selesai? Batin Ara sambil menahan terik matahari. Tiba-tiba entah keajaiban apa yang terjadi. Pidatonya selesai!
“Ngapain Pak Budiman berhenti pidato?” tanya Ara sambil melirik Salsa. “Itu loh, konde Bu Mesya jatuh” sambil menunjuk ke arah Bu Mesya.
Ara hanya ber O ria. Karena seantero SMP 32 Jakarta tau Pak Budiman menyukai Bu Mesya.

Kring!
Kring!
Kring!
Bel tanda pelajaran pertama berbunyi, Bu Lastri guru fisika datang dengan kacamata di atas hidungnya. Bu Lastri sudah siap memasukkan berbagai macam rumus ke dalam otak, sehingga Bu Lastri bisa dicap sebagai guru killer
Ara terlalu bosan dengan pelajaran fisika, Ara mengajak Reza untuk membolos pelajaran. Dengan sigap Ara menarik tangan Reza menuju keluar kelas, walaupun sebenarnya Reza ingin mengikuti pelajaran karena ia takut ketinggalan materi.

“Kalian berdua mau ke mana?” tanya Bu Lastri dengan menurunkan kacamatanya. Terlihat matanya yang melotot langsung membuat Ara dan Reza bungkam
“Saya mau nganter Ara ke UKS bu! Perutnya sakit, kemarin habis samyang challege,” tutur Reza dengan ekspresi santai.
“Em, anu… iya Bu saya juga agak kurang enak badan”, saut Ara dengan wajah cemas.
“Makane ojo sok-sokan samyang challege” jawab Bu Lastri dengan wajah sadis.

Saat ingin ke UKS Ara melihat pria yang belum pernah ia lihat. Pria itu terlihat berbeda, dia tidak mengenakan pakaian adat seperti anak lainnya dia mengenakan seragam putih-biru. Pria itu meletakan tas hitamnya di bahu kirinya. Ara melihat name tag yang tertera di sebelah kanan seragamnya Alfa Putra. Satu pertanyaan di hati Ara.
“Siapa Dia?”

Oiya! Ara Marchella, namanya. Ara itu orangnya bisa dibilang agak galak, tapi baik kok. Orang yang selalu disamping Ara, itu Salsa Chatrin. Salsa termasuk murid teladan di SMP 32 Jakarta. Jangan pada mikir kalo mereka saudara/kakak adek karena mereka tidak ada hubungan darah. Beda 180 derajat sama Ara, Salsa itu orangnya cuek. Reza adalah satu-satunya temen cowok Ara yang paling deket. Reza juga termasuk idola para cewek-cewek di SMP 32 Jakarta alhasil Reza juga banyaak digebet siswi di SMP 32 Jakarta.

Kring! Kring! Kring!
Mendengar hal itu, Ara refleks ngomong. “Woy istirahat woy, paling pelajaran Bu Lastri dah selesai. Ke kelas aja deh!” ajak Ara pada Reza yang masih duduk di samping kasurnya.
“Yaelah, giliran istirahat aja langsung semangat. Penyakit macem apaan tu!” jawab Reza meledek. “Ih, udah ah. Kalo gak mau ke kelas ya udah!” Ara menjawab sambil meninggalkan ruangan UKS. Reza akhirnya mengikuti langkah Ara menuju kelas.

Salsa? Kalau urusan istirahat dia udah dari tadi ke kantin buat beli makanan. Saat tiba di kelas Ara melihat sosok yang pernah Ara lihat beberapa jam yang lalu. Tapi, Ara menghiraukan.
“Eh, sapa tu?” tanya Ara pura-pura tidak tahu.
“Gue gak tau, udah ah! gue mau cabut ke lapangan basket. Mau nemuin anak-anak”, jawab Reza mengakhiri pembicaraan.
“Yowes, tanya Tamara aja,” Ara menjawab dengan wajah lesu.
“Tamara, itu siapa yang duduk deket Lintang?” tanya Ara.
“Oh itu, murid baru,” balas Tamara.
“Makanya kalo ga sakit perut kaga usah ke UKS, jadi kagak tau berita terupdate kan,” tutur Tamara.
“Hush ngomongnya pelan aja kali, orang gue baru sekali ini bolos,” bisik Ara.
“Apahh? Sekali? Seratus kali iya! Oke oke gue ceritain,” papar Tamara.

Flashback on

15 menit kemudian…
Seorang cowok telah sampai di depan kelas IXB. Bu Lastri yang sedang membagikan 55 soal fisika menghentikan aktifitasnya.
Seluruh penjuru kelas yang sedang ngrumpi, main game, bucin, dan sibuk update sosmed diam diam di bawah laci agar tidak ketahuan oleh Bu Lastri melirik ke arah pria tersebut. Suasana kelas yang tadi gaduh karena protes kepada Bu Lastri perihal 55 soal fisika hening seketika. Tak lebih untuk kaum hawa, mereka sampai melongo melihat cowok yang bisa dicap sebagai cogan di depan mata.

“Sapa tuh?”
“Ya Tuhan, setelah sekian lama engkau kirimkan hamba suami,”
“Murid baru?”
“Yuhuu, gaess stok cogan bertambah,”
Terdengar suara pekikan yang mendominasi adalah suara dari kaum hawa. Akhirnya Bu Lastri selaku guru yang sedang mengajar memecah kegaduhan.
“Siapa kamu? Murid baru? Masuk sini,” Bu Lastri mempersilahkan masuk cowok tersebut.
Merasa dirinya dipanggil, dia masuk ke dalam kelas. Dia hanya bersikap datar walaupun dia juga mendengar seruan dari kaum hawa yang bergosip tentang dirinya.
“Silahkan perkenalkan diri di depan teman teman kelasmu,” perintah Bu Lastri.

“Perkenalkan nama gue Alfa Putra. Panggil aja Alfa. Umur gue 15 tahun. Gue tinggal di Jakarta gara gara ikut orang tua pindah kerja ke Jakarta lagi. Kalo ada yang mau tanya tentang gue boleh kok” pemilik suara tersebut bernama Alfa Putra.
“Lo pindahan dari mana?” Lintang yang pertama kali mengacungkan jari.
“Dari Spanyol”
“Hah Spanyol?! Kenapa pindah nih ke Indo? Mau cari cewek? Padahal cewek Spanyol s*ksi lohh” kini Rudin, bendahara kelas bertanya.
“Kan udah gue bilang, gue ikut orangtua gue pindah,”
“Udah punya pacar?” pertanyaan yang dilontarkan oleh Salsa yang mewakili para kaum hawa.
“Belom,”
Terdengar suara YESS dari kaum hawa secara bersamaan.
“Boleh dong gue jadi pacar lo,” Tamara menawarkan dirinya dengan nada sedikit menggoda.
“Heheh, tapi gue udah incer seseorang yang tadi ketemu sama gue pas otw cari kelas ini,”
Tamara dan kaum hawa lainnya seketika cemberut.

“Udah, udah malah ngomongin pacar. Ada lagi yang mau bertanya?” Bu Lastri yang dari tadi diam kini mulai bertanya.
“Saya bu terakhir, SD sama SMP kelas 1 dan 2 lo di mana?” tanya Lutfhi sang ketua kelas.
“SD gue dulu di Indonesia, gue baru pindah ke Spanyol SMP kelas 1 karena ikut semacam pertukaran pelajar. Gue di Spanyol Cuma 2 tahun. Akhirnya gue ke Indo gara gara ikut orangtua gue.”
Semua isi kelas kompak ber oooo

“Udah udah, nanti jam pelajaran saya habis lagi. Alfa kamu duduk di di sebelah Lintang” Bu Lastri menyudahi sesi tanya jawab dengan Alfa.

Flashback off

“Gitu ceritanya,” Tamara menyudahi ceritanya.
“Oh jadi yang gue lihat itu Alfa, anak baru.” Kata Ara
“Kapan lo liat?” selidik Salsa.
“Tadi pas gue ke UKS sama Reza, gue ketemu dia di jalan. Gue gak sengaja ngomong ke lo, gue kira kan cuma anak kelas lain,” jelas Ara lengkap.
Salsa hanya ber“O” saja

Dengan samar-samar Ara mendengar Reza berbicara dengan Alfa, “Orangtua lo kerja di mana?” tanya Reza kembali.
Tiba–tiba Alfa terbangun dan memalingkan wajah dari Reza “Ya gitulah, adalah,”
“Lah, kok gue gak dikasih tau. Kan juga gak ada masalah kalo lo kasih tau,” ucap Reza.
Ara terbelak kaget, sedangkan Salsa? Cuek saja. Ada apa dengan orangtua Arka?

Cerpen Karangan: Dsquad
hellow guys: )
tunggu part selanjutnya okeh
tinggalkan comment
-DPS-

Cerpen Distancia (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kebaikan Mampu Merubah Segalanya

Oleh:
Tiupan angin sejuk menghantarkan tetes-tetes embun berjatuhan, menggoyahkan rumput-rumput hijau panjang, dan membuyarkan bunga tidur yang terangkai indah. Sinar mentari menyelinap tanpa permisi tanda kehidupan dimulai. Jam sudah menunjukkan

Si Sempe

Oleh:
Kalau biasanya anak cowok susah baget deket sama bokapnya… beda dengan keadaan gue dan kakak-kakak gue ke bokap. Kita justru deket banget sama ayah. Mungkin karena dia orangnya super

Senyum Seindah Pelangi

Oleh:
Semuanya seperti deja vu. Masih terukir dengan jelas di benakku, tentang hari itu. Di saat butiran-butiran air berjatuhan dari langit. Petir pun seolah tak mau kalah meramaikan suasana dengan

07.30

Oleh:
“Gubraaakk!!” Haduh keadaan jalanan di sekitar sekolahku memang tak pernah kunjung baik. Berkali-kali angkutan umum yang kunaiki terjebak beberapa detik di lubang yang sama. Aku memang berniat untuk memiliki

Cintaku, Rakyatku Dalam Satu Doa

Oleh:
Hidup ini memang terkadang susah dipahami dan dimengerti. Terutama kehidupan anak remaja, seperti halnya dengan kehidupan yang saya jalani. Hidup ini memang sebenarnya mudah, jika dijalani dengan lapang hati,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Distancia (Part 1)”

  1. Eva says:

    Update please

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *