Dua Teman Baruku Yang Luar Biasa (Part 1)

Judul Cerpen Dua Teman Baruku Yang Luar Biasa (Part 1)
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 January 2017

Di zaman sekarang jarang sekali bersaing dalam hal belajar untuk memperebutkan atau menjadi juara di kelas. Yang ada menjadi juara di hati seorang laki-laki atau perempuan karena kita berhasil bersaing dan merebutnya dari perempuan atau laki-laki lain, sama seperti halnya yang kualami sekarang. Tapi, di sini aku bersaing dalam hal belajar, bukan dalam hal percintaan yang menurutku tidak penting bagi seorang pelajar sepertiku ini yang tugasnya belajar untuk bekal masa depan nanti. Penting, sih. Tapi, kan, nanti akan ada waktunya. Iya gak?

Tanggal dua puluh lima bulan Juli lalu, seminggu setelah hari pertama masuk sekolah di tahun ajaran baru, ada murid baru yang datang ke sekolahku. Murid pindahan dari SMA yang ada di Tasikmalaya yang menjadi temanku, sekaligus menjadi saingan belajarku di kelas dua belas ini. Kenapa bisa menjadi saingan? Karena, ternyata dia luar biasa pintar, kepintarannya melebihi aku, ini jujur.

Aku baru mengetahui itu, bahwa ia pintar, setelah beberapa hari kami belajar bersama di kelas. Ternyata, ia pandai dalam pelajaran Matematika. Pelajaran yang aku tidak sukai, pelajaran yang membuatku selalu berteriak “Aaarrrggghhh” dan memukul-mukul meja, “Buk, buk, buk” seusai belajar karena geregetan akan pelajaran itu.

Dari kelas satu sampai kelas dua belas sekarang ini aku masih tetap tidak suka dengan pelajaran Matematika. Aku bodoh banget dengan itu. Aku sudah mencoba membuka hatiku untuknya, tapi gagal. Sekalinya bisa, itu pun hanya disaat materinya yang mudah. Alhasil, aku selalu mendapat nilai bagus, eh, maksudnya jelek setiap kali ujian semester karena aku belum bisa mencintai pelajaran itu.
Katanya sih kalau kita mau bisa menguasai setiap pelajaran, baik itu Matematika atau pun yang lain, kita harus bisa menyukainya terlebih dahulu, seperti kita menyukai seseorang. Eh, kenapa jadi membahas masalah cinta lagi sih? Cinta, aku belajar dulu ya! Kalau sudah selesai kamu boleh datang lagi, bahkan aku yang akan mencari kamu jika kamu tidak datang.

Saat ulangan harian Matematika, si teman baruku ini mampu menyelesaikan pertanyaan-pertanyaannya dalam waktu setengah jam, tidak seperti aku yang dua kali lebih lama dibandingkannya. Hasilnya pun lebih bagus dia yang hanya menghabiskan waktu segitu. Dia mendapat nilai seratus, sementara aku jeblok. “Astaga, dia makan apa sih sampai-sampai otaknya pintar banget?” Begitulah kata teman-temanku mengenai dirinya.
Ia juga pandai dalam pelajaran bahasa Inggris. Ia mendapat benar sebanyak dua puluh sembilan dari tiga puluh lima soal saat ulangan harian, sementara aku hanya dua puluh. Jujur, aku lebih memilih bahasa Arab dibanding bahasa Inggris. Tapi, masih mending bahasa Inggris daripada Matematika. Walau tidak sepenuhnya menguasinya, tapi sedikit demi sedikit bisalah.

Dulu, saat di SMP ada pelajaran bahasa Arab, karena aku masuk ke Madrasah Tsanawiyah, atau sekolah Islam yang sehari-harinya belajar tentang agama dan termasuk itu bahasa Arab. Jujur, dulu aku bodoh banget dengan pelajaran itu. Setiap kali ada PR aku selalu menyontek dengan teman, begitu juga setiap kali ujian semester.
Aku benar-benar buta dengan pelajaran itu. Jelas saja, aku yang SD-nya dari sekolah umum masuk ke SMP Islam yang pelajarannya sangat berbeda. Meski perbedaannya tidak semua, tapi aku belum bisa menerimanya secara langsung, membutuhkan proses.
Tapi, itu dulu. Kini, di SMA, aku bisa dengan pelajaran itu. Kebiasaan menyontek dengan teman setiap kali ada PR atau ujian semester pun sudah tidak kulakukan, yang ada teman-temanku yang menyontek denganku karena kelabakan saat mengisinya.
Nilai ujian semester yang biasanya mendapat tujuh kini berubah menjadi sembilan, bahkan hampir mendapat nilai sempurna yang hanya aku yang mendapatkannya di kelas. Ternyata, bahasa Arab itu sangat mudah, aku baru menyadarinya sekarang.

Aku fikir di SMA umum itu tidak ada bahasa Arab, ternyata ada. Alasan kenapa aku memilih melanjutkan ke SMA umum dibanding ke SMA Islam atau Madrasah Aliyah itu untuk menghindari pelajaran bahasa Arab, tapi ternyata aku salah, aku bertemu juga dengan pelajaran itu lagi sekarang.
Niat untuk menghindar dari pelajaran itu, kini malah mendekat. Tapi tak jadi masalah, aku sudah bisa dengan pelajaran itu. Sayangnya, di kelas dua belas ini kami tidak belajar bahasa Arab lagi. Kami fokus belajar ke pelajaran yang akan diujiankan nanti.

Sudah bicara panjang lebar sampai lupa mengenali teman baruku ini. Nafilatun Nafi’ah atau yang dipanggil Nafil, begitulah namanya. Perempuan berkacamata yang berpenampilan saleha dengan jilbab syar’i yang menutupi dadanya. Perempuan yang sudah membuat anak-anak laki di kelas terpikat olehnya, dan yang sudah membuatku jadi memiliki tambahan saingan dalam belajarku di kelas.

“Hai, Nafil. Apa kabar? Makin cantik aja!” Begitulah yang mereka katakan padanya ketika ia baru tiba di kelas. Padahal, diantara mereka yang mengatakan itu sudah memiliki pacar. Tapi, mereka masih saja menggoda perempuan lain, yaitu dia. Huh, dasar laki-laki.
“Kamu pasti pintar ya? Yang namanya Maryam kan pintar-pintar, sama kaya temanku!” Tukasnya setelah berkenalan waktu itu.
“Ah.. gak juga, kok!” Aku menjawab dengan santai. Padahal, dia yang lebih pintar dari aku.
Ia bercerita banyak padaku tentang dirinya dan tentang di sekolahnya dulu, karena ia duduk sebangku denganku. Padahal, sebelumnya aku tidak duduk berdua dengannya. Tapi, setelah ia datang, aku meminta teman sebangkuku untuk berpindah tempat padanya. Karena, ia suka kesulitan melihat tulisan di papan tulis saat sedang belajar walau sudah menggunakan kacamata yang membantunya melihat dengan jelas tulisan yang ada di sana.

Ia kini tinggal di asrama sekolah, sebab tempat tinggalnya yang sebenarnya sangat jauh, di Kendal. Sekolahku terdapat asrama untuk para murid yang bertempat tinggal jauh sepertinya. Ada yang dari Bandung, Bogor, Cirebon, Sumatera, bahkan ada yang dari Papua. Aku bingung, kenapa mereka semua pada memilih bersekolah di sini, di daerah tempat tinggalku, padahal di daerah mereka juga ada sekolah? Sudahlah, tak usah dipikirkan.
Seperti petikan lagu sekolah kami yang selalu dinyanyikan saat upacara bendera setiap hari Senin yang berbunyi, “Dari Sabang sampai Merauke, satukan perbedaan. Munculkan persamaan berbineka tunggal ika.” Dari lagu itu bermakna bahwa sekolah kami menyatukan para murid yang berbeda-beda daerah menjadi satu. Dari kesatuan itu muncullah persamaan dan menghilangkan beragam perbedaan yang ada sebelumnya.

“Maryam itu baik, pintar, cantik, juga saleha, dan dia jadi anak emas atau murid kesayangan di sekolah karena dia selalu memenangkan setiap perlombaan antar sekolah. Pokoknya dia sempurna banget deh!” Nafil bercerita padaku tentang teman perempuannya yang bernama Maryam, sama seperti namaku.
Aku sampai “Wow” mendengarnya. Meski belum pernah melihat dirinya aku juga mengatakan ia begitu sempurna. Baik, pintar, cantik, saleha lagi. Pokoknya semuanya diborong sama dia. Arrgghh, andai aku yang seperti itu. Andai Maryam itu adalah Maryamnya aku, sempurna banget aku. Sudah ah, jangan berandai-andai.

Nafil juga bercerita padaku bahwa ia pernah bertelekinesis, yaitu gerak atau pemindahan tempat suatu benda tanpa disentuh atau tanpa penggunaan peralatan dengan cara melihat benda itu terus menerus dan memfokuskan atau mengonsentrasikan pikiran kita pada benda tersebut.
Ia pernah mencoba melakukan itu dengan menggunakan kertas kecil, dan hasilnya kertas itu bergerak sendiri tanpa disentuh atau digerakkan oleh alat penggerak seperti tangan. Karena adanya kekuatan atau energi saat kita memfokuskan pikiran kita pada benda itu, sehingga benda tersebut dapat bergerak sendiri.
“Aku seperti orang linglung mencoba itu!” Ujarnya padaku setelah pengalamannya berbulan-bulan mencoba melakukan itu.
Ternyata bertelekinesis itu membutuhkan waktu yang cukup lama, tidak hanya dalam beberapa menit atau jam saja langsung bisa melakukannya. Aku pernah mencobanya dalam waktu satu atau dua menit untuk menggerakkan pintu. Aku pikir telah berhasil melakukan itu, ternyata gagal. Bukan pintunya yang bergerak, tapi pandangan mataku yang berubah menjadi dua atau berbayang.
Jarak dan berat pada benda juga mempengaruhi keberhasilan kita dalam bertelekinesis. Semakin dekat jarak benda yang ada di pandangan kita, semakin besar energi itu. Dan semakin ringan benda itu, semakin mudah kita untuk menggerakkannya.

“Aku berhasil bertelekinesis loh!” Ucapku bohong padanya saat ia baru tiba di sekolah waktu itu. Sehari sebelumnya aku mengatakan padanya bahwa aku akan mencoba melakukan itu.
“Serius kamu?” Dengan sedikit terkejut ia menjawab.
“Iya serius, tapi di dalam mimpi. Hahaha.”
“Ah.. kamu, aku pikir beneran!”
Jujur, aku sampai terbawa mimpi hanya karena berkeinginan untuk bisa bertelekinesis. Dalam mimpiku itu, aku bisa menggerakkan juga memantulkan ke atas dan ke bawah kertas kecil yang sudah dibulatkan sebagai bendanya. Ada-ada saja aku.

Telekinesis itu bukan sulap, yaitu pertunjukkan berbuat sesuatu yang menakjubkan, seperti mengadakan atau mengubah sesuatu dengan cara yang ajaib. Tidak semua benda yang bergerak dengan sendiri itu dinamakan sulap, tapi manusianya saja yang beranggapan itu sulap. Padahal, itu tidak benar atau palsu.

Aku pernah melihat video orang-orang yang bertelekinesis di youtube. Luar biasa hebatnya mereka bisa menggerakkan benda-benda tanpa disentuh atau digerakkan dengan tangan, bahkan ada yang bisa mengangkat manusia sampai ke atas hanya dengan mengarahkan tangannya pada orang tersebut. Jika tangannya mengarahkan ke atas, maka orang itu akan ke atas, begitu juga sebaliknya. Jika mengarahkannya ke bawah, maka orang itu akan ke bawah.

Aku sempat berpikir jahat, jika aku bisa bertelekinesis, aku akan menjaili teman-temanku. Ketika belajar, aku akan mengambil barang-barang mereka yang ada di sekelilingnya. Seperti pensil, pulpen dan buku, atau bahkan membuatnya jatuh dari tempat duduknya. Tapi sayang, aku tidak bisa melakukan itu.

Selain Nafil yang bercerita tentang dirinya padaku, aku juga bercerita tentang diriku padanya. Aku yang saat kelas sepuluh aktif dikegiatan ekstrakulikuler juga osis kini di kelas dua belas sudah tidak lagi karena daya tahan tubuhku yang menurun. Aku suka sakit bila mengalami kelelahan yang berarti.
Padahal, dulu aku tidak pernah sakit bila terkena panas atau banyak bergerak karena kegiatan ekstrakulikuler yang aku ikuti adalah pramuka dan paskibra. Dalam seminggu, aku berlatih paskibra sebanyak dua kali dan sekali untuk pramuka. Aku tidak tahu kenapa aku menjadi lemah seperti itu, seperti perempuan pada umumnya yang daya tahan tubuhnya tidak sekuat laki-laki.

Sudah banyak kegiatan yang aku ikuti dari ektrakulikuler dan osis, salah satunya saat ekspedisi pramuka, yaitu melakukan perjalanan menuju ke suatu tempat yang di setiap jalannya ada berbagai macam rintangan yang menantang.
Seperti melewati sungai, berjalan di lumpur dengan bertiarap dan semua rintangan yang menantang lainnya yang menguras tenaga. Juga ada kegiatan osis, yaitu LDKS. Kegiatan yang aku sukai, kegiatan yang melatih diri kita untuk disiplin menjadi seorang pemimpin.

“Nggak sakit? Yang lain pada sakit!” Ucap salah satu teman laki-lakiku saat melihat aku hadir di kelas sehari sesudah LDKS.
Benar, yang lain memang pada sakit sepulang LDKS, bahkan ada yang sakit saat LDKS berlangsung karena kelelahan dengan kegiatannya. Atau mungkin fisik mereka yang tidak kuat dengan kegiatan yang kami jalani.
“Nggak, dong. Aku, kan, kuat!” Aku menjawab sambil memperlihatkan kekuatan fisikku.

Tapi, tak disangka keesokkan harinya aku jatuh sakit. Aku demam, tubuhku terasa pegal-pegal dan sakit, juga bibirku pecah-pecah karena kekurangan cairan. Bayangkan saja, yang biasanya minum air sebanyak 8 gelas sehari, saat LDKS hanya satu gelas.
“Lain kali jangan ikut LDKS lagi, kalau udah sakit seperti ini tahu sendiri, kan, rasanya?!” Marah ibu padaku saat itu.
Ibu sudah melarangku untuk ikut LDKS, tapi aku bersikeras untuk tetap mengikutinya. Aku suka dengan kegiatan itu, dari SMP kelas satu sampai sembilan aku selalu mengikutinya. Selain belajar disiplin untuk menjadi seorang pemimpin, alasanku mengikuti LDKS adalah tempatnya.

Cerpen Karangan: Siti Mariyam
Facebook: Siti Mariyam

Cerita Dua Teman Baruku Yang Luar Biasa (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My King

Oleh:
Sebut saja namanya Raja. Dia satu satunya cowok yang kutaksir di sekolahku. Orangnya baik dan karismatik. Tapi, ada satu hal yang sangat disayangkan dari dia.. Hmm dia adik kelas

My First Love Itu Sahabatku

Oleh:
“Yasmin tunggu!” kata seseorang kepadaku sambil menarik tanganku. “Apa?” jawabku singkat. “Minta datanya dong, kurang nih” pintanya kepadaku. “Oyaudah tukeran aja aku juga kurang” jawabku sambil menyodorkan buku. “Minta

Bukan Ayah Idola

Oleh:
Rasanya aku malas sekali untuk ke luar dari kamar. Semenjak kejadian tadi, hatiku sedikit terluka. Aku memilih untuk menuliskan perasaanku ke dalam sebuah buku diary bersampul ungu di hadapanku.

Mentari Terbit Di Hari Minggu

Oleh:
Mentari terbit di hari minggu. Terlihat Hasan hendak menancapkan colokan charger ponselnya ke kotak listrik, tiba-tiba saja Edo nyelonong masuk dan memanggilnya. “Hasaann!! Tahu Satria tidak?” teriaknya. Hasan yang

Aku Akan Bersabar

Oleh:
Hari itu aku pergi ke sekolah bersama teman-temanku, kami berangkat bersama karena sekolah dan rumahku jaraknya cukup jauh dan juga teman-teman dari desaku juga banyak yang sekolah di sana.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *