Dua Teman Baruku Yang Luar Biasa (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 January 2017

LDKS kelas sembilan waktu itu dilaksanakan di Bogor selama tiga hari. Tempat berlangsung LDKS-nya itu berdekatan dengan gunung Salak, gunung yang pernah dijatuhi atau ditabrak oleh pesawat Sukhoi pada waktu itu.
Disepanjang perjalanan menuju sana banyak sekali perempuan dan laki-laki yang sedang berduaan, atau yang biasa disebut dengan pacaran. Huh, begitulah anak zaman sekarang. Padahal, pacar belum tentu menjadi suami atau istri kita. Tapi, suami dan istri sudah tentu menjadi pacar kita.

Udara di sana dingin, sangat dingin ketika di malam hari. Aku sampai menggigil karena kedinginan, seperti LDKS kelas sepuluh waktu itu yang bertempatkan di Bogor juga, namun lain lokasi. Tapi, ketika pagi tiba, matahari mulai muncul, rasa dingin itu pun menghilang. Kehangatan datang. Meski tidak berkeringat terkena matahari, tubuh terasa hangat pun sudah cukup.

Masih banyak lagi kegiatan yang sudah kuikuti lainnya. Aku tidak bisa menceritakannya di sini, bisa-bisa menjadi sebuah novel, bukan cerpen. Terlalu tinggi jika aku bisa membuat novel, cerpen aja masih belum baik. Eh, kenapa jadi membahas LDKS-ku dulu? Di sini kan aku mau bercerita tentang teman baruku, Nafil. Bukan tentang kisah-kisah yang sudah kulalui atau yang disebut dengan pengalaman.

Nafil juga bercerita tentang prestasi belajarnya di sekolahnya dulu. Ia yang bersaing dengan keras untuk memperebutkan posisi juara di kelas dari teman laki-lakinya yang merupakan saingan terberat dirinya.
“Dari kelas sepuluh dia terus yang dapat peringkat satu. Susah banget buat mengalahkannya!” Ucapnya setelah panjang lebar bercerita tentang teman laki-lakinya itu.
Nafil sama seperti denganku yang bersaing melawan teman laki-lakiku di kelas. Tapi, aku tidak dari kelas sepuluh, baru di kelas sebelas waktu itu. Aku yang mengetahui sekelas dengannya merasa akan kalah bersaing karena ia selalu menjadi juara di kelas sepuluh.
Tapi, ternyata aku salah. Aku bisa mengalahkannya di semester dua kelas sebelas kemarin, aku yang menjadi juara di kelas dengan kejujuran yang aku lakukan. Dia yang dari kelas sepuluh tidak ada yang bisa mengalahkannya terkalahkan olehku di kelas sebelas. Sombong banget ya aku.

“Kebohongan gak akan pernah menang melawan kejujuran!” Aku berkata sambil menajamkan mata padanya waktu itu karena kesal dengannya. Kesal akan perbuatan curangnya ketika ujian semester.
Aku pikir ia mendapat hasil bagus murni usahanya sendiri, ternyata aku salah. Ia sama saja seperti yang lain yang suka menyontek saat ujian semester, yang tidak mau menggunakan otaknya untuk berpikir.
Jujur, aku paling tidak suka dengan orang yang berbuat curang atau menyontek ketika ujian semester. Buat apa mereka belajar jika ujiannya masih menyontek? Buat apa juga mereka bersekolah untuk dididik menjadi seseorang yang baik bila tindakannya sama seperti orang yang tidak mendapat pendidikan?
Siapa sih yang gak pernah menyontek saat ujian semester? Semuanya pasti pernah, begitu juga denganku. Jujur, saat di SMP aku memang suka menyontek ketika ujian semester. Tapi, aku sadar perbuatan yang aku lakukan itu salah. Aku tidak akan maju bila terus bergantung dengan orang lain. Aku mau berubah, sampai akhirnya aku berkomitmen untuk tidak menyontek lagi ketika ujian semester saat di SMA nanti. Aku akan berusaha sekuat tenaga dan sebisaku untuk mengerjakannya sendiri meski sesulit apa pun.

Aku bisa merasakan perubahan setelah melakukan komitmenku di SMA ini, yaitu prestasi belajarku meningkat. Biasanya tidak pernah masuk tiga besar saat di SMP, kini di SMA masuk dan bahkan naik menjadi dua, sampai akhirnya menjadi juara di kelas. Aku menyesal ketika dulu selalu menyontek, padahal hasilnya lebih bagus hasil sendiri daripada itu. Arrgghh, bodoh banget aku. Tapi, eh, tuh, kan, lagi-lagi membahas tentang diriku. Gak apa-apa deh, kita balik lagi ke teman baruku ini.

“Ketua osis di sini siapa?” Tanya Nafil setelah dua minggu kami bersekolah.
“Ketua osisnya Herman!” Jawabku.
“Hah, serius kamu?”
“Iya serius, gak percaya ya?!”
Nafil seakan tak percaya dengan jawabanku itu. Herman yang terlihat biasa saja ternyata luar biasa, sama sepertiku yang awalnya tidak mengetahui kemampuan yang ia miliki karena dari kelas sepuluh dan sebelas tidak sekelas dengannya, baru di kelas dua belas ini.

Tak kusangka, Herman memiliki suara yang merdu saat mengumandangkan adzan dan saat melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Aku yang bertanya-tanya siapa yang sedang mengumandangkan adzan saat waktu Maghrib tiba ketika LDKS tahun lalu tercengang melihat dirinya sedang berdiri memegang mike sambil mulutnya melafalkan bacaan adzan.
“Suara saya merdu kaya Muzammil, kan?!” Ia selalu berkata padaku bahwa suaranya yang merdu itu sama seperti Muzammil.
“Merduan Muzammil daripada kamu!” Aku juga selalu berkata demikian jika ia mengatakan itu.
Muzammil, yang bernama lengkap Muzammil Hasballah adalah pemuda dari Aceh yang berkuliah di salah satu Institut, yaitu Institut Teknologi yang berada di Bandung atau yang disingkat dengan ITB Bandung mulai dikenal oleh masyarakat saat bulan Ramadhan lalu karena kemerduan suaranya ketika melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an.
Ketika ia menjadi imam di sebuah masjid, para jama’ah yang ada di belakangnya menangis mendengar kemerduan suaranya itu. Terbayangkan kan, bagaimana merdunya suaranya sehingga orang-orang menangis mendengarnya?!
Aku selalu meminta pada Herman untuk mengajariku membaca Al-Qur’an dengan bernada sama sepertinya. Bacaan Qur’anku masih biasa-biasa saja, belum luar biasa seperti dirinya. Aku ingin bisa membaca Al-Qur’an dengan berirama, agar suara yang keluar saat kumembaca terdengar merdu.

“Aku ingin deh jadi hafiz Qur’an!” Aku berkata padanya waktu itu saat kami sedang membicarakan tentang hafiz Qur’an atau orang yang menghafal Al-Qur’an.
Seperti Wirda, gak tahu nama lengkapnya, putri dari Ustadz Yusuf Mansyur yang ia sukai. Selain kelebihannya yang hafal Al-Qur’an, ia juga memiliki paras yang cantik dan mirip seperti ayahnya. Juga hafiz Qur’an yang luar biasa yang berasal dari Mesir, yaitu Mu’adz Al-Hafiz.
Mu’adz berbeda dengan yang lainnya, ia terlahir dengan keadaan mata yang tidak bisa melihat. Tapi, kekurangannya itu tidak menghalanginya untuk menghafal Al-Qur’an. Ia mulai menghafal Al-Qur’an saat usianya enam tahun. Dan di usianya yang ke sebelas tahun ia berhasil menghafal tiga puluh juz Al-Qur’an. Ia sampai tidak bermain dengan teman-teman sebayanya kala itu hanya karena belajar untuk bisa menghafal Al-Qur’an.

“Dalam shalatku, aku tidak pernah meminta kepada Allah agar Allah mengembalikan pengelihatanku.” Tuturnya mengenai kebutaan yang ia alami, ia hanya mengharap ridho sang Illahi.
Ia lebih luar biasa hebat dari orang-orang yang mampu bertelekinesis yang sudah kuceritakan di atas. Bagaimana tidak, dengan keadaan mata yang tidak bisa melihat saja ia mampu menghafalnya, tidak seperti aku yang bisa melihat tidak mampu menghafalnya. Aku jadi malu dengan diriku. Aku yang sudah besar kalah dengannya dan dengan hafiz Qur’an lainnya yang usianya masih dini.
Lagi dan lagi melantur kemana tahu pembicaraannya. Sudah, kita kembali lagi ke cerita tentang teman baruku, Nafil.
Ia selalu bersedia jika aku meminta padanya untuk mengantar ke toilet ketika ingin buang air kecil karena kedinginan di kelas. Sekolahku termasuk sekolah yang elite, tapi bagi para muridnya. Semua ruang belajarnya terdapat dua AC meski biaya perbulannya tidak sampai dua ratus ribu.

Merasakan kan, bagaimana dinginnya ketika belajar dengan dua AC yang menyala ditambah ruang kelasnya tertutup tanpa ada celah yang terbuka? Norak banget ya aku. Ketahuan banget yang di rumahnya gak pakai AC. Sampai-sampai kedinginan karena tidak biasa, sehingga mengakibatkan selalu buang air kecil.
Bukan hanya aku, teman perempuanku yang lainnya juga sama, selalu ingin buang air kecil ketika kedinginan. Tapi, ketika AC-nya tidak dinyalakan, semuanya merasa kepanasan. Sementara dinyalakan, semuanya merasa kedinginan. Begitulah manusia, gak bisa bersyukur.
Tapi, walaupun begitu aku lebih memilih saat SMP dibanding SMA ini. Meski ruang belajarnya tidak ber-AC hanya berkipas angin, meski tidak pernah berfoto selfie seperti kebanyakan anak sekolah lakukan sekarang, karena kami dilarang membawa telepon aku masih tetap memilih saat SMP dibanding SMA ini.
Yang biasanya bertadarus selama lima belas menit sebelum masuk, yang biasanya shalat berjama’ah dengan yang lain ketika waktu shalat Dhuha dan Zuhur tiba, dan semua apa pun itu yang membuatku rindu akan hal tersebut yang di SMA ini tidak dilakukan. Sudah ah, jangan mengungkit masa lalu.

“Belajar kamu, mau ujian. Jangan cerpen aja!” Nafil menasehatiku ketika aku lebih mementingkan hobiku yang membuat cerpen dibandingkan belajar. Aku bercerita padanya bahwa aku memiliki hobi itu. Tak terduga sebelumnya, ia juga memiliki hobi yang sama.
“Gak bisa, aku terlalu cinta sama nulis!” Aku menolak dinasehati olehnya dengan berkata demikian.
Jujur, aku benar-benar cinta dengan menulis. Aku merasa ada yang hilang dari diriku ketika tidak melakukan itu, sama halnya dengan membaca. Tapi, membaca cerita, bukan pelajaran. Meski semalam dan sengantuknya apa pun aku tetap meneruskan membaca sebelum cerita itu selesai. Benar-benar deh aku, menyiksa diri sendiri.
Oiya, aku hampir lupa. Selain Nafil, aku juga memiliki teman baru, yaitu Muhammad Abizar Ferdiansyah atau yang dipanggil Abizar. Ia pindahan dari pesantren yang ada dimana ya? Aku lupa. Pokonya pesantren deh. Ia juga luar biasa seperti Nafil, tapi luar biasa lucu. Ia bukan menjadi saingan dalam belajarku, tapi menjadi penghiburku dan yang lainnya. Setiap hari ia selalu membuat kami tertawa melihat tingkah lucunya itu.
Abizar bisa menirukan suara binatang jangkrik. Ketika keadaan kelas sepi ia selalu, “Krik, krik, krik” yang membuat kami tertawa mendengarnya dan juga membuat suasana kelas menjadi ramai karena suara tawa kami yang tiba-tiba membeludak.

Ia pernah bercerita padaku dan yang lainnya tentang pengalamannya dalam mengajari anak yang keterbelakangan mental mengaji, karena ia menjadi seorang guru disebuah TPA milik ibunya.
“Kalau lagi ngamuk, dia suka ngebanting-banting pintu, terus gue mau dilempar bangku sama dia. Gila!” Begitulah ceritanya tentang anak murid yang ia ajari sambil memperagakan apa yang ia ucapkan. Terbayangkan kan, bagaimana mengajari anak yang keterbelakangan mental mengaji? Butuh kesabaran dalam mengajarinya.
Kami tertawa terbahak-bahak mendengarnya karena lucu melihatnya seperti itu. Jangankan dari cara ia bercerita, melihat wajahnya dan mendengar saat ia tertawa saja sudah membuat kami tertawa. Dasar Abizar, ada-ada saja.
Awalnya aku tidak percaya bahwa ia menjadi seorang guru, karena di wajahnya tidak terlihat tampang seorang guru, ditambah dengan perilakunya yang pecicilan. Jangankan aku, yang lainnya juga sama. Bahkan di antara mereka ada yang berkata..
“Emangnya lo bisa ngajar? Anak orang diajari apa?” Begitulah kata-katanya yang sedikit meremehkannya.
“Bisalah, gue gitu!” Ia menjawab sambil memukul-mukul dadanya.

Dua teman baruku yang luar biasa. Yang satu luar biasa pintar, dan yang satu luar biasa lucu. Sudah cukup ceritanya kuselesaikan sampai di sini. Benar kata Nafil, aku harus memfokuskan belajarku dibandingkan dengan yang lain untuk persiapan ujian nasional nanti. Aku tidak ingin pikiranku terganggu saat ujian nanti yang membuatku tidak berkonsentrasi mengerjakannya. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk semuanya, terutama untuk ayah dan ibuku.
Aku harus rajin belajar agar bisa menjadi pintar seperti Nafil yang dapat menguasai pelajaran-pelajaran yang menurutku sulit. Ia saja bisa menguasainya, kenapa aku tidak. Aku juga bisa menguasainya, asalkan aku rajin dan bersungguh-sungguh dalam belajar.
Jangankan menguasai pelajaran, menguasai dunia pun bisa. Asalkan tadi, aku rajin belajar dengan sungguh-sungguh, karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Contohnya seperti Mu’adz, tidak bisa melihat saja bisa hafal tiga puluh juz Al-Qur’an. Karena, ia bersungguh-sungguh dalam mempelajarinya.

Semoga setiap keinginan baik kita bisa tercapai dengan mudah. Seperti keinginan teman laki-lakiku yang bernama Budi yang ingin memperbaiki perekonomian negara dan aku yang akan menyadarkan para koruptor yang memakan uang negara untuk keperluannya sendiri, untuk mengisi perutnya dari hasil uang yang ia korupsi tersebut. Huh, benci para koruptor.
Semoga para koruptor bisa menyadari bahwa perbuatan yang dilakukannya itu tidak baik, perbuatan yang hanya memberikan dampak buruk pada negara kami tercinta Indonesia ini, agar negara kami menjadi sejahtera seperti yang kami inginkan. Tidak ada kemiskinan, semua anak yang ada mendapatkan haknya untuk bersekolah agar bisa membangun negara Indonesia menjadi maju dan lebih baik lagi.

Cerpen Karangan: Siti Mariyam
Facebook: Siti Mariyam

Cerpen Dua Teman Baruku Yang Luar Biasa (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Class Sweet Class

Oleh:
Angin kencang melanda bulan Oktober. Bagi kami yang tak dapat menikmati tidur siang di rumah, hal ini menjadi sangat menyebalkan. Berbagai macam raut sebal, bosan, jenuh, ngantuk dan malas

Never Leave You (Part 1)

Oleh:
-Jatuh cinta dan patah hati itu udah sepaket kayak paket COMBO di KFC- Andika Pov Setiap manusia di dunia pasti sudah familiar dengan yang namanya “Sahabat”. Pastilah. Suka duka

Ketidak Mungkinan Yang Aku Semogakan

Oleh:
Matahari sudah ada di atas kepala, bel sekolah pun seduh berbunyi aku duduk di bangku taman sendirian sambil memandangi matahari yang ada di atas kepalaku. Aku sedang menunggu sahabatku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Dua Teman Baruku Yang Luar Biasa (Part 2)”

  1. zulham faris says:

    wiiih keren !!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *