Entah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 November 2017

Sinar matahari menembus jendela kacaku membuatku terbangun dari mimpi-mimpi indahku semalam, serta disambung suara teriakan mama yang menambah suasana hatiku “Farah bangun sayang sudah pagi”.

Segera ku beranjak dari tempat tidurku dan menuju kamar mandi lalu setelah itu, segera aku membersihkan kamarku. Segera ku berlari menuju asal suara itu dan sampailah aku di meja makan. “Mama…” panggilku “iya Farah ada apa?” tanya mama. Seketika suasana hening hanya terdengar suara sendok yang tengah menari di atas piring. Farah bingung harus memulai dari mana dia harus berbicara pada mamanya agar dia tidak dipindahkan sekolah, tetapi keputusan mamanya sudah bulat untuk tetap memindahkan Farah ke sekolah yang baru.

Selesai makan Farah pamit ingin ke luar rumah sekiranya sambil menikmati pemandangan indah di kota barunya. Farah menuju taman yang tak jauh dari rumahnya, dia menuju kursi yang ada di hadapannya, sambil tersenyum melihat orang-orang yang berada di hadapannya. “andai saja aku di kota lama pasti tak akan kesepian” desis Farah.

Waktu menunjukkan pukul 04.40 segeralah Farah beranjak dari tempat duduk dan pulang menuju rumahnya, Farah merasa nyaman walaupun hanya duduk sendiri dia menikmati kesendirian dan membayangkan hal-hal yang indah.

Kring… kring… kring suara jam membangunkan Farah dari tidurnya dengan tampang malas segera dia mandi sarapan dan menuju sekolah
“Ma… aku berangkat” kata Farah “Iya Far… hati-hati” jawab mama.

Sampailah Farah di sekolah barunya sekolah yang terkenal dengan anak-anaknya yang elit. Farah memasuki koridor sekolah sesekali menatap keindahan gedung yang berada di tempatnya berdiri sekolah ini kalah dengan sekolah yang dulu tetapi walaupun begitu dia tidak akan melupakan sekolah lamanya.

“Selamat pagi anak-anak hari ini kita akan kedatangan teman baru, silakan masuk”. Seketika jantungku berdegub kencang kutarik napas dan melihat sekeliling orang sedang menatapku “Perkenalkan nama saya Annanda Farah Cantika kalian dapat memanggil saya Farah terimakasih” Singkatku. “Baiklah Farah kamu boleh duduk di sana” kata Bu Guru “Makasih Bu…” jawab Farah.
Hari pertama di sekolah sangat menyenangkan aku bertemu teman yang sangat baik dan saling menghargai teman.

Bel istirahat berbunyi segera Farah berlari menuju kantin karena perutnya dari tadi sedang bergemuruh, sesampai di kantin Farah duduk sambil menikmati bakso tanpa sadar Farah dari tadi diperhatikan seseorang dari jauh yang mungkin menaruh hati padanya sejak awal Farah memasuki sekolah ini.

“Hy! boleh duduk disini?” tanya seorang cowok “ooo.. Boleh kok silakan kalau mau duduk di sini” jawab farah “Dio..” sapa si cowok sambil memulai perkenalan “Farah..” jawab farah.
Mereka saling bercanda dan tertawa diantara mereka timbul rasa yang melebihi teman, tetapi di antara mereka tidak ada yang berani mengungkapkannya karena tidak ingin merusak tali persahabatan mereka berdua. Entah sampai kapan mereka harus memendam rasa yang berada di benak mereka biarlah waktu yang menjawabnya!

Cerpen Karangan: Anisa Alif
Facebook: Anisa alif

Cerpen Entah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


CoMis (Cowok Misterius)

Oleh:
Di tengah derasnya hujan, alice menekuk kedua kakinya dan menenggelamkan kepalanya. Menangis sesenggukkan, itulah yang dilakukan alice di bangku taman. “hai, kehujanan?” tanya seorang laki-laki berbadan lumayan tinggi, putih,

Kepala Madrasah

Oleh:
Baru kali ini aku merasa betah dengan kepala Madrasahku. Namun bukan berarti kepala madrasahku yang dulu-dulu membosankan atau menjengkelkan ya, karena hakikatnya kepala madrasah pula seorang guru. Yang wajib

Truntung

Oleh:
Lelah rasanya pagi ini, harus segara bersiap di jam ternikmat untuk diam di bawah selimut. Terpaksa pergi ke kamar mandi untuk berperang melawan dinginnya suasana pagi. Melewati waktu dengan

Messenger Of Love

Oleh:
“Jangan Shuusei!” Kaori merebut ponselnya. Wajahnya memerah. “hey.. aku cuma lihat.” Shuusei tersenyum picik diikuti teman temannya yang tertawa puas. Kaori mendengus kesal ia sadar tak bisa membalas.Kaori memilih

IX SMP

Oleh:
Kelas IX adalah dimana saatnya muncul rasa bosan dan malas untuk belajar. Kata malas dan bosan untuk belajar adalah kata yang tepat buat Alex, siswa SMP S. Pembda 2

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *