Galang dan Juna (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 6 September 2016

Keadaan rumah yang tadinya sunyi, seketika berubah karena suara teriakan Gio. Baiklah, hari ini memang jadwalnya untuk menengok keadaan adik unyunya. Setiap minggu Gio selalu menyempatkan untuk datang ke rumah dan menghabiskan waktu bersama Galang dan juga Juna. Setelah berteriak memanggil nama kedua adiknya tersebut, Gio pun membuka pintu yang kebetulan tidak terkunci. Ia pun melangkahkan kakinya kedalam rumah tersebut, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Tidak ada tanda kehidupan, sepertinya para penghuni rumah masih tertidur pulas, apalagi Galang yang tidak pernah bangun pagi.

Ia pun menaruh kantong plastik putih yang tadi ia bawa, yang berisi snack itu ke atas counter, lalu berjalan menuju kulkas dan mengambil bahan bahan makanan untuk dimasak. Setelah memilih bahan bahan tersebut, Gio langsung mempersiapkan alat alat dan memulai untuk memasak. Hari ini ia akan membuat menu spesial yaitu nasi goreng, ya tidak terlalu spesial sih.. tapi dijamin rasanya enak karena ia memasaknya dengan penuh rasa.

Setelah bermain dengan penggorengan, wajan dan pisau, masakannya pun telah siap. Ia pun menghiasi piring masakan tersebut dengan garnish tomat dan mentimun yang tadi ia buat.

Juna POV
“Akhirnya, berhenti juga darahnya” ucap Juna lega.
Setelah membersihkan badanya dari tetesan darah mimisan itu, ia langsung merebahkan badanya di atas kasur, memandangi dinding kamarnya yang telah dihias oleh foto yang berasal dari kamera polaroidnya. Tiba tiba ia mengingat sesuatu.
“Perasaan tadi ada suara bang Gio deh” pikirnya

Drttt drttt
Satu notifakasi pesan masuk dari ponsel Juna. Ia langsung mengubah posisinya dan mengambil ponselnya yang berada di atas meja.

Gio
Oy kebo, sarapan udah siap. Turun ke bawah sekarang.

Itulah isi pesan yang ia terima, ternyata pendengaran Juna masih baik. Yang tadi ia dengar memang suara abangnya. Juna pun membalas pesan tersebut.

Juna
Siap kapten, menuju dapur skrg jg.

Dengan cepat, Juna berdiri dan berjalan meninggalkan ruang tidurnya menuju dapur. Disana terlihat seorang pria sedang membuka pintu kulkas.

“Pagi, bang” sambil mengembangkan senyuman di wajahnya.
“Oit, pagi… Loh? Galangnya mana?” tanyanya.
“Masih tidur kayaknya” jawab Juna sambil duduk di kursi meja makan
“Oh gitu, yaudah lo makan duluan ya Jun, gue mau bangunin si kebo dulu”
“Sip!”

Bang Gio pun pergi menuju kamar Galang, Juna pun menuruti perintah abangnya untuk memakan duluan, bukan maksud Juna tidak ingin makan bersama, tapi salahkan para cacing yang sudah mulai memporak-poranda bagian dalam perutnya.

Galang POV
Remaja itu sedang tertidur pulas di dalam kamarnya. Sinar matahari yang sudah memasuki kamar tidur Galang, tidak membuat dirinya terganggu akan silauanya. Sudah jam 9 pagi, namun matanya masih dalam keadaan tertutup dengan rapat. Melihat hal itu, Gio langsung mematikan ac kamar Galang, dan mengambil segayung air dari kamar mandi. Setelah mendapatkan air tersebut, Gio langsung mempercikan air tersebut ke wajah Galang menggunakan tangannya. Sudah lima kali melakukan percikan air tersebut, Galang masih tidak merespon. Satu ide terbayang di kepala Gio saat ini.

“KECOAK! KECOAK TOLONG!” teriak Gio
Mendengar kata “Kecoak” Galang tersontak bangun dari tidurnya, posisi yang tadinya tertidur sekarang berubah berdiri di atas kasur dengan guling yang berada di pelukanya.
“MANA?! MANA?!” teriak Galang geli mendengar kata kecoa di telinganya.

Melihat ekspresi muka adiknya itu, Gio langsung melontarkan tawa yang sangat keras. Bagaimana bisa sang pembuat masalah di sekolah takut dengan binatang kecil bernama kecoak.

“Anjrit, gak lucu lo bang asli” ucapnya kesal.
“Aneh ya gue sama lu, tukang ribut tapi takut sama kecoak. Gak bagus banget” sindir Gio terhadap kegelian ketakutan Galang kepada binatang kecil tersebut.
“Gue gak takut, cuman geli” katanya dengan penekanan pada kata ‘geli’
“Sama aja itu mah lang”
“Beda lah,”
“Ck, intinya takut ataupun geli, lo tetep gak berani megang kecoa pake tangan kosong kan?” jelas bang Gio, sambil tersenyum miring.
“Fine! Lo menang”

Gio pun tersenyum mendengar perkataan Galang. Ia langsung menyudahi pembicaraan kecoak tadi, dan langsung meminta Galang turun ke bawah untuk sarapan bersama.

“Gua tunggu 5 menit lagi di bawah, gue gak nanggung jawab kalo sarapan lo gue embat gara gara lo kelamaan” ucap bang Gio sambil ke luar dari kamar dan menutup pintu kamar Galang.
“Ya bawel”

Setelah menghabiskan makananya mereka bertiga pun berkumpul di ruang keluarga, kecuali Galang yang tidak ingin satu ruangan oleh Juna. Galang pun memilih pamit untuk pergi ke rumah Kelvin teman sekolahnya.

Setelah sampai di depan perkomplekan Kelvin, Galang langsung memakirkan motor hitamnya di depan rumah temannya itu.

Ting nong
Tidak lama kemudian pintu bewarna putih di depanya ini terbuka.
“Cali ciapa?” tanyanya dengan cadel
“Eh Karin!” sapa Galang dengan ceria
“Jangan sok aklab gitu, cali siapa?”

Demi tuhan pemilik alam semesta, ia lupa kalo anak kecil di depannya ini sifatnya beda dengan anak kecil pada biasanya. Jika anak kecil itu menggemaskan, berbeda dengan anak kecil di depannya sangat menyebalkan, tidak jauh dengan sifat abangnya 11-12.

“Cari Kelvin” jawab Galang dengan nada jutek
“Oh abang Kelpin, masuk masuk”

Galang pun menuruti gadis kecil ini, ia pun mengikuti Karin dari belakang, dan sampailah mereka berdua di depan ruang dengan pintu bewarna coklat dengan nama Kelvin Rooms.

“ABANG! ADA YANG CALIIN, ORANGNYA NYEBELIN!!” teriak gadis itu.
Demi apapun, benar kata orang kalau anak kecil jaman sekarang tingkah dan sifatnya memang kurang diajar.
“Ya udah diusir aja orangnya!!” sahut Kelvin dari dalam kamar.
Mendengar jawaban dari temanya itu, Galang pun memutar bola matanya. Sepertinya dia salah tempat, seharusnya dia pergi ke rumah Bian saja, dari pada rumah Kelvin. Berlama lama di rumah ini membuat dirinya ingin berkata kasar.
“Tapi olangnya, udah ada di depan kamar abang!”

Lima detik kemudian pintu coklat ini pun terbuka,
“Ish, Usir aja ke Rin! Tebir amat kamu” ucap si pemilik kamar. Mendengar hal itu, Galang langsung bergumam
“Eh, si bos Galang, ish kamu de. Dia sohib abang, dia juga gak nyebelin, kamu nih anak kecil OT banget”
“Ayo masuk lang” ajak Kelvin terkekeh

Cerpen Karangan: Tasya Melani Putri
Instagram: @tmelanip
Wattpad: @tmelanip
Selamat membaca

Cerpen Galang dan Juna (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sad Song

Oleh:
Kutelusuri lorong sekolah yang mulai sepi, suara sepatuku terdengar keras memecah keheningan ini. Tak ada seorang pun yang berada di sini, hanya aku. Seperti biasa, sebelum pulang ke rumah,

Trip to Rumah Hantu Darmo

Oleh:
Karena gue orangnya suka berpetualang, gue dan geng “ingusan” gue (geng yang terlalu cepat puber) sering pergi ke tempat-tempat yang menantang, kamar mandi cewek misalnya. Hahaha, gue bercanda Hahaha

Sersadu Pasir Putih (Kau Kakakku?) Part 1

Oleh:
Sore itu, semburat senja menghangatkan dinginnya lautan, menambah kehangatan dalam kebersamaan bagi mereka. “Roni! Oper bolanya!” Aldo berlari mendekati kotak penalty. Kali ini umpan lambung, tak menyia-nyiakan kesempatan, Aldo

Di Atas Jalanan Hitam Putih

Oleh:
Aku melihat sepeda, sepeda motor dan mobil dari berukuran kecil hingga berukuran besar setiap detiknya selalu melintasi sebuah jalanan yang ditutupi oleh karpet hitam dan di tengahnya terdapat garis

Melepaskan

Oleh:
“Aku juga sayang kamu kok yan, tapi hanya sebatas teman tidak lebih dari itu”. Kata-kata itu selalu teringat di memori otakku berdengung di dalam telingaku dan menghantui kehidupanku. Dimana

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *