Game Over

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 22 January 2016

“Stoop…”

Teriakan Gen membuat keributan di kelas. Anak kelas 8 itu memang suka membuat keributan di mana saja. Penyebabnya selalu sama game, game, dan game ia memang pecinta game, malahan ia lebih mencintai game itu daripada dirinya. Wataknya tegas tapi juga cuek. Karena sifatnya itulah membuat Gen tak punya teman, kelihatannya juga baik-baik saja walau tak punya teman anak itu memang “menyeramkan” itu kata yang cocok untuk imagenya bagi teman sekolahnya.

Di sekolah ini memang diperbolehkan bawa Handphone yang Gen bawa adalah PSP, HANDPHONE!! bukan PSP atau PS apa Gen tak mendengarkan? dia memang linglung. Image itu membuat Gen lebih terpuruk, “Manusia itu memang tak sempurna bede dengan dunia game.” kata-kata Gen membuat semua temannya tak berdaya kecuali Ende anak cowok kekanak-kanakkan itu malah yang disukai oleh Gen ia terlihat nyaman bersamanya.

“Gen pulang yuk!” sahut Ende dengaan ramah.
“bentar aku mau main game, tanggung mau selesai” kata Gen datarnya.
“ya udah aku tinggalin loh” ledek Ende.
“Bodo amat!” ledekan maut Gen ke luar terpaksa Ende langsung menarik Gen ke luar kelas.
“nggak baik loh terus terusan main game nanti matanya pecah loh..” cerita Ende yang sedikit ngarang.
“nggak percaya memangnya aku bodoh,” sahut Gen sambil mengambil sepatunya.
“yeeeee gak percayaan nih” sahut Ende. Mereka pun tertawa cekikikan Gen pun jadi meninggalkan gamenya.

“Gen mau dioperasi!” kata Ende tak percaya mendengarkan info dari teman-temannya seminggu sesudah itu ia langsung dikabari hal-hal buruk dan membuat konsentrasi Ende terganggu. Gen mengalami patah tulang dan membuat jantungnya sakit karena ia terjatuh melewati tangga. Ulahnya itu pun juga dikarenakan karena game. Ende pun langsung menjenguknya ke rumah sakit tanpa berpikir panjang. Sesampainya di sana Gen sedang bermain game dengan asyiknya tanpa memedulikan kondisi tubuhnya.

“kenapa kau tidak dioperasi? keadaan mu malah tambah buruk Gen!” kata Ende mengingatkan Gen.
“manusia pasti akan mati!” teriak Gen dengan kata-kata kasarnya Gen mulai bersikap dingin, Gen berkelakuan tak seperti biasanya. “ini bukan Gen yang ku kenal” kata Ende tegas.
“Shut up Ende!” teriak Gen kepada Ende, “manusia pasti mati ngapain sih aku harus mengalami kesusahan seperti ini” keluh Gen. “BUKAN!!! ini bukan game Gen, ini dunia nyata tidak seperti game yang bisa terus kau ulang, pikir Gen kehidupan nyata itu berbeda nyawa kita itu berharga kan?” kata Ende menasihati.

“apa aku tidak boleh membuat ceritaku game over sampai sini?” kata Gen tanpa terlihat ketakutan. “ini hidupku sendiri!” teriak Gen. “masa sih kamu mau membiarkan cerita ini tergantung game sih nggak masalah tapi ku perangi sekali lagi cerita hidup kita tak akan diulang kau mau mengakhirinya seperti ini? silahkan..” kata Ende tanpa ragu ia pun langsung ke luar dari kamar rumah sakit Gen. Kata-kata itu membuat Gen menyadari kelakuannya, “ada apa ribut-ribut?” tanya Dokter rumah sakit. “Aaa..ku ingin dioperasi dok, sekarang.” kata Gen sambil menangis. Akhirnya Gen pun dioperasi.

Itulah hebatnya seorang sahabat bisa membuat kita sadar dan paling mengerti tentang kita. Apa kalian ingin membuat cerita dengan sahabatmu game over begitu saja?

Cerpen Karangan: Faiz Avenz
Hai nama penaku Faiz Avenz dukung aku terus ya.. biar bisa membuat lebih banyak cerpen. Salam.

Cerpen Game Over merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


1 Lawan 100

Oleh:
Di belakangku, terdengar langkah kaki mengejar dengan tempo yang cepat. Pemilik langkah itu memanggil namaku, memintaku untuk berhenti dan menunggu. “Doni, tunggu!!”, teriaknya, aku pun berhenti dan memandang ke

Kegelisahan Cici

Oleh:
Entah kenapa hari ini terasa lain dari hari kemarin-kemarin. Padahal tidak ada satupun hal yang lain yang dialami oleh Cici. Aktivitasnya hari ini dimulai dengan sholat subuh sama seperti

Cinta Diam Diam

Oleh:
Awalnya jantung ini masih berdetak normal seperti biasanya saat pertama kali melihatmu. Namun tiba-tiba saja saat pertama kalinya kamu berbicara padaku, rasanya jantung ini siap-siap lepas dari tempatnya. Aku

Menulis Kehidupan Ku (Part 1)

Oleh:
Setiap orang yang terlahir di dunia ini tentu diiringi dengan bakatnya masing-masing karena bakat tersebutlah yang menjadi arah dan tujuan dalam hidupmu. Kata-kata ayahku tersebut sering kali terngiang dalam

Cinta Masa SMA

Oleh:
Pertama kali Raisa melihat Kevin, disaat itu juga mata Raisa dan Kevin saling bertatapan. Dan tiba-tiba rasa itu muncul di hati Raisa, bisa jadi perasaan itu disebut dengan cinta.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *