Game Punya Penggila

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 5 July 2016

Aku bukan siapa-siapa, keseharianku yang hanya bisa bermain game membuat diriku ini tak bisa lepas dari yang namanya game. Sudah hampir seluruh game aku mainkan termasuk game online ataupun offline yang sekarang sudah berkembang ragamnya. Ketika aku pertama kali bermain game di sebuah alat berbentuk persegi panjang yang aku beli seharga sepuluh ribu kala itu di toko mainan depan kantor polisi yang letaknya tidak jauh dari rumahku, mungkin hanya sekitar seratus meter jaraknya.
Namun, sekarang sudah berubah. Aku sudah sepuluh tahun dan toko itu seketika sudah berubah menjadi sebuah rental playstation yang paling favorit di tempat ini. Aku juga mulai meninggalkan benda persegi panjang itu dan beralih ke rental playstation itu. Setiap hari, aku tak pernah menyia-nyiakan waktuku untuk bermain disana, hampir tak ada hari aku lewatkan tanpa datang ke rental itu. Sudah hampir seluruh game yang ada di playstation itu aku tamatkan dan aku mulai merasa bahwa game itu hanya sampai di playstation ini saja, tanpa ada alat lain yang bisa untuk bermain game.
Kini aku sudah beranjak dewasa, umurku juga bertambah seiring berjalannya waktu, sekarang aku sudah lima belas tahun. Ternyata, pernyataan lima tahun yang lalu itu meleset, temanku SMA mengajakku bermain game di salah satu tempat di pusat kota. Tempat itu terlihat serba tertutup, kaca pintu dan jendelanya berwarna hitam dan di pintunya tertulis nama-nama game yang kurang familiar di benakku. Aku masuk ke tempat itu bersama temanku, ketika sudah di dalam aku melihat komputer berjajar rapi di ruangan tempat itu, dan salah seorang sedang duduk di meja besar yang di atasnya terdapat komputer juga, dia bertubuh besar dan kelihatan sedang serius memandangi komputernya. Temanku memberitahuku untuk bilang pada orang itu, aku mengatakan harga perjam untuk bermain disini. Akhirnya, kami memilih untuk bermain game selama dua jam.

Setelah membayarnya, aku dan temanku lekas pergi untuk memilih komputer mana yang ingin dimainkan, aku memilih komputer nomor dua belas dan temanku nomor tiga belas. Aku semakin heran, untuk apa komputer-komputer ini diberi nomor, dulu ketika bermain playstation, si pemiliknya tak menaruh nomor-nomor itu di setiap tv-nya. Ketika aku sudah duduk menyalakan komputernya dan di layar tertulis “Welcome”, ini seperti komputerku di rumah, tak kusangka komputer seperti ini bisa untuk bermain game.

Komputer sudah menyala, dan di layarnya tersajikan beragam game, ada yang aku tahu dan ada yang belum pernah kucoba. Temanku menyarankan untuk bermain FIFA saja, karena dia juga bermain itu, katanya itu game sepak bola, memang aku sudah tahu itu game sepak bola, tetapi yang aku heran game FIFA itu kata temanku berbeda dengan yang di playstation, game ini bisa bermain dengan orang lain tanpa harus menemuinya, selain itu game FIFA ini bisa menjadikan pemainnya seperti pelatih bola sungguhan. Dalam game ini juga diajarkan untuk mengulik strategi yang baik dalam memilih pemain bola yang berpotensi dan juga ketika bertanding dengan orang lain. Selain itu, game FIFA ini juga ada sisi keberuntungannya dalam mendapatkan pemain yang bagus.

Sejak saat itu, aku jatuh hati dengan game ini. Sudah hampir setahun aku bermain FIFA ONLINE, sebutan game ini. Aku diperkenalkan kembali game baru oleh temanku, POINT BLANK, ya, temanku menyebut game yang dikenalkannya itu kepadaku. Kata temanku game kali ini menjadikan kita sebagai tentara S.W.A.T yang profesional, karena di game ini kita harus bisa menembak musuh dengan akurasi yang tepat, selain itu juga game ini diharuskan strategi ketika memasang bom dan juga pada saat mencegah bom itu meledak. Namun, itu berbanding terbalik dengan pendapatku, game yang dipenuhi unsur kekerasan dan sadis ini cukup berbahaya apalagi banyak anak-anak SD yang memainkannya, mereka belum bisa menyaring hal buruk dari game ini.

Namun, bukan berarti game ini tidak bagus, aku juga memainkannya di sela-selaku bermain game sepak bola yang biasa aku mainkan itu. Game ini aku rasa tak berbahaya bagiku, karena aku bukan lagi termasuk anak-anak, aku sudah hampir tujuh belas tahun dan aku rasa bisa menyaring dampak buruk game tembak menembak ini.

Sekarang sudah delapan belas tahun umurku, dan masih saja bermain game-game yang di kenalkan temanku itu. Tiba-tiba muncul sebuah kabar bahwa game akan ditutup, hal itu tak membuatku khawatir dan juga tak membuatku tenang. Semua orang yang katanya maniak game bertebaran cemas tak tahu harus apa, bagaimana tidak, salah satu game yang akan ditutup adalah game yang sudah bertahun-tahun dimainkan, katanya, dan juga sudah level tinggi, pantas saja cemas. Namun, aku hanya pasrah dan tenang juga tetap bermain game dengan senang hati.
Salah seorang yang maniak game menghampiriku. Dan dengan sedikit marah-marah berbicara denganku.
“Pemerintah itu siapa sih? Berani-berani mau menutup game!”
“Emangnya kenapa?”
“Eh, kamu tau gak, sudah kuhabiskan berapa uangku untuk bermain game dan membeli cash? Dan mereka seenaknya mau menutup gamenya? Keterlaluan!!”
“Kamu yang salah, kenapa kau habiskan uangmu hanya untuk benda mati itu?”
Sejenak orang itu berfikir kembali, dan aku mendekatinya.
“Dengar ya, aku juga penyuka game, bisa dibilang penggila game yang sudah mencoba seluruh game yang aku tahu, dari yang mulai termudah sampai game tersulit pernah aku mainkan. Dan sekarang ini aku masih bermain game, tapi kenapa kau tak begitu marah dengan akan ditutupnya beberapa game, kenapa? Kau tahu jawabannya?”
“Emm.. kenapa?”
“Aku bermain game dengan bertumpu pada satu, yaitu kesenangan, sedangkan kamu bermain game dengan obsesimu, seolah-olah dirimu lah yang terbaik, dirimu yang paling hebat bermain game, sedangkan aku. Aku tak peduli apakah aku kalah atau menang yang terpenting bagiku adalah aku bermain game, terhindar dari hiruk-pikuk dunia dan kerumitan kehidupan, aku mencari kesenangan, dulu aku hampir terjerumus kesenangan memakai nark*ba, tapi aku tak mau berurusan dengan polisi, kembali aku mencari kesenangan yang halal, tidak merugikan orang lain, dan yang terpenting tidak melanggar hukum Tuhan dan Pemerintah. Lalu, aku temukan game sebagai sumber kesenanganku.”
Sejenak kembali berfikir orang itu dan kembali menatapku.
“Kau benar. Jadi, apa yang harus saya lakukan?”
“Begini saja, game itu kan benda mati, tapi tak hanya sekedar benda mati, game akan telihat hidup dan semakin hidup ketika kita memainkannya dengan sungguh-sungguh berhadapan satu lawan satu dengan game itu sendiri, bukan kita melawan orang lain di luar sana, tapi sebenarnya game itu lah lawan kita. Sebaiknya kamu harus tetap bermain game, tapi jangan sampai kau dikalahkan dengan game itu sendiri.”
“Oke, tapi saya tak percaya begitu saja kalau kamu itu benar-benar seorang penggila game sudah lima tahun lebih bermain game, sebelum aku menjajal kehebatanmu.”
“Baik, sudah lama aku tak bermain game dengan orang sepertimu. Tapi, aku hanya bermain game sepak bola FIFA itu, kamu punya gak?”
“Kamu meremehkan saya ya, bukan penggila game kalau belum pernah bermain game itu. Tentu, saya punya sudah level lima puluh dua, sedangkan punyamu?”
“Santai saja, punyaku hanya amatiran baru level sembilan belas kok. Gimana?”
“Ok, besok kita bertemu di warnet kemarin.”
“Baik.”

Aku lantas berfikir ulang, apa mungkin aku bisa mengalahkan orang itu nanti, tapi mau bagaimanapun aku harus mampu membuktikan fungsi game yang sesungguhnya. Aku bertemu dengan orang itu keesokan harinya, dan bersama-sama bermain di warnet kemarin, kami bermain bersebelahan di sisi pojok warnet tersebut, aku tak main lama-lama hanya dua jam, sedangkan orang itu bermain lima jam. Untuk pertama kalinya aku melawan orang lain di game bola ini selain temanku.
Orang itu memang benar-benar hebat, dia berhasil mencetak dua gol pada babak pertama, memang pemainnya bagus-bagus, selain itu levelnya jauh dari punyaku. Tapi aku tak akan menyerah, akan kucetak gol di babak kedua. Aku mulai berfikir bagaimana cara mematahkan serangan lawan dengan mengubah strategi berbeda dari sebelumnya, dan akhirnya aku berhasil memperkecil ketertinggalan dengan satu gol, lewat serangan balik yang aku rencanakan.

Orang itu semakin menjadi-jadi, terlihat sekali kemahirannya dalam memainkan game bola itu, sampai aku sedikit kewalahan mengatasi gaya permainannya. Tak disangka semua serangannya berhasil aku mentahkan dengan tenang, aku coba untuk bersabar menghadapi orang yang haus kemenangan ini. Dan tak berapa lama aku menyamakan skor lewat kesabaranku. Orang itu semakin menjadi-jadi, dia tak mau dipermalukan olehku, dia melakukan serangan dengan membabi buta, namun sebaliknya dia membuka peluangku mencetak gol di menit-menit akhir, dan membuat aku berbalik unggul 3-2, dan selesailah permainan.

Setelah pertandingan itu selesai, orang itu tampak kesal, dia duduk di sebelahku. Dan aku mengatakan sesuatu padanya.
“Gimana?”
“Apa?”
“Kamu hebat, tak aku sangka ada orang yang benar-benar hebat seperti kamu.”
“Loh, bukannya kamu yang menang?”
“Menang kalah, itu bukan urusanku. Yang terpenting, aku bisa mengambil teknik dan trikmu ketika bermain tadi, dan yang tak kalah penting adalah kepuasan bisa mengalahkan level tertinggi, dan mendapatkan level yang cukup nih untuk naik level dua puluh. Terima kasih sudah bermain denganku,” kataku.
“Jadi begitu, aku paham sekarang. Terima kasih,” kata orang itu dan kami kembali bermain sendiri-sendiri.
Mulai saat itu, aku tak pernah melihat orang itu ngotot dalam bermain game, sekarang dia lebih santai ketika bermain game. Rupanya, dia sudah memahami fungsi game itu yang sebenanya. Dia sadar bahwa game berfungsi untuk melepas penak dan mendatangkan kesenangan, bukannya menambah penak. Mulai sekarang dia tak begitu khawatir dengan isu penutupan game itu, dia justru mulai berfikir akan ada game lain yang muncul yang mungkin lebih menyenangkan dan seru tentunya.

Cerpen Karangan: Muhammad Arsyad
Facebook: Arsyad Moeslimsejati’s
Nama saya Muhammad Arsyad selain menulis cerpen saya juga suka bermain game. cerita tersebut aku dapatkan akhir-akhir ini dan berharap masyarakat memiliki pandangan tentang game itu sendiri. Terima Kasih sudah membaca, dan jangan lupa tinggalkan jejak.

Cerpen Game Punya Penggila merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Salah Paham

Oleh:
Hari ke dua MOS smp aku datang terlambat tapi untungnya aku tidak dimarahi oleh kakak mosnya. Karena aku tidak tau aku masuk ke kelompok apa aku langsung bergabung dengan

Kenapa Harus Kamu? (Part 1)

Oleh:
Siang itu, kami dari ekskul sekolah, ikut berpartisipasi untuk menyaksikan festival dance tingkat kabupaten yang tengah digelar di gedung kesenian daerah. itu dikarenakan sekolah kami juga mengikuti ajang yang

Terjebak Cinta Yang Salah

Oleh:
Cinta itu kadang seperti coffee yang hangat jika dinikmati, tapi kadang pahit jika terlalu lama dirasakan. Cinta itu tak pernah salah dan tak pernah membuatmu sakit hati, mngkin belum

Pelangi

Oleh:
Di sebuah desa hiduplah seorang anak yang bernama Rayhan, ia hidup sendiri karena orangtuanya telah meninggal ketika Rayhan berusia 13 tahun. Rayhan adalah remaja yang sangat baik hati dan

Jawaban Takdir

Oleh:
Tch! Aku kembali berdecak melihat lokerku Sebuah surat dan mawar putih! Isi surat yang selalu sama hanya ucapan selamat pagi dan kata-kata penyemangat! Ah! Aku mengacak rambutku frustasi! Bergumam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *