Gara Gara Alien

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 14 April 2016

“Bruuugh.” Suara dentuman keras terdengar di pelataran rumahku. Tanpa melirik ke sana ke mari, segera kuambil sandal jepit yang tersandar di belakang pintu.

“Kreeek, teoott.” Pintu ku buka perlahan. Aku mengendap-endap menuju halaman depan yang terhalangi oleh batang pohon nangka besar depan rumahku. “Hmm, mungkin dentuman tadi adalah suara buah nangka matang yang jatuh. Asyiiiik, jadi nih aku buat pudding nangka. Emm yummy..” ucapku dalam hati sembari membayangkan betapa segar dan dengan licinnya pudding itu menelusuri setiap lorong kerongkonganku, dan bleessh masuk lalu dicerna oleh lambungku yang dengan sambutan riang cacing-cacing di perut.

Langkahku semakin dipercepat. Namun tiba-tiba.. syuuurrrh. Angin melambaikan buaiannya dan membuatku bergidik pelan. “Aneh sekali, panas terang begini anginnya jahat. Terasa menusuk tajam menembus tulang-tulangku yang cungkring.” Aku memberengut kesal. Terlebih karena aku hanya mengenakan kaos tipis dan celana boxer bergambar alien yang sudah lusuh karena sering ku kenakan.

Kembali ku berjinjit melangkahkan kaki ke belakang pohon nangka itu. Mencari buah nangka yang ku pikir terjatuh tadi saat dentuman itu terdengar berbisik keras di telingaku. “Deg!” jantungku tiba-tiba terhenyak. Detakannya mulai terasa lebih cepat. Ku lihat semak-semak ilalang bergoyang ria seolah-olah digerakkan oleh pencari jangkrik di sela-sela padang ilalang yang tak terlalu menjulang. Ku dekati semak ilalang yang bergoyang itu, perlahan tapi pasti. Hingga… “Tonoooo.” Tiba-tiba suara wanita dengan sangat lantang dan terkesan sangar memanggil-manggil nama kesayanganku. Aku berbalik, lalu ku langkahkan kakiku dengan sangat cepat. Aku berlari menuju rumahku kembali sambil berteriak membalas panggilan suara wanita bawel namun penyayang itu. “Iya Mak, sebentar.”

Beberapa saat, sampailah aku di depan ibuku yang wajahnya sudah terpasang bersama kerutan di kening dengan bibirnya yang tersungging miring ke bawah. “Huuuuh, ekspresi yang sangat aneh.” Gerutuku dalam hati menilai raut wajah sang ibu. Tiktok, seper sekian detik matanya menelusup dan memandangiku dari kepala hingga kaki. Tatapannya terhenti di kakiku, ibuku terkekeh geli sambil tertawa sangat puas rupanya. “Hahaha, Ton, siang bolong gini kamu ngelindur? Apa mabok cireng Mpok Innah? Pantas saja tiap emak mau pergi kondangan, sepatu hak Emak selalu saja entah di mana keberadaannya.” Sindir ibuku dengan nada ketus dan sedikit menyebalkan.

Aku terkesiap dan langsung melototi kakiku. “Oh My God! Kok? Aku rasa tadi yang aku ambil adalah sandal jepit, kenapa berubah jadi beginian?” aku meringis geli dalam hati, seketika wajahku terasa panas, mungkin wajahku sudah seperti kepiting rebus yang baru diangkat dari panci rebusan. Aku nyengir sambil melepaskan sepatu ibuku itu dan beranjak pergi menuju kamar.

Aku terus merutuki kekonyolanku tadi sembari berjalan menuju kamar yang jaraknya tidak begitu jauh dari pintu depan. “Ah payah, konyol sekali. Pantas saja kakiku terasa janggal tadi saat berlari. Gara-gara dentuman itu nih!” Di tengah perutukanku, sebelum sampai kamar aku kembali teringat dengan suara dentuman itu. Aku masih penasaran dan ingin tahu suara apa itu. Tanpa meneruskan langkahku menuju kamar, ku balikkan badan, kembali ku berlari dan dengan teliti mengambil sandal jepit yang ternyata terhalangi oleh sebuah keresek bekas bungkus gorengan. Langkah tiap langkah ku hentakkan dengan pasti menuju halaman depan dekat padang ilalang.

“Hmm, tak ada apa pun!” desahku lirih setelah sesekali menyibakkan setiap helaian batang ilalang di persemakkan itu. Dengan pikiran dan perasaan yang masih penasaran, kembali ku ulangi pencarian. Terlebih karena aku berharap bahwa dentuman itu memang tercipta karena adanya buah nangka yang telah matang lalu terjatuh. Namun kenyataannya, tidak ada nangka, tidak ada pudding, dan tidak ada apa pun. Hanya hembusan angin yang terasa begitu membelai tajam di kulitku dengan suara jangkrik yang mulai terngiang kriik.. kriik.. kriik. Kecewa rasanya, aku berlalu dari padang ilalang itu dengan langkahan kaki yang melemas. “Mungkin saat ini belum waktunya pudding enak memanjakan lidah dan kerongkonganku.” Keluhku dengan rengutan kecewa.

Malam harinya ku nyalakan komputer yang berada tepat di dalam kamarku. Meski senang memasak, seperti kebanyakan anak laki-laki lainnya dikisaran usia belasan tahun, aku pun menyukai dunia game dan film-film kartun atau film action. Terlebih jika game aku sangat suka sekali permainan zombie, dan film aku sangat suka sekali tayangan film alien seperti Cowboys and Aliens, Skyline, hingga film-film lain yang berhubungan dengan keberadaan alien. Entah itu berbentuk kartun, boneka animasi, atau bentuk manusia sungguhan dengan efek kamera yang memukau.

Aku sering kali berpikir dan berharap bahwa film-film itu adalah nyata. Tapi terkadang aku pun takut jika benar-benar alien datang ke muka bumi dan menguasai dunia. Hingga tanpa sadar, pikiran anehku mulai meracau tak jelas. Terlintas kalimat di perbenakanku yang memecahkan suasana, “Jangan-jangan dentuman tadi siang itu adalah suara pesawat alien yang mencoba menerawang keadaan bumi.” Syuuuur, tiba-tiba angin kembali berhembus dengan kencang seperti halnya siang tadi. Namun terasa lebih dalam menerobos tubuhku yang ‘amat’ atletis ini. Bagaimana tidak, saking atletisnya tulang-tulangku terlihat sangat menonjol.

“Huuuh, mungkin mau hujan kali. Sekarang kan sudah mulai masuk musim penghujan, jadi pantas saja anginnya terasa begitu kencang.” Ucapku menenangkan sambil tetap fokus memainkan komputer yang berada di depan pandanganku. Namun semakin larut, semakin ada yang terasa janggal, tirai gordengku berkibas-kibas tertiup angin yang anehnya mulai tak terasa menembus kulitku. Terdengar suara jendela seperti ada yang mengetuk. Seeerrr, deg.. Bulu kudukku tiba-tiba mendongkak ke luar dari peraduannya. Merinding, namun badanku berpeluh keringat dingin. “Waah, ada yang kurang beres nih!” pekikku dalam hati sambil merasa gugup dan sedikit takut. Dengan keberanian yang seadanya, dengan nyali yang tak begitu membara, ku beranjak menghampiri jendela kamarku. Ku sisihkan gordeng yang menutupinya perlahan. Seeeerrrtt..

“Haoooww..”
“Aaaaaaaa.” Aku terperanjat menjatuhkan diri ke kasur, untung saja jendelaku dekat dengan kasur. Sehingga saat badanku terkulai jatuh, aku tak akan kesakitan. Namun tiba-tiba, angin terasa berhembus lebih kencang memasuki tubuhku, tanpa kejelasan jendelaku langsung terbuka.

Ada sosok aneh dengan balutan pakaian hitam mengkilap seperti terbuat dari trashbag hitam besar. Wajahnya samar-samar tak jelas. Matanya belo, bulat bagai donat dengan warna biru di tengah bola matanya. Kelopak matanya hitam, sehitam arang dan menggelayut seperti orang kekurangan tidur berbulan-bulan. Rambutnya, sungguh sangat acak-acakkan tak beraturan. Kini, dengan diriku yang tak kuasa menatap sosok itu, dengan tanganku yang secara otomatis mengatup menutupi wajahku yang ketakutan itu, sosok aneh tak jelas yang sedang ada di hadapanku, mendekat, badanku semakin menggigil tak karuan. Meriang, antara kedinginan karena hujan yang mulai menyapa, hingga mungkin karena ketakutan yang membuatku seolah-olah khawatir akan dicuci otak oleh sosok aneh itu. Hingga beberapa detik dari itu..

“De, kenapa kamu? Baru jam 09.00 malam kok pintu sudah dikunci? Sepulang dari kondangan, Kakak gak bareng Emak. Ngampus dulu sebentar. Eh malah hujan deras. Terpaksa Kakak pakai jas hujan manual bikinan teman Kakak. Lihat deh! Padahal tadi Kakak sudah dandan cantik, belum sempet selfie, eh malah kena hujan. Akhirnya ya belepotan nih.” Ada sedikit rasa aneh dan lega dengan kalimat-kalimat yang aku dengar. Perlahan aku mulai menjatuhkan tanganku. Mataku terbelalak melihat dengan pasti sosok yang ada di depanku itu. Ku tatap dengan teliti dan pasti. Aku menarik napas dan menghembuskannya.

“Huuuuuh, ternyata Kakak! Buatku kaget saja. Aku pikir alien!” tukasku bernada kesal. Namun rasanya wajahku telah kembali berubah seperti kepiting rebus, karena aku yakin bahwa setelah pengakuan dan ucapanku tadi, kakakku pasti dengan puasnya menertawakan tingkahku yang amat sangat konyol dilanda ketakutan.

Cerpen Karangan: Silvi Novitasari
Blog: silvinovitasari30.blogspot.com
Facebook: https://www.facebook.com/Novitasarisilvi

Cerpen Gara Gara Alien merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Admirer Line

Oleh:
Sudah seminggu berlalu, namun hubungan Alena dan Rasya belum ada perkembangan. Gadis itu memeluk bantal makin erat, mukanya sengaja dibenamkan dalam bantal. Seandainya, Rasya merupakan cowok yang perhatian dan

Berawal dari Sebuah Buku

Oleh:
“saya, muhamad dhyansyah, berjanji tidak akan lupa mengerjakan pr lagi!” teriak seorang laki-laki sma berwajah kuning langsat, beralis tebal, dan bermata besar. Ya, namanya muhamad dhyansyah, teman-temannya sering memanggil

Bentor (Becak Motor) Dan Musik

Oleh:
Hei lari pagi, tua muda semua, lari pagi, yang sangat digemari, hei lari pagi. Aku berlari ke depan rumah masih berbalut selimut tebal, dengan mata sembab aku melihat satu

Naksir Atau Cinta

Oleh:
Masa SMA, mungkin sebagian orang akan menjawab hal itu jika ditanya soal masa yang paling indah. Dimasa ini kamu bebas bergaul dan berteman dengan siapa saja. Indahnya kisah cinta

Senyuman Senja Terakhir

Oleh:
Kucabut satu per satu kesepian di ruang kelas baruku ini. Kutatap tajamnya sinar mentari pagi yang menembus kelambu biru langit di sampingku. Aku duduk di bangku paling belakang. Kesunyian

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *