Good Night, Vino

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 15 October 2015

Mataku terbelalak saat aku sedang membuka kotak pesan masuk dari layar handphone-ku. napasku seakan tercekat dan sulit untuk menghirup napas. Rasanya ingin menarik-narik rambutku sendiri. Aku menggigit bibir bawahku untuk menahan geram karena rasanya aku ingin sekali berteriak sekeras-kerasnya dan meremas bantal guling yang kini ada di pangkuanku.

From: Loka
“Ehh… lo suka ya sama Vino? Hayo ngakuuu”

“Dia tahu dari mana?!” pekikku dalam hati.
Aku tak tahu apa maksud Loka mengirim pesan seperti ini kepadaku. Tapi yang jelas, tamatlah riwayatku sekarang. Pasti aku akan banyak dicemooh dan akan menjadi bahan ejekan oleh teman-teman kalau misalkan hal ini tersebar sampai penjuru sekolah. Aku tak tahu, hal yang selama ini aku simpan rapat-rapat bisa diketahui oleh salah satu temanku yang bawelnya minta ampun. Salah satu biang gosip yang paling aku hindari di sekolah. Dan itu menjadi satu alasan kenapa aku tidak pernah menceritakan tentang hal-hal yang berbau privasi ke temanku yang satu ini. Ya Tuhan, aku sekarang harus berbuat apa?

Aku pun membalas pesan ke Loka dan memberikan seribu alasan agar si biang gosip yang satu ini tidak terus menerus membahas hal ini. Sesaat kemudian, dia membalas pesan yang ku kirim tadi.

From: Loka
“Halahh gak usah banyak alesan, deh. Besok gue ceritain kenapa gue tahu lo suka sama si Vino. Bye!”

Sial! Aku yakin, pasti Loka sekarang lagi kegirangan karena dia punya bahan gosip baru untuk disebarkan ke anak-anak di sekolahan. Dan korban gosip barunya kali ini adalah aku. Selamat datang mimpi buruk. Terima kasih untuk Loka, karena sudah memunculkan hal terburuk yang selama ini tak aku inginkan kehadirannya di hidupku.

“jadi aku harus gimana?!” seruku sembari harap-harap cemas. Berharap aku mendapat pencerahan dari masalah ini. Dan orang yang aku minta tolong untuk kali ini adalah Mama.
Mama cuma geleng-geleng kepala tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
“ma jawab, dong!”
“ya kamunya juga sih kalau suka sama orang kelihatan banget gelagatnya” ucap Mama, “kamu inget-inget coba, siapa aja temen yang kamu curhatin tentang Vino?”

Aku terdiam sebentar sembari mencoba mengingat-ingat siapa saja yang pernah aku curhati tentang Vino. Semoga saja aku tidak salah ingat.
“bisa jadi ada salah satu temen yang gak suka sama kamu, terus ngomong ke si Loka kalau kamu selama ini naksir sama Vino”
“ih enggak mungkin!” seruku menyangkal ucapan Mama, “lagian temen yang aku curhatin tentang Vino semuanya kalem kok, ma”
“kalau mereka kalem, enggak menjamin selalu diam, kan? Bisa jadi di antara mereka ada yang gak suka sama kamu terus ngomong ke si Loka”

Aku mengkerutkan dahi, “masa sih, ma?”
“Sekarang gini ya, dek” seru Mama sambil menatap sendu ke arahku. “Temen-temen kamu pasti cuma senyum aja pas denger kamu cerita ini itu tentang Vino. Ya karena mereka tahu, Vino itu orangnya kayak gimana kalau di sekolahan. Bukannya Mama mau bikin kamu nge-down atau gimana, tapi dari cerita kamu udah ketahuan banget kalau Vino itu orang yang punya nama juga di sekolahan. Ya kamu jangan…”
“jangan terlalu berharap maksudnya, ma? Karena aku anak biasa di sekolahan dan gak seeksis kayak Vino?” potongku.
“Mama tanya sama kamu, emang pernah dia ngomong kalau suka sama kamu?”
Aku menggeleng lemah.

“Dia juga gak pernah kan cerita ke orang-orang kalau dia naksir kamu. Pernah denger gak, kamu? Enggak, kan?” tanya Mama lagi.
Pertanyaan Mama semakin memojokkanku. Kenapa dadaku serasa seperi dihantam palu besi? Sakit sekali.
“Nah, kalau gak pernah, apa yang kamu harapin lagi dari Vino? Kamu mengharapkan cowok yang sama sekali gak punya perasaan ke kamu? kalau misalkan dari dulu dia ada rasa sama kamu, kenapa gak dari dulu aja dia nyatain perasaannya? Hayo, coba kamu pikir lagi”
“bener juga sih, ma…” ucapku dengan suara parau.

Mama menyunggingkan senyumnya ke arahku, “Lagian orang kayak Vino bakal jadi cowok yang pemilih dalam hal apapun, terutama masalah pacar ataupun cewek yang bakal dia taksir. Bukannya kamu gak cantik atau gimana, tapi pasti dia punya kriteria khusus yang orang lain gak akan tahu. Percaya, deh”
“jadi sekarang aku harus gimana?” tanyaku.
“kamu harus bisa terima kalau misalkan Vino gak ada rasa sama kamu, dek”

Aku mencerna kembali setiap ucapan yang Mama katakan kepadaku tadi. Rasanya pikiranku seperti baru terbuka tentang hal ini. Iya, selama ini aku hanya mengharapkan sesuatu yang tak pasti aku dapatkan. Dan mungkin dari segala usaha yang aku lakukan buat bisa mendapatkan hatinya Vino ternyata tidak membuahkan hasil. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk segera berhenti mengharapkan sesuatu yang terlalu jauh untuk digapai.

“tapi yang aku takutin sekarang tentang si Loka, ma. Aku takut kalau gosip yang dia buat akan kesebar kemana-mana. Kalau sampe kesebar kan aku bisa malu banget! Dia kan comel”
Mama menggesek-gesekan telunjuknya ke dagu, seakan sedang berpikir.
“kamu pasti takut diledekin sama diketawain sama temen-temen kan, kalau sampai ketahuan naksir sama cowok eksis kayak Vino?”
“Nah iya Ma bener!” seruku mantap sambil menganggukkan kepala dengan cepat.

“lagian kan aku takut dicap cewek matre sama temen di sekolah, karena naksir cowok kayak Vino yang suka bawa mobil kemana-mana. Aku tahu diri kok sama keadaan aku sama keadaannya dia beda jauh banget. Tapi aku takut dianggap cewek murahan yang naksir cowok karena ngelihat hartanya aja, ma. Aku gak mau dipandang kayak gitu. Malu rasanya”
“Udah, kamu gak usah takut. Nih pelajaran juga buat kamu, dek. Kalau kamu naksir sama cowok, jangan cerita kemana-mana dulu. Simpen dulu aja dalam hati. Contohnya kayak gini nih, kamunya yang panik sendiri kan kalau udah kesebar kemana-mana? Malu sendiri kan?”
“iya sih ma…..” ucapku.

“tapi aku masih gak percaya kalau temen-temen aku yang ngasih tahu ke Loka. Aku tahu kok ma mereka gak sejahat itu”
“Mama sih bukannya berburuk sangka, tapi hal kayak gitu bisa aja terjadi kan? Kita kan gak pernah tahu ada temen kita yang suka ataupun enggak.”
Bener juga sih.
“Bisa aja si Loka tahu kalau kamu suka sama Vino karena enggak sengaja denger obrolan temen-temen kamu pas lagi ngumpul. Salah satu temen kamu ada yang keceplosan, terus kebetulan si Loka denger. Masuk akal, gak?” celoteh Mama panjang lebar.
“Masuk akal. Tapi tetep aja aku masih penasaran. Belum lagi dia bilang katanya mau cerita asal-usul dia dapet kabar kalau aku suka sama Vino dari mana. Huhh ”

Mama cuma terkekeh dan menepuk-nepuk pundakku pelan. “Udah gak usah dipikirin lagi. Sekarang mending kamu tidur, udah malem soalnya. Besok pagi kamu Sekolah, entar kesiangan lagi”
“Iya ma, Lagian aku udah ngantuk juga, mau tidur. Gak kerasa ngomongin si Vino panjang lebar sampe lupa waktu begini” ucapku sembari melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam.
“yaudah, ma, aku tidur duluan, ya”
“jangan lupa gosok gigi, terus langsung tidur”

Aku hanya merespon ucapan Mama dengan anggukan sembari berjalan menuju kamarku dan memutuskan untuk tidur. Selamat malam dunia. Dan selamat malam juga untuk Vino.

Cerpen Karangan: Rahma Elbones
Blog: rahmaelbones.wordpress.wordpress.com

Cerpen Good Night, Vino merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dilema

Oleh:
“Ttit… tit… tit… tit…” suara handphone ku berbunyi. “Hmmm… siapa ya yang ngesms ku, mungkin dari my chiby” kataku dalam hati sambil berjalan ke kamar untuk mengambil handphone. “Desta,

Si Penulis Surat Misterius

Oleh:
“Fiuh, hampir saja kau telat Mel, Lihat tuh jam tangan lu! Pukul berapa sekarang hah?!” Kira menghampiriku. “Aku sih cuek!” Sergahku tanpa beban sambil berlalu menuju ke tempat dudukku

Surat Cinta Untuk Fika

Oleh:
Sewaktu masih duduk di bangku SMP, Rinto adalah anak yang rajin. Datang sekolah tepat waktu, tak pernah bolos dan santun dalam bersikap. Rinto tidak suka pada pelajaran eksakta, karena

IX SMP

Oleh:
Kelas IX adalah dimana saatnya muncul rasa bosan dan malas untuk belajar. Kata malas dan bosan untuk belajar adalah kata yang tepat buat Alex, siswa SMP S. Pembda 2

Cafe 29

Oleh:
Hari ini, aku berpikir tentang kafeku yang akan diresmikan besok tepat tanggal 29 Februari. Tapi, aku takut. Apakah orang-orang terdekatku akan datang ke kafeku? Karena waktu bulan Januari lalu,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Good Night, Vino”

  1. Mutiara Anassyifa Rinanty says:

    Ih… Bagus banggeett 😀 padahal udah buat gw penasaran, eh ujung”nya udah habis :'( tp top deh buat yg nulis (y)

  2. ayu says:

    bikin kelanjutannya dong , ceritanya rupanya si vino juga suka sama dia .. hehehe .. seru nih .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *