Gorengan Nasi Uduk

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 30 March 2018

06.10
Grup LINE SEPSOSA tiba-tiba berbunyi.
Mirza Satrio
“TIDAK ADA KATA GAGAL SELAMA KITA MASIH BERUSAHA UNTUK MENCOBA SUKSES”
“Yee.. si Ijul. Ngirimin kata motivasi mulu..” kata Dela. “Tau noh. Dia sendiri ke motivasi kagak?” kata Bilqis. “Eh Riska mana dah?” tanya Shinta. “Belom datengg..” kata Risma. “Yaahh.. dagangannya gimana?” kata Shinta. “Gorengan yaa?” tanya Alfriza. “Heeh..” kata Shinta. “Nasi uduk ada di gue sama lu kan?” lanjutnya. Alfriza Cuma mengangguk. Intinya pagi itu orang yang paling dicari oleh anak-anak OSIS SEPSOSA adalah Riska.

Bel berbunyi. Satu per satu anak SEPSOSA mulai dateng. Ada yang bergaya sok cool, kecapean abis naik tangga, biasa aja, ekspresi laper, sampai buru-buru pengen nyontek PR. Tapi, akhirnya Riska muncul juga. Dengan 4 buah tentengan di tangannya. Dua di tangan kanan dan 2 di tangan kirinya.

“Ah lu pada gak ada yang bantuin dah..” Riska sewot. “Maap ris maap. Ini semua jumlahnya berapa?” tanya Hamala dengan bijak. “Gak tau ada berapa. Pokoknya dijual satu Rp 3.000,-. Kalo beli 2 Rp 5.000,-“ kata Riska. “Tuhh.. ada yang mau beli gak. Gorengan atau gak nasi uduk?” kata Agnes.
“Eh bu Dame otw..” kata Ijul yang tiba-tiba nongol dengan atributnya yang tidak jelas. “Ya udah jualannya nanti aja pas istirahat.” Kata Hamala.

Pelajaran bu Dame berlangsung dengan sangat hening. Selayaknya mengheningkan cipta. “Kim, ngantuk dah gua..” kata Yono. “Apabae lo tidur mulu.” Kata Hakim. “Ngantuk mau diapain lagi?” kata Yono. “Makanya jangan nonton Bo..” kata Hakim. “Gue udah gak demen BOBOIBOY. Gue lagi demen yang Jepang.” Kata Yono. “Hatchi mulu lu tonton.” Kata Gerri yang nguping pembicaraan pasangan romantis itu. “Naruto si. Hatchi udah gak jaman.” Kata Yono.

“Ehh itu yang bertiga di sana?” teriak bu Dame. “Mampus lu pada.” Kata Andre bahagia. “Itu si ‘Black sweet’ sama Gerri. Satu lagi siapa?” kata bu Dame. “Yono buu..” teriak satu kelas. “Yaa siapalah. Saya liat dari tadi kalian bertiga ngobrol mulu. Itulah yang terjadi kalo iblis…” Celoteh bu Dame. “Aseemm banget dah si Hakim, Yono ama Gerri.” Bisik Indry ke Redhina. “Alah biarin.” Kata Redhina sambil asik main IPAD.

TENONG TENONG
“Jam sudah habis ya? Oke kalo gitu selamat pagi. Jangan lupa tugasnya dikerjakan” kata bu Dame sambil melangkah keluar kelas.

“Haaaasuu… lu pada..” kata Andre kepada tiga temannya. “Apasi lu ndre..” kata Gerri sewot. Sementara itu Andre Cuma senyam senyum doang. “Nyolot dah lu Gerr..” kata Andre. “Apaan nyolot si. Laper gua..” kata Gerri. “Woo.. laper mulu lu Ger.” Kata Andre. Obrolan dua mas-mas itu terdengar oleh Aulia. Dan Aulia pun mencoba menawarkan dagangan. “Gerri laper? Ada nasi uduk nih..” kata Aulia. “Berapaan?” tanya Gerri sambil menahan laper. “Tujuh rebuan doang..” kata Aulia. “Ya udah atu. Mayan.” Kata Gerri sambil mengeluarkan uang 10 ribuan. “Afifatull.. Gerri satu nasi uduk..” teriak Aulia.

“Eh. Gua juga nasi uduk atu.” Kata Steven. “Ama gua juga atu. Ah lu gak bilang dah Jon.” Kata Rayi ganas. “Iye noh. Ama Rayi juga.” Kata Steven. “Gece apa tul..” kata Rayi. “Noh. Mana duitnya?” kata Afifa. “Sehhh.. ni..” kata Gerri. “Berisik anget dah lu Tul.. Tul..” kata Steven. “Gorengannya gak sekalian Ger?” kata Riska sambil nyengir. “Ha. Iya dah. Tempe dah tempe.” kata Gerri nyengir kuda nil.
“Sehh.. Gerri laper..” ledek Anggi. “Apadah lu Nggi..” kata Gerri. “Mending Gerri beli. Daripada lu komen doang.” kata Afifa. “Woo…” kata Gerri bahagia. Sementara si Anggi merasa di ‘skak-mat’.

Setelah Gerri balik ke tempat duduknya, Shinta yang barusan dari ruangan ibu Riama, selaku guru Ekonomi, memberikan sebuah pengumuman yang sangat membahagiakan.
“Woy, bu Riama sama pak Boston lagi mau ke Dinas. Sekarangan ngerjain LKS bab 2-3. Terus sejarah peminatan nanti ngerjain LKS bab 2. DIKUMPULIN.” Kata Shinta.
“HOREEEEEEEE… FREE CLASS 4 JAM..” teriak satu kelas.

“Woy.. Get Rich yokk..” teriak Steven. “Makan dulu makan..” kata Gerri yang asyik menyuapkan sesendok demi sesendok nasi uduk. “Set, Gerri makan enak banget?” kata Eda. “Yee.. TEMAANN makan gak bagi-bagi.” Kata Yono. “Porsi kuli mah susah.” Kata Hakim. “Bilang aja lu pada juga laper.” Kata Gerri. “Tau aja lu Ger.” Kata Frenky. “Beli sono.” Kata Gerri sambil menggigit sepotong tempe. “Masakan mama gue jauh lebih sedap.” Kata Frenky sambil mulai memainkan Get Richnya.
Makin lama, banyak juga yang beli dagangan. Walaupun kebanyakan anak OSIS juga yang beli. Tapi setidaknya hal itu lumayan buat balik modal.

“Ayo Dhik gece apa.” Teriak Rendy begitu bel istirahat berbunyi. “Rendy!! Nitip piscok 2 rebuu..” teriak Risma. “Haa..” kata Rendy pura-pura budek. “Ishh.. Rendy mah..” kata Risma. “Rayi.. Rayi nitip dongg..” kata Indry. Dan negosiasi pun terjadi saat itu.

Begitulah salah satu kebiasaan anak kelas X IIS 1. Karena kelas tersebut berada di lantai 4 sementara kantin ada di lantai 1, otomatis anak-anak cowok menjadi tukang penitipan. Karena anak cewek SEPSOSA emang kejem-kejem banget kalo udah masalah paksa memaksa

“Indry.. woy.” Terik Rayi dengan tangannya yang penuh pesenan Indry.
“Ih.. makasih Rayii..” teriak Dela dan Redhina semangat.

Dan beberapa menit kemudian bel istirahat berakhir berbunyi. Dan sekarang adalah pelajarannya pak Boston, yang artinya free class lagi.
“Eh.. jangan lupa. LKS dikerjain. Dikumpulin..” kata Shinta yang lagi nyantai duduk di meja guru. “Eii… nyontek dong sejarah ama ekonomi yang udah..” teriak Hakim begitu melihat pelajaran sejarah selesai 15 menit lagi.

15 menit terakhir itu memang menjadi waktu yang sangat berharga buat nyontek. Asem memang. Yang ngerjain membutuhkan waktu 2 jam pelajaran. Sedngkan yang nyontek Cuma menit-menit terakhir pelajaran bisa langsung selesai semua. Dunia ini memang tidak adil. Acara contek menyontek itu pun bubar setelah bel berbunyi dan pelajaran selanjutnya adalah Matematika. Pelajaran yang paling tidak disenangi anak-anak cowok SEPSOSA.

“Bu Cecil.. bu Cecil..” kata Bilqis heboh.
Dan tentu saja hal itu membuat anak-anak yang lain jadi panik dan balik ke tempat duduknya.
“Siang semuanya…” kata bu Cecil.
Bu Cecil langsung to the point buat ngejelasin materi matematika. “Sekarang, kita masuk ke bab baru. Yaitu Trigonometri..” kata bu Cecil. Semua anak-anak mendadak hening. Bu Cecil menjelaskan contoh soal dengan sangat serius namun tetap asik. Hingga akhirnya bu Cecil memberikan latihan.

“Nah itu ada 6 soal. Coba kalian kerjakan dulu.” Kata bu Cecil. “Nanti yang maju. No. 1 Bhisma. No. 2 Hakim. No. 3 Frenky. No. 4 Gerri. No. 5 Eka. No. 6 Andreanus.” kata bu Cecil. “Yah bu. Saya ngerti aja enggak.” Kata Yono. “Lha kok jadi saya yang maju bu?” kata Gerri.
“Nah itu. baru disuruh gitu aja, udah pada protes. Ketauan kan dari kemaren-kemaren gak merhatiin. Udah dijelasin sampai berbusa, kalo pada ‘ndablek, ngeyel’ ya susah.” Kata bu Cecil.

Setelah bu Cecil ngomong gitu, semua jadi pada hening. Dan beberapa anak mulai mengerjakan soal matematika itu. Ada yang ragu-ragu, ada yang mulai nyoba nanya-nanya minta diajarin. Ada yang debat. Ada yang serius banget. Tapi itu semua terjadi pada anak ceweknya. Anak cowoknya tinggal mengharap keajaiban. Terutama 6 anak yang disuruh bu Cecil tadi.

“Ayo yang 6 tadi. Udah kelar belum?” tanya bu Cecil. “Almost bu..” kata Frenky yang tiba-tiba pindah duduk di depan, nyoba-nyoba sendiri rupanya. “Frenky gegayaan..” kata Andre. “Berisik lu Ndre.” Kata Frenky. “Masih mending dia usaha. Daripada kamu tinggal nunggu keajaiban.” Kata bu Cecil nyengir. “Aaaaa…” teriak yang cowok-cowok. “Udah bu. Tapi gak tau bener apa salah.” Kata Frenky tanpa mempedulikan teman-temannya. “Yowes. Coba.” Kata bu Cecil sambil memberikan spidolnya. Frenky mulai mengerjakan soal dipapan tulis dengan tingkat kepercayaan diri yang setengahnya dari separo.

Setelah selesai, Frenky Cuma senyam senyum. Lalu bu Cecil mulai mengoreksi pekerjaannya. “Ya. Udah bener ini. Tapi ini masih bisa dikecilin yaa..” kata bu Cecil. “Anjaay..” kata Frenky bahagia. ”Frenky nyontek Nelkaa bu.” Teriak Yono. “Palelu.” Jawab Frenky girang dan diiringi senyum tipis bu Cecil.

“Eh Shinta, gua mau pesen nasi uduk lagi dong. Enak nasi uduknya.” Kata Redhina disela-sela mengerjakan tugas Matematika ketika bu Cecil ke toilet. “Eh tapi Gorengannya juga enak.” Kata Redhina. “Bah. Gorengan apa nasi uduk nih?” Tanya Shinta. “Dua duanya deh Nasi uduknya pakai Telor ya. Hehe..” jawab Redhina. “Eh iya gue pesen lagi dong nasi uduknya.” Sahut Geri dari kejauhan. “Gua juga dah. tambah semurnya ya.” Kata Steven dan Rayi. “Shintaaaa gorengannya banyakin ya. Tempenyaa..” teriak Dela. “Okeoke siapaa lagi nih yang mau mesen?” kata Shinta. “Riska, Anes, Mala, Atul, Aulia, lariss.” kata Shinta bahagia. “Alhamdulilahh..” jawab mereka dari bangku masing-masing.

Cerpen Karangan: Ester Dian Pratiwi

Cerpen Gorengan Nasi Uduk merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rainy Day

Oleh:
Di sinilah aku, di salah satu cafe di Jakarta. Hawa dingin AC membuat tubuhku merinding. Aku merapatkan sweaterku yang berwarna merah muda dengan renda-renda di bawahnya. Sudah dua jam

Rekayasa Cinta

Oleh:
Ini merupakan sebuah kisah pribadiku yang menceritakan pengalaman yang sungguh menyimpan kenangan yang paling indah dalam hidupku. Sepuluh tahun sudah berlalu saat itu aku menginjakkan kakiku di sekolah menengah.

Cinta Masa SMA

Oleh:
Pertama kali Raisa melihat Kevin, disaat itu juga mata Raisa dan Kevin saling bertatapan. Dan tiba-tiba rasa itu muncul di hati Raisa, bisa jadi perasaan itu disebut dengan cinta.

Andai Dulu Rey

Oleh:
“Kamu deket sama dia yah?” “Nggak, kenal aja…” “Tapi kalian smsan kan?” “Iya…” “Sering?” “Gak juga…” “Bohong, mereka smsan tiap waktu kok…” “Waduh bahaya nih, saingan kamu tuh…” Seorang

Loe Itu Pelanginya

Oleh:
Malam sudah larut tapi Clarisa masih disibukkan dengan Cucian piringnya, Walaupun sebenarnya Pembantu di Keluarga Clarisa ada kurang lebih 10 orang tapi dia tetap aja kekeuh buat bisa nyuci

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *