Gothic Idol (Idola Gothik)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 June 2016

“Hey, Rora, kau tahu Metha Tron?”

Aku melirik ke arah temanku yang berada di depanku. Ah, aku terlalu sibuk mengerjakan tugas Sejarah Indonesia hingga melupakannya. Maklum, ini adalah tugas dari guruku yang juga adalah kepala sekolah akademi. Aku menutup buku matematika milikku dan melihat ke arahnya sepenuhnya.

“Oh? Tidak… Memangnya kenapa?” aku bertanya kembali kepadanya.

“Kau tidak tahu?” dia membelalakkan matanya, “dia adalah model dan penyanyi papan atas! Bahkan posisi Gregory bersaudara diambil olehnya!”

Aku menghembuskan napas berat, ini akan menjadi berita yang akan menjadi tren di akademi. Aku yakin para jurnalis dan kupu-kupu sosial sekolah akan menjadikan ini topik pembicaraan yang hangat. Mungkin bertahan dua bulan, atau lebih beberapa hari.

Temanku yang ada di depanku adalah salah satu kupu-kupu sosial yang paling aktif. Namanya adalah Janice. Dia sering dijuluki ‘Koran Berjalan’ karena pasti ada berita yang tidak akan terlewat darinya, baik di dalam dan di luar akademi, apapun deh, asalkan itu penting dan menarik. Aku rasa dia cocok ikut klub fotografi atau jurnalistik. Fotografi karena anggota-anggotanya memiliki sifat yang sama dengan para kupu-kupu sosial, aktif banget sampai pernah bermasalah di akademi.

“Aurora, kau mau tahu lebih tentang Metha tidaaaak? Ini masih fresh from oven, belum kusebar ke klub fotografi dan teman-temanku.”

“Cepetan kasih tahu!”

Janice tersenyum bahagia ketika ia mendengarkan kalimat yang baru kuucapkan. “Jadi ya, Metha Tron, alias ‘Gothic Idol’ itu seperti yang baru kukatakan. Entah darimana asalnya, tiba-tiba dia menjadi artis yang populer di kalangan remaja.” Jelasnya, “rambutnya sih pendek, tapi mata kanannya ditutupi oleh rambutnya, mungkin poninya. Tingginya kurang lebih 174 cm.”

“Setengah wajah pula…” aku menyela perkataannya.

“Wajahnya bisa dibilang ‘cantik alami’. Dia selalu dandan minimalis diatas panggung. Oh, selain itu, dia dijuluki ’Gothic Idol’ karena dia selalu berpakaian serba hitam, dan tertutup. Dia agak risih berpakaian yang terlalu terbuka. Suaranya merdu, kalau di grup vokal bisa masuk soprano, bisa kalahkan suara emasnya Marie.” Tambahnya. Mulutnya sudah berbusa dan suaranya sedikit tercekik karena dia mengatakannya semua tanpa napas, meskipun ada jeda.

Aku menyodorkan botol minumnya, mengetahui dia butuh minum karena berbicara panjang lebar. Tenggorokannya pasti sudah kering kerontang. Hiperbola sedikit deh. Setelah dia minum, dia memutuskan untuk merebahkan kepalanya di atas mejaku. Belum sampai satu menit, dia sudah tertidur. Untungnya sekarang masih jam istirahat.

Aku melihat sekelilingku, mencari teman Janice yang lain. Dia pasti sudah memberitahu berita ini sebelumku. Dia memang sengaja berbohong padaku, supaya aku tertarik. Lupakan, aku menemukan duo kembar Gregory yang ada di dalam kelasku. Callie dan Marie Gregory, dua idola akademi, dan dua siswi terkaya di akademi. Teman dekat, sih.

“Callie, Marie ….” Aku memanggil mereka berdua. Callie, sang kakak, yang pertama kali menyadari aku memanggilnya, baru adiknya. Dia menaikkan kedua alisnya sebagai respon dari panggilanku. Karena di dalam kelasku hanya ada aku, Janice, dan si kembar, aku rasa tidak jadi masalah menanyakan tentang ‘Metha Tron’ ini kepada mereka.

“Kau mendengar pembicaraan kami. Tolong jelaskan lebih lengkapnya padaku.”

“Frontal banget, Ra…” Callie mendengus kesal.

“Sudahlah kak, biar aku aja yang kasih tahu.” Marie tersenyum kecut melihat kakak kembarnya tidak senang, lalu dia melihat ke arahku, “Sepertinya Janice sudah memberitahu semua padamu.”

“Tidak lengkap.” Sahutku pendek.

“Argh! Baiklah, Metha adalah saingan baru kami, oke?” akhirnya Callie angkat bicara, “dia akan muncul di acara besar dua hari lagi. Acara live anniversary ITCR Channel. Dia akan menjadi penyanyi pembuka dan yang utama.”

Aku menganggukkan kepalaku mengerti. Janice mengajakku kesana juga karena waktu itu adalah hari libur, karena semua guru dan senior pergi keluar kota untuk acara perpisahan. Aku juga penasaran dengan dia. Tidak ada salahnya juga untuk bertemu dengannya. Benar, kan?

“Aku akan bertemu dengannya, tentu saja lewat kalian berdua.”

“Heh?” Callie dan Marie menatapku dengan tatapan kosong.

“Kalian mendengarnya, Gregory bersaudara. Aku akan duel dengannya.” Tambahku pede.

“Gila, Ra, setiap artis kamu tantangin.” Komentar Callie malas-malasan. “Tapi artis sehebat dan sepopuler apapun bisa dikalahkan oleh Aurora, lho, kak… Terutama saat duel tari modern diatas panggung.” Marie mengingatkannya.

Aku dapat melihat Callie melihat ke arahku, lalu melemparkan pandangannya ke Marie. “Hm, kau menang.” Katanya, “Kita akan penuhi keinginan Aurora. Tapi kami akan menyusun rencana dulu.”

Aku tersenyum penuh kemenangan. Ini memang kebiasaanku, kalau kalian bertanya padaku. Berkali-kali topik tentang aku menantang para artis di atas panggung besar bermunculan di sosial media manapun. Mau tua, mau muda, pasti aku yang menang, dengan cara bersih tanpa sedikit curang. Ini karena dulu Gregory bersaudara ini pernah memaksaku ikut tampil di konser mereka di atas panggung. Mentang-mentang aku ini mantan idola, dari tiga tahun yang lalu. Jangan bertanya mengapa aku berhenti menjadi idola.

Sepulang dari sekolah, aku dan Gregory bersaudara melewati sebuah gedung studio yang nanti dipakai untuk anniversary nanti. Aku sengaja melewatkan kegiatan klub dance modern ku karena ini. Paling tidak asistenku yang menggantikan posisiku sementara. Tenang saja, aku tidak sering meninggalkan kegiatan klub. Sebagai ketua harus memberi contoh yang baik untuk para anggotanya.

“Kudengar hari ini Metha ada disini karena latihan.” Callie melihat ke arahku, dan membuka pintu depan studio. Kami pergi ke lantai 5, dan berjalan ke ruang ganti Gregory bersaudara. Pintunya sengaja tidak dikunci, dan kami dapat melihat manajer mereka duduk di atas sofa. Manajernya sama-sama perempuan, kalau bertanya.

“Callie, Marie, kalian terlambat lima menit!” seru manajernya marah.

“Macet di jalan, Madelaiiiine!” balas Marie.

Madelaine, manajer mereka, menggelengkan kepalanya. “Sudah deh, daripada teriak-teriak, kalian ada jadwal latihan, bukan? Lagu-lagunya sudah tahu apa saja?” tanya, menyibakkan rambut panjang pirang platinanya ke belakang.

“Err, yah, Marie yang kasih tahu.” Jawab Callie, menunjuk adiknya yang ada di samping kiriku, “daripada bahas itu, tolong bantu aku menyusun rencana untuk hari H nanti. Aurora akan menantang Metha nanti.”

Madelaine melihat kearahku, lalu melemparkan pandangan kepada si kembar. “Aku sudah tahu duluan niatnya Aurora. Kalau Aurora ikut sama kalian sih, pasti alasannya sama saja dan nggak ada bedanya dari dulu.” Ucap Madelaine, lalu dia tertawa kecil. Dia berjalan keluar dari ruangan ganti si kembar dan memintaku untuk mengikutinya. Otomatis aku mengikutinya dari belakang.
Kami pergi ke lantai satu, letak studio untuk anniversary nya. Ruangannya tidak ada bedanya dengan konser-konser di TV umumnya atau di YouTube. Di ruangan ini, penontonnya bisa ditampung sekitar 5000 lebih. Itu yang kudengar dari Marie saat aku pertama kali ke tempat ini.

Panggungnya juga lebih lebih besar dua kali lipat dari sebelumnya, saat terakhir kali aku kesini sekitar setahun yang lalu. Benar-benar perubahan drastis.

“Seharusnya Metha ada disini.” Madelaine melihat ke arahku, “tunggu saja disini. Dia mungkin terjebak macet atau ada sedikit urusan disini.”
Aku menganggukkan kepalaku. Setelah Madelaine keluar dari studio, aku langsung tersenyum kecil. Aku melompat ke atas panggungnya yang cukup tinggi tanpa bantuan tangga kecil. Ketika aku berjalan di atas panggungnya, suara tapak kakiku menggema keras. Hohoho, menarik. Karena hanya aku yang ada disini, aku bisa melakukan apa saja sepuasku, yang penting tidak merusak fasilitas.

Setelah aku melakukan pemanasan gerakan tubuh, akhirnya aku melancarkan aksiku menari di atas panggung. Lagunya dari MP3ku, dan tentu saja aku memakai headset karena aku hanya ingin menikmati lagu kesukaanku sendiri, tidak mau orang lain mendengarkannya. Selera laguku memang payah.

Baru dua menit aku berada diatas panggung, tiba-tiba lantai panggung yang kupijak langsung menyala. Cahaya warna warni keluar dari lantai itu. Aku memekik pelan karena terkejut. Siapa yang menyalakannya, lagipula, cahaya ini terlalu silau. Mataku bisa buta jika terus-menerus melihat cahaya itu.

“Siapa kau?” tiba-tiba ada suara wanita menggema di dalam studio.

Aku mematikan MP3ku dan menyimpan headsetku, melihat sekelilingku. Aku baru sadar ada seorang wanita di depanku. Dia bukanlah Madelaine, tetapi sesuai deskripsi Janice, seharusnya aku kenal dia, meskipun baru tahu tadi siang saat istirahat kedua di akademi. Wanita ini memang berpakaian serba hitam, tapi pakaiannya ketat, postur tubuhnya ala Barbie kelihatan jelas. Mungkin yang mencolok adalah sepatu bootsnya yang berwarna merah muda stabilo.

“Kau pasti Metha Tron.” Aku tersenyum tipis. Manik gradasi hijau tua-hijau mudaku menatap sosok wanita, ah, bukan, ‘Barbie’ didepanku.

Sorot mata wanita muda itu menjadi dingin. “Kenapa kau disini? Cepat keluar dari panggungku, hama!” serunya marah.

“Aku punya nama!” akhirnya akupun jengkel.

“Pasti teman si duo Gregory. Dari seragam akademinya, sudah kelihatan.” Komentar Metha, lalu dia mendekatiku,
“apa maumu disini? Ini panggungku.”

“Kau mengakui ini panggungmu? Mau berapa artis sih yang mau mengklaim ini panggung mereka?” ejekku, lalu tertawa kecil, “ini bukanlah panggungmu. Ini milik Callie dan Marie.”

“Aku merebutnya.” Balasnya singkat.

“Dengan paksa, pasti dengan cara kotor juga.” Tambahku, “kau tahu sebenarnya kau tidak layak mendapatkan panggung ini.”

“Buktikan, kalau begitu.” Tiba-tiba Metha menyerangku dengan cara menendangku dari bawah ke atas. Aku menghindar ke belakang, sayangnya aku tidak dapat membalaskan serangannya. Dia mencoba untuk menendangku dengan cepat, sekali-kali memakai tangannya untuk menyerangku. Kuakui gerakannya sangat cepat. Tidak hanya menyerang biasa, dia juga seperti menari. Menyerangku sambil menari. Itu baru bagiku.

Aku mencoba mencari celah untuk membalas serangannya, tetapi rasanya tidak mungkin. Dia menendangku tepat di perut, mengetahui kalau aku lengah sedikit. Aku terlempar dan jatuh terguling-guling jauh darinya. Oh sial, aku begitu lemah. Dia memang lawan yang tangguh. Aku mencoba untuk berdiri, tiba-tiba saja kakiku terkilir. Hari sial, ya?

“Kau bahkan tidak dapat menandingiku. Bagaimana mungkin kau bisa merebut panggungku.” Metha tersenyum dingin kearahku. Aku mengakui aku menyerah. Menyerah tidak sepenuhnya, yang pasti. Karena masih ada hari H, hari anniversary. Anggap saja untuk pemanasan melawan Metha. Paling tidak, aku mengetahui titik kelemahannya.
Dengan jengkel aku keluar dari studio dengan paksa, kakiku kan masih terkilir. dan menemui Marie.

“Bagaimana?” tanyanya. “Aku mundur sementara waktu. Ini baru pemanasan.” Jawabku, lalu tertawa pelan.

“O-Oh, aku mengerti.” Marie tersenyum tipis, lalu menyerahkanku selembar kertas HVS lusuh. Mungkin baru saja menjadi bola kertas. Kertas itu berisi tulisan-tulisan tangan Callie dan Marie. Itu adalah rencana yang Gregory bersaudara buat untuk lusa. “Kalau kau tidak mengerti, aku yang jelaskan. Madelaine akan membantu kita.” Ucap Marie.

Aku membaca isi kertas itu. Ide mereka boleh juga, bahkan bagus. Asalkan tidak mencelakakan siapapun, aku tidak akan keberatan dengan rencana ini. Aku berharap rencana ini berjalan dengan lancar.

Di hari H, aku sengaja datang terlambat ke gedung studio. Aku sudah memberitahu rencana kami kepada Janice, dan dia mengerti. Dia tiba di studio lebih awal bersama Gregory bersaudara. Perjalanan dari akademi ke studio memang jauh, jadi ini sedikit membantuku. Apalagi aku terjebak macet di jalan, lengkap deh. Aku menumpang di mobil Maria, salah satu teman sekelasku dan saudara sepupu Gregory bersaudara.

Setiba di depan gedung studio, aku berlari masuk ke dalam gedung dan ruang ganti Gregory bersaudara. Aku dapat menemukan Janice yang menungguku, Callie dan Marie yang sudah memakai pakaian mereka untuk konser nanti, dan Madelaine yang sibuk berkutat dengan laptopnya. Aku menaruh tasku di samping meja rias dan mengambil pakaian gantiku. Pakaianku hanya beda warna dengan Callie dan Marie, tetapi modelnya sama. Hiasan kepalanya juga sama, begitu juga dengan sepatu dan aksesoris lain.

“Sebentar lagi giliran kalian bertiga. Callie dan Marie muncul pertama dahulu, baru kau.” Madelaine menjelaskan ulang rencana kami. Kami yang mendengarnya mengangguk-angguk mengerti. Kami perlu persiapan tambahan.

Setelah Madelaine menjelaskan semua, Callie dan Marie keluar dari ruang ganti, disusul olehku dan Janice. Kami berempat pergi ke belakang panggung, dan aku mengintip sedikit keadaan diluar. Penontonnya memang banyak, mungkin 5000 lebih daripada yang bisa ditampung. Aku dapat melihat Metha berada di atas panggung layaknya penyanyi senior. Pakaiannya sama seperti dua hari yang lalu.
Akhirnya giliran Callie dan Marie untuk berdiri di atas panggung, di dekat Metha. Callie yang memegang mic langsung berbicara tanpa aba-aba. Mungkin ini sedikit… aneh.

“Kami, Callie Gregory dan adikku, Marie Gregory, tidak akan tampil di atas panggung ini.” Kata Callie, dengan senyuman yang ceria, “Tetapi seorang penantang yang akan tampil disini, mantan idola yang pernah melawan Metha Tron!”

Tentu saja para penonton konser terkejut, baik di studio maupun permisa dirumah. Perkataan Callie membuat mereka semakin heboh, dan itu membuatku sedikit gugup. Aku berlari keluar dari belakang panggung dan berhadapan dengan Metha. Tentu saja dia mendengus kesal. Setelah beberapa detik aku berhadapan dengan Metha, Gregory bersaudara kembali kebelakang panggung.

“Kau lagi, kau lagi…” komentar Metha kesal.

“Oh tenanglah, dua hari yang lalu barulah pemanasan.” Kataku enteng,

“Kau kira aku akan menyerah begitu saja?”

“Pantas si kembar tidak akan tampil disini. Siap-siap saja.” Tiba-tiba saja dia menyerangku lagi, sama seperti waktu itu. Tentu saja aku sudah siap, dengan mudah aku menghindari semua serangannya. Bisa dibilang, serangannya lebih cepat daripada lusa lalu, yang penting titik kelemahan dan sedikit celah. Itu saja yang kubutuhkan. Aku merasa heran mengapa dia bisa menari sambil menyerangku tanpa alat apapun.

Ini adalah salah satu ide Marie, yaitu menghindar sambil berpose. Aku dapat melakukannya, dan tepat waktu. Metha langsung berhenti menyerangku dan melihat ke arahku, terkejut. Ternyata dia mudah teralihkan. Dia menjadi lengah, dan dalam waktu itu aku langsung menendang tepat di pangkal pahanya. Tentu saja Metha langsung ambruk karena pincang.

“Curang!” seru Metha.

“Kau yang memulai. Jika tidak aku tidak melakukannya.” Komentarku.

“Uhhh..” Metha langsung bungkam.

“Aku dengar kau juga pernah membuat Callie dan Marie masuk rumah sakit saat kalian duel menyanyi di acara talenta channel Lanox.” Tambahku, “dan kau juga menyebarkan fitnah tentang mereka. Aku kenal siapa mereka, dan tindakan mereka tidak seperti yang publik tahu.”
Kurasa cukup untuk membuka semua rahasianya. Sekarang semua rahasia Metha terbongkar. Ini karena Janice juga mengumpulkan semua bukti di sosial media nya, bersembunyipun tetap ketahuan. Siapa tahu kalau kupu-kupu sosial ini ternyata adalah hacker terkenal di akademiku?

Sejak Metha kupermalukan di depan publik, dia jadi tidak terlihat lagi di layar kaca maupun semua sosial media. Janice juga mengatakan bahwa dia tidak aktif lagi. Kurasa dia benar-benar malu, tetapi tidak mau mengakuinya. Callie dan Marie merebut kembali posisi mereka, dan meminta agar namaku tidak tercantum di berita manapun. Untungnya tidak ada.

“Menurutmu, kemana Metha?” Tanya Janice padaku saat kami berdua berjalan di koridor akademi.
“Menurutmu?” tanyaku kembali.

-END-

Cerpen Karangan: Nikita Ilona Putri Matakupan
Blog: www.nikitamatakupan.com
Terima kasih sudah mau membaca cerpen saya yang garing. Saran dan kritik diterima, asalkan jangan terlalu pedas. Silahkan berkunjung ke website saya.

Cerpen Gothic Idol (Idola Gothik) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Our Friendship (Part 4)

Oleh:
Pulang sekolah pun tiba. Diva, Alvin, Rieta dan Rey berjalan berbarengan menuju parkiran. “Oh ya, guys.. I have a good idea, nih.. Gimana kalau hari ini kita pulang barengan

Someone in September Rain

Oleh:
“Ha? Kamu diajak kenalan sama dia Cel?” Hahah!!” tawa Jesslyn mengejek. “Ih kamu ngejek deh. Aku serius. Dia belakangan ini sering ngechat aku tau! Ini semua berawal ketika aku

The Story of JHS

Oleh:
Di rumah Sang fajar sudah menampakan cahayanya. Jam weker pun berbunyi dengan kerasnya di kamar gadis tomboy itu. Krrriiinnggg. Membuat Dinta kaget dan langsung terbangun dari tidurnya. Setelah mematikan

Dermawan Itu Untuk Siapa Saja

Oleh:
Lagi-lagi pengamen itu menyanyikan lagu yang bercerita tentang pentingnya berbagi. Hari ini juga Mira seperti biasanya memberi uang receh kepada pengamen itu. Selesai bernyanyi pengamen itu lama sekali duduk

Pedihnya Cinta (Part 1)

Oleh:
“Bukan pertemuan yang aku sesali” Aku rasa itu kalimat yang cocok buat menggambarkan diriku. Aku nggak tahu entah dia menyukaiku atau tidak, sama sekali aku nggak tahu! Tapi yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *