Hansip Dibawah Umur

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 23 September 2018

Aku terlahir dari keluarga sederhana. Namun aku selalu menikmati setiap hal ketika berkumpul dengan keluarga walaupun sifatnya sangat sederhana, makan makanan sederhana misalnya, namun aku sangat bersyukur karena keluargaku masih utuh.

Selepas ayahku menganggur, kondisi ekonomi keluargaku menurun, dan selagi hal itu berlangsung lama. Aku sendiri merasa resah, di satu sisi aku juga harus membayar uang spp sekolahku dan waktu itu aku kelas 1 SMA.

Aku berpikir, bahwa tidak ada gunanya aku sekolah jika aku berdiam diri meratapi nasib perekonomian keluargaku yang kini tengah diambang kemiskinan.

Di sela sela liburan semester 1 aku menginap di rumah Budeku, dan di kota yang sama namun agak jauh dari rumah orangtuaku.
Ya mungkin aku ingin cari suasana yang baru aja, lagian aku sudah lama nggak ke rumah Bude, terakhir kali aku ke sana waktu kelas 5 SD.
Budeku tinggal di sebuah kompleks yang lumayan luas, kenyamanan diutamakan untuk liburanku kali ini di rumah Bude.

Matahari pun mulai nampak dan menyapaku untuk mengajakku beraktivitas, dan aku manfaatkan untuk jogging pagi selagi udara masih segar, karena aku sendiri selalu jaga kesehatan dengan rutin olahraga pagi.

Sepasang sepatu sudah menghiasai kedua telapak kakiku, tali sepatu yang terlilit membentuk simpul nan indah dan siap untuk kutanjakkan ke jalan sekitar komplek yang berlapis paving.

Langkah demi langkah aku tanjakkan dengan kecepatan yang sama. Tetes air pun sudah membasahi tubuhku padahal pagi hari ini tidak turun hujan sedikitpun, melainkan keringat yang keluar dari kulit kulitku.

Sudah 30 menit aku jogging, nafasku pun tersengal sengal layaknya banteng spanyol yang mengamuk.
Aku istirahat sejenak, karena aku sudah cukup letih.

Kedua kaki yang kuselonjorkan dengan tujuan melemaskan otot otot kakiku supaya tidak terkena varises. Sambil pandanganku melihat ke kanan dan ke kiri, kemudian aku melihat seorang cewek, cewek itu berpakaian hijau, bercelana hijau, bersepatu hitam, bertopi hijau dan membawa satu tongkat hitam menempel di samping pinggulnya layaknya seorang hansip.

“Apa ada acara karnaval hari ini?” batinku

Cewek bertongkat itu berjalan ke arahku, kuperhatikan langkah demi langkahnya, dengan berjalan tegap layaknya seorang prajurit tentara yang naik pangkat.

Aku pikir dia akan menghampiriku, namun apa yang aku pikirkan salah, bahkan dia seakan tidak menganggap keberadaanku ketika dia berjalan ke arahku tadi.

Aku merasa kesal, seakan akan dia tidak punya sopan santun sama sekali, menyapa atau menoleh ke arahku pun tidak ia lakukan.
Kesalnya diriku akhirnya aku berniat memanggilnya dengan suara lantang, seperti Serizawa yang menantang Takiya Genji di Film Crows Zero.

“Hey cewek hulk” teriakku

Namun dia tidak merespon.

“Apa mungkin dia tidak mendengarkanku, tapi kan suaraku sudah cukup keras, apa aku salah memanggilnya, kan bener juga toh dia pakai pakaian serba hijau seperti hulk” batinku.

Akhirnya aku berniat mengejarnya untuk menghampiri cewek bertongkat itu.

“Eh cewek hulk” ujarku
“Kamu bicara padaku?” tanyanya
“Iyalah, siapa lagi coba, loe nggak ada sopan santunnya yah.. Tadi gue ada di sana dan loe nggak negur atau menoleh ke gue sekalipun, langsung nyelonong gitu aja” ucapku.

Dengan membuka topinya sambil menggelengkan kepalanya, membuat rambutnya berkibar seperti kibaran bendera merah putih di tiang upacara bendera.

“Cewek ini cantik juga” batinku.
“Emang hari ini ada acara karnaval dimana?” tanyaku.
“Tidak ada” jawabnya singkat.
“Terus kenapa kamu pake baju hansip gitu?” tanyaku
“Kamu baru ke kompeks ini ya, mangkanya kok heran gitu melihatku” jawabnya
“Iya sih, ini baru 2 kalinya aku kesini, pertama kalinya aku ke sini waktu kelas 5 SD, itu juga belum ada kamu di sini” ucapku.

Perlahan rasa kesalku padanya mulai hilang, mungkin sebab dia cantik.. Hehe

“Oh iya.. Kenalin nama aku Dinda” sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan denganku
“Oh Dinda ya, Nama aku Roy”
“Aku salah satu dari 2 hansip yang ada di sini”
“Kamu hansip di sini, apa kamu masih sekolah dan kenapa kamu mau jadi hansip?” tanyaku.
“Aku masih sekolah, aku jadi hansip untuk bantu ekonomi keluargaku khususnya untuk kebutuhan sekolahku”

Sambil duduk di sebuah kursi panjang berjarak 60 cm.
“Tapi apa boleh kamu jadi hansip sedangkan kamu belum cukup umur terlebih lagi kamu cewek?” tanyaku
“Seseorang yang mau bekerja tidak bisa disangkut pautkan dengan identitasnya, jika orang itu mampu dan konsisten dengan pekerjaannya kenapa enggak” jawabnya
“Emang kamu mampu ngelakuin apa sehingga kamu bisa jadi hansip?” tanyaku
“Aku pintar silat sedikit sih, pernah belajar dari ayah dulu” jawabnya lirih
“Tapi apakah kamu juga punya kesempatan untuk belajar buat sekolah kamu di sini?” tanyaku lagi
“Iya ada sih di saat aku tidak tugas keliling komplek, aku di sini juga belajar mandiri, aku juga tau rasanya cari uang sendiri, dan aku bersyukur ini adalah pengalaman paling berharga karena sebelum aku lulus sekolah pun aku tau rasanya bekerja” ujarnya
“Terus, apa kata orangtua kamu jika kamu bekerja seperti ini ?”
“Pekerjaan ini halal kan, tidak susah buat orangtuaku bangga dan mengijinkan padaku, karena aku sudah mampu berpikir dewasa dengan membantu meringankan ekonomi keluarga”

“Namun pertama kali gimana ceritanya sih kamu kok bisa jadi hansip?” tanyaku
“Ya awalnya aku nggak pernah berpikir kalo aku bisa jadi hansip, pikirku aku akan bekerja jadi karyawati di toko” kayak gitu, namun suatu saat aku lagi nyobak nyari nyari kerja, aku melihat seorang cewek dan cewek itu diganggu oleh 2 orang cowok, aku yang geram langsung aja nolongin cewek itu” jawabnya
“Wiih, kamu pasti menghajar cowok cowok itu ya?”
“Nggak lah, aku hanya teriak “Polisi”, akhirnya 2 cowok itu kabur, hehe”
“Terus apa ceritanya kamu jadi hansip dengan nolongin cewek itu?”
“Setelah itu, cewek yang habis di gangguin tadi menghampiriku dan berterima kasih padaku, cewek itu pakaiannya bagus dan pikirku dia anak orang kaya jadi aku terus terang aja kalo aku lagi mencari kerja, langsung ditawarinnya kerja jadi hansip di sini, karena ayahnya adalah orang yang mengatur kondisi komplek di sini, lagian disini juga butuh lebih banyak hansip” terangnya.
“Beruntung banget ya kamu” ucapku
“Ya alhamdulillah dah hehe” jawabnya

“Oh iya, kalau kamu gimana sekolahnya?” tanyanya
“Sekolah sih lancar lancar aja, cuman bayar sekolahnya yang nggak lancar” jawabku
“Kok gitu?”
“Iya, karena ayahku baru saja di pecat dari perusahan tempat ayahku bekerja, jadi sekarang ayahku menganggur sebabnya perekonomian keluargaku menurun, adekku juga tidak mau ditinggal ibuku kerja” ujarku.
“Oh, kalau gitu kamu kerja disini aja jadi hansip kayak aku, lagian disini maih butuh beberapa tenaga untuk jadi hansip, kamu juga punya saudara kan di komplek ini, ya sementara kamu tinggal di sini aja sama saudara kamu sampai perekonomian keluargamu membaik” ucap dinda
“Wah, boleh banget tuh, aku juga mau, apalagi ada hansip cewek cantik di sini hehe, tapi aku harus izin Bude sama orangtuaku untuk tinggal dan kerja di sini” ucapku
“Yang penting kamu niat dan konsisten kalau mau kerja jadi hansip disini, ntar aku yang bilang ke orang yang dulu nerima aku kerja” jawab dinda.

Setelah itu aku kembali ke rumah Bude untuk minta persetujuannya.

“Bude.. Aku mau kerja”
“Kerja.. Kerja apa, di mana.. Trus gimana sekolahmu?” tanya bude
“Iya aku sekolah sambil kerja bude, aku mau kerja di sini jadi hansip” ucapku
“Roy.. Bude mengerti keadaanmu dan orangtuamu sekarang, Bude mau bantu tapi juga bingung mau bantu gimana, keadaan Bude sekarang aja juga pas pasan” kata Bude
“Bude, kalau boleh, aku tinggal di sini ya?” ucapku
“Boleh Roy, tapi kamu harus izin ayah sama ibumu dulu kalau mau tinggal di sini” ucap bude
“Iya bude aku tau kok, abis ini aku pulang ke rumah dulu, ambil barang barangku sama izin ayah ibu juga” jawabku

Setelah itu aku pulang ke Rumah dan meminta izin orang tuaku untuk tinggal di rumah Bude dan sekalian bilang kalau aku mau kerja.
Orangtuaku tidak melarangku untuk mandiri dan bekerja, oleh karena itu aku di izinkan bekerja, asal aku harus rajin sekolah juga.

Setelah selesai dengan barang barangku, aku kembali untuk ke rumah Bude.
Dan setiba di rumah Bude..
“Roy.. Tadi Dinda ke sini, katanya ada yang mau dibicarain sama kamu” ujar bude
“Iya kah Bude? Trus Dindanya ke mana?” tanyaku
“Iya.. Bude bilang kalau kamu masih ambil barang barangmu untuk pindah ke sini, trus Dinda bilang kalau dia ngomong kalau pas kamu dateng, dan sekarang kamu udah dateng kan, samperin tuh Dinda, dia lagi ada di Pos Hansip” ujar bude
“Iya udah bude, aku mau rapi in barang barangku dulu habis itu aku temui Dinda” jawabku

Kemudian aku ke Pos Hansip untuk menemui Dinda, di situ ada 3 orang, yang satu Dinda, satunya lagi juga Hansip cowok lebih tua dari aku, yang satunya lagi orang berdasi yang kelihatan modis dengan pakaiannya.

“Roy sini” Dinda berteriak memanggilku
“Iya Dinda, ada apa kamu mencariku tadi?” tanyaku
“Iya tadi aku mencari ke rumah Bude kamu, dikasih tau sama orang berdasi yang itu tuh” sambil nunjukin tangannya ke orang berpakaian modis itu
“Emang ada apa, dan siapa orang berdasi itu Din?” tanyaku
“Dia yang nerima aku kerja jadi hansip disini, aku udah njelasin kalo kamu butuh kerja dan nasib kamu sama sepertiku” ucap Dinda
“Terus apa yang bisa aku lakuin Din?” tanyaku
“Kok pake nanya sih, ya kamu samperin dan bicara sama Pak Ahmad itu (orang berdasi itu)” ujar dinda
“Oh namanya Pak Ahmad, yaudah aku samperin dia dulu ya Din” jawabku
“Iya, nggak usah takut ntar kamu ngompol lagi hehehe” jawab dinda (sambil ketawa)
“Yee.. Kamu kira aku anak kecil apa” ujarku

Kemudian aku menemui Pak Ahmad..
“Assalamuallaikum Pak”
“Waalaikumsallam, kamu ya yang namanya Roy, Dinda sudah menceritakan semuanya tentang kamu, dan saya tau, kalau kamu butuh pekerjaan untuk membantu keluarga kamu, dan saya respect dengan anak sekolah yang berpikir untuk bisa membantu orang tuanya, ya udah mulai besok kamu bisa bertugas jadi hansip di sini” ucap Pak Ahmad
“Itu artinya saya diterima pak?” Ujarku
“Iya, kamu saya terima bekerja di sini” jawab pak Ahmad
“Alhamdulillah terima kasih pak, saya senang sekali” ucapku

Kemudian aku memanggil Dinda yang berdiri melihatku dengan Pak Ahmad dari jauh.
“Dinda..” Teriakku
“Iya Roy” jawab dinda
“Dinda.. Berkat kamu aku diterima kerja, jadi sekarang aku tidak pusing buat bayar sekolahku deh”
“Iya, aku turut seneng dengarnya Roy” jawab Dinda
“Eh, ini pengalaman aku kerja yang pertama kali loh, rasanya seneng banget seperti aku membawa Timnas sepak bola Indonesia juara piala dunia” ucapku
“Lebay deh, jangan lupa bersyukur sama Allah Roy” ucap Dinda

Kemudian Pak Ahmad mengatakan
“Saya suka semangat kalian, kalian juga harus jaga kepercayaan saya ya” ucap pak Ahmad
“Siap Pak” jawabku dan Dinda serentak
“Maka dari itu, kalian dikenal dengan “Hansip Dibawah Umur” di sini, karena kalian sama sama masih dibawah umur (sambil tersenyum)” ujar Pak Ahmad

Selepas itu saya berpikir bahwa perkataan Dinda cewek yang pernah bikin aku merasa kesal itu memang benar, bahwa untuk bisa bekerja tidak tergantung umur seseorang, melainkan niat dan kemampuan seseorang akan tekadnya untuk bekerja.

Cerpen Karangan: Roy Widya
Blog / Facebook: Roy Widya
Mengutarakan perasaan dengan tulisan adalah gaya saya
Semoga ini bisa menjadi lebih baik untuk masa depan saya.

Cerpen Hansip Dibawah Umur merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Steps to Get Your Heart (Part 2)

Oleh:
“Nah, semuanya sudah lengkap kan? Oke kalau begitu kita bisa memulai kerja kelompoknya!” Ucap Soni. Sekarang mereka sedang mengerjakan tugas kelompok di rumah Haris. “Terus kepercayaan masyarakat macam apa

Cowok Cupu Cintaku

Oleh:
“Drrt… Drrt… Drrt.” Hpku bergetar dan ternyata 1 pesan diterima. “Aduh siapa sih pagi-pagi udah sms? Gak ada kerjaan lain apa?” omelku sambil buka hp. “Oh si Ryan. Pantesan.

Ikhlas

Oleh:
Liburan. Banyak anak yang menantikan liburan akhir semester termasuk teman-temanku. Tapi bukan aku. Aku bukan orang yang suka menunggu liburan tiba. Aku lebih suka menunggu kapan aku bisa bersama

Wanted: A Boy Friend

Oleh:
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.00, terlihat dari kejauhan Pak Jajang, satpam SMK Sakti Kencana mulai menutup pintu gerbang sekolah. Semakin cepat kukayuh sepeda lipat yang baru dibelikan ayahku

Tentang Aku dan Senpai

Oleh:
Minggu, 25 Agustus 2013 “iya aku berangkat, tunggu sebentar” Hari ini aku tidak mengikuti acara di sekolah karena jarak rumahku dengan sekolah sangat jauh. Tetapi aku masih mengikuti acara

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *