Hanya Mengikuti Alur

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 August 2019

Apa sekolah itu benar-benar menyenangkan?

Pada saat ini, aku sudah kelas XII SMK, dan kehidupanku dirasa membosankan. Setiap harinya hanya di rumah dan di sekolah. Orang-orang akan bilang kalau aku ini adalah seorang yang pemalu, dan untukku, aku memang mengakui hal itu. Tapi jauh di lubuk hatiku, aku ini adalah sosok yang banyak bicara. Hanya, aku gak bisa bicara normal pada orang yang belum aku percaya. Dan aku hanya enggan berbicara kalau gak ada untungnya buatku.

Hari ini adalah hari kamis, dan sekolah kami selalu mengadakan pemilihan ketua bergilir untuk perwakilan masyarakat di akhir bulannya, itu berarti saat ini sudah termasuk akhir bulan. “Semoga saja bukan aku yang terpilih” gumamku dalam hati. Tapi tentu saja takkan aku yang terpilih kan? Soalnya aku adalah orang yang auranya tersembunyi. Bahkan hampir takan ada orang yang menyadari keberadaanku.

Dan saat perwakilan OSIS memasuki kelas kami, benar saja.. bukan aku yang terpilih. Tapi dia, merupakan seorang bendahara di kelas kami. Dia sosok yang berwibawa dan tegas. Seorang wanita cantik dengan kulit putih dan rambut panjang yang nampak seperti berlian pekat. Dia termasuk salah satu wanita populer di kelasku. Tak salah bila dia tertunjuk sebagai ketua perwakilan kelas bulan ini, tapi sebenarnya.. ini adalah kali ke empat bagi dia. Jadi munkin ini adalah hal biasa buatnya.

Saat sepulang sekolah, tanpa alasan yang pasti, aku memikirkan sesuatu yang biasanya tak aku pikirkan. “kenapa tadi aku berpikir kalau aku ga mau jadi ketua perwakilan ya? Padahal sudah jelas aku takkan mungkin jadi ketua perwakilan kan!” gumamku dengan kesal. Ini adalah salah satu pemikiran yang paling aku benci. Konflik dalam diri sendiri dengan waktu sebagai bayaran. Hal ini hanya akan membuang waktuku yang berharga.

Saat keluar dari gerbang, tiba-tiba seseorang memanggil namaku dari belakang “hey.. Raka… tunggu… Raka..” saat aku melihat ke belakang, aku melihat seorang gadis sedang berlari ke arahku dengan nafas terengah-engah. Seorang gadis dengan rambut panjang dan kulit putih bagaikan salju dari Eropa. Tapi dia bukanlah siswi dari kelasku. Aku tau siapa dia.. dia adalah murid kelas XI. Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali di kantin. Sejujurnya aku tidak terlalu suka dengan suasana setiap kali kita bertemu dengannya. Tapi walaupun aku tau siapa dia, tapi aku gak tau siapa namanya.

Tidak lama, diapun berdiri di hadapanku “aku mencarimu kemana-mana.. ternyata kamu sudah keluar.. untunglah belum jauh” sapanya dengan wajah kelelahan dan nafas terengah-engah
“Bagaimana mungkin berlari di dalam sekolah bisa sampai membuatmu kelelahan??” tanyaku dengan nada pelan
“tentu saja!! Aku sudah mencarimu kemana-mana, tapi setiap kali aku menanyakan kepada orang. Mereka malah tanya balik padaku. ‘Raka? Siapa dia? Aku gak kenal dengan orang yang namanya Raka..’ itu membuatku malu tau!!” ujarnya dengan ekspresi kesal..
“Aah.. tentu saja.. kemungkinan hanya kelas aku saja yang mengenali siapa aku.. itu juga mungkin. Tapi tunggu.. kamu kenal aku?? Dari mana?” tanyaku sedikit kaget.
“Ahh.. itu.. aku liat absen kelasmu dan menanyakannya pada guru.. tapi ya.. lagi-lagi hanya beberapa guru saja yang mengenalmu.. sebenarnya ada apa sih dengan kamu dan sekolah ini? Rasanya kamu ini seperti murid yang gak pernah ada deh..”
“maksudmu ‘another!!’ Heheh.. sudahlah jangan bahas itu yah.. rasanya menyakitkan jika membicarakan tentangku!!”
“E’.. tentangmu? Suramnya..!! hahahh.. ternyata kamu ini banyak bicara juga ya. Kelihatannya kamu juga mudah akrab dengan orang” sindirnya padaku.
Aku terdiam sejenak.

Selagi berjalan bersama, dia mengajaku bicara lagi “anu.. aku butuh bantuanmu.” Katanya dengan ekspresi yang dipaksakan. Aku bingung dengan perkataan dan ekspresinya. Rasanya dia sedang menyembunyikan sesuatu. Lagian kenapa juga harus aku, bahkan aku bukanlah orang yang bisa diharapkan.
“Kenapa? Memangnya apa yang bia aku bantu? Ditambah lagi kenapa kamu meminta aku? Padahal ya.. sepertinya ini pembicaraan pertama kita!” kataku membuat-buat alasan untuk basa-basi..
“Salah.. ini kedua kalinya loh.. kita pernah bicara satu kali saat kita di angkot waktu itu. Aku minta bantuanmu karena aku merasa hanya kamu yang bisa aku andalkan, ditambah lagi, aku ingin lebih dekat lagi denganmu..”
Sesaat wajahku tersipu malu hingga salah tingkah “Heeh? Kamu waras kah?? Itu adalah kalimat yang manis tau.. hal itu bisa membuatku terkena penyakit diabetes!! Sebaiknya kamu hentikan itu.. kita ini baru saja saling kenal!” sesaat detak jantungku meningkat diiringi dengan tingkahku yang gak bisa dikendalikan. Namun aku bukanlah orang yang bodoh dan bisa tertipu suasana, aku hanya masuk dalam serangan sesaat. itu memang hanya sesaat..
“Tapi kalau soal bantuan.. bila hal itu mudah dan aku ada waktu luang, mungkin aku bisa membantumu..” jawabku atas permintaannya. Saat aku mengatakannya, dia terlihat senang. Dan dia langsung memberikan nomor ponselnya padaku “nih.. dan aku juga butuh nomor ponselmu.. jadi kita lakukan pertukaran sekarang…”
“Tunggu-tunggu!!! Kenapa secepat ini.. aku memang setuju untuk membantumu tapi kan aku belum tau apa yang bisa aku bantu, ditambah lagi aku masih harus memikirkan apa aku akan menyetujui permintaanmu..” sejenak aku berpikir bahwa wanita ini terang-terangan dan terlalu polos.. tapi rasanya wanita seperti itu gak mungkin ada lagi.. dan kalaupun ada. Dia pasti adalah orang yang akan aku benci!!

Setelah aku menolak untuk memberikan nomor ponselku, dia terlihat sedikit heran. Padalah sudah jelas-jelas aku memperlihatkan aura penolakan, tapi dia malah berkata “kenapa? Padalah aku pikir kau 100% akan membantuku. Tadi kau bilang kau akan membantuku kalau kau ada waktu luang kan? Setahuku kau itu pengangguran dan gak punya kegiatan apapun..” dia mengatakannya dengan ekspresi datar seakan hal itu bukan hal yang penting.
Mendengar perkataanya itu, benar-benar membuatku malu.. bagaimana mungkin dia tau kalau aku gak punya kegiatan apapun. Itu membuatku terlihat sebagai seorang pemalas “Haah… dasar bohoh.. kenapa kamu tau tentang diriku begitu banyak dan mengucapkannya tanpa memikirkan perasaan orang lain… tapi sudahlah.. lagipula saat ini memang akulah yang salah” dengan eksresi penuh dengan kepasrahan, akupun menuliskan nomor ponselku dan memberikan kepadanya.

“tapi dengarkan ini dan ingat baik-baik. Aku ga selalu memakai nomor yang sama. Jadi aku akan berikan alamat emailku. Ini adalah akun permanen dan gak akan aku hapus, karena di dalamnya ada banyak data yang penting. Terimalah” kataku padanya sambil memberikan alamat emailku. Pemberian alamat email itu adalah hal yang berharga buatku. Karena gak semua orang melakukannya dan cenderung orang-orang penting saja yang melakukan hal ini. Namu sampai saat ini, belum pernah ada orang yang tau akan maksug dibalik semua ini, dan mereka cenderung membuangnya karena dianggap terlalu merepotkan. Apakah dia akan sama seperti para sampah berkamuflase itu? Bagiku ini adalah bentuk kesungguh-sungguhan dan penerimaan atas adanya diriku! Yang berbeda dari yang lain.
“terima kasih.. kamu bahkan sampai memberikan kepercayaan sebesar ini.. akan aku terima dan akan aku simpan baik-baik.. email adalah sesuatu yang resmi dan privat.. pasti akan aku jaga”

Sejenak kata-katanya membuatku merasa hangat. Dengan senyuman dan ekspresi senangnya, membuatnya terlihat sangat manis di mataku. Manis ini.. adalah manis yang natural. Meski aku belum tau siapa namanya dan apa tujuannya. Tapi jarang ada orang yang mampu bertahan lama-lama denganku. Sejenak aku berpikir, apakah ini akan berlangsung selamanya. Ataukah dia akan pergi lagi. Namun kenyataan selalu sangat pahit di depan mata.

Dan inilah kisahku…

Cerpen Karangan: Deni Kurniawan

Nama: Deni Kurniawan
Status: Pelajar (SMKN SITURAJA)
Tanggal lahir: 21 Juni 1999
Hoby: Anime, Listening OST Anime& Playing Game
Alamat: kec; Situraja, kab; Sumedang
Email: denikurniawan2106[-at-]gmail.com / denik9747[-at-]gmail.com

(Note: sehubungan sang penulis sedang sibuk ‘maklum lah baru kelas XII SMK, jadi lagi sibuk-sibuknya ngurus persiapan UNBK’. kelanjutan cerpen ini bisa dibilang mogok. karena sang penulis lagi kesulitan bagi waktu. cerita ini masih bersambung ya.. belum tamat. insyaALLAH akan lanjut nulis kalau udah ada waktu. kalo ada kritik dan saran silahkan kirim Email ke denikurniawan21[-at-]gmail.com ‘Terimakasih’
‘Sang penulis akan sangat senang jika para pembaca dapat masuk dan berimajinasi kedalam cerita ini’
‘Soalnya kami ini hanya penulis cerita, para pembaca lah yang bisa mengembangkan arti dari cerita yang kami buat’.

Cerpen Hanya Mengikuti Alur merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Konspirasi Biji Sawi

Oleh:
Terdengar suara gesekan sandal, ketika Muras mengadu sandalnya dengan aspal untuk menghentikan laju sepedanya. Dengan sedikit tergesa-gesa, Muras memarkir sepedanya. Dan bergegas memasuki masjid sebelum khotib menaiki mimbar. Angin

Cinta Monyet itu Tulus (Part 1)

Oleh:
Kisah cinta itu mungkin sudah berakhir kurang lebih sekitar lima tahun yang lalu, cinta yang tumbuh saat kami masih sama-sama duduk di kelas 2 SMP. Bisa dibilang cinta pada

Masa Remaja

Oleh:
Di masa remaja, mereka masih bisa meluangkan waktu mereka untuk bermain, tertawa bahagia besrsama teman seusianya. Mereka bisa pergi ke Mall kapan saja dengan teman-temannya. Tetapi tidak dengan Aku,

Ku Hanya Butuh Kasih Sayangmu

Oleh:
Mentari telah memancarkan sinarnya, menyambut milyaran manusia. Seberkas cahaya yang masuk melewati kaca jendela kamar mampu menyilaukan mata seorang lelaki muda yang biasa disapa Raka. Pemandangan nan indah yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *