Hanya Sebatas Kakak Dan Adik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 July 2016

Pagi ini, langit nampak cerah bersahabat. Burung-burung pun berkicau merdu menyambut sang mentari. Embun membasahi dedaunan. Elsa terbangun dari tidur lelapnya. Terlihat dalam pelukannya sebuah boneka kucing berbulu lembut dan berwarna coklat keemas-emasan. Diletakannya boneka itu di atas tempat tidur setelah ia merapihkan tempat tidurnya. Lalu ia bergegas mandi dan berpakaian.

“Pagi Robbin!! Semoga harimu menyenangkan!” sapa Elsa pada boneka kesayangannya.
“Elsa! Elsa, sayang ayo turun!” panggil mama.
“Iya… bentar, ma!” balas Elsa.
Elsa turun ke ruang makan. Tidak lupa, ia membawa Robbin. Diletakannya Robbin tepat di depan piringnya. Elsa pun menyusul mama ke dalam dapur. Mereka sempat berbincang-bincang sejenak sambil menyiapkan sarapan.

“Elsa, sekarang kamu sana gih tunggu sama papa dan Kak Aldi.” Saran mama pada Elsa. Elsa bergegas ke ruang makan dan langsung menyapa semua penghuni rumah. Mama pun akhirnya datang membawa makanan.
“Cepat, ma. Elsa duluan, ya. Elsa udah laper banget nih..” pinta Elsa.
“Iya, iya. Sabar dong, sayang.” Ucap mama sembari menuangkan nasi goreng ke piring Elsa.
“Eh, Sa. Lo nggak malu apa? Udah gede kok masih main boneka ginian?” tanya Kak Aldi menyindir.
“Biarin. Toh kakak nggak dirugiin kan?” jawab Elsa santai.
“Yaa… nggak sih. Tapi kan”
“Kakak malu punya adik seperti Elsa? Iya?”
“Udah, udah. Ayo kita berangkat. Nanti kalian terlambat lagi.” Usaha papa mencairkan suasana. Elsa dan Kak Aldi pun menyudahi sarapan dan pertengkaran mereka. Elsa menaruh kembali Robbin ke dalam kamar. Mama dan papa tak mengizinkan Elsa membawa Robbin ke sekolah.

Sepulangnya dari sekolah, Elsa langsung bergegas menuju kamarnya. Ia mengganti pakaiannya. Setelah selesai, dikecupnya Robbin dengan penuh semangat. Telepon rumah berdering, belum sempat Elsa mengangkat teleponnya, telepon itu berhenti berdering. Elsa kembali ke kamarnya. Disaat yang bersamaan, Hp Elsa berdering. Elsa pun langsung mengangkat Hp-nya tanpa melihat nama penelepon itu.
“Hallo, Elsa.” Sapa si penelpon.
“Hai, Kak Adryan. Ada apa?” tanya Elsa.
“Aku mau main ke rumah kamu nih, boleh nggak?”
“Boleh! Nanti kita bisa main bertiga deh. ASYIK!!” seru Elsa.
“Emangnya temen kamu mau kesana?”
“Yah, Adryan gimana sih? Payah deh. Bertiga itu, Elsa, Adryan, sama Robbin.”
“Sa, bisa nggak sih sekali aja jangan ajak Robbin?”
“Kenapa, kakak keberatan? Padahal ini kan boneka pemberian Adryan sendiri!” bentak Elsa.
“Elsa, aku ini pacar kamu! Kamu selalu lebih mentingin Robbin dibanding aku. Kamu nyadar nggak sih?”
“Kak! Aku nggak suka dibentak!”
“Elsa…”
TUUUT… TUUUT… Elsa menutup teleponnya.

Elsa mendapat libur semester selama sebulan. Esok sorenya, saat ia sedang asyik bermain di taman bersama Robbin, Adryan datang dengan membawa dua es krim di tangannya. Cara ini selalu berhasil dilakukannya setiap kali meminta maaf pada Elsa.
“Sa, maafin aku ya…” ucap Adryan.
“Kalo’ ada ini, pasti kumaafin.”
“Elsa…”
“Emm, kak. Elsa mau jujur sama kakak. Elsa emang masih anak-anak, kak. Elsa belum bisa untuk jadi dewasa. Dan Elsa selama ini nganggap Adryan sebagai kakak Elsa aja. Nggak lebih, kak.”
“Gitu ya?”
“Maaf ya, kak…” pinta Elsa.

Langit nampak semakin gelap. Terbatuk-batuk. Petir menyambar dimana-mana. Tetesan hujan pun jatuh membasahi bumi. Elsa dan Adryan masuk ke dalam rumah. Mereka berlari ke teras depan. Tiba-tiba Elsa berlari kembali ke halaman rumah. Menari di bawah tetesan hujan itu. Adryan tertegun sejenak, namun Elsa menarik lengan Adryan untuk ikut bersamanya.
“Kak, Elsa memang masih kekanak-kanakan. Tapi Elsa harap, kakak bisa nunggu Elsa untuk jadi dewasa,”
“Pasti, Sa!”
“Hey, kalian! Kesini! Jangan main hujan malem-malem!” ucap Kak Aldi yang tiba-tiba saja muncul.

Mereka pun masuk dan mengganti pakaian. Adryan menggunakan pakaian milik Aldi. Karena sudah terlalu malam, Adryan pun akhirnya ikut makan malam bersama keluarga Elsa. Karena besok semua libur, papa Elsa berencana mengajak semuanya liburan ke puncak. Papa Elsa menelepon keluarga Adryan untuk meminta izin mengajak Adryan jalan-jalan besok. Kebetulan papa Adryan adalah sahabat papa Elsa.

Keesokan paginya, sesampainya mereka di puncak, mama dan papa menyiapkan tenda. Sedangkan Elsa, Aldi dan Adryan pergi ke lapangan basket mini dengan satu ring. Hari ini Elsa tidak membawa Robbin. Ia ingin berubah menjadi dewasa perlahan.
“Ayo, Kak Aldi! Masa kalah sama Kak Ryan! Ah… payah nih!” teriak Elsa.
“Udah dulu, Ry. Gue cape’ banget.”
“Yah, Kak Aldi. Gitu aja kok udah keok?” sindir Adryan.
“Cape’ nih. Haus gue.” Ucap Kak Aldi.
“Elsa juga haus nih..” ucap Elsa ikut-ikutan
“Ya udah, aku ambil minum dulu ya” ucap Adryan langsung beranjak pergi.
Kak Aldi tiba-tiba berbicara sesuatu pada Elsa. Setelah merasa Adryan cukup jauh, akhirnya Kak Aldi pun mulai berucap.
“Lo putus sama Ryan?” tanya Kak Aldi pada Elsa.
“Nggak. Elsa Cuma bilang, Elsa memutuskan untuk saat ini hanya sebatas kakak adik aja.”
“Tanggepan dia?”
“Setuju… Elsa hanya sanggup menyayangi, kak.” Jelas Elsa.

Beberapa menit kemudian, Adryan pun datang dengan membawa tiga kaleng minuman dingin. Sesegera mungkin ia menghampiri Elsa dan Kak Aldi.
“Serius amat. Ngomongin apa sih? Pasti lagi ngomongin aku ya?” tanya Adryan dengan PD-nya.
“GR amat lo!” ledek Kak Aldi.
“Biasalah cowok cakep kayak Ryan gini banyak yang ngidolain..”
“Narsis nih, Kak Adryan,”.
“Yuk, main lagi!” ajak Adryan pada Kak Aldi.
“Gue masih cape’ banget. Ajak Elsa aja gih”
“Kok Elsa sih? Elsa kan nggak bisa main, kak!” jelas Elsa.
“Nggak apa. Sini aku ajarin.” Ucap Adryan polos.
Elsa pun mengikuti segala instruksi yang diberikan. Ia juga mempraktekkan semua gerakan yang dicontohkan Adryan. Kini Elsa berfikir, Adryan memang sosok kakak yang baik. Sekarang mungkin hanya sebatas kakak adik saja, tapi Elsa yakin. Suatu saat nanti pasti melebihi ini.

Cerpen Karangan: Bella Cintyadevi
Facebook: https://www.facebook.com/bella.cintyadevi

Cerpen Hanya Sebatas Kakak Dan Adik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Harap Yang Sia Sia

Oleh:
Pagi itu gerimis menyerbu tubuhku tanpa ampun yang tengah mengayun sepeda menuju sekolah. Tapi jarak ke sekolah sebentar lagi. aku putuskan untuk tidak berhenti untuk berteduh dulu. “Akhirnya sampe

Kisah Cerpen Kelima

Oleh:
Kududuk bersandar di bangku coklat. Tanganku menggenggam selembar kertas HVS dengan sebuah bacaan di atasnya. Kelas ini memang kosong. Karena ini hari bebas setelah seminggu kemarin aku melaksanakan ulangan

Asam Manis Masa Sekolah

Oleh:
Tahun 2054, dimana mesin-mesin canggih di dunia sudah berevolusi ke level yang lebih tinggi. Di depan cermin, berdiri seorang gadis dengan rambut lurus sepinggang yang cantik sedang bersiap-siap pergi

Setoples Lidah Kucing

Oleh:
Manis. Gurih. Renyah. Lembut. Hidup yang gue alami rasanya mirip kaya kue lidah kucing. Kue kesukaan gue. Sejak gue masih ngemut jempol sambil lari-larian cuman pake kolor sampe sekarang

Berpetualang Dan Menjaga Alam

Oleh:
Pagi yang cerah menyapaku saat terbangun dari tidurku, teringat saat aku ingin traveling dan menjelajah kota tempat kelahiranku ini, “Gaaaaasss Bagaaass!!” ayahku memanggil dari luar kamar entah apa yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *