Hidup Dalam Imajinasi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 December 2017

16 tahun sudah aku hidup dalam keluarga yang tidak bahagia, terlonta lantu hidup kesana kemari tanpa ada yang peduli. kasih sayang papa dan mama hanya ada dalam imajinasi, canda gurau kakak hanya bisa kutulis lewat sepenggal kata yang tercurah. Aku hidup dalam ruang yang sempit tanpa kebahagian yang nyata.

Mungkin sebagian orang menganggap aku gila, idiot, tak waras bahkan lebih parah dari itu. Ya memang, hampir setiap hari aku tersenyum sendiri, terbawa emosi yang kubawa dari alam imajinasi. Entah kenapa setiap kali aku ingin berhenti saat itu pula imajinasiku semakin menjadi-jadi. Aku bingung, aku tak tau apa yang harus kulakukan. Orangtuaku dan orang-orang di sekitarku tak pernah mempedulikanku. Mereka seperti tidak menginginkan keberadaanku.

“Hari ini papa mengajakku dan keluarga liburan ke Yogjakarta, di sana kita bermalam di hotel yang berada di kampung bule. Sengaja papa memilih tempat itu karena papa tau aku sangat senang terhadap bule.

Keesokan harinya papa mengajakku ke pusat belanja terbesar yaitu Malioboro. Di sana aku diberikan keleluasaan untuk membeli apapun yang aku mau.

“Nulis khayalan lagi rain? Gak capek tah gitu terus?”. Alya mengambil pena yang sedang kugenggam lalu membuangnya begitu saja. “Gak usah ganggu aktivitas gue”. Balasku sambil mengambil pena yang tadi dibuangnya.
“Lo harus sadar rain. Lo gak boleh gini terus, lo boleh berkhayal, lo boleh berimajinasi tapi lo juga harus sadar lo punya kehidupan yang nyata”.
Ah kenapa? Kenapa ucapan alya selalu datang disetiap imajinasiku baru kumulai. “Gue tau al, lo peduli sama gue tapi tolong jangan ganggu hoby gue”. Pintaku
“Rain, gak selamanya gue ada di samping lo, gak selamanya gue ada di kehidupan lo, gue sahabat lo gua pengen yang terbaik buat lo, jadi gue mohon berhenti berkhayal dan lakukan aktivitas yang seharusnya lo lakukan, lo harusnya bangkit dari keterpurukan yang menimpa keluarga lo, bukannya malah berkhayal yang bukan-bukan kayak gini rain. Inget omongan gue rain, gue pergi dulu, jaga diri lo baik-baik”.

Lo bener al, gak seharusnya gue kayak gini, gak seharusnya gue hidup dalam imajinasi dan lupa sama dunia nyata. makasih al atas nasehat lo, lo emang sahabat terbaik gue.

Cerpen Karangan: Sinta Nuriyah
Facebook: Sinta Nuriyah
Lahir: 15 april 2000
Anggota Jurnalis Pejuang Pena Production
Bersekolah di SMA muhammadiyah 1 Pringsewu

Cerpen Hidup Dalam Imajinasi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ku Hanya Butuh Kasih Sayangmu

Oleh:
Mentari telah memancarkan sinarnya, menyambut milyaran manusia. Seberkas cahaya yang masuk melewati kaca jendela kamar mampu menyilaukan mata seorang lelaki muda yang biasa disapa Raka. Pemandangan nan indah yang

Musibah Menjadi Berkah

Oleh:
“dakkk” semua mata langsung tertuju ke pusat suara itu. Semua siswa terkejut ketika melihat nia salah seorang siswi sma harapan bangsa itu sudah tergeletak tak berdaya. Ternyata dia terkena

Untuk Satu

Oleh:
Benci, demikian yang ku rasa. Apa hal yang membuatku terjauhi? Inikah yang dilakukan oleh sang Kuasa? Tak adil rasanya. Aaah, apa daya. Orang bilang kita tak boleh menyalahi Tuhan.

Matematika

Oleh:
Matematika. Siapa yang tak kenal dia? Pelajaran yang full dengan angka. Hanya anak yang berkacamata atau setidaknya mempunyai otak seperti aliran sungai kapuas di kalimantan yang bisa jadi presidennya.

Maaf Yang Tak Berarti

Oleh:
Bermula dari salah seorang gadis kecil yang terlihat sedang menangis. Wajah mungilnya terendam oleh deraian air mata. Ia menatap senyap ke arah depan. Helaian senyum bak mentari, meninggalkan secercah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *