Hujan di Sore Hari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 November 2016

Jadi sore itu hujan, aku melirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 16.31 sudah lewat 1 menit dari waktu masuk lesku. Hujan nampaknya belum ingin berhenti. Aku akhirnya memutuskan untuk berteduh di halaman sebuah mini market. Agak jauh dari tempatku berdiri ada kakek tua yang sedang merapikan alat semir sepatu miliknya. Kasihan pikirku dalam hati.

Aku mendesah memandang hujan, aku tidak benci hujan tapi mungkin harusnya sekarang tuhan berbaik hati mau memberhentikan hujan ini untukku. Hujan agak mereda ketika aku melihat seorang laki laki seumuranku lewat agak lambat dengan motornya. Ia celingukan seperti mencari sesuatu, saat melihat minimarket tempatku berdiri ia menghampiri dengan motornya. Ia memarkirkan motornya lalu turun. Aku bisa melihat sebatang rok*k bertengger manis di antara bibirnya, terlihat mencolok walaupun ia memakai helm fullface. Ia membuka helmnya, rambutnya rancung, model jaman sekarang, wajahnya menyiratkan bahwa ia anak nakal. Aku memutar bola mataku, paling dia mau beli rok*k atau numpang berteduh.

Laki-laki itu berjalan menghampiri pintu mini market, aku melihatnya sekilas tersenyum ke arah kakek-kakek yang tadi sebelum masuk ke dalam.

Dalam hati aku berbisik, mungkin ia tidak senakal tampilannya.

Beberapa saat kemudian ia keluar membawa sebungkus rok*k dan kresek berisi entah apa saja.
Aku memperhatikannya duduk di sebelah kakek tadi, tidak peduli seragamnya yang jadi basah karena menduduki lantai.
Aku melihatnya menyelipkan rok*k diantara bibirnya, lalu menawarkan kakek itu sebatang. Percakapan antara mereka hilang timbul, “Kakek udah gak ngerok*k lagi dek, udah sepuh.. Kasihan cucu kakek diberi contoh gak baik kalau kakek merok*k terus..” Ujar kakek itu. Tanpa kusangka ternyata ia memasukkan batang rok*k di bibirnya kembali ke bungkusnya lalu memasukkannya ke saku jaket kulitnya. Ia lalu mengeluarkan sebungkus roti dan air mineral, “nih pak..” Ia menyodorkan keduanya ke arah kakek itu, “gak usah dek, buat adek aja…” Ujar kakek itu. Tapi ia hanya tertawa lalu menaruh keduanya di tangan kakek itu, “udah.. makan aja pak, saya udah makan siang tadi..” Katanya. Kakek itu berkali kali mengucapkan terima kasih, dan ia hanya mengangguk seraya mengeluarkan susu stroberi dari kresek. Aku terkikik pelan, wajah sangar ternyata masih doyan minum susu.
Sadar aku tertawai, ia berdiri lalu menghampiriku.

Aku pura pura tidak melihat, “kenapa? Lucu ya lihat saya minum susu, stroberi pula” ujarnya. Aku menoleh, pipiku bersemu tapi aku menggeleng,
“geer banget sih..”
“Cewek kok pulang sore sore, ntar diculik loh mba” ujarnya.
Aku bergidik, “apaan sih lo, sok kenal banget.” Ujarku ketus.

Tanpa kusadari hujan sudah mulai reda, “Dari pada diem disitu bertengger kaya burung mending gue anter pulang…” Ujarnya santai, “Lo baru aja ngasih tau gue kalo cewek pulang sore ntar diculik, terus sekarang lo mau nganter gue pulang? Gimana caranya biar gue percaya kalo lo gak bakal nyulik gue?”
Ia lalu tersenyum jahil, tangannya perlahan membuka jaket kulitnya, kemudian menyampirkannya di bahuku, “Penculik gak akan punya cukup empati buat ngasihin jaket ke cewek cantik yang lagi berdiri kaya orang bego nunggu diculik.” Ujarnya. Pipiku bersemu merah, ukh dasar laki laki.

Hujan pun berhenti, hanya menyisakan rintik kecil yang sesekali turun dari langit, “Yuk, udah reda nih.” Katanya seraya menepuk pundakku. Aku terdiam, bingung. Ia berjalan menghampiri kakek yang tadi, mengeluarkan dompetnya dan dengan santai mengambil semua uang yang ada, ia memasukkannya ke tas kakek itu,

“Eh dek, gak usah!” Ujar kakek itu sambil mencegah, sementara ia hanya tertawa “gak papa pak… Pak, uangnya dipake buat keperluan bapak ya, semoga bapak sehat terus. Assalamualaikum..”

Tidak bisa berkutik, bapak itu meneteskan air mata haru lalu membalas salamnya.

Ia menghampiriku lagi lalu menarik tanganku, ia menaiki motornya, “buruan, jarang jarang dapet tumpangan gratis..”

Sesampainya di depan rumahku aku buru buru turun, “makasih..” Gumamku, ia mengangguk, “Btw.. Nama lu siapa?”
“Nina…” Jawabku. Ia mengangguk angguk, “hebat…” Ujarnya. Aku memiringkan kepalaku bingung, “Emang kenapa?” Ia tersenyum, ada lesung pipit kecil di pipi kanannya, “Nino… Nama gue Nino..”

Cerpen Karangan: Biru Kobalt
Menyukai warna biru kobalt dan angka 2700

Cerpen Hujan di Sore Hari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


About Seventeens

Oleh:
Cuaca hari ini sangat mendukung kegiatan Fian untuk menjelajah hobinya. Saat ini ia telah sampai puncak bukit, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia memang sering menghabiskan waktu liburannya untuk

First Love

Oleh:
Namaku Sera, aku duduk di bangku kelas satu SMA. Aku memiliki kisah yang paling dramatis, dimana kisahnya, aku menolak cinta seorang kakak kelas tetapi kini aku merasa galau. Di

Antara Kau dan Aku

Oleh:
“Kak. Tungguin dong” ujar michele “lelet amat sih kamu, chell!” ujar kak bagas “sorry kak, aduuhhh… kaki ku keseleo kak” ucap michele sambil memegang kaki kirinya “keseleo…? tuh kan

Sepupuku Idolaku

Oleh:
“Suci.. Suci..” Suara itu terdengar keras di telingaku. Dengan kesal aku membuka mataku dan menemukan Ibuku sedang menatapku. “Apa sudah pagi?” Tanyaku pada Ibu. “Ini masih sore, masih pukul

Galang dan Juna

Oleh:
“Masih inget rumah kamu?” “Kalo ayah nungguin Galang pulang, cuma buat ngomel. Mending gak usah, Galang capek mau langsung tidur” Ucap remaja berumur 16 tahun tersebut. Pakaiannya yang sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *