Ini Bukan Akhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 28 May 2016

Yura adalah cewek yang punya sedikit kebiasaan di luar cewek lainnya. Yura bisa dibilang termasuk tipe cewek bandel dan agak sedikit usil. Nama lengkapnya Yura Monique. Dia sekarang SMA, walaupun dia termasuk cewek tomboi, jangan salah, dia pernah patah hati dan kisahnya benar-benar rumit. Kisahnya 6 tahun lalu tepatnya kelas 6 SD ketika itu ada pekan olah raga di SD-nya, dari berbagai SD berkumpul di sana, namun ada seorang cowok yang cukup menarik perhatiannya, nama cowok itu Naufal dari SD seberang bukan seberang sungai yah dia masih adik tingkat Yura, cowok itu tetangga Yura juga.

Menurut Yura cowok itu termasuk cowok yang mengagumkan, caranya senyum, bicara, dan termasuk teman yang baik. Yura dan Naufal berteman sekitar sebulan yang lalu ketika keluarga Naufal baru pindah. Yura dan Naufal sering pergi bermain bersama di taman kompleks mereka, teman-teman mereka sering meledek bahwa mereka berpacaran, namun mereka tidak pernah menghiraukannya, dan jika ada orang yang mengganggu Naufal, Yura adalah orang yang pertama maju karena dia yang lebih berani daripada Naufal.

Ujian Nasional telah berlangsung, Yura dinyatakan lulus dan kini dia sudah SMP, namun Naufal masih SD, itu yang membuat Yura dan Naufal sekarang jarang bertemu, Yura sibuk dengan tugasnya dan juga teman teman barunya, Naufal juga sibuk untuk mempersiapkan UN nya agar bisa satu sekolah dengan Yura tahun depan.

“Yeeayyy aku lulus!” kata Naufal begitu dia melihat hasil ujiannya.

Dan kini dia bisa satu sekolah dengan Yura, Yura juga ikut berbahagia mendengar bahwa Naufal akan satu sekolah dengannya. Kini mereka sering berangkat sekolah bersama, makan di kantin bersama, ke perpustakaan bersama, dan tak jarang Naufal memberikan buku atau sekedar cokelat untuk Yura. Namun kini, sikap Naufal berubah semenjak dia bertemu teman barunya yang bisa dibilang sering mendapat kasus kenakalan di SMP. Yura sering mengingatkan untuk menjauhi mereka, namun Naufal hanya bilang IYA tapi tanpa dijalankan, mereka semakin jauh.

Yura menyadari bahwa ada rasa yang berbeda ketika dia sudah tidak sering bersama Naufal lagi, Yura sering mendengar Naufal sering bergonta-ganti pacar, termasuk sahabat Yura, Istin namanya. Yura menyadari bahwa dia tidak bisa melarang karena dia buka siapa-siapa Naufal lagi. Ketika mereka bertemu, mereka hanya sekedar berbicara seadanya. Kring, kring hp Yura berbunyi, “sms dari Naufal rupanya,” gumam Yura.

“Ra, cariin aku cewek dong, ngosong nih.”
“Kamu kira aku mak comblang kamu gitu? Kamu kira aku apaan.”
“Loh kok marah gitu Ra, kamu cemburu ya?”
“Nggaklah enak aja, si Istin mau kamu kemanain?”
“Udah putus Ra. Bosen.”

“Sok-sokan banget sih kamu Fal, nama ada cewek yang mau sama kamu.”
“Kalau kamu gimana? Mau jadi pacar aku? Aku gak akan nyakitin kamu kok.”
Deg, jantungnya terasa ingin lepas, begitu juga hatinya. “Maaf Fal, aku udah tahu buruknya kamu, kamu gak kayak dulu yang aku kenal, aku gak mau cuma harus jadi pelampiasan kamu aja, aku gak kayak cewek cewek itu yang gampang kamu tipu. Jangan hubungi aku lagi, cukup.” Yura menulis kalimat itu sambil menangis tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.

“Ra. Aku sayang kamu dari dulu, aku ngelakuin ini semua cuma mau buat kamu cemburu Ra, maafin aku Ra, aku emang salah, aku emang bodoh, tapi Ra, aku gak akan jauhin kamu, karena aku sayang kamu, aku bakalan buktikan sama kamu kalau aku bakalan sukses Ra suatu saat nanti.”
Masih dengan tangisnya. “Terserah kamu, aku gak peduli.”
“Maaf udah ganggu kamu Ra. Good night Ra.”
Yura melemparkan hp-nya ke samping tempat tidurnya, dia masih menangis sampai tertidur.

Kini Yura menjalani hari-harinya lebih kacau dari sebelumnya.
“Ra, kamu gak apa-apa?” tanya Naufal.
Suara itu mengagetkan Yura, “Gue gak apa-apa, peduli apa lo. Udah sana lo.” kata Yura.
“Kok kamu ngomongnya gitu sama aku Ra?” tanya Naufal.
“Bukan urusan lo.” kata Yura sambil pergi meninggalkan Naufal yang masih tercengang.

Masa SMA telah tiba bagi Yura, dia berniat membuka lembaran baru yang lebih baik, dia memutuskan untuk menempuh pendidikan SMA-nya di luar daerahnya. Berusaha melupakan Naufal yang kini semakin nakal, begitu kata teman Yura. Semakin berusahanya Yura, semakin susahnya dia melupakan sahabatnya selama 6 tahun ini. Ketika dia kelas 2 SMA, betul perkiraannya, Naufal tidak akan masuk SMA tempatnya bersekolah. Kini Naufal dan keluarganya pindah rumah karena kasus balap liar yang dilakukan Naufal. “Omong kosong, katanya akan berubah tapi mana.” gerutu Yura.

Sebenarnya Yura dan Naufal masih saling merindukan, Naufal melakukan kenakalan itu agar Yura mau mengingatkannya untuk lebih baik, namun Yura tak pernah melakukan itu seperti dulu. Yura kini tak pernah bertemu Naufal, Yura sangat merindukan sahabatnya selama 6 tahun ini dan yang pernah mengaku bahwa dia menyayangi Yura. Yura berusaha mencari Naufal. Tapi hasilnya nihil, Yura sudah berusaha mencari Naufal di Social Media namun tak ada hasil, dia menelepon nomor Naufal yang dulu namun sudah tidak aktif lagi. Teman Naufal yang dulu sudah dia tanya, namun tak seorang pun yang tahu. Sampai kini, Yura masih sangat rindu pada Naufal, setelah 6 tahun berlalu, rasa ini masih sama. Cinta pertamanya. Masih menunggu janji yang dulu pernah kamu ucapkan. Jika kamu baca ini, cari Yura. Kamu tahu harus ke mana Fal.

Cerpen Karangan: AArmonica
Facebook: Ayuna Armonica

Cerpen Ini Bukan Akhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Indonesia

Oleh:
Rafi berjalan memasuki wilayah gedung sekolahnya dengan langkah penuh percaya diri. Setelan seragam pramuka dipadukan dengan jaket jeans menjadi gayanya hari ini. Ketika melewati lobby, ia menyapa teman-temannya dengan

Tiada Yang Tahu

Oleh:
“Hahaha,” Gelak tawa dan tepuk tangan penonton menyudahi stand up yang baru saja Ardi pertunjukkan. “Terima kasih untuk kalian semua, kalian adalah penonton yang hebat!” Seru Ardi seraya menuruni

Indahnya Cinta

Oleh:
Pagi yang cerah, dengan bersemangat Dera berangkat sekolah. Tak lupa dia berpamitan dengan orangtuanya. “Ma, pa.. Dera berangkat dulu ya” ucapnya sambil mencium tangan kedua orangtuanya. “Hati-hati ya” ucap

Sahabat Jadi Cinta

Oleh:
“Tunggu Yu…” Tian memanggilku dari kejauhan. “Ayo cepet, nanti telat” jawabku sambil nafas terengah engah Karena berlarian. “untung aja kurang 2 menit kita udah ada di sekolahan.” Kata Tian

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *