Jendela (Part 1) Membuka Jendela

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 28 August 2017

Kamu tahu apa filosofi hujan?
Pernahkah kamu memahami apa maksud gelombang merah senja?
Atau mungkinkah kamu akhirnya tahu,
Tentang perwujudanmu dalam semesta..
Kamu dan langit atau sekedar kamu dan atap
Jauh, tinggi dan tak sanggup diangankan..
Seperti kamu, yang tak pernah dicapai
Mengenai tepat batas makna cinta dan monyet di pepohonan
Yang mengukir cerita bebas tengah malam hingga terasa kebas
Tentang aku dan kamu
Yang jatuh cinta bersama desir angin
Saat kamu,
Membuka jendela dikala malam berderai hujan

Matahari menyesap habis embun yang tergelincir di setiap helai daun, sisa-sisa hujan semalam dan dinginnya udara pagi. Matahari merangkak naik sampai tak sanggup misal ada galah yang ingin menyodoknya bagai bola billiard di area nongkrong remaja biasanya. Sinarnya jatuh, meraba dan menggeraangi tanah penuh gairah tanpa bekas nafsu apa-apa. Matahari pagi, deskripsi suasana hati. Tentang aku.

Aku yang introvert, tidak terkenal dan menyukai kesendirian dengan bonus kesunyian dan diskon kehampaan. Aku yang bagai hantu pojokan kelas, tanpa teman satu bangku, dahulu memang ada tapi setelah ada siswa yang pindah aku ditinggalkan oleh si ‘pengkhianat’ sialan itu. Aku yang bagai tetumbuhan ilalang di halaman rumah pejabat yang setiap hari dipotong dan dicabut habis, tak tahu malunya tumbuh kembali dan minta supaya lebih keras lagi hukuman bagi tumbuhan sekelas ilalang di paving-paving garasi seluas lima hektar uang hasil korupsi.
Aku yang punya dunia sendiri dan mengunci semua akses masuk ke dalam hidupku. Semuanya! Tanpa terkecuali!

Aku, memang seseorang yang penyendiri dan pendiam sehingga tidak salah jika teman sekolahku saja tak tahu namaku, rumahku dan misalkan apa hobiku. Tidak ada, misalnya basa-basi maka yang mengajakku bicara adalah bendahara kelas atau misalkan teman yang apesnya sekelompok denganku. Aku memang tak tahu diri dengan tetap jadi pendiam sementara juga banyak teman sekelas yang bersimpatik ingin jadi temanku dan mengajakku bicara. Aku tak tahu diri dan dengan bahagianya membangun bentengku untuk, menjauhi dunia.
Dan jadi anti sosial.

Aku sulit membuat sebuah hubungan dengan orang lain, aku takut mereka akan memberiku sebuah kesan yang tidak menyenangkan. Terutama anak laki-laki! Aku memang tidak cantik, berkulit putih dengan hidung mancung dan rambut hitam panjang tergerai dihiasi bando ala malaikat. Aku hanya anak perempuan berwajah biasa, datar, berkulit sawo matang dan rambut pendek lebat. Jadi jauhkan saja predikat cantik di kehidupan monotonku! Atau buang jauh-jauh tentang imajinasi cowok keren yang kecantol denganku!
It’s impossible.

Itu terjadi sekitar sepuluh tahun yang lalu, gadis penyendiri yang malah dikaitkan dengan pemilik indera keenam. Yang dikenal dengan nama, Rhara. Kelas XI MIPA ruang 5. Dengan nomor absen 29 dari 45 siswa. Ini kelas yang kurasa memang lebih baik daripada satu tahun sebelumnya aku tak punya teman sebangku, sementara di kelas ini ada hukum lotre tiap minggu yang secara langsung mapun tidak langsung membuatku, menyukai kelas ini.

Usiaku waktu itu enam belas tahun, tanpa bakat apa-apa dan kebetulan tidak bisa menggunakan sepeda motor dan hidup tanpa akun media sosial apapun selain e-mail. Ada satu dua teman yang memang benar-benar berusaha menjadi temanku, dan atas pemikiran mengenai adanya kategori ‘siswa paling ansos’ di buku tahunan yang mencetak nama besar-besar bertuliskan “Diparha Ramadi”. Oh.. Itu bukan lelucon yang bagus tahun mendatang!

Aku mencoba berinteraksi, akan tetapi aku malam semakin memperkuat dinding pembatasku dan membuatku terkenal di kelas karena paling tidak suka jika bersentuhan dengan anak laki-laki. Akan tetapi begitu ramahnya bila berhadapan dengan anak perempuan, sedangkan pada tahun itu singkatan LGBT memang sedang marak. Dan aku adalah tertuduh, Lesb*an! BIG NO.. aku rasanya ingin menangis saat itu juga, teman-temanku yang notabene ‘perempuan’ meninggalkanku dan membicarakanku bahwa aku memaksa mereka jadi pacarku. Yang dengan kesucian Tuhan di atas surga, aku tak pernah mengatakan hal tersebut.

Lesb*an adalah rumor paling mengerikan yang pernah kutahu sampai di bulan berikutnya kelas sebelas semester satu, anak laki-laki mengadakan permainan di kantin dan aku tahu, itu permainan tantangan yang menjadikanku sebagai hukuman dan Selvi sebagai hadiah. Dan itu terjadi ketika bel masuk kelas berbunyi, bangku kosong di sebelahku setelah aku resmi duduk sendiri. Aku terkejut, wajahku seperti mau melompat! Entah sudah berapa kata makian abal-abal yang kupikirkan dalam bayangan.

Dia.
Adalah si pecundang dari permainan taruhan dan mendapatkan hukuman sebangku denganku satu tahun penuh. Perasaanku memang selalu menunjukkan banyak hal dimasa depan, dimana suara batinku berteriak “Jauhi anak ini!” merapal dalam-dalam dan menanamkannya di kotak memori manusia. Yang itu artinya, aku!

“Kamu mau ngeliatin aku sampe kapan?” tanyanya sambil menatapku dengan tuduh. Aku hanya menggeleng, mengusir jauh-jauh semburat merah di wajahku. “Aku nggak ngeliatin kamu..” desisku sambil meremas ujung rokku dengan gugup. Pelajaran dilanjutkan dan dia duduk dengan tenang, tanpa sedikitpun melihat ke arahku. Melirikku pun tidak, dan aku diacuhkan bahkan saat aku hanya mencuri pandang darinya.
Yah aku tahu.. sangat tahu hingga terlalu paham dan sekiranya hafal. Tak ada yang memang berniat, mendekatiku bahkan sebagai seorang teman.

Musim berganti, daun gugur dan awan mendung kadang meluruh jadi hujan. Atau tetes embun yang menyilaukan pandang dikala pagi buta. Hari berganti bagai putaran roda sepeda yang selalu menemaniku berangkat sekolah, menyapa rerumputan jalanan dan desir angin pagi yang menyejukkan. Memejamkan mata dan melihat lebih jauh, apa arti tentang kebebasan dari kata membuka jendela.

Desir angin yang menertawakan kejenuhanku karena sifat anti sosialku yang mengerikan, bahkan sinar terik mentari kala pulang sekolah tak sanggup mencairkan bekunya hatiku. Hati yang terlanjur beku, membatu dan tak sanggu hancur oleh tetesan air. Aku tak mau keluar. Aku tak mau hancur. Biar di padang gersang aku seorang diri saja, aku tetap bertahan. Aku tak mau bergerak dan mengikuti arus yang menghantamkanku ke berbagai tebing curam dan membuatku melebur. Aku tak mau. Aku terlalu takut, hanya sekedar berbicara ‘hallo’ dan ‘selamat pagi’.

“Kok kamu makin pucat ya? Jangan-jangan kamu sakit?” tanyanya yang tiba-tiba muncul. Terhitung enam bulan dari pertama dia duduk di bangku panas di sampingku. Dia betah-betah saja, lagipula selama proses pembelajaran dia jarang ada di kelas dan entah kemana melancongnya. Aku menggeleng pelan, lalu membuka buku dan menulis rangkuman meski tak ada guru di jam kosong kali ini. Kami terdiam, dan bisa kudengar dia menghela nafas pasrah. Kelelahan yang begitu menyiksanya. Entah karena apa, aku merasa itu karenaku.
“Maaf.”
Dia menatapku begitu intensif sekarang, melihat setiap inchi dari tubuhu membuatku bergerak dengan tidak nyaman. “Kenapa?” tanyanya serak. Perasaanku mengatakan kalau tadi suaranya maasih biasa saja dan sekarang kenapa jadi serak-serak kering macam lidahnya kelu dan tenggorokannya lupa disiram. Serak dan penuh kesedihan, aku semakin buntu memikirkannya!
“Aku..” jawabku cepat lalu hilang dan bagai gaung di gua tegah hutan dan memunculkan huruf “u” panjang macam orang bersiul sampai bibirnya mengerucut menyebalkan. “Datang di prom kelas duabelas nanti malam ya. Kita jadi perwakilan kelas, dress codenya black for boys and white for girls.”
Itu percakapan terakhirku dengannya selama kelas sebelas, aku jujur mengakui aku tak datang malam itu. Aku takut. Takut dengan semua mata yang menatapku curiga bagai mau mencuri kalung emas mereka yang bagai anjing pelacak. Aku merasa bagai terdakwa kasus hukuman mati yang diadili di tempat tanpa pembelaan apa-apa. Aku merasa bersalah. Aku tak menepati minimal sebuah kata padanya. Aku takut. Aku terlampau penakut.

Aku tahu. Aku, menyakitimu.
Kamu tahu tentang langit malam?
Itu perwujudanku dalam semesta, meski kamu tak menanyakannya padaku
Aku hanya akan tetap jadi sebuah latar belakang,
Dan sebagai hadiah sekaligus sanjungan untukmu
Kamu, adalah bintang yang kadang meluruh menjadi hujan
Ingatlah, filosofi hujan adalah perwujudanmu!
Cinta terlalu mewah untuk seorang figuran dan pemeran utama peraih nobel
Cinta terlalu sulit dan makin rumit dimengerti
Antara aku dan kamu
Mungkin cinta dalam hati yang saling kita tak cukup untuk diagungkan
Karena, kamu dan aku tak ditakdirkan bersama
Jadi, cukup hentikan tingkahmu yang menunggu desir angin senja
Lalu mulailah, menutup jendela

Cerpen Karangan: Ria Ariani
Facebook: Ria Ariani

Cerpen Jendela (Part 1) Membuka Jendela merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semua Tentang Senyum

Oleh:
DUGHH!! Sebuah bola basket mendarat di kepalaku diikuti dengan tawa brengsek dari seorang cowok yang juga brengsek. Siapa lagi kalau bukan Ivan, si mantan pacar yang sok ganteng itu.

Retrouvailles

Oleh:
“Ketika kita bertemu kembali.” Semuanya dimulai ketika pagi itu, tampak seperti pagi yang tak membuat Ananda tampak bersemangat. Ananda atau gadis yang akrab dipanggil Nanda itu dibangunkan oleh suara

Ketika Senja Bertemu Fajar

Oleh:
Hari senin yang ceria yang mungkin saja menjadi bahagia, dimana tepat hari ini adalah hari pertamaku mengenakan seragam berwana putih abu abu, ya di SMA. “Ibu, Senja berangkat dulu.

Pencuri Nomor Ponsel

Oleh:
Bulan romadhon yang lalu, aku terbawa pandangan kepada cewek bersweater merah di kampungku, tepatnya Bone. Aku terbawa kemisteriusan cewek itu aku jadi ingin lebih tau dan kenalan dengan dia.

Tak Sesederhana Kata Cinta

Oleh:
Selesai salat Isya Rara langsung berbaring di tempat tidur, ia lelah sekali dengan aktifitasnya yang lumayan padat hari ini. Ia berniat tidur cepat. Rara menyalakan radio kesayangannya, mulai mencari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *