Jerawat Wati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 October 2015

“Aarrgghhh!!!”

Sepagi itu suara sebuah teriakan telah membuat pagi yang tenang menjadi karut marut tak karuan. Mendadak ayam-ayam jantan berhenti berkukuruyuk ria. Sang mentari -untuk beberapa saat lamanya- shock sebelum menyembul secara sempurna. Para tetangga pada sibuk menutup kedua telinga mereka. Siapa sih yang edannya sepagi ini sudah berteriak-teriak bagai monyet kejepit pintu?

“rese banget sih lo! Pagi-pagi udah teriak-teriak kayak orang gila.” Seorang perempuan dengan rambut keriting ala negro muncul di daun pintu kamar milik Wati. Dia Weni, Kakaknya Wati. Dilihatnya Wati tengah duduk di depan cerminnya dengan wajah kaku dan tertekuk.
“kenapa sih Lo!” untuk yang kedua kalinya Weni melontarkan pertanyaan yang bisa dibilang sebagai pertanyaan yang bermuatan rasa kesal. Maklum, Wati sudah membuat penyakit jantungannya kambuh lagi.
“jerawat keparat…” ujar Wati pelan. Tangannya meraba-raba tiga benjolan merah bernanah di dahi sebelah kirinya. “rese banget nih jerawat.”

Weni menarik napas dalam-dalam dan beranjak dari kamar Wati untuk mengerjakan rutinitas paginya yang tertunda gara-gara suara Wati yang super louder itu.
“huh, gitu aja kok repot.” gerutunya.
Tinggallah Wati dengan kesengsaraannya. Sengsara dengan adanya jerawat-jerawat yang tak diundang itu. “Huh! Seenaknya aja nongkrong di wajah orang. Mending kalau cantik. Ini mah udah jelek-jelek, mana tanpa pamit dulu lagi,” batin Wati.

Oke. Kita kembali kepada Wati. Asal tahu aja, Wati itu orangnya perfectionist. Pengen serba sempurna. Apalagi yang namanya merawat kulit, khusus merawat kulit wajah, ia memasukannya dalam list perawatan tubuh nomor satu. Prinsipnya, yang dilihat orang untuk pertama kalinya ketika bertemu adalah wajahnya. Begitu katanya dan itu merupakan alasan yang sering ia lontarkan apabila teman-temannya atau lebih khusus Kakaknya selalu menyindir dirinya yang bisa tahan berlama-lama di depan cermin untuk memoles wajah dan tektek bengek perawatan lainnya.

Tapi kebahagiaan itu terusik dengan kehadiran makhluk-makhluk asing nan mungil berwarna merah itu. Dan kini wajah Wati positif mengidap jerawat. Apa kata dunia? Seorang gadis yang rajin merawat kulit wajahnya ternyata terjangkit penyakit yang menurut sebuah survey merupakan penyebab utama seseorang tidak tampil percaya diri alias minder di depan umum. Hmm. Padahal, sebelumnya wajah Wati fine-fine aja tuh. Bahkan beberapa di antara temen Wati ada yang ngiri dengan kemulusan wajah Wati. Udah putih, bersih, cerah, dan merona secara alamiah.

“eh, coba lo ngelamar ke agency production house. Pasti lo lolos seleksi dah!” saran temannya.
“gue punya berita bagus buat lo. Majalah remaja dingdong ngadain pencarian cover girl untuk tahun ini. Lo pokoknya harus nyoba untuk ikutan event-event kayak ginian. Lo pasti menang.” Saran teman yang lainnya.
“wajah lo emang cocok jadi objek iklan sabun anti jerawat dan produk kecantikan.” Celoteh teman dekatnya.
Wati melambung sampai ke langit ke delapan. Eh! ke tujuh. Dia terlena dengan celotehan teman-temannya maka mulailah ia berpikir lebih jauh dan dengan jangkauan luas -nyatut slogannya XL nih- ia mulai mempersiapkan planning masa depan yang indah.

Maka Wati membulatkan tekad untuk ikutan cover girl dan setelah itu akan mencoba mengajukan lamaran ke sebuah production house. Syukur-syukur kalau gue lulus jadi finalis atau minimal sepuluh besar di cover girl nanti. Tentunya gue nggak bakalan mengalami kesulitan untuk diterima di production house dan berkesempatan untuk main di FTV dan beberapa sinetron. Cihuii!

Besoknya Wati sibuk hunting kosmetik jenis baru dan tentu saja yang lebih mahal dari yang selam ini dia pake. Karena menurut saran Tina, -teman sebangkunya di kelas- lebih mahal suatu produk kosmetik maka semakin bagus efeknya.
“Tanteku juga pake scrub yang harganya tiga ratus ribu dan wajahnya jadi putih selama seminggu.” ujarnya saat mereka tengah membicarakan tentang rencana keikutsertaan Wati di ajang pemilihan cover girl.
“berarti gue harus beli produk baru yang lebih bagus dong.”
“iya. Lo mesti lebih konsisten dan sering pakai scrub sekarang. dijamin makin putih dah.” timpal Tina. “apalagi selama ini kan kamu Cuma pakai sabun cuci muka anti jerawat dan bedak doing.”
Wati mengangguk dan membenarkan apa yang dikatakan temannya itu.

Siangnya ia mencoba membujuk Mama untuk memberinya uang untuk keperluan membeli kosmetik yang disarankan teman-temannya. Namun sayangnya Mamanya tidak memberinya uang untuk hal itu. Alasannya dia sudah memberi Wati uang saku untuk satu bulan minggu kemarin.
“kau kemanakan uang yang Mama berikan minggu kemarin. Masa sudah abis sih!” omel Mamanya melihat anak bungsunya itu terus menengadahkan tangannya dan merengek kayak anak TK yang kepingin es krim.
“yah Mama, uang itu udah Wati gunain buat beli buku-buku pelajaran baru.” seru Wati mengutarakan alasannya. Padahal yang sebenarnya uang saku bulanan itu ia gunain untuk pergi ke ‘rumah cantik’ untuk lulur dan mandi relaksasi.
“Mama gak bakalan ngasih kamu uang lagi.”
“Pliiis ma, Wati lagi butuh banget.”
“Memangnya kamu butuh buat beli apa ti?” Tanya Mama Wati penasaran.

Wati terdiam sebentar. Dia bimbang, apakah dia harus mengatakan yang sesungguhnya mengenai keinginannya untuk membeli kosmetik. Padahal Mama selalu menganjurkan untuk tampil alami dan apa adanya. Bahkan Mama sendiri belum pernah memakai kosmetik, apapun itu namanya. Setelah melaui proses pertimbangan yang matang Maka Wati berkesimpulan untuk membuat-buat alasan yang rasional dan dapat diterima Mama.

Wati berdehem, “dua hari lagi Wati mau ngikutin SAPALA ma. Harus punya uang untuk pendaftaran dan membeli snack untuk bekal. Selain itu kita diharuskan untuk membeli kaos dan aksesoris lainnya.” Terang Wati dengan penuh harap.
Mama Wati mengerutkan keningnya. “Apa itu SAPALA?”
Wati tersenyum. Biasanya kalau Mama sudah bertanya seperti itu berarti tinggal satu langkah lagi bagi Wati untuk meluluhkan hatinya. “Ya semacam perkumpulan para remaja pecinta lingkungan. Singkatan dari Sahabat Pencinta Alam.”

Mama mengangguk-anggukan kepala. Sejurus kemudian ia menatap putri bungsunya.
“baiklah, kamu bisa mengambilnya di bank nanti sore. Berapa uang yang kamu butuhkan?”
Hati Wati bersorak gembira dan mulutnya segera menyebutkan jumlah yang diinginkannya.

Jam sudah menunjukan waktu pukul delapan tepat. Pagi itu Wati sudah siap-siap untuk belanja kosmetik bersama temannya Stephani yang sudah stand by di rumah Wati sejak pukul tujuh pagi. Dia adalah Kakak kelas Wati yang terkenal dengan blog kecantikannya. Konon Ibunya juga seorang pakar kulit yang pernah rutin mengisi rubrik kecantikan di majalah remaja. Tak heran jika bakat itu menurun pada anaknya.

“mau ke mana kalian?” Tanya Mama ketika dilihatnya Wati sudah berdandan rapi bersama Stephani.
“mau ke bioskop bu. Nonton film akhir pekan.” Jawab Stephani dengan cepat. Dia tahu apa yang harus ia jawab dari pertanyaan Mamanya Wati setelah Wati membujuknya untuk tidak mengatakan hal yang sebenarnya kepada Mamanya.
“ya sudah. Hati-hati ya.”
“Yaaa.” Jawb mereka serempak. Tanpa ba-bi-bu mereka segera menghidupkan scuter maticnya dan segera melesat menuju pusat perbelanjaan di kota.

“eh, gue merasa bersalah telah berbohong sama Mama kamu tahu!” ujar stephani ketika mereka tengah memilih kosmetik yang telah direkomendasikan teman Wati.
“tapi kan kalau kita jujur Mama nggak bakalan ngijinin aku buat beli kosmetik. Dan lebih parahnya uangnya akan ia tarik lagi.” terang Wati mencoba mencari dalih dari kebohongan mereka.
“iya, tapi gue juga ikut ketiban dosanya wat.” Timpal Stephani dengan mimik resah.
“udah ah, jangan bahas masalah itu lagi. Yang penting sekaramg gue bisa ngedapetin apa yang gue mau.” seru Wati denga nada yang agak tinggi. Sepertinya ia tak mau ngomongin masalah kebohongan mereka.
Maka berjam-jam lamanya mereka berkelilng toko kosmetik dan mencoba melupakan segala kesalahan mereka. Walaupun mereka tahu bahwa hati mereka berontak dengan semua itu.

Batas akhir lomba cover girl tinggal dua minggu lagi. Wati semakin rajin memakai scrub dan berbagai kosmetik lainnya. Tak tanggung-tanggung Wati memakai pemutih wajah. Ia ingin wajah mulusnya yang agak kecokelatan itu bisa putih seperti di iklan-iklan di TV. Rena pernah mengatakan padanya bahwa para finalis cover girl akan jadi bintang iklan dan bintang film. Katanya, warna kulit juga menjadi penilaian ajang seperti itu dan Wati percaya dengan apa yang dikatakan Rena.

Weni, Kakaknya Wati hanya geleng-geleng kepala ketika ia melihat adiknya sibuk dengan alat-alat kosmetikya dan rutin memakai scrub bermerk saban malam dan pagi. Namun Wati tak mempermasalahkan hal itu. Ia berpikir Weni tidak secerewet Mama. Jadi eksistensi kosmetiknya tidak dalam keadaan bahaya. Jika seandainya Mama tahu sudah barang tentu akan banyak pertanyaan yang membuat mumet seluruh isi kepala dan hal itu adalah ancaman berbahaya taraf pertama. Mengalahkan ngerinya ancaman Pak Wanto yang melihat muridnya tidur di kelas atau tidak mengerjakan tugas matematikanya. Pak Wanto adalah guru paling killer dan ditakuti murid-murid sekolah Wati.

“ngapain sih pake scrub segala. Wajahmu kan tidak punya masalah apa-apa?” Ujar Kak Weni saat Wati tengah menggunakan scrub untuk yang kesekian kalinya.
“rese ah!” seru Wati dan mendelik tak senang kepada Kakaknya.
“Dasar! Mulai gatel dan ganjen rupanya nih bocah.” serunya lagi. Dan kali ini sebuah bantal melayang tepat mengenai kepalanya.
Weni segera meraih sebuah guling dan sebelum ia bertindak sesuatu Wati sudah kabur dari kamar lebih dulu.

Seperti biasanya, hal yang pertama kali dilakukan Wati ketika bangun tidur adalah menuju cermin setengah badan di pojok ruangan dan melihat perkembangan usaha dan perjuangannya dalam mempermak wajahnya. Tapi sesuatu yang belum pernah ia duga menghampirinya dan menghantam segala sisi kepercaaan dirinya ketika di pagi yang cerah ia melihat ada makhluk asing telah nongkrong di wajahnya. Dan hal itu adalah yang pertama dalam sejarah riwayat hidupnya.

Tanpa ba-bi-bu Wati segera menelpon Stephani sahabatnya yang pakar kecantikan itu.
“APA? Lo JERAWATAN?!”
“Iya! Aduuh gimana nih. Aku bakalan malu sama temen-temen satu sekolah.”
“Jadi gimana dong… nggak bisa ikutan foto covergirl dong kalau gitu. Entar jerawatnya ikut nongol di sampul majalah.” Ujar stephany yang justru memberi rasa pesimis.
“tahu ah, sebel banget deh!” gerutu Wati putus asa. “gue nggak mau sekolah hari ini. Bilangin aja ke guru gue lagi sakit.”
“apa? Hanya gara-gara jerawat lo gak sekolah?”
“aduh… lo gak ngerti ya. Ini menyangkut reputasi hidup gue selama ini.” jawab Wati sewot.

Dia tiba-tiba membayangkan respon teman-temannya apabila ia masuk kelas hari ini. Dimana untuk pertama kalinya mereka melihat jerawat di wajahnya. Pasti pada shock deh!
“loh.. hari ini kan nada pelajaran kesenian. Pelajaran favoritmu chiin..”
“Ah, bodo amat! Yang penting gue sekarang fokus giamna caranya gue ngusir nih jerawat keparat dari wajahku.”
“besok lo mau bolos juga?”
“Tergantung jerawatnya.”
“mana ada jerawat sembuh satu hari, paling seminggu.”
“ah! Lo banyak nanya deh. Kayak wartawan aja!”
“Hehehe oke! selamat bekerja dan semoga cepat almarhum!”
“Apa lu bilang?! Kurang ajar banget sih.”
“Almarhum jerawatnya non…” Pungkas Stephany dan sambungan telepon pun terputus

Terpaksa hari itu Wati bolos sekolah. Dia belum siap kalau sampai teman-temannya tahu wajahnya jerawatan. Empat makhluk mungil itu tak tanggung–tanggung bertengger dengan pedenya di dahi dan hidung Wati. Satu lagi di pipi sebelah kanan lebih besar dari teman-temannya. Jika ia meraba wajahnya Wati merasakan gerinjul-gerinjul dan Wati tak sanggup membayangkan bahwa jerawat itu akan beranak pinak dan memenuhi wajahnya. Persis seperti mitun -teman sekelas Wati yang masuk rekor sebagai gadis dengan jerawat terbanyak di wajah- yang kerjanya cuma mencetin jerawatnya yang tumbuh hampir di setiap hari. Hiy… ngebayanginnya aja udah ngeri.

Siang itu juga Wati mendatangi dokter spesialis kulit yang direkomendasikan oleh Stephany. Setelah puter-puter dan bertanya sana-sini akhirnya ketemu juga alamat yang dimaksud.
“ada yang bisa saya bantu.” Tanya sang dokter ketika Wati sudah duduk di ruang periksa.
“begini dok. Wajah saya kok tiba-tiba jerawatan ya. Padahal sebelumnya baik-baik saja tuh.” Terang Wati.
“mungkin anda salah memakai kosmetik atau tidak cocok dengan scrub yang dipakai.” Ujar dokter mencoba berasumsi. Namun asumsi itu membuat Wati tersadar dengan sepenuh-penuh sadar. Ia jadi teringat dengan semua kosmetik barunya dan pada saat itu juga ia menceritakan semuanya.

Dokter menulis resep di secarik kertas kemudian memberikannya kepada Wati.
“obatnya bisa ditebus di apotek segera sehat. Dan saya ingatkan sebaiknya anda menghentikan penggunaan kosmetik-kosmetik dan scrub yang selama ini anda pakai. Kalau bisa anda bisa mengirimkan sampel kosmetik yang anda pakai.”
“Terima kasih dok.”ujar Wati dan segera ke luar dari ruangan. Ingin sekali ia mengatakan pada stephany bahwa sarannya sekaligus saran temen-temannya malah berujung petaka.
Dan Wati ingin temannya itu merasa bersalah terhadap Wati. “Tapi kan itu kemauanmu juga. Nggak ada yang harus disalahkan dalam hal ini.” Batinnya berseru dari sisi yang berbeda.

Ini hari kedua Wati harus berteman dengan jerawat. Dia benar-benar jengah mendengar komentar Mama dan Weni Kakaknya. Aduh… Wati. Wajahmu kok jerawatan sih… begitu kata mereka dan Wati hanya menggumam dengan malas. Dan untuk pagi ini Wati kembali jengah ketika Mama menegurnya supaya siap-siap untuk berangkat sekolah. Tentu saja sekarang bukan saatnya menjawab pertanyaan Mama dengan erangan dan gumaman.

“Wati kan lagi sakit ma.”
“Sakit apa? Kamu masuk angin lagi ya.”
“iya ma. Wati gak tidur semalaman, buat ngerjain tugas sekolah.”
“Entar Mama beli obat ke warung sebelah. Ya udah, untuk sekarang kamu nggak usah sekolah, istirahat aja dulu di rumah. Apa Mama bilang, kamu jangan terlalu sering begadang. Itu kan gak baik bagi kesehatan kamu. Kalau terlalu sering begadang kata temen Mama juga yang dokter itu bisa merusak liver.” kalau sudah menyangkut soal anaknya yang sakit, Mama termasuk tipe seorang Mama yang terlalu perhatian dan sangat mengkhawatirkan kondisi kesehatan anak-anaknya. Dan dia akan berbicar berbusa-busa tentang pentingnya menjaga kesehatan.

Tiba-tiba Weni datang dari kamarnya. “ada apa ma, Wati lupa cuci piring lagi ya.”
Wati mendelik kesal. “enak aja!”
Mama mengelus kepala anak bungsunya dan tesenyum. “Wati masuk angin lagi. Dia begadang semalam. Jadinya hari ini dia gak bisa masuk sekolah.”
Weni mengerutkan keningnya. “begadang? orang abis salat isya dia langsung tidur.”
“loh, kamu bilang semalam begadang buat ngerjain PR.” ujar Mama dan mengalihkan pandangannya kepada Wati. Sebelum Wati angkat bicara Weni sudah menimpali ucapan Mama lebih dulu. “Dia cuma bikin alasan supaya bisa bolos sekolah ma. Ya itu, dia malu dengan jerawat di wajahnya. Buktinya dari kemarin dia nggak sekolah.”

Mama manatap Wati dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “pokoknya kamu harus sekolah!”
“tapi ma…”
“Dengar Wati! Kamu nggak usah malu dengan jerawat. Itu udah biasa kok. Setiap orang juga pasti ngalamin yang namanya jerawat. Itu kan suatu proses alamiah yang biasa dialami seorang yang udah menginjak dewasa.”
“Bukannya itu tandanya seseorang gak bisa merawat kulitnya.” ujar Wati.
“gak juga.”
Dengan malas Wati beranjak untuk mempersiapkan buku-buku pelajarannya. Yang pasti dia benar-benar tak ingin membayangkan bagaimana respon teman-temannya nanti.

Saat waktu istirahat tiba, Wati lebih memilih berdiam diri di kelasnya. Sudah cukup baginya teman-teman sekelas mengetahui perihal jerawatanya. Ia tak ingin semuanya mengetahui hal ini. Tiba-tiba muncul Kartiny yang jago merangkai kata dan termasuk salah seorang penyair sekaligus penulis amatiran.
“Wati, tumben lo terjangkit jerawat.”
Wati hanya tersenyum hambar. “tahu ah!”
“nggak usah sedih, menurutku…” Ia termenung sejenak. “wajah tanpa jerawat bagai langit tak berbintang. Apa yang kau rasakan bila malam kelam tanpa bintang?”
“Plisss deh! aku gak butuh puisi butut gubahanmu itu.”
Dia langsung tertawa mendengar omelanku. “lumayan daripada lo manyun.”
Wati sudah siap melempar buku matematikanya yang super tebal dan Kartiny lari terbirit-birit sebelum insiden itu terjadi.

Dan tak menunggu lama Wati kembali terdiam dan dia mencoba membunuh kejenuhan dengan memainkan game di Samsung galaxy-nya. Tiba-tiba Stephany sudah nongol di sampingnya. “wah… asyik sendiri nih. nggak ajak-ajak ya.”
Wati mendongak. “aku nungguin kamu dari tadi.”
“gimana jerawatmu,”
“Seperti yang lo lihat.” Jawab Wati malas.

Stephany duduk di samping Wati dan dia berbisik kepadanya. “jangan-jangan ini gara-gara kita bohongin Mama kamu waktu mau beli kosmetik beberapa hari yang lau. Kita kualat!”
Wati tercekat.
Stephany melanjutkan kata-katanya, “aku juga ketiban dosanya. Waktu pulang dari toko kosmetik aku terjatuh dari motor dan tanganku lecet-lecet.”
“Serius lo?!”
Stephany mengangguk. “aku harus minta maaf ke Mamamu.”
“Aku juga…” jawab Wati lirih. “dan kayaknya aku gak usah ikutan cover girl untuk saat ini.”

Mereka saling bersitatap dan tersenyum bersama. Entah apa arti senyum mereka.

Cerpen Karangan: Husni Mubarok
Facebook: Husni Mubarok

Cerpen Jerawat Wati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I Hope You’re Happy (Part 3)

Oleh:
Lusa adalah hari pertama Ujian Nasional. Aku harus belajar dengan benar. Karena hasil akhir Ujian Nasional ku akan aku kirimkan ke Malaysia untu mengikuti program beasiswa. Bimillah, mudah-mudahan aku

Akhirnya Balikan Lagi

Oleh:
Banyak orang yang sering mengatakan “Akhirnya Balikan Lagi cha”, kata itu entah menyindir atau memang sekedar ucapan selamat padaku. Singkat cerita saat itu aku berpacaran dengan Elang, hubungan kami

Sepatu Yang Tertukar

Oleh:
Saat itu jam kelima baru dimulai. Jam kelima senin ini adalah matematika. Pelajaran yang cukup membosankan di siang hari. Ditambah dengan soal-soal rumit yang diberikan guruku waktu itu. Kelas

Hargai Cinta

Oleh:
Ini kisah cinta pertamaku, kisah yang takkan terlupakan. Dulu, saat masih SMP aku pernah suka-sukaan sma seorang cowok, dia dulu di kelas C dan aku di kelas A. Menurutku

One More Time To Be Is Last

Oleh:
“Citrrraaaaaa…!!!”, teriakan nyokap gue yang selalu gue denger tiap pagi, siang, malem, bahkan saat gue mandi. Inilah gue, Sabrina Citra Dewi Putri Sailendra, cewek penggemar musik dan… kalian bakalan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *