Karena Bersepeda Itu…

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 June 2016

Mungkin, pertemuan yang menyenangkan itu ialah yang tanpa diatur, tanpa membuat janji. Ada? Ada, dan sering segala sesuatu yang terjadi bersekongkol membuat pertemuan itu benar-benar terealisasi. Beberapa orang menyebutnya takdir. Beberapa yang lain menyebut rekayasa Tuhan. Seperti saat pulang sekolah ini, di siang yang tiba-tiba cerah di antara hari-hari dalam musim hujan. Sering kali, secara tiba-tiba mobil jemputan Sinta mendadak mogok. Ini sudah kedua kalinya dalam dua minggu. Terpaksa harus naik angkot lagi. Anehnya, tak ada satu pun angkot ke arah rumahnya yang lewat. Ajaib, seolah menjebaknya sampai harus bertemu Luki lagi. Anak itu baru saja keluar dari pintu gerbang dengan mengayuh santai sepedanya. Melihat Sinta sendiri, dia menghampiri.

“Nggak dijemput lagi?”
Sinta menggeleng sambil tersenyum
“Nunggu angkot?”
Sinta mengangguk.
Luki celingukan ikut melihat angkot, hasilnya sama, tak kelihatan. Sementara Sinta menerka-nerka, apa setelah ini Luki akan mengajaknya pulang bareng naik sepeda? Tidak… tidak… Mana mungkin? Tapi bagaimana kalau beneran? Sinta mulai bingung menyiapkan jawaban.

Tiba-tiba terdengar suara motor yang benar-benar ribut memecah keheningan, motor Fajal. Dengan semangat dan pamer suara motor yang membuat telinga sakit itu, dia mendekati Luki dan Sinta. Melihat Sinta sendirian tidak dijemput, Luki yang bermodal sepeda ingin mengantar, pasti dia lebih menang karena naik motor.
“Hai Mbak Sinta! Apa kabar nih? Tidak dijemput ya? Bareng sama saya saja yuk! Enak naik motor, ada ACnya, alami lagi! Daripada naik sepeda, panas!”
Luki langsung melirik sewot.
Secara mengejutkan klakson mobil Fortuner berbunyi keras, sampai hampir membuat Fajal jatuh. Kaca mobil terbuka, satu wajah yang familiar melongo di sana, Kemal, si vokalis band sekolah paling ngetop.
“Hei, jangan menghalangi jalan!” Sentak Kemal kasar.
Fajal ingin protes tak terima, tapi buru-buru Luki menahan temannya itu. Fajal memang sedikit menghalangi jalan sih.
“Eh Sinta? Mau pulang Sin? Kebetulan, bareng saya aja yuk! Adem naik mobil, biar nggak panas! Daripada naik motor bekas apalagi sepeda, capek, bikin keringetan!”
“Nggak usah Mal, kita kan nggak searah, aku naik angkot saja!”
“Nggak bakalan ada angkot Sin, pada demo soalnya! Sudah, bareng saya saja! Nggak panas!”
Sinta ragu, dia melihat ke arah Luki. Entah kenapa, rasanya lebih percaya pada Luki. Andai kata Luki memberi tawaran untuk pulang bareng, pasti dia sudah memilih anak itu. Meski hanya naik sepeda.
“Kamu naik mobil saja kayaknya enak mbak! Lebih adem!” Ujar Luki mengejutkan bagi Sinta, sekaligus membuat lemes. Beberapa saat dia diam sejenak karena jengkel, lalu mengiyakan tawaran Kemal. Maksud hati agar Luki jadi panas, tapi kurang ajarnya anak itu diam saja, ekspresi wajahnya sama saja, tetap cuek. Dan di dalam mobil Sinta lebih banyak diam, kenapa juga harus mikirin Luki. Dia itu kekanak-kanakan.

Setelah Fortuner Kemal hilang di tikungan, tinggal Luki yang memaki-maki karena terkena kepulan asap motor Fajal yang pekat. Bukannya berhenti dan meminta maaf, Fajal justru tertawa ngakak bahagia melihat wajah Luki yang menghitam. Luki jadi pulang sedikit lebih lama karena harus mencuci muka lebih dulu.

Untungnya sepeda, meski lebih lama dia bisa masuk-masuk gang melewati perkampungan untuk mencari jalan pintas. Tak perlu ditegur orang karena tidak bising. Sampai akhirnya Luki muncul di jalan raya dan ikut terjebak macet. Tapi dia tak benar-benar terjebak, sepedanya bisa lolos, dengan mudah bisa dinaikkan ke trotoar. Dengan santai dan menikmati hembusan angin dia terus menyusuri trotoar. Ada rasa sedikit bangga lantaran sadar kalau sepeda juga bisa lebih cepat dari kendaraan bermotor. Lebih lagi sepeda tak bisa bikin asap hitam seperti motor butut Fajal. Ah, mata Luki menangkap keberadaan sahabatnya itu. Saat benar-benar dekat Luki tertawa sampai terpingkal-pingkal lantaran melihat wajah Fajal yang sudah ngepas semakin terlihat tak beraturan. Dia dengan susah payah mendorong motor karena kehabisan bensin.
“Eh Luk, jangan ketawa! Bantuin saya kenapa?”
“Sori Jal, aku trauma dengan asap hitammu lagi! ya udah, aku duluan! Dag!” Sahut Luki sambil masih tertawa dan berlalu. Fajal hanya bisa mengumpat sana-sini.

Tak jauh di depan, masih di antara kemacetan, Luki lebih terkejut lagi. Dia melihat Sinta mendorong mobil. Menghampirinya, lalu menahan tawa. Sinta yang sadar jadi melotot.
“Nggak usah ketawa! Nggak lucu!” Sentak Sinta jahat, tapi justru Luki kelepasan ketawa.
Tapi jahat betul ya si Kemal, masak gadis cantik di suruh dorong mobil di tengah siang bolong gini. Luki pun mengayuh sepeda mendekati Kemal.
“Mas, kasihan Mbak Sinta tuh! Masak cewek dorong mobil?” Kemal menoleh dengan wajah suntuk, “Trus mau gimana lagi? Masa harus aku yang dorong? Ah, kenapa nggak kamu saja yang bantu dorong!”
“Waduh, makasih mas! Aku sudah lapar, lagian panas dorong mobil, macet gini lagi!”
Tiba-tiba terdengar pintu mobil Kemal dibuka, lalu ditutup dengan kencang, Kemal sempat ingin protes, tapi tak jadi, mungkin takut juga.

“Ayo kita pulang!” Ajak Sinta yang tiba-tiba duduk di stang sepeda Luki. Luki kaget, bingung harus ngapain.
“Cepetan, jalan!”
“I…iya!” Luki gugup, lalu mengayuh sepedanya tanpa sempat protes dan bertanya mengapa. Tapi di sepanjang jalan Luki juga tak jadi mempertanyakannya. Apapun alasannya? Sudahlah! Keduanya sudah asyik ngobrol santai, bersenda gurau sambil tertawa. Ditambah lagi hembusan angin sejuk membuat semakin nyaman. Mungkin akan ada yang berdoa, semoga tak segera lekas sampai.

Sementara nasib Fajal, jam sembilan malam dia baru sampai di rumah dan langsung pingsan. Saat sudah mengisi bensin, jarak beberapa meter ban motornya meletus. Terpaksa karena kehabisan uang dia harus dorong motor lagi. Sedangkan Kemal, dia terus memaki-maki pada setiap orang yang lewat karena tak ada yang mau membantunya mendorong mobil. Cara minta tolongnya terlalu kasar, pantes nggak ada yang mau. Dibayar mahal sekalipun!

Cerpen Karangan: Lukiluck
Blog: http://www.lukiluck.com
Motto: Bukan hero, bisa salah, pernah patah hati, tapi nggak cengeng
Seorang penulis blog di http://www.lukiluck.com dan pemilik http://www.godearos.com

Cerpen Karena Bersepeda Itu… merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Satu Bulan Dalam kenangan

Oleh:
Masih sangat pagi. Dinginnya juga seperti tak aku kenali. Seolah kota ini membawaku pada ruang berdinding balok-balok es, mungkin karena aku yang tak terbiasa. Hari ini adalah hari pertamaku

Gara Gara

Oleh:
Baru hari pertama masuk sekolah setelah MOS selama 3 hari aku sudah terlambat. Aku tidak akan menyalahkan siapa-siapa ataupun memberi banyak alasan kenapa hari ini aku terlambat karena memang

Kasih Yang Sejati (Part 1)

Oleh:
Mentari pagi memanggil tepat jam 6.00 tanda aku harus pergi sekolah. Hari ini tepat hari pertamaku sekolah di Sma. Jarak dari rumah ke sekolah, ya katakanlah emang jauh, namun

Memandangmu

Oleh:
Jam menunjukan pukul 06.25 aku langsung bergegas menuju sekolah. Seperti biasanya aku selalu kesiangan. Tapi untungnya hari ini kakak mau mengantarku ke sekolah, akhirnya aku bisa bernafas lega hari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *