Kebaikan Kecil Yang Bermakna

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 April 2016

Siapa sih yang akan merasa bahagia jika akan dihadapkan dengan ujian praktek yang sangat susah? Itulah nasib Alyssa, sepertinya ujian seni musik -pelajaran yang tidak pernah ia kuasai- akan menjadi hal yang mengerikan dalam hidupnya. Bagi seorang perfeksionis macam Alyssa, seharusnya menguasai satu alat musik itu menjadi kewajiban. Namun entahlah, ia tidak mungkin bermain pianika dalam band seni musiknya bersama teman-temannya. Mereka bermain piano, menjadi vokalis, kecrekan, dan kahoon. Lalu apa yang dimainkan Alyssa? Ah, awalnya, ia sangat tertarik mencoba bermain gitar. Tapi mungkin karena belum waktunya ia bisa, permainan gitarnya pun masih di bawah rata-rata orang biasa dengan suara ‘jreng’ yang sangat gak-banget.

“Terus gue main apaan dong, Sha?” Alyssa cemberut, menggoyangkan tubuh Sasha yang sedang sibuk mempersiapkan teks presentasinya.
“Ya… Main drum aja sana, yang Gellar bawa!” ucapnya ketus, lalu kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat terganggu.

Alyssa menghela napas. Mau tidak mau, akhirnya ia pun berlatih dengan drum kecil milik adik Gellar yang cowok tersebut bawa. Ia tidak dapat membayangkan dirinya, di hadapan satu angkatan, akan bermain drum seperti ini. Tibalah saat kelompok mereka akan tampil. Sasha sangat senang karena setelah ujian praktek seni musik ini, ia dapat tenang mempersiapkan diri untuk presentasi. Berbanding seratus delapan puluh derajat dengan Alyssa yang sangat pasrah dengan dirinya sendiri. Teman-temannya serta Alyssa menaiki panggung untuk mempersiapkan. Sasha, dengan keyboardnya sudah sangat siap.

Gina dan Gellar sebagai vokalis pun sudah siap mental dan siap suara. Ranna sebagai pemain kahoon dan Faza dengan kecrekannya sudah berada di posisi masing-masing. Sementara itu, Alyssa masih galau memilih untuk menggunakan drum milik adik Gellar atau drum ‘sungguhan’ yang terlihat sangat sulit ia mainkan. Sepertinya, melihat yang dulunya ‘adik kelas’ mengingat Alyssa merupakan akselerasi, teman seangkatannya yang bertugas untuk membantu persiapan pemain di panggung menghampirinya.

“Lo main drum?” tanya seorang kakak kelas tersebut, yang notabenenya merupakan kakak kelas yang pernah Alyssa kagumi sewaktu dulu.
“Iya… Tapi gue gak bisa main drum.” Alyssa berucap pelan, meratapi nasibnya yang terlalu menyedihkan dan mengenaskan.
“Oh, kalau bagian drum yang kanan ini…” Kakak senior yang bertanya kepada Alyssa tadi pun menjelaskan ini-itu tentang drum, hingga ia meminjam alat pemukul drum untuk memberikan contoh sambil menyanyikannya.

Entah apa yang harusnya dilakukan Alyssa, namun ia merasa sangat gugup serta khawatir karena tidak bisa main drum dan sebentar lagi riwayat harga dirinya akan hancur -di satu sisi, hatinya berbunga-bunga karena bisa berdekatan hingga diajari oleh senior yang pernah ia kagumi. Penampilan mereka pun berakhir dengan Alyssa yang menahan malu setengah mati karena sambil dilihat oleh senior yang pernah ia kagumi dan teman satu angkatan lainnya, terlebih ada seseorang yang sangat ia benci di situ. Jika boleh Alyssa melenyapkan dirinya saat itu juga, atau jika ia dapat pingsan, maka tentu saja dengan senang hati ia akan melakukan itu.

Sayangnya, meski kita berhenti melakukan sesuatu, waktu tidak akan pernah berhenti. Meski ia turun panggung dengan segenap rasa malu -tentu, sangat sangat malu- dan ingin melenyapkan dirinya sendiri, di satu sisi lain, Alyssa sangat berterima kasih dengan senior yang pernah ia kagumi tersebut dan teman-temannya karena telah membantunya, bahkan hingga mengajarinya. Yah, meski kakak kelas tersebut mengajarinya hingga jungkir balik, dapat dipastikan Alyssa tetap tidak akan mengerti cara bermain drum. Alyssa juga tahu, bahwa mereka -orang yang membantu persiapan panggung- tidak hanya membantu persiapan kelompoknya, tapi juga semua kelompok sebelumnya dan setelahnya nanti. Mereka rela berbuat baik, membantu banyak orang, meski mereka tidak mendapatkan imbalan apa pun.

Apalagi, mereka juga membantu Alyssa yang bagaikan alien nyasar dari pluto. Bagaimanapun, sesuai prinsip hidupnya, Alyssa akan tetap mengingat kebaikan dari seseorang, sekecil apa pun itu. Gadis itu pun bertekad, suatu saat, ia akan membalas kebaikan itu. Mungkin ia belum mengucapkan “Terima kasih” secara langsung, namun suatu saat, Alyssa akan membalas kebaikannya. Atau mungkin, jika Alyssa tidak dapat membalasnya, seseorang yang lain yang telah diutus Tuhan akan menjadi perantaranya. Orang baik itu, ternyata sangat banyak. Namun, perlu diingat, menjadi orang baik itu tidak juga mudah. Maka, cobalah untuk melakukan suatu kebaikan. Mungkin bagi kalian kebaikan tersebut sangat kecil dan tidak berarti apa-apa, namun, bagi orang yang telah dibantu tersebut, kebaikan kalian berarti segalanya.

It’s called a little things mean a lot.

Cerpen Karangan: Nadira Erwanto
Facebook: Nadira Erwanto
Halo, ini salah satu cerpen karya Nadira Erwanto. Penulis duduk di kelas 9 SMP Labschool Kebayoran. Terima kasih telah membaca!

Cerpen Kebaikan Kecil Yang Bermakna merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Don’t Judge People By Their Looks

Oleh:
Kringgg… kringgg!! alarm membangunkan Felli dari lelapnya tidur. Hari ini hari minggu, jadi tidak ada kegiatan sekolah seperti hari biasanya. Jam menunjukkan pukul 07.00 WIB. Felli bergegas menuju kamar

Janji Tuk Menunggumu

Oleh:
Mata yang indah membuat orang tak akan berpaling darinya. Sosok yang sangat tampan, mampu memikat semua kaum hawa. Dan aku begitu mengaguminya. “Dorrr, kedip Ana mata kamu jatuh tuh”

Gara Gara Siti

Oleh:
Hari ini adalah hari dimana aku berstatus sebagai siswi SMA. Ya, setelah 3 tahun lamanya mengenyam bangku SMP aku kini berubah status. Aku kembali ke kampung setelah 3 tahun

Pembelajaran Cinta

Oleh:
Namaku Alicia Cantika tapi biasa dipanggil Ica, karena mayoritas kata orang aku ini imut-imut gitu. Selain itu, aku punya 2 sahabat yang sangat dekat denganku. Namanya Salsa dan Rani,

Cinta di Kelas Ujung

Oleh:
Aku berlari menuju kelas yang terletak di ujung belakang. Rasanya masih terlalu pagi. Ya tapi peraturan baru harus di taati. Masih terasa embun yang mengenai tangan ku. Wangi pagi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *