Kejar Kejora Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 October 2015

“Eleh, deleh. Kamu, ya, biarpun bisu, kamu kejoranya kelas.” puji Pak Sutrisno, guru Matematika, pelajaran kesukaanku.
“Terima kasih, pak.” ucapku dengan bahasa isyarat sambil ku tersenyum pada beliau.
Aku berjalan dengan riang. Gini-gini, biarpun aku saban hari diejek sama Egi, Ririn, dan Olla, entah kampungan atau bisulah, aku harus di atas kelemahanku.
“Eh, itu anak, senyam-senyum sendiri. Stress kali dia.” ejek Egi dari kejauhan. Aku hanya berpura-pura budek di depan mereka.

Aku pulang disambut Bunda dan Kak Rion.
“Wah, kejoranya Bunda sudah pulang. Rayya, bagaimana belajarnya di sekolah?” tanya Bunda. Kalau dimana-mana, orangtuaku dan guru-guruku di sekolah, selalu memanggilku Kejora. Kalau ku ingat-ingat, prestasiku memang patut diacungi jempol.
“Baik, kok. Bun.” kataku.
“Iya, dong. Adik Kakak emang kayak bintang kejora di atas sana.” kata Kak Rion.

Aku langsung masuk kamar. Ku ambil buku diary dan buku gambarku. Ku tulis kegembiraanku selama pelajaran dan kekesalanku kepada Egi. Ku gambar kisah cintaku dengan Kak Lian, Kakak Tony, sahabatku. Ku gambar tepinya dengan gambar bunga mawar. Ku beri warna dan ku tempel di mading pribadiku. Mading kecilku yang berwarna hijau itu, kenang-kenangan dari Sekolah Luar Biasa. Makanya, aku berkali-kali juara 1 lomba menggambar, loh. Karena kecapekan, aku tertidur di atas ranjang dengan kacamata terbalik. Bunda yang melihatku, segera menanyaiku.
“Kamu sudah salat?” tanya beliau.
“Belum. Salat, yuk.” ajakku.

Setelah salat, aku langsung makan siang dengan nasi, sayur bayam dan ikan sarden buatan Bunda. Setelah itu, aku membantu Bunda menyiram tanaman di depan rumahku dan memetik jeruk, yang kebetulan siap panen. Oh, ya, aku kasih tahu kalian, ya. Besok, aku mau study tour ke museum Gajah Mada dan Taman Safari Prigen. Asyik, loh. Ketika di dapur, aku langsung minta izin ke Bunda.
“Bun, besok aku mau study tour. Boleh ikut?” tanyaku.
“Boleh, kok. Tapi, kamu jaga diri baik-baik, ya. Anak Bunda nanti dimakan macan, loh.” goda Bunda.
Aku langsung melonjak kegirangan, sekaligus tersipu dengan godaan Bunda. “Terima kasih, bun. Bunda bagaikan mawar merahku yang sebenarnya.”

Aku langsung mandi sore dan pergi ke musala. Lalu, aku mengaji. Sebenarnya, aku tunawicara. Tapi, aku tak pernah patah semangat. Lagi pula, aku dibelikan alat bantu bicara. Jadi, aku tak perlu kesulitan.
“Ayo, ini dibaca, ya. Bismillahirrahmanirrahim.” kata Bunda dengan yakin, kalau aku bisa membacanya.
Ku ikuti kata-kata Bunda. Walau agak susah, tapi, aku berhasil, “bismil.. laahir.. rahmanirahimi.”
“Wah, kejoranya Bunda memang cerdas.” puji Bunda. Aku dengan bangga meneruskan membaca mushaf, walau agak gagap.

Kemudian, aku makan cokelat di kamar sambil membaca buku Bahasa Inggris. Sesaat kemudian, aku salat dan membaca buku komik di saung bersama Kak Rion. Ayah dan Bunda
Kak Rion yang sedang bermain gitar, langsung menghentikan permainannya.
“Rayya, coba kamu pandang langit di atas. Pandanglah bintang itu.”
Aku pun mencoba memandang langit malam. Cerah dan sejuk bertabur bintang berkelap-kelip, seperti intan berlian (Ingat lagu ‘Bintang Kejora’) dan dihiasi bulan sabit. Ku cari-cari yang paling terang. Dan aku menemukannya.

“Pandanglah bintang kejora setiap malam. Cobalah kau lihat benda berkilauan itu. Indah, bukan? Itulah masa depan manusia yang sebenarnya. Harus bisa mencapai cita-cita setinggi itu. Apakah kamu sanggup?” tanya Kak Rion.
“Bagaimana caranya, kak?” tanyaku.
“Belajar, berdoa dan patuh pada norma.” jawabnya.
“Hanya dengan itu, kak?” tanyaku lagi.
“Kelihatannya mudah, tapi sebenarnya sulit. Kalau kamu mau melakukannya dengan bersabar, esokmu seperti bintang itu. Prosesnya seperti perputaran musim.” jawabnya dengan tersenyum. “Kamu sanggup?”
Aku mengangguk dengan mantap, “Sanggup, kak.”

“Lupakanlah kelemahanmu itu. Carilah jati dirimu yang sebenarnya. Bukankah masa depanmu masih jauh?”
“Ya, aku sanggup hadapi semuanya.” kataku dengan bahasa isyarat.
Malam itu seakan membuatku bangun dari kegelapan. Aku bangga dengan Ayah, Bunda dan Kak Rion. Semoga mereka dilindungi ole Allah.

Esoknya. Aku sudah siap dengan kemeja hitam dan rompi ungu kesukaanku, rok blus warna jeans dan kerudung pashmina unguku.
“Kejora Bunda cantik bagai bidadari.” puji Bunda
Ternyata, aku di luar sudah ditunggu oleh Kak Lian dan mobil sportnya warna merah
“Rayya, ayo kita berangkat. Kamu nanti terlambat.”
“Tadinya mau diantar Kakak. Tapi, Rayya nggak boleh duduk sejajar, loh.” kata Kak Rion.
“Assalamualaikum.”

Di sekolah, Egi “Geng Zee” sudah berkumpul di depan gerbang sekolah. Aduh pusing kalau melihat dandanan mereka bertiga. Persis seperti mau menginap ke hotel saja. Tampaknya, mereka kebingungan mencari sosok Kak Lian. Ketika mereka melihat mobil sportnya Kak Lian, mereka langsung menghambur ke arahnya.
“Aduh, ayang Lian lover Egi. Kamu kok telat, sih?” tanya Egi.
Tanpa ada jawaban dari dalam, atap langit-langit dan pintu mobil terbuka. Tampaklah Kak Lian menggandengku keluar.
“What is this? Triple ew, ew, ews. Ayang Lian nggandeng si bisu?” Langsung saja, Egi shock berat. Untung dia nggak sampai pingsan.
“Egi nggak apa-apa, kan? Sini, gue kasih teh anti shock made in Ririn.” Ririn menyodorkan sebotol teh manis.

Aku protes ke Kak Lian. Ku tulis “Kenapa Egi nggak ditolong saja? Kasihan dia. Aku gabung ke Tony dulu. Kakak tolong saja dia.”
Dia balas dengan menulis di tangannya, “Aku nggak bisa meninggalkan kamu dalam keadaan apapun. Kamu bisa saja kesulitan minta tolong dalam jarak yang cukup jauh. Ku mohon, tunggu aku di sini.”
Aku pun membantu Kak Lian menuntun Egi ke dalam bus. Egi agak girang, karena Kak Lian mau menuntunnya.

Ketika dalam bus, Egi dan teman-temannya berisik sekali, karena mereka lagaknya seperti sales. Teriak-teriak saja. Aku yang mau tidur saja harus menyumbat kedua telingaku. Ketika sampai di museum, Egi dan teman-temannya memimpin menghambur ke arah pintu gerbang. Hampir saja aku terjungkal karena terdorong teman-teman. Mereka berlari ke arah sebuah situs purbakala. Aku ditemani Salsha dan Stevani memotret benda-benda yang ada.

Itu pun ketika ke Taman Safari, keadaan berisik saja. Sampai-sampai Neneng muntah-muntah karena pusing mendengar Egi berisik. Lionel yang nggak nafsu makan karena bau bensin dan teriakan Egi, ikut muntah. Semua marah-marah ke arah Egi. Kejadian sama terjadi tempat selanjutnya, komandonya Egi. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Egi yang terkesan tidak sopan. Lagi-lagi, Egi, Ririn dan Olla bikin ulah. Ketika sampai di kolam renang, ia menceburkan diri ke kolam dengan meloncat dari ketinggian 2 meter. Padahal, Angel, sepupu Olla, mengingatkan mereka berkali-kali, kalau mereka nggak bisa berenang.

Mereka meluncur ke bawah dan turunnya kaget, alias cepat sekali. Tak pelak, kepala mereka pusing. Kak Lian kesal dengan mereka. Tapi, karena dia sebagai panitia kelas senior, harus menolong mereka. Tapi, akhirnya, Kak Lian minta Kak Mita untuk mempercepat kepulangan. Padahal, Egi dan teman-temannya berniat ingin caper -cari perhatian- ke Kak Lian, supaya Kak Lian mengalihkan perhatiannya dariku.

Sebenarnya, aku ikhlas saja kalau Kak Lian jadi milik Egi. Tapi, Kak Lian ingin selalu berada di dekatku. Di tengah perjalanan, aku memandangi bintang kejora. Kebetulan, Kak Lian duduk di kursi sebelahku. Dengan malu yang luar biasa, aku memberinya tulisan, “Kakak, boleh aku tanya sebentar?”
Dengan senang hati, Kak Lian menjawabnya dengan bahasa isyarat. “Ya, ada apa?”

“Kakak, coba lihat kejora itu” kataku dengan bahasa isyarat sambil menunjuk ke arah bintang kejora. “Menurut Kakak, apa artinya itu?”
“Dia menerangi kegelapan, seperti ajaran tentang bahasa isyarat darimu menerangi rasa penasaranku. Engkaulah guru bagiku. Berkat kamu, nilai-nilai setiap mata pelajaranku jadi bagus. Kejora itu paling terang, seperti kata-katamu menuntunku. Dia bercahaya, bagai wajahmu yang bersinar.” Katanya sambil melepas kacamataku.

Tanpa sadar, keajaiban Tuhan datang. Aku berkata dengan lisanku.
“Kau pun segalanya bagiku. Kakak kelas, sekaligus membuatku seakan-akan jadi sempurna.” Aku bisa bicara!
Teman-temanku kaget, termasuk Egi. “Hah? Dia bisa ngomong? Gimana bisa?”
Aku menangis terharu. Ku bersujud karena bersyukur.

Di rumah, Bunda menangis karena terharu. Kak Rion melongo karena bingung.
“Rayya, kaulah setitik kejora, setelah Kakakmu. Semoga Allah senantiasa menuntun kalian ke jalan yang lurus.” Kami sekeluarga pun berpelukan.
Kak Lian pun berkata, “Jadi, bisa langsung ngomong, ya?”
“Iya, dong.” jawabku. Perlahan-lahan, Egi, Ririn dan Olla mendekatiku.

“Rayya, maafin kita, ya. Kita udah kapok tadi jatuh dari kolam.” kata Ririn.
“Iya, gue sadar, lo udah level 100 di atas kita.” sambung Olla.
“Sekarang, gue ikhlas kalau Lian jadi milik lo. Ambil saja dia. Gue ikhlas. Suer deh.” kata Egi berusaha meyakinkan kata-katanya.
“Oh, ya. Ada lagi yang ngganjal di hati gue.” kata Kak Lian.
“Apa?” tanyaku penasaran.

Perlahan-lahan, dia merendahkan dirinya.
“Mau nggak kamu jadi pacar gue?” tanya Kak Lian. Kemudian, ia menoleh ke arah Ayah dan Bunda, “Boleh, nggak, tante, om?” Ayah dan Bunda hanya senyum-senyum saja.
“Kita boleh-boleh saja. Tapi, nggak tahu kalau kata Rayya.”
Dengan malu-malu, aku menjawabnya. “Aku mau, kok.”
“Terima kasih, Rayya, om, tante.” kata Kak Lian senang.
“Sudah, ya. Kami pulang dulu. Assalamualaikum.” Kak Lian, Egi, Ririn, dan Olla pulang naik motor sport.

Di kamar, aku tersenyum sambil menatap bintang kejora.
“Terima kasih, ya Allah. Engkau telah menyempurnakanku lewat Kejora-Mu. Selamat malam.”
Aku pun tertidur dengan nyenyak.

Cerpen Karangan: Zuhrotul Aulia
Blog: www.aulia@blogspot.com
Assalamualaikum. Namaku Zuhrotul Aulia. Aku lahir di Malang, 04 Juni 2000. Sekarang, aku tinggal di Trawasan, Sumobito, Jombang. Bapakku namanya Abdul Haris. Beliau bekerja sebagai guru MI. Ibuku namanya Naila Imtiyaz. Beliau pun jadi guru. Aku anak pertama dari 3 bersaudara. Hobiku membaca, mewarnai, bermain, menulis dan menggambar. Cita-citaku tidak tentu. Tapi yang pasti, aku ingin jadi yang bermanfaat dunia dan akhirat. Kritik dan saran sangat aku harapkan. Tapi, lewat surat saja, ya. Facebook di rumahku lemot. Hehehe. Wassalam.

Cerpen Kejar Kejora Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Masa SMA

Oleh:
Pertama kali Raisa melihat Kevin, disaat itu juga mata Raisa dan Kevin saling bertatapan. Dan tiba-tiba rasa itu muncul di hati Raisa, bisa jadi perasaan itu disebut dengan cinta.

Perpisahan Kita

Oleh:
Stefanny amelia larasati seorang wanita cantik, pintar, baik, berkulit hitam manis. Yang sering dipanggil fany. Fany tidak terlalu manja, namun cengeng. Dia single, dia sama sekali belum pernah mengalami

Cinta Saat Ulangan Semester

Oleh:
Pagi pagi sekali aku pergi ke sekolah, ya karena sekarang aku sedang ulangan semester apalagi sekelas sama anak kelas 3, saat itu aku mencari ruang 26 dan aku melihat

Mine (Part 1)

Oleh:
Mentari pagi merekah membawa semburat senyum kemerahan dari peraduannya. Seakan mampu menepis awan gemerlap yang berwarna hitam keabu-abuan. Berarak perlahan-lahan ingin menutupi senyum mentari itu dengan bantuan angin yang

Hanya Cinta

Oleh:
Hanna terus menatap punggung di depannya, mengabaikan pelajaran. Itulah kesehariannya. Ia sangat menikmati kegiatan itu. Walau akan sia-sia. Tapi tidak masalah. Gadis itu bertekad untuk memanfaatkan kesempatan yang diberikan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *