Kelas Penuh Kejahilan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 1 April 2016

Kami adalah murid kelas 8 Jahil. Itulah sebutan untuk kelas kami yang penuh kejahilan. Namaku Eldo dan tak hanya aku saja yang jahil di sini. Banyak kawanku, laki-laki atau perempuan, mereka juga jahil sepertiku. Mulai menjahili teman sekelas sampai orang yang melewati kelas kami. Kalau kami sebutkan kelas ruang berapa, hmm.. tak perlu disebutkan. Kalian juga tak ingin mengetahuinya, hahaha.

“Haha, rasain!” baiklah, untuk sekian kalinya, aku dan kawan-kawanku menjahili seorang laki-laki yang melewati kelas kami. Kejahilan kami adalah menyengkat kaki laki-laki yang tak bersalah tersebut. “Bisa gak sih ubah sikap kalian?” tanya laki-laki tersebut. “Sayangnya kami tidak bisa, mengapa kau lewat kelas kami?” jawabku dan bertanya balik. “Kalian tahu, aku ingin ke toilet dan toilet pria melewati kelas kalian. Guru di sekolah ini sudah menasihati kalian dan teman-teman di kelas kalian yang sangat jahil. Tapi kenapa kalian gak berubah jadi lebih baik?” laki-laki tersebut berbicara panjang lebar kepada kami. Kami tidak menghiraukan perkataannya dan dengan wajah kesalnya, ia pergi.

Baiklah, di kelasku, antara laki-laki dan perempuan, lebih banyak laki-laki yang berbuat hal yang menyebalkan di mata orang-orang di sekolahku ini. Tapi.. aku mengenal lima kawan perempuan yang sama jahilnya sepertiku. Sebut saja, Radhy dan kawan-kawan. Mereka yang selalu menarik perhatianku dan kawan-kawanku. Ku lihat dari jendela kelasku, Radhy dan kawan-kawan sedang menyiapkan sebuah tali dan mereka bersembunyi di balik pohon. Mereka membentangkan tali tersebut dan dipegang dua orang. Peristiwa ini terjadi di taman, aku tahu, mereka ingin menjatuhkan seseorang atau lebih. Haha, kalau lebih dari seorang, pasti heboh. Ku lihat dengan diiringi penasaran, aku memandang dua orang perempuan ingin duduk di pinggir danau. Saat menuju ke sana, bruk!! terjatuhlah mereka. Aku tersenyum sambil menahan tawa. Dari kejauhan, Radhy dan kawan-kawannya tertawa. “Licik!” satu kata yang diucapkan oleh dua perempuan tersebut lalu pergi.

Kejahilan ini terus menerus terjadi hingga suatu hari, “Awas!!” teriak seseorang dari kejauhan. Seorang perempuan berhijab menghampiri seorang laki-laki yang sedang membawa buku. “Kau tak lihat di hadapanmu? Ada minyak. Sebaiknya kau lebih berhati-hati!” ucap perempuan tersebut.
“Kau benar, terima kasih banyak. Namamu siapa?” mulailah laki-laki itu menanyakan nama perempuan tersebut.
“Aku Firdaus!” jawab perempuan bernama Firdaus itu.
“Namaku Syimall. Sekali lagi terima kasih ya!” ujar Syimall lalu pergi dari hadapan Firdaus. Begitu juga sebaliknya.

Hm.. kalian tahu mengapa ada minyak di koridor sekolah lantai 1? Tentu ini bagian kejahilan kelas kami. Tapi bukan aku dan kawan-kawanku, melainkan Radhy dengan dua orang laki-laki yang menemaninya. Dua orang laki-laki tersebut bernama Arza dan Adman. Aku mengetahui kejahilan mereka karena aku melihatnya dari lantai dua tepat di depan kelasku. Tapi kasihan, kejahilan mereka tidak berhasil karena Firdaus, perempuan yang asing di mataku. Sabar ya, Radhy, Arza, dan Adman. Hahaha. Bel masuk berbunyi, semua murid masuk ke kelas masing-masing. Wali kelas kami masuk ke kelas membawa seorang perempuan berhijab. “Firdaus!” gumamku. Ya, dia Firdaus. Setelah Firdaus memperkenalkan diri, ia pun mengambil kursi kosong di sampingku atas perintah wali kelas kami. Aku suka sekali duduk sendiri, tapi sekarang kesukaanku ini tidak ada lagi. Ia terlihat pendiam bahkan tak menanyakan namaku seperti murid baru umumnya. Ku lihat Radhy, Arza, dan Adman menatap Firdaus dengan wajah kesal.

“Allahu Akbar..Allahu Akbar..” adzan duhur berkumandang.
“Assalamualaikum Firdaus dan Eldo!” salam Kalika, teman perempuanku yang sama pendiam dan berhijabnya dengan Firdaus. “Waalaikumussalam!” jawab kami.
“Fir, salat yuk!” ajak Kalika.
“Ayo. Alhamdulillah ada teman. Eldo mau ikut?” jawab Firdaus dan tiba-tiba bertanya padaku.
“Gak!” ujarku tegas. “Ayolah!” mohon Firdaus.
“Fir, kamu gak tahu ya kalau kelas yang kamu masuki ini dicap sebagai kelas jahil?” Tanya Kalika.
“Kelas jahil? Ku rasa tidak, mereka murid yang baik. Eldo, ayo salat!” jawab Firdaus dan kembali mengajakku lagi. Karena terpaksa, aku ikut dengan Firdaus dan Kalika untuk menunaikan salat duhur.

Sejak saat itu, aku dan Firdaus berbincang apa saja. Aku semakin akrab dengan perempuan berhijab ini. Ia juga tak begitu pendiam seperti yang ku duga. Ia ramah dengan semua murid di kelasku. Terkadang ia menasihatiku dengan menerjemahkan arti dari sebuah surah yang berhubungan dengan nasihat yang diberikan padaku. “Aku tahu kalian anak yang baik dan pintar. Namun kenapa harus menjahili orang? Kalian tidak tega melihat orang yang sakit hati dilakukan seperti itu? Apa menjahili orang itu membuat kalian bahagia? Ya, membuat bahagia untuk di dunia, tapi di akhirat kalian menyesal!” mendengar kata-kata dari Firdaus, aku terdiam. Intinya, orang jahat akan masuk neraka. Barangsiapa yang membuat orang senang dengan kebaikan kita, kelak masuk surga. Aku terhanyut dalam kesalahan dan penyesalanku.

Tiga hari kemudian, perlahan, aku meninggalkan kejahilanku ini. Aku tidak menghiraukan perkataan orang yang menghalangi jahilku dan kawan-kawan, tapi, Firdaus mengingatkanku lebih jelas lagi. Suatu hari, kawan-kawanku menghampiriku, “Akhir-akhir ini kamu tidak menjahili orang lagi. Ayo kita jahili orang lagi!” ajak Rico, salah satu kawanku. “Gak mau. Sudahlah, aku sebenarnya merasa bersalah setiap menjahili orang. Tapi, aku tidak menghiraukan rasa bersalah itu. Aku menyesal berbuat jahil. Hari ini dan seterusnya, aku tidak akan mengulangi lagi!” jawabku. Mendengar itu, teman-temanku terkejut.

Banyak perubahan terjadi di kelasku sejak ada Firdaus. Perlahan kelasku bebas dari kejahilan. Orang yang biasa kami jahili heran melihat kelas kami. Namun hanya Radhy, Arza, Adman, dan kawan-kawanku saja yang masih melanjutkan kejahilannya. Teman-teman kelasku yang lain lebih rajin belajar dan beribadah. Kami yang proses menjadi lebih baik, meminta maaf kepada semua orang yang kami sakiti. Alhamdulillah mereka memaafkan kami.

“Eldo, Kalika, pulang bareng yuk!” ajak Firdaus pada kami. Dengan semangat, kami mengiyakan ajakannya dan kami pulang bersama. Firdaus bersyukur bisa memperbaiki akhlak teman-temannya. “Kau hebat Fir!” puji Kalika pada Firdaus. “Alhamdulillah. Kalian juga hebat kok. Hebat untuk berubah jadi lebih baik termasuk Eldo dan lain-lain,” jawab Firdaus tersenyum. Aku hanya tersenyum malu. Saat kami berjalan, dari kejauhan, kami melihat Radhy, Arza, Adman, dan kawan-kawanku diganggu oleh preman. Mereka meminta uang dengan cara kasar.

“Mereka dalam keadaan bahaya!” ucap Firdaus lalu berlari menghampiri preman dan teman sekelasku tersebut.
“Sebaiknya Om pergi dari sini!” kata Firdaus pada preman tersebut.
“Semudah itu? Lawan kami dulu!” mendengar itu, kami, kawan-kawan Firdaus terkejut dengan tantangan preman tersebut pada Firdaus. Dengan berani, Firdaus menerima tantangan tersebut karena terpaksa. Kami melihat dari kejauhan. Aku tidak menyangka Firdaus mahir beladiri dan dengan mudah mengalahkan preman tersebut. Preman pun pergi dari Firdaus.

“Fir, kamu gak apa-apa kan?” tanyaku.
“Gak apa-apa kok!” jawab Firdaus tersenyum. Ia berantem tanpa terluka sedikit pun.
“Fir, kami minta maaf karena tidak mendengarkan nasihatmu. Kamu telah membantu kami. Jika tak ada kamu, bagaimana keadaan kami nanti?” kata Radhy mewakili teman-temannya. “Aku maafkan. Jangan lupa minta maaf pada Allah dan orang-orang yang pernah kalian sakiti!” jawab Firdaus. Alhamdulillah, lengkap sudah teman-temanku yang berakhlak mulia.

Keesokkan harinya, Radhy dan kawan-kawan meminta maaf pada semua orang yang pernah disakiti. Alhamdulillah pikiran murid, maupun guru tentang kejelekan kelas kami, perlahan hilang. Kelasku bukan kelas 8 jahil. Sebut saja kelas 8 akhlak Mahmudah. Terima kasih Ya Allah, engkau telah mengirim Firdaus untuk membuka mata dan pikiran kami. Firdaus, terima kasih untuk segalanya.

Selesai

Cerpen Karangan: Salma Sakhira Zahra
Facebook: Salma Zahra

Cerpen Kelas Penuh Kejahilan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Biola Sang Maestro

Oleh:
Yola Viola, seorang gadis desa berumur 17 tahun yang dianugerahi bakat bermain musik. Dari sekian banyak alat musik yang pernah dimainkannya, Yola lebih tertarik untuk bermain biola. Suara lembut

2 Days

Oleh:
Di sebuah kamar, seseorang sedang melamun di atas tempat tidurnya sambil memegangi ponselnya. Suara orang itu terdengar “Aku belum tahu persis perasaanku, 7 bulan ini kau memberikan perhatian yang

Siksaan Penuh Makna

Oleh:
Langkah anak-anak berpakaian biru dan kuning itu terus mendekat. Seiring dengan suara azan yang mulai berkumandang. Jam di tanganku pun seolah tak mau kalah dengan langit yang terus menunjukkan

Cerita Di Tepi Jalan

Oleh:
Byur… hujan turun deras membasahi tubuh Rani, Septi, Susi, Eva, dan Yuni. Sialnya lagi mereka menginjak setumpuk cacing menggelikan yang menari-nari di tanah. Mereka betul-betul kesal, karena hari itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kelas Penuh Kejahilan”

  1. Ptra says:

    Pemerannya siapa aja namanya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *