Kenangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 21 March 2016

Di saat ada sebuah tugas yang menyuruh siswa-siswinya untuk melakukan observasi ke tempat-tempat yang mempunyai sejarah. Sebelumnya kita membuat kelompok terlebih dahulu. Setelah itu kita mendiskusikan di mana tempat yang mempunyai sejarah atau peninggalan penjajah belanda. Setelah beberapa hari kita sudah menemukan sebuah tempat bersejarah. Waktu itu aku dan teman-teman bergegas pulang untuk mempersiapkan alat-alat atau perlengkapan yang akan di bawa esok hari. Setelah selesai aku langsung pamit kepada orangtua begitu juga teman-teman yang lainnya.

Aku dan teman-teman rencananya akan menginap di rumah salah satu teman sekelompok kita sebut saja namanya Mutiara. Tempat yang akan kita datangi adalah sebuah gunung yang menurut seorang bapak yang sudah lama tinggal di dekat gunung tersebut. Yang katanya di gunung itu banyak peninggalan-peninggalan bersejarah dan gunung tersebut pernah dijadikan tempat berperangnya penjajah di zaman dahulu. Kalau tidak salah tempat itu di sebut “Tanah Merah”. Oke kurang lebih seperti itu.

Keesokan harinya. Suara burung pipit menyambut pagi ini dengan nyanyian mereka. Ayam pun mulai berkokok menyambut munculnya sinar matahari hangat. Di balik itu aku dan teman-teman bersiap-siap untuk naik gunung. “Rempong sih iya tapi seru loh.” Tap, tap, tap kita memulai berjalan dengan santai. Tak lupa juga salah satu teman kita membuat video perjalanan kita untuk bukti sekaligus kenangan kalau kita pernah naik gunung. Beberapa jam kemudian kita sudah berada di tempat tujuan dengan pakaian yang kotor karena jalannya yang begitu becek. Beberapa kali kita terjatuh sampai-sampai tangan kita berdarah karena tergores dedaunan yang berduri. Di perjalanan sesekali kita bercanda sampai tertawa lepas.

Napas terasa berat.. tenggorokan mulai kering… keringat pun mulai membasahi tubuh… dan kaki ini pun mulai lelah. Dan akhirnya kita mulai mewancarai narasumber tentang sejarah tersebut. Dengan seksama kita mendengarkannya. Setelah semuanya selesai kita pun beristirahat sambil mendiskusikan hal-hal kecil. Setelah semuanya selesai kita pun mengabadikan momen ini dengan berfoto riang di tempat yang pemandangannya sangat indah. Di belakang kamera kita bergaya sambil menikmati sejuknya angin yang menghembus lembut, dari pohon-pohon yang menjulang tinggi, dilengkapi dengan suara teriakan orang-orang yang sedang memburu anjing hutan. Kita sempat ketakutan dan akhirnya kita melanjutkan perjalanan untuk pulang.

Di perjalanan pulang kita melewati jalan yang susah untuk dilewati, kita saling membantu teman-teman yang mengalami kesusahan untuk melewati jalan tersebut. Lucu banget ketika kita berlari dan meloncat-loncat menyusul teman-teman yang sudah jauh di depan kita. Dan akhirnya terpeleset bukannya merasakan sakit ini malah ketawa terbahak-bahak. Sepulang dari gunung itu aku dan teman-teman mampir dulu ke sebuah sungai yang dialiri air yang lumayan besar, sekedar mencuci muka dan kaki yang kotor.

Tiba-tiba ketika aku melewati genangan air yang aku kira itu sangat dangkal, tetapi dugaanku salah. Genangan air itu berhasil membuatku terpeleset ke dalamnya. Lalu handphone-ku menjadi korban, handphone aku rusak karena terjatuh ke atas batu. Sedikit luka memar di bagian betisku tapi di balik itu aku senang melihat mereka tertawa begitu lepas saat aku jatuh. Kenangan ini akan menjadi sejarah dalam hidupku.

Cerpen Karangan: Arini Latifah
Facebook: Arinie Latifah

Cerpen Kenangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Antara diPHP Atau Tidak

Oleh:
Aku senyum-senyum sendiri. aku suka sama dia sudah lama banget. saat pertama kali ketemu di lapangan sekolah, aku senang banget dia sekolah sama dengan sekolahan aku. pertamanya berawal dari

Sahabat Sejati

Oleh:
Udara pagi yang sejuk dan segar, sang surya menyinari saentero indahnya desa Grabag, bunga-bunga pun bermekaran dan harumnya menarik perhatian para kumbang dan kupu-kupu yang bercorak warna nan indah

Arti di Balik Sang Saka

Oleh:
SANG SAKA, sebuah simbol dan pembuktian bahwa negara Indonesiaku ini telah bebas, merdeka, tapi apakah jiwa dan rohani rakyatnya telah benar-benar merdeka? Itulah yang menjadi pertanyaan terbesarku hingga saat

Cinta Di Tepi Danau

Oleh:
“Pagi yang dingin.” kataku sambil berdiri di halte bus. Pagi yang berkabut dan terlihat banyak genangan air di jalan. Angin dingin begitu menusuk kulit. Sang surya juga terhalangi awan

Ilmu Bukan Cinta

Oleh:
Saat itu jam pulang, sekolah telah mulai sunyi. Aku memberanikan diri untuk melompat dari lantai tiga gedung sekolahku. Hal itu ku lakukan karena masalah percintaanku yang harus berakhir dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *