Kenapa Indah Pelangi Tak Dapat Tersentuh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 24 May 2016

Di sudut malam aku menulis tentang gelisah
Manantang kekalahan
Menapaki kepedihan
Menghadapi yang tersirat

Hujan masih mengguyur permukaan tanah di kota ini, seperti tanpa ampun menghajar tanah, lalu lalang kendaraan pun masih menyesaki tiap sudut kota, sementara seorang lelaki masih asyik menyudut di seboah kafe. Berkawan secangkir kopi hangat, seolah mampu menghangatkan tiap sudut kerongkongan. Masih asyik menyusut sendiri di bawah remang lampu kafe itu, seolah mewakili apa yang dirasakannya, seorang leleki yang tersudut dalam remang kehidupannya. Malam ini sepertii malam-malam sebelumnya selalu dilewatinya sendiri, hanya berkawan dengan secangkir kopi yang dibiarkan menguap tanpa disedu. Dalam dingin ini hanya berselimutkan resah yang menyesakkan, segala pikiran dan perasaan masih tentang gadis kecil itu.

Segaris senyum dalam seraut wajah itu kerap hadir menemani tanpa mampu diusir, seorang gadis yang dengan mudah masuk dalam hidupnya, menyesaki tiap sudut kosong di ruang hatinya. Segaris senyum itu kembali hadir dalam ingatannya, dimana saat pertama kali gadis itu tersenyum padanya, juga di malam yang diguyur hujan seperti ini, saat dia asyik menghembuskan asap dari sebatang rok*k, di mana dia menunggu hujan reda di depan kafe ini, tapi sang lelaki acuh saja saat pertama kali segaris senyum itu menghampiri.

“Lagi nunggu hujan bang?”
“He-em.” jawab lelaki itu seenaknya.
“Hujan seperti ini sangat indah ya? Aku sangat suka hujan, terpesona aku pada sang hujan, dengan sejuk hawanya, dengan kabut menyertainya, terkagum aku pada hujan, hilangkan penat, hilangkan dahaga, andaikan aku sang hujan.” terdengar gadis kecil itu mengatakan pelan.
“Hem, aku malah gak suka hujan kalau lagi di luar gini, yang membuat aku harus berlama-lama di luar gini, di mana semua orang sudah berhangat-hangat dengan pasangan mereka, sementara kita masih terjebak di sini.”
“Ah, kau ini bang, berarti kau tak dapat menikmati segala apa yang ada dalam hidupmu, bukankah harusnya kita dapat menikmati segala yang ada dalam hidup ini, apa pun itu, baik sedih, bahagia,” gadis kecil itu masih saja asyik mengutarakan perasaannya, seperti telah lama mengenal sang lelaki, sementara sang lelaki hanya tersenyum simpul.

Setelah malam itu sang lelaki kembali bertemu dengan sang gadis kecil, tapi tidak dalam suasana terjebak dalam hujan, melainkan di malam yang indah dengan kerlip bintang dalm pekatnya langit, tepat di sudut kefe sang lelaki sedang asyik memandang ke luar. Dalam temaram lampu gadis kecil mampu mengenali sosok lelaki itu, sosok yang seolah tersudut dalam kesendirian dan remang kehidupannya.

“Sendiri aja?” senyum itu masih tersirat dalam raut sang gadis, saat senyum itu hangat menyapa. “Emang kamu lihat ada orang lain duduk sama aku? kecuali kalau kamu mau duduk dan menemaniku melamun,” balas sang lelaki.
“Kau ini apa tak ada kegiatan lain selain melamun di sudut ini?”
“Aku tentu punya alasan kenapa aku selalu asyik dalam lamunanku, dan cukup hanya aku yang tahu,”
“Lagian siapa juga yang mau tahu alasan kamu,” balas sang gadis tak kalah sengit.
“Kadang kita membutuhkan waktu untuk sendiri dalam hidup kita,”

“Mencoba mencari kebahagiaan dalam lamunan bukan berarti tak waras kan? Kadang dalam kesendirian dan lamunan itu kita bisa menemukan apa yang kita cari, saat aku sudah menemukan sesuatu yang aku cari dalam lamunanku itu aku akan berusaha mencarinya dalam dunia nyata,”
“Ya, dalam kesendirianmu itu, akan kau temui kebahagiaan yang tak kau temui dalam dunia nyata, setiap orang berhak untuk sejenak menyepi mencari kebahagiaannya, walau dalam kesendirian walau dalam lamunan, aku juga kadang sepertimu, bahkan aku kadang tak ingin kembali dalam dunia nyata yang hanya menyiratkan kepedihan dalam penat. Ya sudah lah, sorry udah ganggu lamunan kamu, aku cabut dulu ya, hehehe.”

“Tak usahlah kau buru-buru, duduk aja di sini, karena sesuatu yang aku cari dalam khayalku udah aku temukan, maka tak ku biarkan dia pergi,”
“Maksudmu?”
“Ya kau ini, seseorang yang bisa mengerti aku, bisa diajak sharing saat aku ke luar dari dunia khayalku.”
“Dasar, bilang aja kalau mau aku temani,”

Di sudut malam aku menulis
Tentang bahagia, resah, mimpi
Menanti dalam pekat malam
Menantang pongahnya penat

Sejak pertemuan kedua malam itu sang lelaki kerap menghabiskan malam-malam dengan gadis kecil itu, tak hanya di sudut kafe itu, mereka kerap menghabiskan malam-malam mereka, di sudut-sudut kota, di pinggiran kota. Menikmati tiap jengkal kehidupan kota itu, sang lelaki kerap membicarakan tentang bahagia, gadis kecil mananggapi dengan segala resah. Sang lelaki membicarakan tentang mimpi-mimpi yang tertunda, gadis kecil kerap membicarakan tentang khayalan-khayalan gilanya. Kadang mereka juga menghabiskan malam dengan berdiam, tenggelam dalam lamunannya sendiri-sendiri, seakan mereka mampu mengembara meninggalkan penat.

“Kamu ternyata asyik ya? Kalau sudah bicara tentang mimpi-mimpimu paling semangat kau ini,” sang gadis membuka pembicaraan.
“Karena dengan mimpi kita serasa hidup, tanpa mimpi-mimpi itu kita akan mati walau raga kita masih seutuh purnama,”
“Tapi jangan cuma bermimpi kau ini, wujudkan mimpi-mimpimu itu, kecuali kalau kau mau mimpi-mimpimu itu menguap begitu saja, seperti kopi ini yang kalau lama-lama dibiarkan menguap tentu rasa tak akan senikmat waktu hangat, begitulah mimpi kita kalau dibiarkan menguap dan tak segera mewujudkannya maka keindahannya akan segera hilang,” sang lelaki memberi argumennya.

Begitulah dua anak adam ini kalau sedang dalam bimbang dan resah, mereka punya tekad yang sama, mewujudkan mimpi-mimpi mereka, mimpi yang telah menari-nari lincah dalam pekat malam. Mimpi yang membuat mereka berani menantang pongahnya penat. Tiap sudut malam mereka lalui, seperti menemukan sosok yang dicari selama ini sang lelaki tak akan bisa jauh dari gadis kecilnya, sosok gadis kecil yang membuatnya mengenal resah bercampur bahagia, membuatnya menemukan arti mimpi yang sesungguhnya, begitu pun dengan sang gadis kecil. Dia seperti menemukan sosok seorang kakak dalam diri sang lelaki, yang setiap saat bisa melindungi dia, menyayangi dia, selalu ada saat dia butuhkan.

Di sudut malam aku menulis
Tentang kegagalan, kebodohan, kekalahan
Kepedihan menertawakan
Kelam kembali memperasing

“Aku tidak dapat menghindari dari apa yang sudah digariskan, semua telah tersurat, maksud hati ingin aku menerima semua ini tapi aku tak bisa membohongi diri sendiri, alam bawah sadarku tak bisa menerima itu. Bukan kemewahan yang aku cari, itu tak ada dalam tiap mimpi-mimpiku, hanya kebahagiaan yang aku cari, yang selalu ada dalam tiap mimpi-mimpiku,” suara gadis kecil terdengar berat, seolah menghujam di hati yang paling dalam sang lelaki, dan dia hanya mematung mendengar semua itu tak mampu berkata apa-apa, kepedihan seolah menertawakan, dan mereka pun melewati tiap sudut malam dengan alam pikirannya masing-masing.

Kembali di sudut malam sang lelaki menyendiri, seolah mewakili perasaannya yang tersudutkan oleh kekalahan, kegagalan, kebodohan, kepedihan membayang di depannya, menari-nari dan menertawakannya, dan kelam itu kembali memperasing dirinya, dia mengutuk diri sendiri yang tak mampu jujur tentang perasaannya, suram kembali membayang. Sementara di sudut lain kota itu akan dilangsungkan sebuah akad nikah, di mana gadis kecil itu sebagai mempelai wanita, gadis kecil yang merasa terasing dalam bahagia semu, bahagia yang diciptakan bukan olehnya, hingga tak nampak secuil pun rona bahagia dalam dalam segaris senyum wajah sang gadis.

Di ujung malam kita yang termangu
Mematung semati bebatuan
Dalam diam dan sunyi
Menatap hutan yang menjadi suram
Sesuram jalan yang terbentang
Di antara kelamnya jurang-jurangmu

Di ujung malam itu gadis kecil dan sang lelaki masih membisu semati bebatuan, seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri. “Kenapa kau lakukan itu? Dasar gadis bodoh, segalanya telah tersurat di depanmu, kau tinggal menjalani saja, kenapa kau malah lari meninggalkan segalanya?”
“Kau ini yang paling dekat denganku malah tak dapat kau mengerti tentang tindakanku ini? Aku gak mau mimpi-mimpi yang telah aku rajut selama ini hancur begitu saja, lariku ini adalah perwujudan dari mimpi yang ingin aku raih.”
“Ah andai aku tahu aku ingin menjadi bagian dari rajutan mimpi-mimpi itu,” tanpa disadari oleh sang lelaki gadis kecil telah pergi meninggalkan dia dalam kelamnya malam, dia yang masih termangu dalam kesendiriannya, tenggelam dalam sebuah tanya.
“Kenapa indah pelangi tak dapat tersentuh?”

Di sudut malam sampai ujung malam, 17 maret 2012

Cerpen Karangan: Eka Adipriyanto
Blog: Goresankhe.blogspot.co.id

Cerpen Kenapa Indah Pelangi Tak Dapat Tersentuh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Salah Nilai Kamu

Oleh:
Hari ini, tepat di bulan Juli adalah hari pertama aku kembali ke Sekolah untuk menjalani kegiatan-kegiatan seperti biasa. Setelah liburan panjang yang ku lewati, aku cukup bahagia telah membugarkan

Salah Paham

Oleh:
Hari ke dua MOS smp aku datang terlambat tapi untungnya aku tidak dimarahi oleh kakak mosnya. Karena aku tidak tau aku masuk ke kelompok apa aku langsung bergabung dengan

Manusia di Persimpangan

Oleh:
“Hey, apa yang kau lakukan disini?” Tanya sang malaikat kepadaku yang telah berjalan hingga persimpangan ini “Aku hanya mencari apa tujuanku hidup” balasku dan malaikat itu memegang dagunya dengan

Hujan Cinta

Oleh:
Hari Minggu adalah hari saatnya aku latihan dance bersama timku untuk tampil di salah satu acara festival besar Jejepangan. Musim hujan melanda kota kami. Hampir setiap sore, hujan turun

Mam, Cinta itu apa?

Oleh:
Bu Rosa, pak Wijaya dan kak Kelvin tengah menyantap roti bakar yang telah disiapkan di atas meja makan yang berornamen dedaunan hijau itu. Keyla berjalan menuruni tangga menuju meja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *