Kepompong (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 January 2020

1. Tiga Permintaan

Seorang pria paruh baya sedang sibuk menekuni lembaran-lembaran kertas di ruang kerjanya. Dia begitu fokus bekerja hingga tidak mendengar derit halus dari pintu yang dibuka oleh seorang gadis remaja. Raut wajah cantik gadis tersebut begitu ceria, pada tangannya tergenggam selembar kertas yang menjadi alasan keceriaannya.

“Duaar! Ayah!” sapa gadis, membuat pria paruh baya tersebut melotot kesal.
“Anak ayah kok gitu, bukannya ngasih salam malah ngagetin ayah,” ucap pria paruh baya tersebut keki.
“Maap-maap. Kalau gitu, princes Bella ulangi lagi deh adegannya,” ucap gadis tersebut lalu melangkah keluar.

Pria paruh baya tersebut kembali menekuni lembaran-lembaran kertas. Lalu pintu terbuka dan gadis remaja tersebut masuk sambil mengucapkan salam, sambil berjingkrak-jingkrak heboh dan melambaikan kertas di tangannya, seakan-akan kertas tersebut adalah kertas ajaib yang bisa menuruti segala keinginannya. Pria paruh baya tersebut melongo, jika begini, seharusnya tidak perlu diadakan adegan ulangi.

“Ayah, tiga permintaan yang ayah ajukan jika aku lulus masih berlaku kan?”
“Masih.”
“Oke, permintaan pertama, aku ingin satu sekolahan dengan kakak.”
“Ayah kabulkan.”
“Permintaan kedua, aku ingin ayah bilang sama kakak, jika di sekolah, kakak harus pura-pura untuk tidak mengenalku.”
“Wah, rugi banyak, Bell! Soalnya kecakepan kakak ‘kan selevel Sazuke Uchiha,” ucap seorang cowok yang entah sejak kapan berada dalam ruangan tersebut.
“Iya sih, tapi fensnya kita jadi tercampur aduk kayak es campur yang dijual seharga dua ribu sama mas-mas kece yang mangkal di depan sekolahku. Kita ‘kan jadi nggak bisa ngitung, fens siapa yang paling banyak, soalnya fensnya kakak sih, pakai poin ‘nyenengin adiknya, sebelum meraih hati kakaknya’ kan rese,” ucap gadis tersebut, keki.
Pria paruh baya tersebut tertawa, sedangkan sang kakak cengar-cengir geje mendengar ucapan Bella.
“Oke, ayah kabulkan.”
“Permintaan ketiga, aku ingin ayah beliin sepeda balap model terbaru, soalnya sepeda lama sudah kurang kencang larinya.”
“Yeee, alasan. Bilang saja pengen yang baru.”
“Oke, ayah kabulkan.”
“Asyiiik! Makasih, Yah,” ucap Bella, mencium tangan ayahnya, lalu berlari keluar sambil jingkrak-jingkrak heboh.
“Wah, tingkahnya Yah, masih seperti anak SD. Nggak bakalan rugi deh, kalau aku pura-pura nggak kenal Bella di sekolah,” ucap cowok tersebut yang dengan sukses mendapat pelototan dari sang ayah.
“Hehehe… Nggak kok Yah, aku janji deh bakalan jagain Bella dengan segenap hati, tapi uang jajan ditambahin yaa, Yah.”
“Oke, ayah kabulkan.”
Cowok tersebut kembali menampakkan cengirannya, lalu pamit, sebab ia tahu kalau jawaban ayahnya yang itu-itu saja, berarti beliau sedang banyak kerjaan dan tidak ingin berlama-lama untuk ngobrol.

2. Vampir dan Wirewolf

Nabilah Zahirah, gadis remaja berseragam SMA berlari sekuat tenaga menuju gerbang sekolah. Namun apadaya, secepat apapun langkahnya mencoba, ia sudah terlambat selama lima belas menit. Sejenak Nabilah tertegun menatap gerbang yang telah tertutup rapat, lalu pandangannya menyapu sekitar, mencari celah untuk masuk ke halaman sekolah. Pagar tembok sekolah, itu rintangan termudah. Senyum tipis terlukis pada wajah cantiknya. Nabilah segera berlari kecil, melompat, lalu tangannya menggapai puncak tembok, mengayunkan tubuhnya ke atas dan sekejap saja ia sudah berdiri di atas tembok lalu siap melompat ke halaman sekolah.

“Ehem ehem.” Seorang pemuda berusaha menetralisir rasa terkejutnya. Bagaimana tidak terkejut? Ketika ia sedang mengerjakan hukuman dari sang guru –menyapu halaman belakang sekolah– ia dikejutkan dengan seorang gadis remaja, yang tiba-tiba berdiri di atas tembok.
“Ups! Ketahuan,” ucap Nabilah dengan nada datar.
Ia melompat lalu mendarat mulus dengan sebelah lutut tertekuk menyentuh tanah.
“Gila! Belum juga gue tobat secara keseluruhan, sudah ada bibit pengganti,” ucap pemuda tersebut sambil terkekeh.
Nabilah tidak mempedulikan ucapan pemuda tersebut, dengan raut wajah cuek, berjalan melenggang kangkung menuju kelasnya.

“Pagi, Pak. Maaf saya telat,” ucap Nabilah ketika sampai di depan pintu kelasnya.
“Silakan masuk,” perintah seorang pria yang tengah fokus menulis di papan, tanpa melirik sedikitpun ke arah Nabilah.
“Siapa yang menyuruhmu duduk? Ayo maju ke depan, perkenalkan diri kamu!” perintah pria tersebut saat melihat Nabilah hendak melangkah ke arah bangku kosong.
Nabilah pun menurut. Ia berusaha untuk tidak berbua kesalahan yang kedua kali.

“Seperti yang teman-teman ketahui sejak MOS beberapa hari yang lalu. Nama saya masih tetap sama. Nabila Zahirah, teman-teman boleh memanggil saya Bella,” ucap Nabilah tersenyum tipis ke arah teman-temannya.
“Kenapa nama lengkap dan nama panggilan berbeda jauh?” tanya seorang murid cowok.
“Karena Bella artinya cantik, dan saya memang cantik,” jawab Nabilah ke-pede-an.
Raut wajah datar dan kaku yang sejak awal ia perankan seketika luntur, berganti dengan sikap angkuh dan percaya diri.
Adnan, guru yang saat ini mengajar di kelas Nabilah terkekeh geli. Jawaban Nabilah yang angkuh dan super PD tersebut membuat murid-murid dalam kelas melongo heboh.

“Baik. Silakan duduk, Nabilah. Dan kita akan kembali melanjutkan pelajaran,” ucap Adnan dengan nada berwibawa.

Setelah pelajaran usai, Nabilah menuju ke kantin bersama Citra. Teman yang ia kenal ketika MOS berlansung.
“Bell, di sekolah ini ada dua kelompok cowok tampan. Kelompok pertama dijuluki Vampir dan kelompok kedua Wirewolf,” ucap Citra membuka pembicaraan, sambil menunggu pesanan mereka datang.
“Gue nggak tertarik,” jawab Nabilah dengan raut wajah datar.
“Hehehe… Gue mau ngasih lo tantangan. Sapa tahu berminat.”
“Apa tantangannya?”
“Lo genggam tangan salah satu personel Vampir selama dua menit. Kalo dia nggak menepis, gue bakal ngasih satu tiket permintaan apa saja.”
“Oke,” jawab Nabilah tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu.

Citra tersenyum prihatin. Anggota Vampir adalah cowok berprestasi berjiwa angkuh. Itu yang ia dengar dari kakak kelas, yang juga teman akrabnya. Sebenarnya tadi ia hanya iseng, mencoba untuk lebih akrab dengan Nabilah. Tapi ternyata Nabilah menanggapi dengan serius.

Dilihatnya Nabilah berjalan mendekat ke arah meja kelompok Vampir. Gayanya cuek dan angkuh. Lalu dengan santai duduk di sebelah Alfis, pemimpin kelompok Vampir. Sebelah alis Alfis tertekuk ke atas, lalu melotot saat jemari Nabilah menggenggam tangannya.
“Dua menit. Please…”
Alfis mendengus, tapi tetap dibiarkan jemari Nabilah menggenggam tangannya.
“Kenapa?”
“Buat yakinkan diri gue, kalau lo bukan Vampir seperti Edward Culen.”
“Kenapa bukan kelompok sebelah?”
“Kalau lo beneran Vampir, setidaknya tangan gue nggak gosong.”
Alfis terkekeh, sedang seorang cowok di meja sebelah mendengus pelan.

“Udah lewat dua menit,” ucap Alfis, melirik jam tangannya.
“Oke. Makasih,” jawab Nabilah, tersenyum manis.

Nabilah memutar bola mata, jenuh. Sudah lebih dari puluhan kali Citra mengoceh dengan binar kagum padanya. Bukan hanya Citra, tapi seisi kantin pun menatapnya dengan binar kagum, iri, heran, dan lain sebagainya. Nabilah tak peduli. Sebuah tiket permintaan, kini ia miliki. Nabilah sangat menyukai tantangan dan tiket permintaan.

(bersambung)

Cerpen Karangan: Itin Lessy
Blog / Facebook: Facebook : Yosphina CL

Cerpen Kepompong (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kutukan Ibu Ibu Datang Bulan

Oleh:
Hari ini, seperti biasa aku bersekolah. Namun berbeda dengan hari-hari sebelumnya, hari ini sangat istimewa. Yap, hari ini aku, teman-teman, dan beberapa guru akan mengadakan karya wisata. Acara ini

Waktu Di Balik Senja (Part 1)

Oleh:
Waktu itu akan tercipta dengan sendirinya dengan siapa dan di mana pun yang dia inginkan. Indah rasanya bila hidup selalu ceria. Indah rasanya bila hidup tak penuh duka lara.

Berawal Dari Facebook

Oleh:
Ini kisahku sekitar 3 tahun yang lalu. Ya 3 tahun yang lalu memang ada kejadian yang sungguh mengesankan. Namaku Tasya duduk di bangku SMP kelas 7, Mula-mula aku terkejut

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kepompong (Part 1)”

  1. dinbel says:

    di tunggu part 2 nya ya min, seru sekali cerita nya. penasaran banget aku sama lanjutan ceritanya.semangat minnn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *