Ketika Senja Bertemu Fajar (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 22 December 2013

“Senja Kanetisha.. kamu besok jadi speaker apel pagi ya? Besok petugasnya kelas kita 11 ipa 3” suara bass Ilo, ketua kelas 11 ipa 3 mengagetkanku yang sedang menyalin PR fisika milik Rena.
“Hah? Apaan? Speaker? Yang nyampein materi di podium pas apel itu? Dihhh.. ogah!” ujarku lantang.
“Tishaaa.. lo nggak boleh gitu! Ilo sama Bu Nur kemarin udah rundingan masalah petugas apel pagi. Bu Nur ngerekomendasikan lo buat jadi speaker soalnya lo siswi yang paling aktif mulutnya di kelas ini Tisha” suara cempreng Rena ikut-ikutan mengeluarkan suara.

“Rena, gue nggak mau! Rena lo nggak usah pake kata kiasan gitu, siswi yang paling aktif mulutnya di kelas. Bilang aja langsung kalau gue cewek yang paling cerewet” ujarku sambil meneruskan pekerjaan tadi, menyalin PR fisika Rena.
“Dih.. pokoknya keputusan udah bulat, lo speaker apel pagi besok kita nggak mau tahu. Titik. Hehehe memang lo cerewet kan Tisha? Lo tuh diemnya pas lagi makan sama lagi nyalin PR doing.” Ujarnya mengejekku sambil cengengesan.
“Satu lagi Ren.. Tisha diem pas lihat matahari tenggelam.” Kali ini Rosa menimpali ucapan Rena.
“Nah.. itu lo semua pada tau” ujarku cuek.
“Tisha mah gitu.. gimana nih? Mau ya? Mau dong. Nanti lo diliatin sama senior-senior kece loh Tisha, kayak Putri Indonesia semua mata tertuju padamu.” Rena berkata sambil memasang wajah memelas dan mata berbinar-binar saat menyebut kata ‘Putri Indonesia’.
“Biasa aja Rena matanya, gue tusuk pake pena nih! Lo kan seneng tuh jadi pusat perhatian, kenapa nggak lo aja yang jadi speaker?” tanyaku.
“Gue sih mauuu.. tapi udah jadi pembawa acara Tisha”
“Iya Tisha, kemarin pas kita berunding si Rena mau jadi speaker tapi Bu Nur ngerekomendasiin kamu, Rena jadi pembawa acara aja kata beliau.” Ilo menambahkan ucapan Rena.
“Sekongkol nih lo berdua emang.. saling nambahin omongan gitu” ujarku malas. Masih tak kuhiraukan sepasang manusia yang berdiri di depan mejaku ini, Rena dan Ilo.
“Sekongkol gimana sih Tisha.. iiihhh dengerin dulu kitanya ngomong, kita bukan makhluk gaib Tisha” Rena berkata sambil berkacak pinggang.
“Gue dengerin tahu, mata gue aja yang ngeliatin tulisan lo, Ren. Telinga gue masih dengerin kalian kok” aku masih fokus dengan rumus gerak parabola di depan mataku.
“IHHH SENJA KANETISHAA” teriakan Rena pun memenuhi ruangan kelas.
“Rena! Nggak usah teriak-teriak, dari tadi ngomong emang nggak haus?” tanyaku.
“Tisha becandanya garing!” ujarnya lagi.
“Yah.. garing yah? Haha iya iya gue mau kok jadi speaker, lo jangan pasang muka memelas lo itu” aku berujar sambil menutup buku di depanku.
“Beneran, ya? Asyik Tisha baik sekali..”
“Iya beneran kok, tapi lo cariin materinya ya? Gue males” kataku mengajukan syarat.
“Materi? Ahhh mudah! Eh ini baru jam setengah tujuh, kita ke perpustakaan dulu yuk, cari materi buat besok di perpustakaan aja. Takutnya nanti nggak keburu, ini hari Senin kita pulang jam 5.45 WIB” Rena berkata sambil melirik jam tangan berbentuk keroro, kartun hewan amfibi hijau yang menurutnya sangat lucu (tapi tidak untukku).
“Ya udah, ayo. Tapi lo aja yang masuk ke perpustakaan nyari materinya ya”
“Okeee” ujar Rena sambil menunjukkan kedua jempol tangannya.

Kami pun melangkah keluar kelas, menuju ke area belakang sekolah, tempat perpustakaan berada. Perpustakaan SMA Insan Mulia memang berada di belakang sekolah, terpisah agak jauh dari bangunan-bangunan lain. Entah apa tujuannya, mungkin agar murid-murid yang mengunjungi perpustakaan mendapatkan ketenangan saat membaca buku-buku.

Kami sudah sampai di perpustakaan, Tisha segera melepas sepatunya dan masuk ke dalam. Sedangkan aku berjalan hingga ke pojok kanan perpustakaan lantai satu dan menaiki tangga menuju ke lantai dua dari perpustakaan ini. Sambil berjalan lambat aku mengamati bangunan ini, Perpustakaan sekolahku sudah sangat baik, bertingkat dua dengan koleksi buku yang hampir lengkap dan terdapat beberapa komputer. Sudah cukup memuaskan dan sangat nyaman untuk ukuran perpustakaan sekolah. Perpustakaan ini akan sangat ramai ketika istirahat kedua, pukul 12.00 hingga 13.00 WIB.
Sambil menaiki tangga, aku mengamati perpustakaan sekolah ini. Namun langkahku terhenti saat melihat sesosok laki-laki berdiri menghadap ke timur, dia memegang sekotak susu dan wajahnya menghadap ke langit. Dilihat dari struktur badannya yang lumayan tinggi dan rambutnya yang agak gondrong, dapat dipastikan sosok itu adalah anak kelas 12. Karena hanya murid kelas 12 yang selalu kabur saat razia rambut, siswa kelas 11 apalagi kelas 10 masih takut untuk membuat masalah.

Dia tampak sangat serius saat melihat ke langit timur. Tidak ada pergerakan tubuh yang dilakukannya, hanya wajahnya yang tak berhenti menunjukkan senyum. Namun aku bertaruh dia masih bernafas. Aku sampai bingung, sosok itu melihat apa sih? Apakah ada UFO di langit? Atau ada peri langit yang mengucapkan selamat pagi kepada kakak kelasku itu? Sambil menyunggingkan senyum, bibir itu terbuka dan berkata,
“Wah! Gila! Cantik banget!” ujarnya sambil mesem-mesem.
Aku terperangah, apakah dia benar-benar diucapkan selamat pagi oleh peri langit? Seperti dalam dongeng yang kubaca saat kecil?
“Aneh..” tanpa disadari mulutku mengeluarkan suara.
Sosok itu pun menoleh ke arahku dan menyadari kehadiranku.
“Siapa lo? Yang lo bilang aneh siapa?” tatapan matanya tajam setajam sinar matahari pagi yang menyeruak di wajahku.
“Eh.. maaf kak, ini.. umm.. perpustakaannya aneh kak! Iya, aneh! Hehe udah lama nggak kesini, jadi ngerasa aneh” ujarku menunduk sambil memengang tengkuk.
“Gue pinter baca bahasa tubuh orang kok, dek. Lo nggak perlu bohong, masih pagi. Gue aneh? Memang, tiap orang juga bilang gitu kok?” ujarnya menjawab pertanyaannya sendiri.
“Eh bb-bukan gitu kak” ujarku mengangkat kepala, memberanikan diri melihat matanya.
“Senja Kanetisha” ujarnya menyebutkan namaku yang dilihatnya dari name tag yang kupakai.
“Lo pasti lahirnya pas senja, kan? Pantes pemalu gitu.. matahari terbenam kan malu sama Bulan. Gue aneh kan? Senyum-senyum sendiri lihat langit timur? Atau pas gue ngomong cantik banget tadi lo gede rasa? Eh asal lo tahu ya, yang gue puji cantik tadi itu matahari terbit, sang fajar!” ujarnya.
Pipiku memanas, matahari terbenam malu sama Bulan? Pernyataan macam apa itu! Aku tak rela senjaku dibully. Kutajamkan pendanganku, kulihat name tagnya, Fajar Keane. Kurapal nama itu dalam hati, kuingat dalam otakku. Kuangkat daguku dan berbalik menjauhinya, kuturuni tangga dengan tergesa dan menjemput Rena di dalam perpustakaan karena upacara bendera akan segera dimulai.

Cerpen Karangan: Zulkarnain
Blog: http://zulkarnain22goblog.wordpress.com

Cerpen Ketika Senja Bertemu Fajar (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Diary Ku (Part 1)

Oleh:
Aku adalah sebagian orang yang menginginkan dan mengharapkan bisa mendapatkan cinta sejati. Dari segelintir orang yang mencari cinta mereka, berusaha mendapatkan cinta sejati, tetapi aku hanya membiarkan semua itu

Nila

Oleh:
Bel berbunyi dua kali, semua anak berjejalan ke luar ruang kelas mencari penyegaran, waktu istirahat telah tiba. Seperti biasa, aku duduk terdiam di bawah pohon besar yang sudah ditanam

Secret of Love (Part 2)

Oleh:
Dan pada saat aku ingin melupakan Reno tiba-tiba dia datang lagi. Dia menghampiri gue yang lagi duduk sendirian makan bakso di Kantin. “heyyy, Tania Maulida Wijaya” kata Reno dengan

Kertas Putih di Ulang Tahunku

Oleh:
Puluhan kado tergeletak berantakan di atas kasur kamar tidurku. Bersatu padu dengan semua yang sebelumnya juga berantakan, baju kotor, buku tugas, bantal dan lainnya. Hari ini ulang tahunku dimana

Andai Dulu Rey

Oleh:
“Kamu deket sama dia yah?” “Nggak, kenal aja…” “Tapi kalian smsan kan?” “Iya…” “Sering?” “Gak juga…” “Bohong, mereka smsan tiap waktu kok…” “Waduh bahaya nih, saingan kamu tuh…” Seorang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Ketika Senja Bertemu Fajar (Part 1)”

  1. zhy says:

    ketika senja bertemu fajar part 2 … mana kok dicari g ada

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *