Kisah Tragis Falah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 January 2017

Tiiikk.. tiiikk.. tiiikk
Begitu suara hujan terdengar dari dalam rumah Falah. Hanya sepotong pisang goreng, dan segelas kopi hitam menemani malamnya saat ini. Tak disangka saat akan menyantap pisang itu, ia teringat ujian matematika esok hari.

Dengan berat hati, ia meninggalkan makanannya itu, dan beralih untuk belajar matematika. Dalam hati ia berkata “ah sial, kenapa harus ada matematika di dunia ini” begitu sekilas gumamnya. Tetapi saat ia akan membuka buku itu, tiba tiba ada yang memanggilnya di luar “fal.. falah, main yuk” tampak Fajar dan Fikri menunggu di depan rumah.
10 menit, 15 menit Falah tidak keluar dari rumahnya, hingga akhirnya kedua temannya meninggalkan Falah untuk kembali pulang.

Keesokan Harinya, jam menunjukkan pukul 7 pagi, tetapi belum ada tanda tanda Falah akan segera berangkat ke sekolah. Nampaknya ia sangat kelelahan setelah belajar hingga larut malam. Namun tiba tiba, ia terbangun dan berteriak “rumus luas persegi panjang adalah panjang kali lebar” nampaknya ia masih teringat rumus yang ia pelajari semalam. Setelah bersiap, ia segera berlari menuju sekolahnya, jam menunjukkan pukul 08.00 itu tandanya ia telat dan akan mendapatkan hukuman.

Saat dalam perjalanan, sebuah malang tak dapat ditolak, sepeda yang ia kendarai tiba tiba mati di tengah hutan. ia mencoba sabar, namun rasa cemas tidak dapat dihilangkan begitu ia ingat hari ini ada ujian matematika. “aduhh.. gimana nih, apa yang harus aku katakan saat aku datang nanti?” begitu bisiknya dalam hati.

Selang 10 menit, tiba tiba sepeda yang ia kendarai, tiba tiba bisa ia pakai kembali, itu tandanya ia bisa melanjutkan perjalanannya ke sekolah lagi.

Begitu sampai di sekolah, ia melihat suasana sangat sepi, benar saja nampaknya semua sudah masuk. Dengan langkah seribu, ia segera menuju kelas tempat ia masuk, terlihat Fajar dan Fikri tertawa melihat ekspresi temannya yang kebingungan.
Di kelas suasana yang sebelumnya sunyi senyap, mendadak menjadi ramai, setelah Falah bertanya “Maaf teman-teman, apa saya boleh ikut ujian?” sontak membuat seisi kelas menjadi tertawa, karena sebenarnya hari ini latihan ujian, bukan ujian sungguhan seperti yang Falah pikir.

Sepulang sekolah, Falah langsung nongkrong di warteg kesukaanya, “nasi pecel 1, es teh 1” begitu kata Falah, dengan lahap bak orang yang dendam akan kejadian tadi pagi di sekolah, Falah segera menghabisakan makanannya dan tak lupa untuk berdoa. setelah selesai makan ia segera menuju rumah Rani (Gadis primadona di kampungnya).

“Rann.. Ranii” begitu ia memanggilnya. nampak seorang laki laki berbadan kekar bak ade rai telah menghadangnya di depan pagar. “siapa kamu?” nampaknya ayah Rani yang bertanya, lalu Falah menjawab “saya Falah, anak paling keren se-rumah saya” mereka pun mengobrol hingga Rani pun keluar menemui mereka.
“hei ran, jalan yuk?” dengan senyum yang manis, Rani pun menjawab “ayuk bang, kemana?” lalu Falah menjerit histeris dalam hati “YESS!!”, lalu ia menjawab lagi “ikut abang neng ke kampung sebelah, seru lho, ada kebakaran!!”. akhirnya Falah diusir dari rumah Rani.

Setelah berhari hari dari peristiwa di rumah Rani, Falah nampaknya masih sangat sedih hingga ia tidak mau makan, tidak mau mandi, bahkan ia tidak mau makan sambil mandi. Berselang seminggu kemudian, Falah ditemukan tewas mengenaskan karena tak ada yang memperhatikannya.

Tragis memang, tetapi itulah kenyataan yang dialami oleh Falah.

Cerpen Karangan: Rendy Andika
Blog: rendyandk96.forumpenulis.com
Cuma orang biasa yang hobby menulis dan ingin berbagi cerita.

Cerpen Kisah Tragis Falah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dinding Sekolah Rahasia

Oleh:
Senin pagi… Tok… tok… tok… Seseorang mengetuk pintu kamarku dari luar. Pintu sengaja aku kunci, karena aku benar-benar gak mau di ganggu semaleman. “klara, bangun!!! Dari semalem, mama pulang

Bedanya Aku di Mata Bu Suryati

Oleh:
Sadarlah aku sekarang bahwa aku salah pernah membenci seorang guru, karena masalah yang pernah terjadi, dan sekarang aku sudah meminta maaf padanya, dan mungkin dia sampai sekarang belum memaafkan

Di Atas Jalanan Hitam Putih

Oleh:
Aku melihat sepeda, sepeda motor dan mobil dari berukuran kecil hingga berukuran besar setiap detiknya selalu melintasi sebuah jalanan yang ditutupi oleh karpet hitam dan di tengahnya terdapat garis

Pemberian Kakek

Oleh:
Angin berhembus sangat kencang, menerpa dedaunan. Terlihat beberapa temanku yang asik bersendau gurau dengan teman-teman sebaya mereka. Aku duduk seraya memandang teman-temaku yang tengah memperhatikanku, dari kejauhan terlihat ada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *